Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia bersama dengan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dan 3 taman nasional lainnya. Taman nasional ini menyimpan banyak kekayaan biodiversitas dan memiliki lansekap yang sangat indah untuk dinikmati.

Gunung Gede maupun Gunung Pangrango merupakan destinasi pendakian yang menantang bagi para pendaki, khususnya bagi para pendaki yang berada di Jabodetabek, Cianjur, dan Sukabumi.

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango


1. Letak Geografis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) secara geografis terletak antara 6° 41’ – 6° 51’ Lintang Selatan dan 106° 51’ – 107° 2’ Bujur Timur. Kawasan hutan konservasi ini secara administratif berada di provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Cianjur, Bogor, dan Sukabumi.

  • Kabupaten Bogor (25%) terdiri atas 4 kecamatan dan 17 desa dengan luas sekitar 4.514 ha
  • Kabupaten Sukabumi (30%) terdiri atas 6 kecamatan dan 26 desa dengan luas sekitar 6.781,98 ha
  • Kabupaten Cianjur (45%) terdiri atas 3 kecamatan dan 18 desa dengan luas sekitar 3.899,29 ha

Di sebelah barat merupakan wilayah milik kabupaten Cianjur dan Bogor yang meliputi kawasan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani, perkebunan teh, dan tanah milik masyarakat. Di sebelah barat terdapat wilayah kabupaten Sukabumi dan kabupaten Bogor, kawasan ini meliputi hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani, perkebunan teh, dan tanah milik masyarakat. Di sebelah timur terdapat wilayah kabupaten Cianjur yang meliputi kawasan perkebunan teh dan tanah milik masyarakat.

 

2. Luas Kawasan

Luas kawasan konservasi yang berada di Jawa Barat ini adalah 15.196 ha yang mana taman nasional ini meliputi Cagar Alam Cibodas, Cagar Alam Cimungkat, Cagar Alam Gunung-Gede Pangrango, Taman Wisata Alam Situ Gunung, dan areal hutan di lereng Gunung Gede Pangrango.

 

3. Iklim dan Topografi

Iklim di kawasan ini termasuk tipe iklim A dengan nilai Q berkisar antara 5% – 9%. Curah hujan rata-rata berkisar antara 3.000 – 4.200 mm/tahun. Musim hujan berlangsung antara bulan Oktober – Mei dengan curah hujan rata-rata sekitar 200 mm/bulan, dan mencapai puncaknya pada bulan Desember – Maret dengan curah hujan melebihi 400 mm/bulan. Musim kemarau di kawasan ini terjadi antara bulan Juni – September dengan curah hujan rata-rata kurang dari 100 mm/bulan.

Walaupun kelembaban udara cukup tinggi, namun pada musim kemarau kondisi hariannya bervariasi, mulai dari 30% pada malam hari hingga 90% di sore hari. Pada siang hari suhu rata-rata di Cibodas sekitar 18° C, di puncak Gunung Gede ataupun Pangrango mencapai suhu 10° C dan dapat mencapai 0° – 5° C serta sering turun kabut tebal.

Secara umum, angin yang bertiup di kawasan ini merupakan angin muson yang berubah arah menurut musim. Pada musim hujan, terutama antara bulan Desember – Maret, angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan cukup tinggi dan sering mengakibatkan kerusakan hutan. Di sepanjang musim kemarau, angin bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan rendah.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dinamai berdasarkan nama dua gunung yang terletak berdampingan, yaitu Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3.019 mdpl). Daerah puncak Gunung Gede mempunyai kawah tang lebih tua daripada kawah Gunung Pangrango dengan dinding batu yang curam. Dinding batu ini terbuka ke arah timur laut dan merupakan lembah ke arah Sungai Cibatu. Gunung Gede ini pertama kali meletus pada tahun 1747 – 1748 dan terakhir meletus pada tahun 1948.

Topografi kawasan di TNGGP berupa pegunungan dengan ketinggian antara 1.000 – 3.019 mdpl. Gunung-gunung yang ada di TNGGP selain Gede dan Pangrango terdapat pula Gunung Sela, Gunung Mandalawangi, Gunung Gegerbentang, dan Gunung Gemuruh (2.929 mdpl). Gunung-gunung tersebut merupakan rangkaian poros vulkanik antara Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango dihubungkan oleh daratan yang berada pada ketinggian 2.400 mdpl (Kandang Badak). Di kawasan ini juga terdapat beberapa danau, yaitu Danau/Rawa Gayonggong (sekitar Cisaat), Danau Denok, dan Situ Gunung.

Jenis batuan yang terdapat di kawasan ini adalah andesit, basalt lava, breksi tupan, breksi vulkani, dan piroklasik. Jenis tanahnya adalah regosol dan latosol (asosiasi andosol dan regosol serta latosol cokelat).

Sungai-sungai yang terdapat dalam kawasan taman nasional secara umum membentuk pola radial. Terdapat sekitar 50 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan ini. Beberapa sungai penting yang berhulu dalam kawasan, antara lain Sungai Cimandiri yang mengalir ke arah selatan dan bermuara di Pelabuhan Ratu; Kali Angke yang bermuara di Laut Jawa; Sungai Cikundul dan Sungai Cianjur yang mengalir ke arah timur dan bermuara di Sungai Citarum.

 

4. Sejarah TNGGP

  • Tahun 1819 C.G.C. Reinwardt tercatat sebagai orang pertama yang mendaki Gunung Gede, disusul oleh F.W. Junghuhn (1839 – 1861), S.H. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. Docters van Leewen (1911), dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) yang membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan The Mountain Flora of Java (diterbitkan tahun 1972).
  • Tahun 1830 didirkan Kebun Raya Cibodas di lereng Gunung Gede yang merupakan tempat kina dan jenis-jenis tumbuhan eksotik yang pertama di Indonesia.
  • Tahun 1889 Kebun Raya Cibodas diperluas sampai batas hutan primer yang berada di atas kawasan.
  • Tahun 1919 hutan lindung di lereng selatan Gunung Pangrango dinyatakan sebagai Cagar Alam Cimungkat dengan luas 56 ha.
  • Tahun 1925 penetapan perluasan Kebun Raya Cibodas dicabut dan ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas-Gunung Gede dengan luas 1.040 ha.
  • Tahun 1975 kawasan Situ Gunung ditetapkan sebagai Taman Wisata dengan luas 120 ha.
  • 6 Maret 1980 Menteri Pertanian mendeklarasikan bahwa Cagar Alam Cimungkat, Cagar Alam Cibodas, Cagar Alam Gunung Gede-Pangrango, dan Taman Wisata Situ Gunung serta hutan-hutan alam di lereng Gunung Gede-Pangrango digabung dan ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan luas 15.000 ha. Hal ini dilakukan bersamaan dengan penetapan empat taman nasional lain, pada hari pencanangan Strategi Konservasi Dunia.
  • Tahun 1982 dikeluarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/1982 yang menyatakan luas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah 15.196 ha.
  • Tahun 1991 kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dinyatakan sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO.
  • Taman Nasional Gunung Gede Pangrango juga telah ditetapkan sebagai Sister Parks (kerjasama Indonesia – Malaysia).

 

5. Ekosistem dan Biodiversitas

5.1 Keanekaragaman Ekosistem

Sebagian besar kawasan ditutupi oleh hutan pegunungan yang merupakan salah satu hutan pegunungan dengan kondisi relatif masih baik dan tidak terganggu di Provinsi Jawa Barat. Ekosistemnya tergolong dalam hutan hujan tropis pegunungan yang dapat dibedakan atas tiga zona berdasarkan ketinggian.

Zona Submontana

Zona submontana (1.000 – 1.500 mdpl) ini ditandai oleh biodiversitas jenis yang tinggi dengan lima lapisan tajuk, banyak pohon-pohon besar dan didominasi oleh pohon Rasamala (Altingia excelsa) yang dapat mencapai tinggi 60 m, Castanopsis argentea, Antidesma tetradum, Litsea sp., semak-semak (Ardisia fulginosa), dan Dichora febrifuga. Jenis tumbuhan yang mendominasi umumnya berasal dari suku Fagaceae dan suku Lauraceae.

Terdapat banyak tumbuhan bawah, epifit, dan lumut, antara lain kelompok Begonia, paku-pakuan seperti Asplenium nidus yang dapat mencapai tinggi dua meter serta sekitar 200 jenis anggrek alam dan lumut merah (Sphagnum gedeanum).

Zona Monatana

Zona ini berada pada ketinggian 1.500 – 2.400 mdpl. Jenis-jenis yang ada di sini di antaranya adalah Puspa (Schima wallichii) dan tumbuhan berdaun jarum (Dacrycarpus imbricatus dan Podocarpus neriifolius) yang semakin ke atas keanekaragaman jenisnya semakin berkurang.

Zona Subalpin

Zona ini berada pada ketinggian lebih dari 2.400 mdpl. Hutan di zona ini memiliki tajuk yang terdiri dari dua lapis, yaitu lapisan pepohonan dan tumbuhan bawah, dan pohon-pohon yang ada semakin pendek tingginya. Jenis-jenis yang dominan pada zona ini di antaranya adalah Rhododendron retusum, Rhododendron javanicum, Myrsine avenis, Selligueafeei, dan Cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium). Cantigi dapat menjadi sangat dominan, bahkan merupakan penysuun tunggal di daerah kawah. Dijumpai juga tumbuhan khas dari puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango, yaitu Edelweis (Anaphalis javanica) yang umum disebut sebagai bunga abadi.

Tipe habitat lain yang juga ditemukan di kawasan ini adalah danau, rawa, padang rumput subalpin, dan kawah gunung, serta hutan dataran rendah di bagian barat daya kawasan.

5.2 Keanekaragaman Flora

Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango tercatat lebih dari 1.000 jenis. Jenis-jenis flora ini di antaranya adalah Altingia excelsa (rasamala), Anaphalis javanica (Edelweis), Calamus sp. (Rotan Buluh), Castanopsis argentea (Saninten), Dendrobium hasseltii (Anggrek), Ficus variegata (Kondang), Nepenthes gymnamphora (Kantong Semar), dan Schima wallichii (Puspa).

Sementara itu, tumbuhan endemik Pulau Jawa yang terdapat di kawasan ini adalah Edelweis (Anaphalis javanica), Lumut Merah (Sphagnum gedeanum), Dioscorea blumei, Dioacorea platycarpa, Amomum pseudofoetens, dan beberapa jenis Anggrek, seperti Corybas praetermissus, Malaxis sagitta, Stigmatodactylus javanicus, dan Liparis mucronatus.

5.3 Keanekaragaman Fauna

Satwa yang terdapat di kawasan Taman nasional Gunung Gede Pangrango juga sangat beranekaragam dan unik. Satwa-satwa yang ada di TNGGP di antaranya adalah Cacing Sonari yang dapat tumbuh mencapai panjang 60 cm dan dapat mengeluarkan suara yang terdengar nyaring dan bising. Kawasan ini juga merupakan daerah penyebaran berbagai jenis burung, tercatat 250 jenis burung dari 450 jenis burung yang ada di Pulau Jawa berada di kawasan konservasi ini dan 25 jenis di antaranya merupakan jenis endemik.

Elang Jawa dan Tesia merupakan burung endemik yang sebarannya hanya di beberapa lokasi di Pulau Jawa, salah satu habitat dari burung ini adalah di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Selain itu terdapat pula jenis burung-burung yang lain, seperti Spizaetus bartelsi (Elang Jawa), Spilornis cheela (Elang Ular), Tesia superciliaris (Tesia Jawa), Terron oxyura (Punai Salung), dan Strix seloputo (Burung Hantu).

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis mamalia. Lebih dari 100 jenis mamalia berhabitat di taman nasional ini dan di antaranya merupakan satwa endemik. Mamalia yang berhabitat di TNGGP di antaranya adalah

  • Hylobates moloch (Owa Jawa)
  • Presbytis comata (Surili)
  • Nycticebus javanicus (Kukang Jawa)
  • Manis javanica (Trenggiling) yang merupakan satwa endemik di Pulau Jawa
  • Hylopetes bartelsi (Bajing Terbang)
  • Hystrix javanica (Landak Jawa)
  • Panthera pardus (Macam Tutul)
  • Prionailurus bengalensis (Kucing Hutan)

Selain mamalia dan burung, TNGGP menjadi habitat penting satwa herpetofauna (Amfibi dan Reptil). Beberapa jenis herpetofauna yang terdapat di kawasan taman nasional ini, antara lain

  • Megophys montana (Katak Bertanduk)
  • Rhacophorus reinwardti (Katak Terbang)
  • Rhacophorus javanus (Katak Jawa)
  • Leptophryne cruentata (Kodok Gunung)
  • Calamaria linnaei (Ular)
  • Trimeresurus puniceus (Ular Hijau)

Berbagai jenis invertebrata dan serangga yang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango di antaranya adalah

  • Metaphire longa (Cacing Sonari)
  • Phyllium
  • Vespa velutina (Tawon)
  • Episcapha glabra (Kumbang)
  • Bombus rufipes (Lebah)
  • Papillio paris (Kupu-Kupu)
  • Actis maenas (Kupu-Kupu)
  • Delias (Kupu-kupu)

 

6. Pengelolaan Hutan oleh Masyarakat Sekitar TNGGP

Beberapa desa penyangga kawasan yang terdapat di TNGGP di antaranya adalah Desa Gede Pangrango, Desa Cikahuripan, Desa Sukamaju, dan Desa Sukamanis. Di Desa Gede Pangrango dan Desa Sukamaju penggunaan lahan sebagian besar untuk persawahan, di Desa Cikahuripan dan Desa Sukamanis untuk tegalan.

Lahan yang diusahakan di daerah ini sebagian besar terdiri atas lahan miring dengan tanaman semusim seperti sayur-sayuran dan tanaman tahunan seperti Kaliandra, Bambu, Jeunjing, dan Aren.

Meskipun pengelolaan hutan yang resmi bukan merupakan hal yang penting bagi masyarakat, masyarakat sekitar sangat bergantung pada pengadaan hasil-hasil hutan (baik HHBK ataupun HHK), seperti kayu, bambu, dan rotan. Sistem agroforestri juga harus dikembangkan di daerah penyangga ini karena akan berdampak positif terhadap pengawetan tanah, hutan, dan pendapatan masyarakat.

 

7. Penduduk Sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Berdasarkan data potensi desa (data tahun 1998), jumlah penduduk di sekitar TNGGP yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi adalah sebagai berikut.

  • Penduduk di Kabupaten Bogor yang berdekatan dengan TNGGP berjumlah 111.967 orang, terdiri atas laki-laki sebanyak 56.205 orang dan perempuan sebanyak 55.762 orang dengan kerapatan 1.602 orang/km2.
  • Penduduk di Kabupaten Cianjur yang daerahnya berbatasan dengan kawasan TNGGP berjumlah 133.912 orang dengan rincian 66.572 jiwa laki-laki dan 67.340 jiwa penduduk perempuan dengan kerapatan 1.636 orang/km2.
  • Penduduk yang bertempat tinggal di Sukabumi di mana kawasannya berbatasan langsung dengan TNGGP berjumlah 145.607 orang yang terdiri atas 71.627 orang laki-laki dan 73.980 orang perempuan dengan kerapatan 1.337 orang/km2.

7.1 Tingkat Pendidikan Penduduk di Sekitar TNGGP

Kabupaten Bogor

Tingkat pendidikan penduduk di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang masuk ke dalam wilayah administratif kabupaten Bogor adalah sebagai berikut

  • Belum sekolah dan tidak tamat SD 18,07%
  • SD 42,91%
  • SMP 22,09%
  • SMA 10,20%
  • Akademi 0,29%
  • Universitas 0,22%
  • dan lain-lain 6,20%

Kabupaten Cianjur

Tingkat pendidikan penduduk di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang masuk ke dalam wilayah administratif kabupaten Cianjur adalah sebagai berikut

  • Belum sekolah dan tidak tamat SD 31,43%
  • SD 50,87%
  • SMP 8,57%
  • SMA 7,43%
  • Akademi 0,75%
  • Universitas 0,56%
  • dan lain-lain 0,39%

Kabupaten Sukabumi

Tingkat pendidikan penduduk di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang masuk ke dalam wilayah administratif kabupaten Sukabumi adalah sebagai berikut

  • Belum sekolah dan tidak tamat SD 47,5%
  • SD 38,99%
  • SMP 7,92%
  • SMA 4,5%
  • Akademi 0,12%
  • Universitas 0,05%
  • dan lain-lain 16,5%

7.2 Perekonomian Masyarakat Sekitar TNGPP

Berdasarkan data dari potensi desa pada tahun 1998, perekonomian penduduk berdasarkan mata pencaharian di sekitar TNGGP adalah sebagai berikut

Kabupaten Bogor

  • Pegawai Negeri (1.333 orang)
  • ABRI (158 orang)
  • Petani (18.868 orang)
  • Pedagang (4.058 orang)
  • Buruh (24.785 orang)
  • Wiraswasta (442 orang)
  • Lain-lain dan jasa (9.952 orang)

Kabupaten Cianjur

  • Pegawai Negeri (1.463 orang)
  • ABRI (211 orang)
  • Petani (14.544 orang)
  • Pedagang (8.209 orang)
  • Buruh (10.702 orang)
  • Wiraswasta (332 orang)
  • Lain-lain dan jasa (7.580 orang)

Kabupaten Sukabumi

  • Pegawai Negeri (1.293 orang)
  • ABRI (93 orang)
  • Petani (33.785 orang)
  • Pedagang (4.255 orang)
  • Buruh (26.135 orang)
  • Wiraswasta (2.274 orang)
  • Lain-lain dan jasa (7.867 orang)

 

8. Penggunaan Lahan

Berdasarkan data dari potensi desa tahun 1998, tata guna dan pola penggunaan lahan di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang masuk ke dalam wilayah kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi adalah sebagai berikut

Kabupaten Bogor

  • Pemukiman dan pekarangan (1.110.885 ha)
  • Sawah (4.386.938 ha)
  • Pertanian/ladang (1.310.235 ha)
  • Penggembalaan dan hutan negara (2.317.060 ha)
  • lain-lain (3.191.601 ha)

Kabupaten Cianjur

  • Pemukiman dan pekarangan (2.024.040 ha)
  • Sawah (1.125.785 ha)
  • Pertanian/ladang (2.879.660 ha)
  • Penggembalaan dan hutan negara (1.745.495 ha)
  • lain-lain (2.275.755 ha)

Kabupaten Sukabumi

  • Pemukiman dan pekarangan (1.364.075 ha)
  • Sawah (4.433.700 ha)
  • Pertanian/ladang (5.240.673 ha)
  • Penggembalaan dan hutan negara (7.386.230 ha)
  • lain-lain (2.887.579 ha)

 

9. Destinasi Wisata

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu daerah tujuan wisata dan dekat dengan daerah obyek wisata lainnya, seperti kawasan Puncak dan Taman Safari Bogor. Umumnya obyek wisata di kawasan ini berupa wisata pegunungan yang memiliki pemandangan alam dengan udara yang segar dan bersih. Hal yang cukup baik, kawasan ini merupakan satu-satunya daerah konservasi yang membatasi jumlah pengunjung yang masuk.

Beberapa destinasi wisata yang bisa anda kunjungi adalah sebagai berikut:

Telaga Biru di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Telaga Biru dengan luas kurang lebih 5 ha pada ketinggian 1.575 mdpl dengan jarak sekitar 1,5 km (15 menit perjalanan dari pintu masuk Cibodas), merupakan danau yang memiliki air berwarna biru karena adanya pengaruh jenis ganggang biru.

 

Rawa Gayonggong di Trek Pendakian TNGGP

Rawa Gayonggong merupakan rawa yang terbentuk oleh kawah mati yang menampung air dari daerah yang lebih tinggi.

 

Air Terjun Cibeureum TNGGP

Air terjun Cibeureum yang berada pada ketinggian 1.625 mdpl dengan jarak sekitar 2,8 km (1 jam perjalanan dari pintu masuk Cibodas) merupakan salah satu air terjun yang bisa anda nikmati.

 

Air Panas di Jalur Pendakian

Air panas yang berada pada ketinggian 2.150 mdpl dengan jarak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari pintu masuk Cibodas, terletak berdampingan dengan jalur pendakian sehingga sering dimanfaatkan untuk tempat beristirahat oleh para pendaki. Suhu air di sini dapat mencapai 75° C dan banyak mengandung belerang.

 

Pemandangan di Puncak Gunung Gede

Puncak dan kawah Gunung Gede yang berada pada ketinggian 2.958 mdpl dengan jarak sekitar 9,7 km (5 jam perjalanan dari pintu masuk Cibodas) memiliki panorama yang sangat indah. Di sini anda juga dapat melihat matahari terbit dan terbenam serta pemandangan hamparan kota Cianjur, Sukabumi, dan Bogor dari ketinggian.

 

Puncak Gunung Pangrango

Puncak Gunung Pangrango berada pada ketinggia 3.019 mdpl dengan jarak sekitar 3 km (3 jam perjalanan dari Kandang badak atau 11km/6,5 jam perjalanan dari pintu masuk Cibodas) memiliki pemandangan yang indah dan lebih luas lagi karena ketinggian puncak Gunung Pangrango lebih tinggi daripada Gunung Gede.

 

Air Terjun Cibeureum Selabintana

Air terjun Cibeureum Selabintanan berada pada ketinggian 1.350 mdpl dengan jarak 2,4 km atau 45 menit perjalanan dari pintu masuk Selabintana.

 

Air Terjun Sawer TNGGP

Air terjun Sawer berada pada ketinggian 1.200 mdpl dengan jarak 1,95 km atau 20 menit perjalanan dari pintu masuk Situ Gunung.

 

Kandang Batu Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango

Kandang Batu merupakan salah satu destinasi wisata yang berada pada ketinggian 2.200 mdpl dengan jarak tempuh sekitar 5,6 km atau 2,5 jam dari pintu masuk Cibodas.

 

Kandang Badak TNGGP

Kandang Badak merupakan destinasi wisata sekaligus merupakan camping ground bagi para pendaki Gunung Gede-Pangrango. Tempat ini berada pada ketinggian 2.400 mdpl dengan jarak sekitar 7,8 km atau 3,5 jam perjalanan dari pintu masuk Cibodas. Tempat ini juga merupakan tempat dimana pendaki harus menentukan pendakian akan dilanjutkan ke puncak Gunung Pangrango atau Gunung Gede.

 

Alun-Alun Surya Kencana

Alun-alun Suryakencana berada pada ketinggian 2.750 mdpl dengan jarak sekitar 11,8 km atau 6 jam perjalanan dari pintu masuk Cibodas. Tempat ini banyak ditumbuhi dengan Edelweis dan merupakan tempat berkemah yang sangat disenangi oleh para pendaki.

 

Selabintana TNGGP

Selabintana merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menarik. Di sini terdapat air terjun dan bumi perkemahan yang dapat menampung lebih dari 150 orang.

 

Danau Situ Gunung Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Taman wisata Situ Gunung merupakan destinasi wisata lainnya yang di dalamnya terdapat danau, air terjun, dan tempat berkemah.

 

Basecamp Gunung Putri

Basecamp Gunung Putri pun merupakan salah satu destinasi wisata, terutama bagi para pendaki yang akan mendaki melalui jalur Gunung Putri.

 

Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu destinasi wisata yang menyimpan koleksi berbagai macam tumbuhan khas hutan hujan tropis dataran tinggi.

 

Kawasan Konservasi Bodogol

Kawasan Pendidikan Konservasi Bodogol merupakan kawasan yang berada dekat dengan Hotel Lido, Bogor. Di sini terdapat fasilitas pendidikan dan penginapan untuk 40 orang dan juga terdapat jembatan kanopi antar pohon.

 

Pusat Rehabilitasi Owa Jawa

Pusat Rehabilitasi Owa Jawa dengan fasilitas dan rumah sakit hewan.

