Orang Utan: Taksonomi, Makanan, Habitat dan Upaya Konservasi

Orang utan adalah makhluk hidup yang termasuk anggota primata dan merupakan salah satu jenis kera besar yang masih hidup sampai saat ini. Istilah orang utan itu sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Melayu yakni berarti manusia yang hidup di dalam hutan.

Primata ini diklasifikasikan menjadi dua sub-spesies yaitu orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan Sumatera (Pongo abelii).

Meskipun sangat serupa, kedua spesies ini memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini akan kami sajikan dalam tulisan eksklusif ini.

Primata ini sudah termasuk ke dalam kategori Critically Endangered atau sudah sangat terancam punah ini memiliki beberapa fakta unik yang perlu diketahui.

Orang Utan Sumatera

Foto ini merupakan spesies Orang Utan Sumatera yang sudah termasuk ke dalam status Kritis berdasarkan IUCN.

1. Orang Utan dan Deforestasi

Deforestasi merupakan proses pengurangan atau pengalihan hutan menjadi areal yang digunakan untuk tujuan lain di luar sektor kehutanan, misalnya dijadikan perkebunan kelapa sawit, pemukiman dan lain sebagainya.

Salah satu dampak negatif dari deforestasi adalah berkurangnya habitat atau tempat tinggal orang utan.

Apabila deforestasi terus dilakukan tanpa adanya pengendalian atau pengawasan maka deforestasi akan  mengancam kelangsungan hidup spesies ini di habitat asilnya, yaitu hutan.

2. Taksonomi

Kriteria Keterangan
Kingdom Animalia
Sub Kingdom Metazoa
Filum Chordata
Kelas Mamalia
Ordo Primata
Famili Hominidae
Genus Pongo
Spesies Pongo pygmaeus, Linne
Sub-spesies Pongo pygmaeus
Pongo abelii

[read more]

3. Morfologi Orang Utan

Orang Utan Kalimantan

Foto di atas merupakan salah satu sub-spesies orang utan yang berasal dari Kalimantan. Terdapat beberapa perbedaan yang menonjol antara orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan.

Apabila dilihat secara sekilas maka morfologi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan Sumatera (Pongo abelii) terlihat sangat serupa. Secara morfologi, kedua spesies ini dapat dibedakan berdasarkan warna bulunya.

Pada umumnya orang utan Sumatera (Pongo abelii) memiliki warna bulu lebih pucat dan terasa lembut serta lebih lebat jika dipegang. Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) memiliki warna bulu coklat kemerahan terutama ketika dewasa. Bulu orang utan Kalimantan ini kasar dan jarang-jarang atau tidak selebat bulu orang utan Sumatera.

Tulang pinggul spesies primata ini mengalami rudimentasi atau perubahan fisik anggota tubuh yang menyebabkan seolah-olah tidak mempunyai pinggang. Kondisi perut buncit dan leher sangat pendek yang umumnya dimilikinya semakin membuat kesan bahwa spesies ini memang tidak memiliki pinggang. Tulang pinggul yang tidak berkembang ini memungkinkan primata ini dapat bergelayutan dan memutar badannya hingga 1800 (Suwandi 2000).

Perbedaan orang utan Sumatera dan orang utan Kalimantan lainnya terletak pada bentuk muka. Orang utan Sumatera (Pongo abelii) memiliki bentuk muka lebih pipih dengan sedikit kelenjar lemah. Bentuk muka otang utan Sumatera tersebut berbeda dengan bentuk muka orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang melebar karena banyak mengandung jaringan lemak.

Spesies orangutan jantan dewasa memiliki ukuran tubuh dua kali lipat daripada orang utan betina sehingga berat badannya pun berbeda. Pada umunya berat badan orangutan peliharaan lebih besar/gemuk dari pada yang hidup di alam liar.

Orangutan jantan memiliki kantong suara yang berfungsi untuk mengeluarkan suara atau seruan panjang. Biasanya hal ini dilakukan ketika mereka ingin berkomunikasi dengan sesamanya terutama ketika ada gangguan. Spesies primata jantan juga melalukan seruan panjang untuk merangsang seks betina pada masa kawin.

4. Makanan

Aktivitas utama orangutan adalah makan yang biasanya dilakukan di tajuk-tajuk pohon atau pada bagian pohon yang terdapat banyak buah-buahan yakni pada ketinggian 10-30 meter. Karena orangutan suka makan maka tak heran jika kebanyakan spesies ini memiliki perut buncit dan berjalan lambat atau terkesan malas.

Orangutan termasuk ke dalam hewan frugivorous yakni hewan pemakan buah-buahan. Selain buah-buahan, dalam kondisi tertentu satwa ini juga memakan daun, bunga tumbuhan epifit, kulit pohon tertentu, dan rayap.

Buah merupakan makanan pokok orangutan. Berdasarkan data yang ada, komposisi persentase waktu makan dan jenis makanannya yaitu buah (60%); daun (25%); kulit pohon/batang (15%); serangga (10%) dan lain-lain (2%) (Maijaard et al. 2001 dalam Ginting 2006).

Orangutan juga menyukai madu sebagai makanannya. Biasanya spesies ini mencari ranting berdaun untuk menutupi mukanya untuk mengambil madu yang ada di sarang lebah madu.

5. Perkembangbiakan

Orang utan betina dikatakan dewasa ketika mulai berumur 10-12 tahun, sedangkan jantannya dikatakan dewasa ketika mulai berumur 8 tahun. Orang utan yang hidup bebas di alam mulai bunting dan melahirkan bayi pertama saat berumur 9-12 tahun, kondisi tersebut berbeda dengan orangutan peliharaan yang biasanya bunting pertama pada umur 7-8 tahun.

Spesies orangutan betina mengalami masa bunting selama 9 bulan. Menurut Wardiningsih (1992) dalam Noprianto (2004) orangutan betina dapat melahirkan 2 hingga 4 kali dengan jarak kelahiran 3-5 tahun bahkan lebih dari 5 tahun.

Perkembangbiakan primata ini termasuk lama atau memerlukan waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan primata lainnya.

6. Habitat

hutan hujan tropik di indonesia

Pada umumnya habitat primata ini berada di hutan-hutan primer dataran rendah hingga hutan dataran tinggi atau pegunungan dengan ketinggian 1.000 mdpl. Habitat orangutan merupakan hutan yang didominasi oleh tanaman dari famili Dipterocarpaceae. Kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik primata ini yang merupakan hewan aboreal atau hewan yang segala aktivitasnya dilakukan di atas pohon.

Spesies ini lebih umum terdapat disekitar sungai-sungai kecil atau besar dan dekat rawa-rawa di dalam hutan.

Di habitat aslinya, primata ini membuat sarang untuk tidur, kawin, melahirkan anak, dan mengasuh anak sampai siap disapih. Pada umumnya, satwa ini membuat sarang di atas pohon yang memberikan pandangan lebih luas ke sebagian besar areal hutan.

Menurut Rijksen (1978) dalam Ginting (2006), terdapat beberapa tahapan yang dilakukan orangutan untuk membuat sarangnya yakni:

1. Rimming (Melingkarkan)

Dahan dilekukkan secara horizontal untuk membentuk lingkaran sarang dan ditahan dengan menggunakan lahan lain yang dilekukan.

2. Hanging (Menggantung)

Dahan dilekukkan masuk ke dalam sarang untuk membuat mangkuk sarang.

3. Pillaring (Menopang)

Dahan dilekukkan ke bawah sarang untuk menopang lingkaran sarang dan memberikan kekuatan ekstra sebagai penopang sarang.

4. Loose (Melepaskan)

Beberapa dahan diputuskan dari pohon dan diletakkan ke dalam dasar sarang sebagai alas atau di bagian atas sarang sebagai atap sarang. Patahan-patahan dahan didapatkan dari vegetasi yang ada di sekitarnya.

7. Sebaran Orang Utan di Dunia

Globe via pexels.com

Rijksen (1978) dalam Noprianto (2004) menyatakan bahwa orang utan menyebar di gua-gua Tiongkok, Vietnam Utara dan Sumatera. Penyebaran tersebut menjelaskan bahwa sebaran primata ini kebih luas di masa lampau dari pada masa sekarang.

Pendapat lain mengenai penyebaran orangutan dikemukakan oleh Galdikas (1984) dalam Suwandi (2000), yang menyatakan bahwa spesies ini tersebar relatif luas di bagian Tiongkok, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. Penyebaran satwa ini tersebut diketahui berdasarkan pada fosil pada masa Pleistocene.

Pada saat ini orang utan sebarannya terbatas di daerah Pulau Sumatera dan hutan-hutan primer di Pulau Kalimantan. Selain di Indonesia, orangutan juga dapat ditemui di Malaysia khususnya di wilayah Sabah dan Serawak.

8. Fakta Unik Orang Utan

Orang utan memiliki beberapa fakta unik :

Orang utan termasuk primata cerdas

Orang utan termasuk primata cerdas yang dapat menggunakan tongkat dengan sangat baik untuk mengambil makanannya terutama buah-buah yang berada di atas pohon. Selain itu, hewan ini juga dapat menggunakan daun yang berukuran lebar untuk melindunginya dari terik sinar matahari maupun dari air hujan.

Spesies jantan dapat melakukan seruan panjang

Seruan panjang yang dilakukan orangutan dapat didengar dalam radius 1 km. Seruan panjang ini dapat dilakukan orangutan karena memiliki kantong suara di tenggorokannya.

Spesies jantan terbesar memiliki rentang lengan mencapai 2.3 meter

Primata ini memiliki lengan yang panjang dan bahkan lebih panjang dari primata-primata lainnya. Lengan yang panjang ini digunakan untuk kegiatan sehari-hari orangutan yang hidup secara arboreal.

Sangat suka tidur

Tak hanya tidur panjang di malam hari, orangutan biasanya juga tidur siang di sela-sela aktivitasnya. Demi kenyamanan tidurnya, hewan ini biasanya membuat kasur tidur di sarangnya dari dahan-dahan yang ada di sekitar sarang.

Memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan manusia

Orangutan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96,4% dengan manusia sehingga dapat dikatakan bahwa orangutan dan manusia memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat.

Termasuk satwa yang kuat

Orangutan memiliki kekuatan enam kali lipat dari kekuatan yang dimiliki manusia dewasa. Gigitannya juga sangat kuat. Meskipun demikian, orangutan termasuk satwa yang tidak berbahaya karena sifatnya yang cenderung tenang.

9. Status Kelangkaan

International Union for Conservation Nature (IUCN) menaikkan status orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) menjadi Kritis (Critically Endangered) setelah sebelumnya ditetapkan berstatus Terancam Punah (Endangered). Keputusan pihak IUCN ini didasari oleh keadaan populasi orangutan Kalimantan yang terus menurun pada beberapa dekade terakhir. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah semakin maraknya perburuan ilegal orang utan Kalimantan di Indonesia dan Malaysia serta habitat satwa ini yang semakin terdegradasi (National Geographic Indonesia 2016).

Status konservasi orangutan Kalimantan ini sama dengan status konservasi orangutan Sumatera. Berdasarkan International Union for Conservation Nature (IUCN) dalam Red List edisi tahun 2002, orang utan Sumatera (Pongo abelii) juga dikategorikan Critically Endangered atau sudah sangat terancam punah (WWF).

Berdasarkan data yang didapatkan IUCN, selama 75 tahun terakhir populasi orang utan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80%. Kondisi seperti ini terjadi karena habitat orangutan yang terus menurun akibat penebangan hutan.

Status konservasi orang utan Kalimantan dan orang utan Sumatera ini menunjukan bahwa populasi primata ini menghadapi resiko kepunahan yang sangat tinggi dalam waktu dekat.

10. Upaya Konservasi

Upaya konservasi terhadap populasi orang utan Kalimantan dan orang utan Sumatera terus dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencegah penurunan populasinya.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Kehutanan dalam mengembangkan Rencana Tata Ruang Berbasiskan Ekosistem Pulau Sumatera dibantu World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. Penyusunan rencana tata ruang ini dilakukan sebagai salah satu upaya penyelamatan atau restorasi hutan tersisa di Sumatera.

WWF Indonesia juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melindungi lanskap hutan di Bukit Tiga Puluh dan Jambi yang merupakan areal introduksi orang utan Sumatera di alam.

