Beruang Madu (Helarctos malayanus): Taksonomi, Status Kelangkaan, Morfologi, dan Konservasi

Tahukah Anda binatang yang sangat menyukai makanan sejenis madu? Pasti Anda telah mengenal binatang jenis tersebut pada serial kartun masa kecil.

Dahulu serial kartun ini sangat sering diputar di beberapa stasiun televisi yang berjudul Winnie The Pooh.

Winnie The Pooh mengangkat tokoh utamanya adalah seekor beruang kecil nan menggemaskan yang sangat menyukai madu.

Beruang yang dimaksud tersebut adalah beruang madu yang biasanya Anda temui di berbagai wilayah hutan di Indonesia.

Beruang Madu
Beruang Madu

1. Taksonomi

Beruang madu atau Sun Bear memiliki nama latin Helarctos malayanus merupakan jenis beruang terkecil dari delapan jenis beruang yang berada di dunia sekaligus merupakan simbol khas provinsi Bengkulu, Indonesia.

Untuk mengenali binatang jenis ini dapat Anda diketahui melalui taksonominya.

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasMamalia
OrdoKarnivora
FamiliUrsidae
GenusHelarctos
SpesiesH. malayanus

 

2. Status Kelangkaan Beruang Madu

International Union for Conservation of Nature and Natural yang biasa disebut dengan IUCN merupakan organisasi internasional yang didedikasikan untuk kegiatan konservasi sumber daya alam baik untuk tumbuhan maupun binatang. Beruang madu dalam hal ini tergolong kepada binatang yang memiliki status Threatened Species pada Red List dalam IUCN.

Beruang madu yang telah digolongkan ke dalam binatang yang memiliki status Threatened Species, kemudian digolongkan kembali pada status kelangkaan Vulnerable (rentan). Sebelumnya, binatang ini memiliki status dalam IUCN adalah Data deficient (tidak diketahui karena kurang data). Seiring berjalannya waktu serta berbagai masalah yang menyerang kelangsungan hidup beruang madu maka statusnya telah berubah.

Hal tersebut disebabkab perusakan habitat yang berlangsung secara terus menerus dan signifikan. Ancaman lain yang menghantarkan binatang ini masuk ke dalam Red List adalah semakin maraknya perburuan, baik yang berasal dari dalam kawasan perlindungan maupun luar kawasan perlindungan.

3. Morfologi

Beruang Madu di Kebun Binatang
Beruang Madu di Kebun Binatang

Dari famili Ursidae lainnya, beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan jenis binatang yang memiliki ukuran tubuh yang paling kecil. Morfologinya meliputi panjang tubuh hingga ukuran cakar.

Panjang tubuh yang dimiliki jenis ini kurang lebih 1 – 1.4 meter dengan tinggi punggung mencapai 70 cm. Berat yang ia miliki berkisar 50-65 kilogram, selain itu hidungnya relatif lebar dan tidak terlalu moncong. Memiliki lidah yang paling panjang dari keseluruhan jenis beruang yang lain.

Mata beruang madu berwarna coklat atau biru dengan bulu cenderung pendek, berkilau, dan pada umumnya berwarna hitam. Jenis bulu beruang ini lebih halus dibandingkan dengan jenis beruang lainnya yang berwarna kelam hingga coklat.

Bulu leher binatang ini memiliki kekhasan yang unik yaitu terdapat tanda berwarna oranye dan berbentuk huruf ā€œVā€. Tanda tersebut dipercaya sebagian besar orang merupakan tanda matahari terbit. Berbeda dengan beruang madu dewasa, beruang madu yang masih bayi memiliki bulu yang lebih tipis, lembut serta bersinar.

Selain memiliki bulu yang bersinar, binatang jenis ini memiliki cakar yang sangat tajam. Cakar tersebut terdiri dari kuku yang panjang pada keempat lengannya dan digunakan dalam mempermudah mencari makan.

Lengan yang kuat serta kuku melengkung pada cakarnya juga mempermudah spesies ini untuk memanjat pohon. Kuku tangan tersebut digunakan sebagai penggali rayap, sarang lebah, hingga semut untuk menghancurkan tekstur kayu hidup yang keras.

Penggalian dalam mencari makanan dilakukan dengan cara menggaruk serta mencakar pohon yang berdiri.

Kriteria lain yang sangat mencolok pada beruang madu dengan beruang lainnya adalah komposisi gigi. Binatang jenis ini memiliki gigi yang lebih datar serta merata yang berjumlah antara 32-42 gigi, namun memiliki gigi taring yang cukup panjang sehingga gigi tersebut menonjol keluar mulut.

Beruang jenis ini memiliki penampilan yang nampak kaku, namun apabila ia bergerak dapat mencapai kecepatan hingga 48 kilometer per jam serta memiliki tenaga yang sangat kuat.

Berbeda dengan beruang jenis lainnya, betina pada spesies ini memiliki 6 puting susu untuk beberapa ekor anaknya. Dalam kondisi liar, usia hidup jenis ini sulit untuk diketahui. Sedangkan apabila dalam penangkaran, beruang ini dapat bertahan 28 hingga 40 tahun. Beruang yang hidup di hutan akan lebih cepat mati dibandingkan mereka yang hidup di penangkaran atau kebun binatang.

4. Makanan

Beruang madu adalah binatang pemakan segala (omnivora) yang berada di hutan. Mereka memakan berbagai jenis buah-buahan serta tanaman hutan hujan tropis. Seperti namanya, beruang jenis ini juga memakan madu dan anak lebah sebagai makanan konsumsi kesukaannya. Ia akan menggunakan cakarnya untuk merobek sarang lebah agar mendapatkan madu dan larva lebah tersebut.

Apabila mereka memakan buah, biji yang berada dalam buah tersebut ditelan secara utuh sehingga akan dikeluarkan kembali saat buang air besar dalam keadaan utuh. Setelah biji yang tertelan dibuang maka biji tersebut akan tumbuh menjadi tanaman.

Hal ini juga membuat beruang jenis ini berperan penting dalam penyebaran biji tumbuhan buah di hutan. Bila beruang madu tidak lagi memiliki wilayah untuk mencari makanan maka mereka akan merusak lahan pertanian dan tanaman kebun penduduk yang berada di sekitar tempat habitat mereka.

Mereka juga akan memakan serangga, burung, serta binatang kecil lainnya. Selain madu, makanan kegemarannya adalah bagian lunak dari tanaman (termasuk rotan). Komponen makanan yang ia konsumsi seperti serangga juga sangat tinggi. Bahkan terkadang ia juga memakan telur burung, tikus, cacing, dan berbagai jenis binatang yang memiliki ukuran lebih kecil dari tubuhnya.

5. Habitat dan Wilayah Jelajah

Beruang madu dapat hidup di berbagai macam habitat. Tempat hidup mereka sebagian besar berada di berbagai jenis hutan pada ketinggian 1.500 mdpl. Namun ada juga yang hidup di lahan-lahan pertanian milik warga.

Mereka biasanya berada di pepohonan pada ketinggian kurang lebih 2 ā€“ 7 meter dari permukaan tanah. Membuat sarang dari dahan-dahan kecil yang dikumpulkan untuk tidur, hal ini sangat mirip dilakukan oleh orangutan, namun sarang mereka kurang tersusun rapi dan berada dekat dengan batang pohon.

Kebiasaan yang dilakukan binatang jenis ini adalah mematahkan cabang-cabang pohon ataupun membuat cabang pohon tersebut melengkung. Habitat beruang madu di Asia Tenggara sebagian besar habitatnya berada di hutan hujan tropis, hutan primer, dan hutan sekunder.

Kriteria hutan hujan tropis sangat disukai oleh spesies ini karena berada di dekat garis equator, di mana iklim sepanjang tahun hangat dan basah sehingga menghasilkan sumber makanan yang berlimpah.

Beberapa cacatan yang terdahulu, beruang madu memiliki wilayah jelajah yang sangat luas. Beruang jenis ini pernah ditemukan di Tibet bagian timur dan Pulau Jawa. Beruang madu betina mampu menjelajah hingga 500 hektare, dan untuk beruang madu jantan kurang lebih 1.500 hektare.

Wilayah yang dijelajah oleh mereka tergantung dengan ketersediaan makanan serta tempat tinggal. Namun habitat mereka tidak bertahan lama karena perusakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Perusakan habitat dilakukan agar para oknum (manusia) dapat memburu binatang tersebut dengan mudah.

6. Sebaran

Sebaran beruang madu mulai dari Indonesia hingga seluruh bagian Asia Tenggara. Hutan hujan tropis yang dirasa sebagai habitat dari binatang jenis ini adalah wilayah Sumatera, Borneo, Indocina, Burma, Cina Selatan, hingga Semenanjung Malaya.

Oleh sebab itu menurut sebarannya yang sebagain besar di wilayah tropis, beruang madu tidak membutuhkan waktu hibernasi yang Panjang seperti pada wilayah empat musim. Hal ini lah yang dapat membedakan binatang jenis ini dengan beruang lain.

Pada masa lalu, sebaran mereka hampir berada di seluruh benua Asia, namun sebarannya menjadi sangat berkurang akibat berbagai macam permasalahan yang menyebabkan fragmentasi dan kehilangan habitat (tempat tinggal).

7. Perilaku

Beruang madu dikenal sebagai binatang yang aktif di malam hari atau yang biasa kita kenal sebagai binatang nocturnal.

Perilaku satwa jenis ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memanjat pepohonan dan berada di tanah. Memanjat pepohonan dilakukan oleh mereka untuk mencari makanan.

Biasanya beruang madu berkoloni atau soliter, namun untuk betina yang sedang memiliki anak, biasanya mereka bersifat soliter.

Induk beruang akan tetap menjaga bayinya dari serangan hewan buas. Pada masa tersebut induk beruang dapat kehilangan banyak sekali bobot tubuhnya. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, binatang jenis ini tidak seperti beruang lain yang memiliki waktu hibernasi sangat lama. Hal tersebut disebabkan oleh tersedianya sumber makanan dalam jumlah banyak sepanjang tahun.

Perilaku lain yang lekat pada beruang madu yaitu mereka dapat berjalan hingga sejauh 8 km untuk mencari sumber makanan. Saat mereka menemukan makanan pada sebuah pohon hidup berdiri, perilaku mereka yakni menggali serta membongkar pohon tersebut. Perilaku ini memiliki peran penting dalam membantu mempercepat penguraian (daur ulang) bagi hutan, baik hutan hujan tropis, hutan primer, ataupun hutan sekunder.

Binatang jenis ini juga terkenal sangat pemalu, aktif di siang hari, penyendiri, serta pemanjat pohon yang handal.

Di alam liar, spesies ini tergolong sebagai satwa buas yang memiliki kebiasaan menyerang manusia secara mendadak tanpa peringatan. Sifat ini membuatnya sangat ditakuti oleh masyarakat yang tinggal dekat dengan hutan, bahkan lebih ditakuti dibandingkan dengan hewan buas lainnya seperti harimau.

8. Perkembangbiakan

Perkembangbiakan merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh berbagai macam binatang untuk mempertahankan keturunannya dan sebagai penyeimbang ekosistem.

Beruang madu pada umumnya tidak memiliki musim kawin yang khusus. Mereka akan melakukan perkembangbiakan sewaktu-waktu, terutama saat betina telah siap kawin (dibuahi).

Namun ada penelitian yang menyatakan bahwa beruang jenis ini memiliki musim kawin pada musim hujan. Pada musim kering dengan temperature yang tinggi akan mempengaruhi kualitas sperma dan konsentrasi testosterone rendah pada beruang madu jantan, sedangkan pada betina terjadi penurunan tingkat gonadotropin dan pertumbuhan follicular. Sehingga hal tersebut akan mengakibatkan tingginya presentasi sel telur yang abnormal dan kematian pada embrio.

Pada periode mengandung, binatang jenis ini akan menghabiskan waktu untuk mengandung berbeda dengan binatang jenis lain. Mereka akan mengandung bayi mereka kurang lebih 95-96 hari. Jumlah anak yang dilahirkan oleh beruang madu betina biasanya berjumlah dua ekor. Bayi beruang madu membutuhkan susu induknya selama 18 bulan sampai ia dapat mencari makan sendiri.

Berdasarkan berbagai penelitian, sebagian besar beruang madu terlihat hanya menggendong satu bayi dan sangat jarang terlihat menggendong dua bayi setelah masa kehamilannya.

