Lahan Basah: Pengertian, Sebaran, dan Jenis

Diposting pada

Lahan tersebar hampir di sebagian permukaan bumi dan memiliki manfaat hingga karakteristik yang unik. Area tersebut menyimpan sebagian besar kekayaan yang dimiliki Indonesia. Beberapa ahli menyatakan bahwa area tersebut merupakan sebuah area yang dapat menghubungkan seluruh bentang alam. Hingga saat ini kita menyebutnya sebagai lahan basah.

Indonesia memiliki luas lahan basah terbesar di dunia. Lahan tersebut nantinya akan digunakan untuk berbagai bidang kehidupan. Tentunya, generasi penerus bangsa akan terus berkolaborasi agar lahan basah ini tetap lestari.

1. Pengertian Lahan Basah

Lahan Basah (pixabay.com)
Lahan Basah (pixabay.com)

Lahan basah adalah suatu wilayah yang tanahnya tergenang air karena keadaan tanah yang jenuh terhadap air. Genangan tersebut bersifat permanen maupun musiman. Biasanya genangan pada lahan tersebut dapat berupa air mengalir ataupun diam.

Pengertian lahan basah berdasarkan Maltby (1986) adalah salah satu istilah tentang ekosistem yang kemudian pembentukkannya didominasi oleh air dan ciri serta prosesnya juga dikendalikan air.

Kemudian Maltby (1986) menambahkan kembali bahwa wetland adalah suatu tempat yang tergolong cukup basah selama waktu yang tergolong cukup panjang untuk pengembangan vegetasi serta organisme lain yang harus beradaptasi khusus. Lahan tersebut didefinisikan berdasar tiga parameter yang meliputi vegetasi hidrofitik, hidrologi, serta tanah hidrik.

Menurut Konvensi Ramsar 1971, wetland didefinisikan sebagai wilayah lahan gambut, rawa, dan air, baik alami ataupun buatan yang bersifat sementara maupun permanen, tidak mengalir (diam) atau mengalir yang memiliki sifat payau, asin, atau tawar, serta mencakup wilayah air marin yang tingginya saat surut tidak lebih dari enam meter.

Konvensi Ramsar memisahkan lahan berair tersebut berdasarkan ciri fisik dan biologinya menjadi 9 kategori buatan dan 30 kategori alami. Sesungguhnya lahan ini merupakan salah satu komponen yang penting dalam ekosistem karena menyimpan air, perbaikan mutu air hingga menyediakan habitat bagi flora dan fauna didalamnya.

2. Karakteristik Lahan Basah

Lahan yang tergolong salah satu wilayah terbesar di permukaan bumi ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda pada setiap tempat serta kondisi. Hal ini karena beberapa faktor kombinasi kadar garam terhadap airnya, jenis tumbuhan, hingga jenis tanah yang hidup di lingkungannya.

Karakteristik lahan basah yang melekat adalah keadaan tanahnya yang jenuh terhadap air. Hal ini dapat dikatakan bahwa nama lahan tersebut mencerminkan kondisi tanah yang selalu tergenang oleh air.

Lahan ini di sepanjang musim selalu digenangi air, namun air yang dimiliki oleh lahan dapat bersifat musiman dan permanen. Musiman yang dimaksud adalah air hanya dapat tergenang pada lahan tersebut saat musim tertentu saja, seperti pada musim hujan. Sedangkan yang dimaksudkan permanen adalah air tergenang setiap saat dan waktu.

Saat air tergenang pada lahan tersebut tergolong dangkal. Lapisan air yang dangkal tersebut dapat menggenangi keseluruhan atau sebagian dari permukaan lahan. Namun, di saat yang lain juga dapat ditemukan wilayah yang memiliki karakteristik tergenang yang dalam.

Ilmuan pernah menyebutkan bahwa lahan yang tergenang dapat memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, sehingga hal tersebut menyebabkan keberadaannya sering digunakan untuk persawahan. Tergenangnya air setiap periodenya menyebabkan lahan jenis ini memiliki struktur serta tekstur tanah yang lunak hingga berliat.

3. Flora dan Fauna di Lahan Basah

Pada dasarnya, lahan yang termasuk ke dalam lahan tergenang ini memiliki fungsi yang sangat penting untuk keberlangsungan makhluk hidup yang berada di dalamnya. Lahan yang biasa disebut sebagai wetland ini memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi, baik flora dan fauna yang dimilikinya.

Di atas lahannya tumbuh berbagai jenis vegetasi yang masuk ke dalam jenis flora seperti Kayu Galam (Melaleuca cajuputi). Penyebaran Pohon Galam sendiri dapat meliputi Thailand, Myanmar, Malaysia, Papua New Guini, Australia, hingga Indonesia. Kayu Galam biasanya hidup di daerah rawa karena ketahanan terhadap wilayah asam tergolong tinggi.

Pada daerah payau biasanya ditumbuhi oleh tumbuhan semacam gelagah, wlingi, mending, jenis terna seperti bakung, teratai, dan lain sebagainya. Tumbuhan berkayu jarang hidup pada daerah payau.

Pada daerah gambut banyak ditumbuhi jamur, paku-pakuan, pohon sagu, sassafras, hingga jenis-jenis gingseng. Namun daerah tersebut juga ditumbuhi oleh berbagai tanaman buah-buahan. Gambut banyak didominasi oleh flora karena kandungan tanah organik yang dimilikinya sangat tinggi.

Pada daerah riparian lebih didominasi tumbuhan hutan hidrofilik yang nantinya membentuk hutan riparian.