Upaya konservasi juga dilakukan oleh WWF terhadap orang utan Kalimantan yakni:

  1. Memfasilitasi terciptanya sebuah jaringan dari kawasan-kawasan lindung seperti adanya koridor satwa yang dikelola secara teliti dan memastikan orang utan dapat bergerak dengan leluasa di dalamnya.
  2. Memastikan semua kawasan lain di dalam maupun di perbatasan Heart of Borneo yang statusnya tidak dilindungi dapat dipertahankan sama seperti kawasan hutan yang dikelola berkelanjutan kerena diperkirakan 70% pupulasi orang utan Kalimantan diperkirakan berada diluar kawasan yang dilindungi.
  3. Melakukan kampanye penyadartahuan konservasi orang utan kepada kelompok masyarakat.

Upaya konservasi orang utan tak hanya dilakukan oleh satu pihak, namun juga perlu dilakukan oleh berbagai pihak.

Pemerintah harus melakukan penyuluhan kepada masyarakat khususnya para orangtua untuk menimbulkan kesadaran akan pentingnya melindungi orang utan sehingga pengetahuannya nanti dapat diwariskan pada anak cucunya di generasi mendatang.

Pendidikan konservasi anak usia dini juga harus dilakukan dengan cara menyenangkan dan mudah dipahami agar anak-anak mengenal dan mengetahui serta mencintai orang utan.

Upaya konservasi orang utan juga dilakuakan dengan memperbaiki dan melestarikan habitatnya karena orang utan lebih suka hidup di alam bebas dari pada di penangkaran atau di kebun binatang. Upaya pencegahan perusakan habitat orang utan ini harus segera dilakukan.

11. Mengapa Orang Utan Perlu Dilestarikan?

Pada dasarnya terdapat berbagai alasan terkait pentingnya orang utan untuk dilestarikan. Secara ringkasnya alasan orang utan perlu dilestarikan adalah karena keberadaan atau peranan orang utan sangat besar terhadap hutan, lingkungan, alam dan untuk manusia.

Orang utan dikenal dengan sebutan makhluk payung atau umbrella species. Hal ini dikarenakan orang utan memiliki peranan penting dalam mempertahankan keragaman spesies di muka bumi, menjaga keseimbanagn ekosistem dan memiliki peranan utama dalam melakukan regenerasi hutan serta keragaman jenis tanaman liar di hutan.

Orang utan berperan penting bagi regenerasi hutan. Orang utan berperan dalam penyebaran biji-bijian yang berasal dari buah-buahan sebagai makanan mereka. Penyebaran biji-biji dari buah yang mereka makan ini akan menyebabkan pertumbuhan pohon meningkat sehingga keseimbangan alam tetap terjaga.

Salah satu keunikan orang utan adalah dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit mereka sendiri dengan memakan buah atau tumbuhan lainnya di hutan. Jika hal ini diteliti lebih lanjut oleh para peneliti maka akan ditemukan orat-obatan untuk penyakit tertentu. Upaya pelestarian atau konservasi orang utan perlu dilakukan agar tersedia waktu yang lebih lama bagi para peneliti untuk melakukan penelitian ini.

 

Referensi:

Ginting Y W S B. 2006. Studi reintroduksi orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii Lesson 1827) yang dikembangkan di Stasiun Reinroduksi Jambi [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.

National Geographic Indonesia.2016. Status Konservasi Orangutan Borneo Naik dari “Endangered” Menjadi “Critically Endangered” [internet]. [diunduh 2017 Des 13]. Tersedia pada: http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/07/status-konservasi-orangutan-borneo-naik-dari-endangered-menjadi-critically-endangered

Noprianto A. 2004. Kajian pengelolaan orang utan (Pongo pygmaeus pygmaeus, L) di Kebun Binatang Ragunan Jakarta [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.

Suwandi A. 2000. Karakteristik tempat bersarang orang utan (Pongo pygmaeus, Linne 1760) di camp leakey Taman Nasional Tanjung Putting Kalimantan Tengah [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB

World Wide Fund for Nature (WWF). Orangutan Sumatera [internet]. [diunduh 2017 Des 13]. Terdapat dalam: https://www.wwf.or.id/program/spesies/orangutan_sumatera/

[/read]