Lahan Gambut: Pengertian, Jenis, dan Manfaat

Diposting pada
Orangutan Hidup di Gambut (pixabay.com)
Orangutan Hidup di Gambut (pixabay.com)

Fauna endemik tersebut diantaranya Langur (Presbytis rubicunda), Harimau Sumatera (Panthera tigris), Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii), Orang Utan (Pongo pygmaeus), serta Beruang Madu (Helarctos malayanus).

Selain itu, juga ditemukan beberapa spesies ikan yang memiliki nilai jual tinggi seperti Ikan Gabus (Chana striata), Saluang (Rasbora sp.), Toman (Channa micropeltes), dan Tapah (Wallago leeri).

Spesies burung yang langka dan dilindungi juga ditemukan pada lahan gambut seperti Enggang hitam dan Rangkong.

Tidak hanya makrofauna, bahkan terdapat amuba yang memang lazim untuk ditemui pada berbagai kondisi air untuk digunakan sebagai indikator misalnya indikator pada lahan gambut.

9. Kerusakan Lahan Gambut

Saat ini, lahan ini memiliki banyak sekali permasalahan. Sehingga, menjadikan luasannya terus berkurang. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada lahan tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah kebakaran hutan. Bencana ini pada umumnya terjadi akibat ulah manusia secara sengaja maupun tidak sengaja. Selain itu, gejala alam seperti el nino dapat meningkatkan resiko terjadinya kebakaran hutan pada lahan gambut. Pengeringan gambut sangat berperan dalam kerusakannya karena akan sangat sulit bagi gambut untuk kembali menyerap air apabila sudah dikeringkan sehingga mudah terbakar.

Kerusakan Lahan Gambut
Kerusakan Lahan Gambut

Alih fungsi kawasan menjadi perkebunan kelapa sawit juga berpengaruh terhadap kerusakannya. Gambut tersebut dikeringkan sehingga mengalami degradasi karena sulit untuk kembali menyimpan air. Bahkan pada tahun 2014 dalam bulan Juni hingga September telah hilang seluas 4000 hektare gambut karena jumlah perizinan yang dikeluarkan untuk diubah menjadi kebun kelapa sawit terbilang banyak.

Selain itu, juga terdapat pembukaan lahan untuk digunakan menjadi pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Pembangunan HTI melakukan pembangunan kanal dengan maksud untuk mengatur tata air atau drainase agar dapat dilakukan penanaman. Namun, hal tersebut dapat memicu terjadinya kekeringan dalam lahan tersebut.

10. Upaya Konservasi

Pentingnya kawasan gambut dalam segi ekologi dan sosial budaya menjadikan perlu adanya upaya konservasi agar tetap seperti fungsinya. Lahan yang bisa dimanfaatkan adalah dengan ketebalan kurang dari 3 m dan tidak termasuk kawasan lindung. Perlu adanya sistem alternatif untuk menghilangkan kebiasaan pembakaran gambut dalam upaya menyuburkan tanah pada lahan untuk fungsi pertanian.

Selain itu, juga dibutuhkan penanaman yang dapat menambat banyak CO2 dan toleran tanpa drainase atau drainase dangkal seperti tanaman sagu dan karet. Drainasenya juga harus diatur karena drainase yang semakin besar akan menyebabkan penurunan muka air yang semakin besar juga sehingga dapat mempercepat emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, harus dianalisis sistem hidrologinya di seluruh hamparan lahan khususnya pada kubah gambut.

Penegasan dan penguatan undang-undang dalam mengawasi pengelolaan lahan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya perbuatan curang sehingga dapat mendegradasi lahan.

Lahan gambut adalah lahan yang unik dan sangat dibutuhkan kehati-hatian yang tinggi dalam mengelolanya. Semoga bacaan ini dapat memberikan wawasan lebih bagi para pembacanya tentang gambut sehingga dapat bersikap bijak dalam permasalahan lingkungan.

 

Referensi:
Agus F, Subiksa IGM. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Bogor (ID): Balai Penelitian Tanah dan World Agorforestry Centre (ICRAF).

Augusta TS. 2012. Aklimatisasi Benih Ikan Nila (Oreochromis spp) dengan pencampuran air gambut. Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 1 (2): 78-82.
Rizali A, Buchori D. 2015. Lahan gambut dan keanekaragaman hayati [Presentasi Power Point]. IPN Toolbox Tema C Subtema C1. www.cifor.org/ipn-toolbox.
Yuwono NW. 2009. Membangun kesuburan tanah di lahan marginal. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 9 (2): 137-141.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Departemen Manajemen Hutan angkatan 2016. Kelahiran Jakarta, Juni 1999. Tempat tinggal Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat