Konservasi: Pengertian, Metode, dan Sejarah

Diposting pada

Kebutuhan manusia yang tidak terbatas tidak selaras dengan jumlah keanekaragaman hayati yang dapat memenuhinya. Pemanfaatan yang tidak terkendali dan tidak didampingi oleh rehabilitasi dapat menyebabkan terjadinya kepunahan pada sumber daya alam hayati. Hal ini membuat diperlukannya suatu upaya ataupun konsep pelestarian untuk menjaga agar tidak terjadi kepunahan yaitu konservasi.

Penurunan dari jumlah dan mutu sumber daya alam akan berdampak pada manusia baik saat ini ataupun pada masa yang akan datang. Bahkan jika tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat merugikan manusia hingga menimbulkan konflik antara manusia dengan lingkungannya.

Konservasi (pixabay.com)
Konservasi (pixabay.com)

Dibutuhkan rasa empati yang tinggi agar manusia dapat melekatkan pemikiran terkait konservasi sehingga dapat melestarikan sumber daya tersebut. Hal ini tentunya dapat digunakan untuk mendukung kesejahteraan manusia sehingga hubungan antara keduanya bersifat saling menguntungkan.

1. Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konservasi merupakan pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan, pengawetan, dan pelestarian.

Pengertian konservasi sumber daya alam hayati dapat dilihat pada UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati yang menyatakan konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Banyaknya kebutuhan manusia yang beragam namun terbatasnya sumber daya alam untuk memenuhinya melahirkan konsep bahwa sumber daya alam harus dikelola dengan baik agar tetap lestari.

Sehingga, ada pula pengertian lain yaitu pengelolaan biosfer secara aktif yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan keanekaragaman spesies dan pemeliharaan keragaman genetik di dalam suatu spesies. Hal ini termasuk juga pemeliharaan fungsi ekosistem dan siklus nutrisi yang dikemukakan oleh seorang ahli bernama Michael Allaby dalam buku A Dictionary of Ecology.

Pada intinya konservasi merupakan pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungannya agar dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Hal ini tentunya untuk memberikan manfaat yang optimal dan upaya-upaya untuk melestarikannya.

2. Tujuan dan Manfaat Konservasi

Pada dasarnya, konservasi dilaksanakan dengan tujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati beserta lingkungannya agar tetap bisa dimanfaatkan.

Tujuan dari konservasi adalah:

  • Melindungi, memelihara, serta membatasi lingkungan atau area yang dianggap penting dan bernilai untuk mencegah terjadinya kerusakan ataupun kepunahan terhadap berbagai komponen yang membentuk lingkungan tersebut sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem.
  • Menekankan untuk menggunakan kembali tempat-tempat atau bangunan yang sudah tidak digunakan dengan mengembalikan fungsi sebelumnya atau memperbarui fungsinya agar dapat dipakai. Hal ini untuk mencegah adanya kegiatan pembukaan wilayah baru khususnnya wilayah hutan sehingga beralih fungsi menjadi wlilayah non hutan.
  • Melindungi situs, benda-benda yang memiliki nilai sejarah, hingga cagar budaya agar tidak mengalami kerusakan hingga kehancuran. Beberapa cagar budaya terdapat di wilayah yang memiliki kanekaragaman hayati yang cukup banyak seperti Satuan Ruang Geografis Sangiran yang terdapat di Sragen, Jawa Tengah sehingga harus perlu adanya penjagaan di lingkungan sekitarnya agar kerusakannya tidak mencapai cagar budaya tersebut.
  • Memelihara terjaganya kualitas lingkungan yang baik seperti tersedianya air dan udara yang bersih. Lingkungan yang dimaksud mulai dari daerah daratan hingga perairan.

Manfaat ekologi yang didapatkan dari kegiatan konservasi adalah terlindungi keanekaragaman hayati dari kepunahan hingga keseimbangan ekosistem.

Selain manfaat ekologi, dari segi ekonomi juga mencegah terjadinya kerugian akibat kerusakan lingkungan, contohnya pada daerah-daerah yang memiliki rawan terjadi bencana misal longsor. Apabila lingkungannya rusak seperti berkurangnya tanaman secara drastis atau penambangan yang tidak terkendali, akan meningkatkan terjadinya risiko longsor sehingga menyebabkan kerugian.

Hutan yang melimpah akan sumber daya hayati seperti berbagai tumbuhan pangan hingga obat yang memiliki nilai ekonomi. Jika jumlahnya berkurang, akan menyebabkan pengurangan juga terhadap nilai ekonomi.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Departemen Manajemen Hutan angkatan 2016. Kelahiran Jakarta, Juni 1999. Tempat tinggal Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat