Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP): Wisata, Lokasi, Luas, Pendakian, Sejarah, dan Biodiversitas

Diposting pada

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia bersama dengan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dan 3 taman nasional lainnya. Taman nasional ini menyimpan banyak kekayaan biodiversitas dan memiliki lansekap yang sangat indah untuk dinikmati.

Gunung Gede maupun Gunung Pangrango merupakan destinasi pendakian yang menantang bagi para pendaki, khususnya bagi para pendaki yang berada di Jabodetabek, Cianjur, dan Sukabumi.

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango

DAFTAR ISI
1. Letak Geografis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
2. Luas Kawasan
3. Iklim dan Topografi
4. Sejarah TNGGP
5. Ekosistem dan Biodiversitas
6. Pengelolaan Hutan oleh Masyarakat Sekitar TNGGP
7. Penduduk Sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango
8. Penggunaan Lahan
9. Destinasi Wisata
10. Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango
11. Peraturan bagi Para Pengunjung
12. Fasilitas
13. Akses Menuju Kawasan
14. Mitra Pengelola TNGGP
15. Kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

 

1. Letak Geografis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) secara geografis terletak antara 6° 41’ – 6° 51’ Lintang Selatan dan 106° 51’ – 107° 2’ Bujur Timur. Kawasan hutan konservasi ini secara administratif berada di provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Cianjur, Bogor, dan Sukabumi.

  • Kabupaten Bogor (25%) terdiri atas 4 kecamatan dan 17 desa dengan luas sekitar 4.514 ha
  • Kabupaten Sukabumi (30%) terdiri atas 6 kecamatan dan 26 desa dengan luas sekitar 6.781,98 ha
  • Kabupaten Cianjur (45%) terdiri atas 3 kecamatan dan 18 desa dengan luas sekitar 3.899,29 ha

Di sebelah barat merupakan wilayah milik kabupaten Cianjur dan Bogor yang meliputi kawasan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani, perkebunan teh, dan tanah milik masyarakat. Di sebelah barat terdapat wilayah kabupaten Sukabumi dan kabupaten Bogor, kawasan ini meliputi hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani, perkebunan teh, dan tanah milik masyarakat. Di sebelah timur terdapat wilayah kabupaten Cianjur yang meliputi kawasan perkebunan teh dan tanah milik masyarakat.

 

2. Luas Kawasan

Luas kawasan konservasi yang berada di Jawa Barat ini adalah 15.196 ha yang mana taman nasional ini meliputi Cagar Alam Cibodas, Cagar Alam Cimungkat, Cagar Alam Gunung-Gede Pangrango, Taman Wisata Alam Situ Gunung, dan areal hutan di lereng Gunung Gede Pangrango.

 

3. Iklim dan Topografi

Iklim di kawasan ini termasuk tipe iklim A dengan nilai Q berkisar antara 5% – 9%. Curah hujan rata-rata berkisar antara 3.000 – 4.200 mm/tahun. Musim hujan berlangsung antara bulan Oktober – Mei dengan curah hujan rata-rata sekitar 200 mm/bulan, dan mencapai puncaknya pada bulan Desember – Maret dengan curah hujan melebihi 400 mm/bulan. Musim kemarau di kawasan ini terjadi antara bulan Juni – September dengan curah hujan rata-rata kurang dari 100 mm/bulan.

Walaupun kelembaban udara cukup tinggi, namun pada musim kemarau kondisi hariannya bervariasi, mulai dari 30% pada malam hari hingga 90% di sore hari. Pada siang hari suhu rata-rata di Cibodas sekitar 18° C, di puncak Gunung Gede ataupun Pangrango mencapai suhu 10° C dan dapat mencapai 0° – 5° C serta sering turun kabut tebal.

Secara umum, angin yang bertiup di kawasan ini merupakan angin muson yang berubah arah menurut musim. Pada musim hujan, terutama antara bulan Desember – Maret, angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan cukup tinggi dan sering mengakibatkan kerusakan hutan. Di sepanjang musim kemarau, angin bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan rendah.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dinamai berdasarkan nama dua gunung yang terletak berdampingan, yaitu Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3.019 mdpl). Daerah puncak Gunung Gede mempunyai kawah tang lebih tua daripada kawah Gunung Pangrango dengan dinding batu yang curam. Dinding batu ini terbuka ke arah timur laut dan merupakan lembah ke arah Sungai Cibatu. Gunung Gede ini pertama kali meletus pada tahun 1747 – 1748 dan terakhir meletus pada tahun 1948.

Topografi kawasan di TNGGP berupa pegunungan dengan ketinggian antara 1.000 – 3.019 mdpl. Gunung-gunung yang ada di TNGGP selain Gede dan Pangrango terdapat pula Gunung Sela, Gunung Mandalawangi, Gunung Gegerbentang, dan Gunung Gemuruh (2.929 mdpl). Gunung-gunung tersebut merupakan rangkaian poros vulkanik antara Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango dihubungkan oleh daratan yang berada pada ketinggian 2.400 mdpl (Kandang Badak). Di kawasan ini juga terdapat beberapa danau, yaitu Danau/Rawa Gayonggong (sekitar Cisaat), Danau Denok, dan Situ Gunung.

Jenis batuan yang terdapat di kawasan ini adalah andesit, basalt lava, breksi tupan, breksi vulkani, dan piroklasik. Jenis tanahnya adalah regosol dan latosol (asosiasi andosol dan regosol serta latosol cokelat).

Sungai-sungai yang terdapat dalam kawasan taman nasional secara umum membentuk pola radial. Terdapat sekitar 50 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan ini. Beberapa sungai penting yang berhulu dalam kawasan, antara lain Sungai Cimandiri yang mengalir ke arah selatan dan bermuara di Pelabuhan Ratu; Kali Angke yang bermuara di Laut Jawa; Sungai Cikundul dan Sungai Cianjur yang mengalir ke arah timur dan bermuara di Sungai Citarum.

 

4. Sejarah TNGGP

  • Tahun 1819 C.G.C. Reinwardt tercatat sebagai orang pertama yang mendaki Gunung Gede, disusul oleh F.W. Junghuhn (1839 – 1861), S.H. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. Docters van Leewen (1911), dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) yang membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan The Mountain Flora of Java (diterbitkan tahun 1972).
  • Tahun 1830 didirkan Kebun Raya Cibodas di lereng Gunung Gede yang merupakan tempat kina dan jenis-jenis tumbuhan eksotik yang pertama di Indonesia.
  • Tahun 1889 Kebun Raya Cibodas diperluas sampai batas hutan primer yang berada di atas kawasan.
  • Tahun 1919 hutan lindung di lereng selatan Gunung Pangrango dinyatakan sebagai Cagar Alam Cimungkat dengan luas 56 ha.
  • Tahun 1925 penetapan perluasan Kebun Raya Cibodas dicabut dan ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas-Gunung Gede dengan luas 1.040 ha.
  • Tahun 1975 kawasan Situ Gunung ditetapkan sebagai Taman Wisata dengan luas 120 ha.
  • 6 Maret 1980 Menteri Pertanian mendeklarasikan bahwa Cagar Alam Cimungkat, Cagar Alam Cibodas, Cagar Alam Gunung Gede-Pangrango, dan Taman Wisata Situ Gunung serta hutan-hutan alam di lereng Gunung Gede-Pangrango digabung dan ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan luas 15.000 ha. Hal ini dilakukan bersamaan dengan penetapan empat taman nasional lain, pada hari pencanangan Strategi Konservasi Dunia.
  • Tahun 1982 dikeluarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/1982 yang menyatakan luas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah 15.196 ha.
  • Tahun 1991 kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dinyatakan sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO.
  • Taman Nasional Gunung Gede Pangrango juga telah ditetapkan sebagai Sister Parks (kerjasama Indonesia – Malaysia).

 

5. Ekosistem dan Biodiversitas

5.1 Keanekaragaman Ekosistem

Sebagian besar kawasan ditutupi oleh hutan pegunungan yang merupakan salah satu hutan pegunungan dengan kondisi relatif masih baik dan tidak terganggu di Provinsi Jawa Barat. Ekosistemnya tergolong dalam hutan hujan tropis pegunungan yang dapat dibedakan atas tiga zona berdasarkan ketinggian.

Zona Submontana

Zona submontana (1.000 – 1.500 mdpl) ini ditandai oleh biodiversitas jenis yang tinggi dengan lima lapisan tajuk, banyak pohon-pohon besar dan didominasi oleh pohon Rasamala (Altingia excelsa) yang dapat mencapai tinggi 60 m, Castanopsis argentea, Antidesma tetradum, Litsea sp., semak-semak (Ardisia fulginosa), dan Dichora febrifuga. Jenis tumbuhan yang mendominasi umumnya berasal dari suku Fagaceae dan suku Lauraceae.

Terdapat banyak tumbuhan bawah, epifit, dan lumut, antara lain kelompok Begonia, paku-pakuan seperti Asplenium nidus yang dapat mencapai tinggi dua meter serta sekitar 200 jenis anggrek alam dan lumut merah (Sphagnum gedeanum).

Zona Monatana

Zona ini berada pada ketinggian 1.500 – 2.400 mdpl. Jenis-jenis yang ada di sini di antaranya adalah Puspa (Schima wallichii) dan tumbuhan berdaun jarum (Dacrycarpus imbricatus dan Podocarpus neriifolius) yang semakin ke atas keanekaragaman jenisnya semakin berkurang.

Zona Subalpin

Zona ini berada pada ketinggian lebih dari 2.400 mdpl. Hutan di zona ini memiliki tajuk yang terdiri dari dua lapis, yaitu lapisan pepohonan dan tumbuhan bawah, dan pohon-pohon yang ada semakin pendek tingginya. Jenis-jenis yang dominan pada zona ini di antaranya adalah Rhododendron retusum, Rhododendron javanicum, Myrsine avenis, Selligueafeei, dan Cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium). Cantigi dapat menjadi sangat dominan, bahkan merupakan penysuun tunggal di daerah kawah. Dijumpai juga tumbuhan khas dari puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango, yaitu Edelweis (Anaphalis javanica) yang umum disebut sebagai bunga abadi.

Tipe habitat lain yang juga ditemukan di kawasan ini adalah danau, rawa, padang rumput subalpin, dan kawah gunung, serta hutan dataran rendah di bagian barat daya kawasan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP): Wisata, Lokasi, Luas, Pendakian, Sejarah, dan Biodiversitas
Rating: 4.8 from 60 vote[s]