Hal tersebut dapat dikatakan bahwa binatang jenis ini dapat menunda perkawinan serta kehamilannya agar bayi yang dilahirkan dalam keadaan baik dan memiliki berat badan cukup. Bayi beruang madu dapat mencari makanan sendiri serta hidup mandiri setelah berumur kurang lebih 2 tahun.

9. Faktor yang Mengancam

Perburuan terhadap binatang langka ini terus dilakukan. Sangat marak black market yang menjual satwa liar tanda adanya tindakan tegas terhadap para oknum penjual tersebut. Harga yang didapatkan dari satu ekor penjualan beruang madu sangatlah tinggi sehingga pemburu berlomba-lomba untuk memburu satwa liar yang unik ini.

Bagian tubuh yang sering diburu adalah kantung empedu serta cairan yang berada di dalamnya. Beberapa masyarakat yakin bahwa kantung empedu serta cairan yang dihasilkan dari binatang ini dapat digunakan sebagai obat trasisional. Obat tradisional yang dimaksud adalah obat kuat yang dikonsumsi oleh kuli angkut atau para pekerja berat.

Konflik antara manusia dengan binatang terkait dengan perebutan daerah yang meliputi wilayah pertanian merupakan ancaman bagi beruang jenis ini. Bencana alam seperti kebakaran hutan juga dapat menyebabkan rusaknya habitat beruang madu serta mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Binatang pemangsa lain seperti ular piton juga dapat mengancam hidup bagi beruang jenis ini selain karena faktor alam.

9. Upaya Konservasi

Ancaman terhadap kepunahan spesies ini cukup sangat memprihatinkan. Upaya dalam melakukan konservasi terhadap beruang madu telah dilakukan oleh berbagai pihak. Sejak tahun 1979, binatang jenis ini telah dimasukkan kedalam CITES Apendix I (Appendix I of the Convention on International Trade in Endangered Species).

CITES sendiri merupakan badan konvensi perdagangan internasional tumbuhan serta satwa liar. Sehingga dalam hal ini perburuan serta perdagangan beruang madu telah dilarang. Selain CITES, mereka juga dilindungi oleh undang-undang di Indonesia.

Undang-undang yang memuat binatang ini adalah PP No. 7 Tahun 1999 dan UU No. 5 tahun 1990. Dalam UU No. 5 tahun 1990 menyatakan bahwa barang siapa saja yang dengan sengaja menangkap, melukai, dan membunuh binatang yang dilindungi UU terancam hukuman kurungan 5 tahun serta denda sebesar Rp 100.000.000.

Konservasi pada beruang madu untuk kedepannya harus sangat difokuskan, terutama pada habitat tempat tinggal serta sumber makannya. Manajemen yang baik serta supremasi hukun yang tegas terhadap pelanggaran akan meminimalisir jumlah jenis ini untuk diburu. Selain itu hal lain yang dapat dilakukan adalah menghentikan perdagangan illegal dan mengurangi konflik antar satwa dengan penduduk di sekitar wilayah hutan.

Salah satu upaya lain yang dilakukan oleh Indonesia untuk mencegah kepunahan dari spesies langka ini adalah dengan membuat tempat perlindungan beruang madu di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dengan luas area yang dibangun mencapai 58 hektare. Kerja sama yang dilakukan untuk membangun tempat ini dijalin oleh Yayasan Semboja Lestari dengan BOS (Ballikpapan Orangutan Survival).

Dari uraian yang telah dijabarkan, sayangnya dari berbagai jenis beruang yang hidup di dunia, beruang madu merupakan jenis yang paling sedikit diteliti oleh peneliti Indonesia dan dunia. Padahal seiring dengan berjalannya waktu, beruang jenis ini mengalami keterancaman yang sangat tinggi dibanding beruang lain. Kerusakan habitat serta terdesaknya populasi yang disebabkan oleh berbagai badan hingga manusia.

Apabila Anda sebagai mahasiswa dalam bidang biologi maupun konservasi masih bingung untuk menemukan topik penelitian, maka beruang madu adalah solusi yang tepat serta menarik untuk diangkat. Penelitian yang Anda lakukan juga dapat membantu beruang madu untuk mempertahankan habitat serta hidupnya.

Teruskan Membaca