Orang Utan: Taksonomi, Makanan, Habitat dan Upaya Konservasi

Diposting pada

Orang utan adalah makhluk hidup yang termasuk anggota primata dan merupakan salah satu jenis kera besar yang masih hidup sampai saat ini. Istilah orang utan itu sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Melayu yakni berarti manusia yang hidup di dalam hutan.

Primata ini diklasifikasikan menjadi dua sub-spesies yaitu orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan Sumatera (Pongo abelii). Meskipun sangat serupa, kedua spesies ini memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini akan kami sajikan dalam tulisan eksklusif ini.

Primata ini sudah termasuk ke dalam kategori Critically Endangered atau sudah sangat terancam punah ini memiliki beberapa fakta unik yang perlu diketahui.

Orang Utan Sumatera

Foto ini merupakan spesies Orang Utan Sumatera yang sudah termasuk ke dalam status Kritis berdasarkan IUCN.

DAFTAR ISI
1. Orang Utan dan Deforestasi
2. Taksonomi
3. Morfologi Orang Utan
4. Makanan
5. Perkembangbiakan
6. Habitat
7. Sebaran Orang Utan di Dunia
8. Fakta Unik tentang Orang Utan
9. Status Kelangkaan
10. Upaya Konservasi
11. Mengapa Orang Utan Perlu Dilestarikan?

 

1. Orang Utan dan Deforestasi

Deforestasi merupakan proses pengurangan atau pengalihan hutan menjadi areal yang digunakan untuk tujuan lain di luar sektor kehutanan, misalnya dijadikan perkebunan kelapa sawit, pemukiman dan lain sebagainya.

Salah satu dampak negatif dari deforestasi adalah berkurangnya habitat atau tempat tinggal orang utan. Apabila deforestasi terus dilakukan tanpa adanya pengendalian atau pengawasan maka deforestasi akanĀ  mengancam kelangsungan hidup spesies ini di habitat asilnya, yaitu hutan.

 

2. Taksonomi

KriteriaKeterangan
KingdomAnimalia
Sub KingdomMetazoa
FilumChordata
KelasMamalia
OrdoPrimata
FamiliHominidae
GenusPongo
SpesiesPongo pygmaeus, Linne
Sub-spesiesPongo pygmaeus
Pongo abelii

 

3. Morfologi Orang Utan

Orang Utan Kalimantan

Foto di atas merupakan salah satu sub-spesies orang utan yang berasal dari Kalimantan. Terdapat beberapa perbedaan yang menonjol antara orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan.

Apabila dilihat secara sekilas maka morfologi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan Sumatera (Pongo abelii) terlihat sangat serupa. Secara morfologi, kedua spesies ini dapat dibedakan berdasarkan warna bulunya.

Pada umumnya orang utan Sumatera (Pongo abelii) memiliki warna bulu lebih pucat dan terasa lembut serta lebih lebat jika dipegang. Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) memiliki warna bulu coklat kemerahan terutama ketika dewasa. Bulu orang utan Kalimantan ini kasar dan jarang-jarang atau tidak selebat bulu orang utan Sumatera.

Tulang pinggul spesies primata ini mengalami rudimentasi atau perubahan fisik anggota tubuh yang menyebabkan seolah-olah tidak mempunyai pinggang. Kondisi perut buncit dan leher sangat pendek yang umumnya dimilikinya semakin membuat kesan bahwa spesies ini memang tidak memiliki pinggang. Tulang pinggul yang tidak berkembang ini memungkinkan primata ini dapat bergelayutan dan memutar badannya hingga 1800 (Suwandi 2000).

Perbedaan orang utan Sumatera dan orang utan Kalimantan lainnya terletak pada bentuk muka. Orang utan Sumatera (Pongo abelii) memiliki bentuk muka lebih pipih dengan sedikit kelenjar lemah. Bentuk muka otang utan Sumatera tersebut berbeda dengan bentuk muka orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang melebar karena banyak mengandung jaringan lemak.

Spesies orangutan jantan dewasa memiliki ukuran tubuh dua kali lipat daripada orang utan betina sehingga berat badannya pun berbeda. Pada umunya berat badan orangutan peliharaan lebih besar/gemuk dari pada yang hidup di alam liar.

Orangutan jantan memiliki kantong suara yang berfungsi untuk mengeluarkan suara atau seruan panjang. Biasanya hal ini dilakukan ketika mereka ingin berkomunikasi dengan sesamanya terutama ketika ada gangguan. Spesies primata jantan juga melalukan seruan panjang untuk merangsang seks betina pada masa kawin.

 

4. Makanan

Aktivitas utama orangutan adalah makan yang biasanya dilakukan di tajuk-tajuk pohon atau pada bagian pohon yang terdapat banyak buah-buahan yakni pada ketinggian 10-30 meter. Karena orangutan suka makan maka tak heran jika kebanyakan spesies ini memiliki perut buncit dan berjalan lambat atau terkesan malas.

Orangutan termasuk ke dalam hewan frugivorous yakni hewan pemakan buah-buahan. Selain buah-buahan, dalam kondisi tertentu satwa ini juga memakan daun, bunga tumbuhan epifit, kulit pohon tertentu, dan rayap.

Buah merupakan makanan pokok orangutan. Berdasarkan data yang ada, komposisi persentase waktu makan dan jenis makanannya yaitu buah (60%); daun (25%); kulit pohon/batang (15%); serangga (10%) dan lain-lain (2%) (Maijaard et al. 2001 dalam Ginting 2006).

Orangutan juga menyukai madu sebagai makanannya. Biasanya spesies ini mencari ranting berdaun untuk menutupi mukanya untuk mengambil madu yang ada di sarang lebah madu.

 

5. Perkembangbiakan

Orang utan betina dikatakan dewasa ketika mulai berumur 10-12 tahun, sedangkan jantannya dikatakan dewasa ketika mulai berumur 8 tahun. Orang utan yang hidup bebas di alam mulai bunting dan melahirkan bayi pertama saat berumur 9-12 tahun, kondisi tersebut berbeda dengan orangutan peliharaan yang biasanya bunting pertama pada umur 7-8 tahun.

Spesies orangutan betina mengalami masa bunting selama 9 bulan. Menurut Wardiningsih (1992) dalam Noprianto (2004) orangutan betina dapat melahirkan 2 hingga 4 kali dengan jarak kelahiran 3-5 tahun bahkan lebih dari 5 tahun.

Perkembangbiakan primata ini termasuk lama atau memerlukan waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan primata lainnya.

 

6. Habitat

hutan hujan tropik di indonesia

Gambar Gravatar
Mahasiswa Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB.