Seleksi Alam Mengubah Evolusi Bumi

Alam memiliki caranya sendiri untuk mengatur segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Salah satu caranya adalah melakukan seleksi alam. Apa itu seleksi alam? Bagaimana seleksi alam bisa terjadi? Berikut ulasan lengkap mengenai seleksi alam.

Hidup itu tidak statis, tetapi selalu ada pergerakan dimana waktu terus berdetak. Ya, perubahan signifikan dialami makhluk hidup di bumi ini. Efek lingkungan sangatlah berpengaruh besar untuk organisme. Mereka harus mampu beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya agar tidak punah. Itulah yang dimaksud evolusi “perubahan” di bumi yang di dalamnya terdapat seleksi alam.

 

1. Pengertian Seleksi Alam

Evolusi dan Seleksi Alam

Secara etimologi, seleksi alam adalah kemampuan alam untuk menyeleksi organisme yang hidup di dalamnya sehingga hanya organisme yang mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang dapat bertahan. Mekanisme ini terjadi secara berangsur-angsur dalam periode berjuta-juta tahun yang lalu.

 

2. Dampak Seleksi Alam

Seleksi alam tentunya memiliki dampak yang besar terhadap kelangsungan hidup suatu organisme di bumi ini. Adanya seleksi alam membuat populasi suatu organisme berkurang, bahkan dapat menimbulkan kepunahan. Selain itu seleksi alam juga berperan dalam proses terbentuknya spesies-spesies baru di bumi.

 

3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Seleksi Alam

Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi seleksi alam:

3.1 Suhu Lingkungan

Suhu yang sesuai sangat penting bagi kehidupan suatu organisme untuk bertahan hidup. Hewan yang berbulu tebal akan nyaman dengan suhu dingin, sedangkan hewan yang berbulu tipis nyaman pada suhu panas dan biasanya memiliki habitat di daerah tropis.

3.2 Keterbatasan Makanan

Makanan adalah kebutuhan pokok yang paling utama untuk makhluk hidup. Jika tidak adanya asupan maka organisme akan mati kelaparan. Berlomba-lomba adalah suatu cara bagi organisme untuk memperoleh makanan. Organisme yang lemah akan tertinggal dan punah seiring dengan berjalannya waktu.

3.3 Keterbatan Tempat Tinggal

Tempat tinggal atau habitat merupakan hal penting yang menyokong kehidupan makhluk hidup. Lahan makhluk hidup saat ini menjadi sangat terbatas akibat keserakahan manusia. Keterbatasan tempat tinggal atau habitat ini akan menyebabkan beberapa spesies berkurang atau bahkan bisa sampai punah.

3.4 Cahaya Matahari

Setiap makhluk hidup memerlukan adanya fotosintesis. Fotosintesis terjadi pada tumbuhan yang berklorofil atau mempunyai zat hijau. Zat hijau ini membantu tumbuhan untuk membuat makanannya sendiri dengan adanya energi dari cahaya matahari. Fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan dapat mengubah substrat karbondioksida (C02) dan air (H2O) menjadi karbohidrat dan gas oksigen. Kurangnya cahaya matahari akan menyebabkan tidak terjadinya fotosintesis yang akan menyebabkan berkurangnya pasokan makanan dan oksigen bagi makhluk hidup lainnya.

 

4. Kepunahan Spesies

Kepunahan spesies terjadi terhadap spesies yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan di sekitarnya.

Salah satu contoh hewan yang mengalami kepunahan yaitu Biston betularia, sejenis ngengat yang gemar menempel di pepohonan. Biston betularia memiliki dua varian warna berbeda yaitu warna hitam dan putih.

Awalnya Biston warna hitam sangat sedikit keberadaanya dan jarang terlihat. Hal ini disebabkan karena pada batang pohon berwarna cerah Biston warna hitam  jadi lebih mudah diincar pemangsa. Berbeda dengan Biston putih yang mampu berkamuflase di batang pohon berwarna cerah.

Namun semenjak Inggris melakukan revolusi industri batang pohon cenderung semakin gelap akhirnya Biston putih mengalami penurunan populasi. Hal ini menyebabkan Biston hitam menjadi lebih dominan daripada Biston putih.

Kasus kepunahan spesies lainnya terjadi pada berbagai spesies dinosaurus. Pada 65 juta tahun lalu, bumi kita dipenuhi dinosaurus. Menurut para ahli kepunahan dinosaurus disebabkan jatuhnya meteorit raksasa yang turun ke bumi. Akibatnya, muncul awan debu tebal yang menyelimuti bumi sehingga cahaya matahari sulit menerobosnya. Faktor itulah yang mendorong punahnya dinosaurus karena lingkungan di sekitarnya tidak mampu memasok makanan dan sumber energi akibat dari tidak adanya fotosintesis yang terjadi.

Seleksi alam terjadi tak hanya dahulu kala saja, tetapi sekarang pun masih tetap terjadi dan akan terus terjadi sampai bumi ini berakhir.

Berikut ini daftar satwa di Indonesia yang terancam punah:

NoNama SatwaAsal Daerah
1.Orang UtanSumatera dan Kalimantan
2.Harimau SumateraSumatera
3.KomodoNusa Tenggara Timur
4.Burung Jalak BaliBali
5.Badak Jawa dan SumateraJawa & Sumatera
6.Gajah SumateraSumatera
7.Kangguru Pohon WondiwoiPulau Papua
8.AnoaPulau Sulawesi
9.Monyet HitamSulawesi
10.Pesut MahakamKalimantan Timur
11.Macan Tutul JawaJawa
12.Kura-kura Paruh BetetHutan Sulawesi
13.Elang FloresLombok, Sumbawa, Pulau kecil Santoda, Rinca, Flores dan Nusa Tenggara.
14.Ekidna Moncong Panjang BaratPapua
15.Kodok Pohon UngaranGunung Ungaran, Semarang-Jateng
16.Burung Trulek JawaJawa
17.Kakaktua Jambul KuningKepulauan sunda kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor.
18.Katak Merah-Katak ApiTaman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
19.Gagak BanggaiSulawesi
20.Burung Hantu (Celepuk) SiauSulawesi Utara

 

5. Terbentuknya Spesies Baru

Terciptanya spesies baru disebabkan faktor seleksi alam dan adaptasi. Efeknya mampu merubah jenis organisme dari masa lalu hingga saat ini. Proses perubahan makhluk hidup ini berlangsung secara perlahan dan dalam rentang waktu  yang lama (evolusi) sehingga terjadi perubahan yang sangat berbeda dari spesies sebelumnya, meskipun masih memiliki ciri-ciri yang relatif sama.

 

6. Spesies Baru di Indonesia

Berikut ini beberapa spesies baru yang ditemukan di Indonesia:

6.1 Burung Mungil dari Rote

Myzomela irianawidodoae spesies burung terbaru dari Rote

Pada bulan Desember 2017, Presiden Joko Widodo memberikan izin penggunaan nama ibu negara untuk nama burung yang ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Burung ini dinamakan Myzomela irianawidodoae dan resmi dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Treubia Volume 44 Edisi Desember 2017.

Hal ini sebagai ungkapan atau bentuk apresiasi kepada Iriana yang sangat memperhatikan kehidupan burung. Selain itu dedikasinya dapat dijadikan teladan dan menjadi contoh dalam upaya menyelamatkan lingkungan di sekitar manusia.

Menurut Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dewi Prawiradilaga menjelaskan karakter paling dominan dari burung ini berukuran panjang 11,8 cm, bobot hanya 32 gram, dan paruhnya berwarna hitam. Matanya bewarna cokelat gelap, kaki dan jari mereka bewarna hitam dengan bantalan kuku bewarna kuning.

Burung ini berhabitat di hutan, semak-semak, kebun, dan pohon yang berbunga. Makanan pokoknya ialah nektar pada bunga pohon jati. Setelah pertama kali ditemukan Burung Iriana ini memiliki status dilindungi.

6.2 Cicak Batu dari Pulau Laskar Pelangi

Cnemaspis purnamai cicak batu dari Bangka Belitung

Penemuan Cicak Batu ini bermula dari kunjungan singkat dua peneliti LIPI yaitu Amir Hamidy dan Irvan Sidik bersama teman sejawatnya ke lokasi Desa Burong Mandi di Belitung Timur pada Maret 2017. Keduanya melihat Cicak ini begitu menarik karena karakter dan kondisi yang berbeda di dalam satu genusnya sehingga mereka berasumsi bahwa cicak batu ini merupakan spesies baru. Cicak batu ini berukuran sedang dengan panjang dari moncong hingga membuka kloaka mencapai 5 cm.

Para peneliti pun memberi nama Cnemaspis purnamai untuk cicak ini. Nama ini dimaksudkan sebagai dedikasi penghargaan kepada tokoh nasional kelahiran Belitung Timur, yaitu Basuki Tjahja Purnama yang pernah memimpin Belitung Timur dan Jakarta.

6.3 Anggrek Cantik dari Pegunungan Aceh

Di belantara Aceh ditemukan Bunga Anggrek cantik pada ketinggian 1500-1600 mdpl. Spesies baru ini dipublikasikan di suatu jurnal Ilmiah Edinburgh Journal of Botany pada Maret 2017 oleh Destario Metusala peneliti LIPI dari Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Purwodadi.

Spesies Anggrek ini berkarakteristik unik nan cantik karena memiliki tangkai bunga yang tegak sepanjang 28 – 40 cm dengan hanya satu buah kuntum bunga mekar per-batang tumbuhan.

Bunga Anggrek cantik ini tidak terlalu mencolok karena kelopak bunganya berwarna putih dengan pola urat hijau tegas. Mahkota bunganya memanjang berwarna hijau muda kekuningan dilengkapi garis-garis pola sejajar berwarna hijau tua.

6.4 Orang Utan bewarna Oranye dari Tapanuli

Spesies baru ini ditemukan hidup di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Orang utan berwarna oranye ini sudah ditemukan keberadaanya sejak tahun 1939 namun saat itu penemuan ini masih belum bisa dibuktikan.

Hingga pada tahun 2003 sudah diterima pengesahan dan mulai diteliti lebih lanjut untuk melihat hasil pembenaran apakah orang utan yang terisolasi ini spesies yang unik. Bukti genetik menyimpulkan bahwa mereka memang berbeda dari dua spesies orang utan yang sudah diketahui sebelumnya  yaitu Orang Utan Sumatera dan Orang Utan Borneo.

Orang Utan Tapanuli mampu membuat teriakan yang lebih panjang serta mempunyai bulu berwarna cokelat muda tidak seperti orang utan pada umumnya. Namun sayangnya, habitat mereka di perbukitan Batang Toru kini terancam oleh pembangunan industri dan pertanian.

Untuk lebih mengenal mengenai spesies orang utan terbaru ini silakan baca artikel “Ancaman bagi Pongo tapanuliensis, Primata Bentang Batang Toru Tapanuli Selatan“.

6.5 Anggrek Hantu dari Jawa

Anggrek Hantu

Berdasarkan catatan rekaman populasinya, spesies ini merupakan anggrek endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat dan Yogyakarta. Populasinya sangat minim disebabkan adanya tekanan penurunan  habitat yang tinggi.

Spesies baru dari kelompok Anggrek Hantu (holomikotropik) diberi nama “Gastrodia bambu” dipublikasikan bersama peneliti Universitas Indonesia, Jatna Supriatna. Nama spesies diambil dari kata bahasa Indonesia “bambu” karena habitatnya yang spesifik di sekitar rumpun-rumpun bambu.

Spesies ini menyukai habitat yang gelap, lembab, dan selalu dekat dengan rumpun-rumpun bambu lebat yang sudah tua sehingga orang-orang sering menyebutnya Anggrek Hantu.

 

7. Pengertian Evolusi

Seleksi Alam dan Evolusi pada Makhluk Hidup

Evolusi merupakan perubahan sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi yang akan datang. Faktor terjadinya perubahan disebabkan tiga hal proses utama yaitu variasi, reproduksi, dan seleksi secara kombinasi.

7.1  Pengertian Evolusi menurut Charles Robert Darwin

Teori Evolusi Darwin ini dirumuskan pertama kali ke dalam sebuah buku Darwin yang berjudul “On The Origin of Spesies” pada tahun 1859. Buku ini  menerangkan bahwa pada proses setiap organisme berubah dari setiap perkembangan zaman akibat adanya perubahan sifat fisik atau perilaku yang diwariskan karena faktor seleksi alam.

7.2 Teori Charles Darwin mengenai Evolusi

Teori Charles Darwin mengenai evolusi meliputi:

  • Tidak ada dua individu yang persis
  • Pertambahan makanan karena selalu terjadi kekurangan bahan makanan
  • Kenyataan memperlihatkan bahwa pertambahan populasi tidak berlangsung terus menerus
  • Setiap populasi dominan memperbanyak diri seperti deret ukur

7.4 Evolusi Burung Finch

Burung Finch ini memiliki habitat di Kepulauan Galapagos yang dahulunya digunakan Charles Darwin untuk mengembangkan teori evolusi dan terbukti cocok dengan teori itu.

Karakteristik populasi Burung Finch yang dulu dianalisis oleh Charles Darwin memiliki paruh berukuran sedang. Ternyata lambat laun spesies burung memperkecil paruhnya untuk mendapatkan aneka ragam jenis biji-bijian.

Perubahan ukuran paruh memperlihatkan bahwa spesies ini berkompetisi untuk mendapatkan makanan dan terjadilah evolusi, ungkapan ini diutarakan oleh Peter Grant dan Princeton University hasil penelitiannya di publikasikan ke dalam “Jurnal Science”. Lalu hasil risetnya dibiayai oleh “National Science Foundation”.

Selama jelang waktu berpuluh-puluh tahun Grant mempelajari spesies Burung Finch ini yang awal mulanya bermaksud meneliti perubahan-perubahan yang terjadi pada saat beradaptasi dengan kekeringan yang turut serta mengubah jenis makanan yang tersedia di lingkungannya.

Mekanime perkembangan Burung Finch:

Terjadinya proses evolusi pada Burung Finch ditandai dengan perubahan fisik Burung Finch. Perubahan ini disebabkan adanya seleksi alam yang mengakibatkan beberapa populasi Burung Finch ini mengalami perubahan bentuk fisik. Perubahan fisiknya meliputi pada bagian paruh Burung Finch yang disesuaikan dengan jenis makanan yang tersedia.

Seleksi alam berlangsung karena terbatasnya persediaan makanan dan isolasi geografi yang terjadi. Proses adaptasi terjadi akibat adanya perubahan di dalam pewarisan sifat makhluk hidup dan hal ini terjadi pada Burung Finch. Proses tersebut terjadi sejak zaman dahulu dan terus terjadi.

 

Setiap organisme yang hidup di bumi akan mengalami evolusi karena faktor keadaan bumi dan lingkungan yang akan terus berubah dan berkembang. Akan ada populasi yang terseleksi oleh alam karena mereka tak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Maka dari itu kawan jagalah bumi kita agar setiap makhluk hidup memiliki tempat tinggal yang baik dan memadai. Hargailah dan ciptakan lingkungan yang asri bagi kehidupan.

 

Referensi:

Revolusi [internet]. Terdapat pada: https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi

Pengertian dan definisi revolusi [internet]. Terdapat pada: https://majalahpendidikan.com/pengertian-dan-definisi-revolusi/

Evolusi [internet]. Terdapat pada:https://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi

Indonesia [internet]. Terdapat pada: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42786488

Konsep seleksi alam [internet]. Terdapat pada: https://blog.ruangguru.com/konsep-seleksi-alam

 

Editor: Mega Dinda Larasati

Seleksi Alam Mengubah Evolusi Bumi
Rating: 4.9 from 11 votes

Tinggalkan komentar