 

Pengamatan Satwa Liar di Sadengan

Pengamatan satwa liar yang dapat dilakukan pada pagi hari antara pukul 05.00 – 09.00 WIB dan pada sore hari pada pukul 15.00 – 18.00 WIB merupakan agenda yang sangat asyik untuk anda yang menggemara satwa liar.

 

Di luar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) sendiri terdapat beberapa destinasi wisata yang tidak kalah menarik, seperti Taman Safari Indonesia, Taman Rekreasi Lido, Kebun Raya Cibodas, Taman Wisata Mandalawangi, Taman Wisata Situ Gunung, Taman Rekreasi Salabintana, dan Bumi Perkemahan Salabintana.

 

10. Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango

Gunung Gede Pangrango sejatinya terdiri atas Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang mana puncaknya saling bersebelahan. Puncak dari Gunung Gede memiliki kawah berapi, sedangkan puncak Gunung Pangrango memiliki ketinggian yang lebih tinggi namun tidak memiliki kawah ataupun kaldera.

Jalur pendakian yang biasa dipakai oleh para pendaki adalah jalur Gunung Putri, Selabintana, dan Cibodas.

10.1 Jalur Pendakian Melalui Cibodas

Jalur pendakian ini sangat cocok bagi anda yang berdomisili di daerah Bogor, Banten, Jakarta, dan sekitarnya karena cenderung memiliki jarak yang lebih dekat daripada jalur pendakian yang lain.

Untuk mencapai lokasi ini apabila menggunakan kendaraan umum, anda dapat menggunakan bus jurusan Bogor – Bandung atau Bandung – Jakarta yang melalui puncak, kemudian di daerah pacet yang dekat dengan Rumah Sakit Daerah Cianjur dilanjutkan dengan menaiki mobil angkot untuk menuju Kebun Raya Cibodas. Di Kebun Raya Cibodas inilah terdapat jalur pendakian yang bisa anda tempuh.

Sebelum melakukan pendakian di jalur ini, terlebih dahulu barang bawaan anda akan dicek. Pastikan anda sudah mendapatan Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dan dokumen lainnya yang dibutuhkan, apabila belum membuat dokumen ini silakan kunjungi terlebih dahulu kantor pengelola TNGGP. Barang-barang seperti pisau, golok, radio, sabun, detergen, tidak diperbolehkan dibawa oleh para pendaki.

Di jalur pendakian ini terdapat beberapa pos. Pos yang ada ini merupakan bangunan terbangun yang memiliki atap sehingga bisa digunakan sebagai tempat berlindung dari cuaca yang sedang tidak sesuai.

Awal perjalanan dari basecamp awal (Kebun Raya Cibodas), anda akan melalui jalur berbatu yang di samping kanan-kiri merupakan jenis hutan hujan tropis dataran tinggi. Di jalur ini pula anda akan menemukan Telaga Biru yang letaknya sekitar 1,5 km dari basecamp awal.

Pos kedua yang bisa dipakai istirahat oleh anda adalah pos Panyangcangan Kuda (tempat diikatnya kuda) yang letaknya berada pada ketinggian 1.628 mdpl. Sebelum mencapai pos ini, anda akan melewati jembatan yang terbuat dari beton dan sebagian masih dari kayu yang berada di sepanjang sungai. Di jembatan ini anda harus berhati-hati karena terdapat beberapa lubang yang berbahaya.

Sesaat setelah pos kedua, anda akan menemui pertigaan. Pastikan anda mengambil jalan yang sesuai. Pertigaan ini akan mengantarkan anda ke arah air terjun Cibeureum atau ke arah puncak. Air terjun Cibeureum sendiri berada pada ketinggian 1.675 mdpl dan ditempuh dalam 30 menit.

Pos berikutnya adalah pos Batu Kukus yang berada pada ketinggian 1.820 mdpl. Untuk mencapai pos ini anda harus melalui jalanan yang menanjak dan berliku sehingga akan menguras energi para pendaki.

Pos berikutnya adalah pos Pondok Pemandangan yang berada pada ketinggian 2.150 mdpl. Untuk mencapai lokasi ini anda tentunya akan cukup senang karena medan jalur ini tidak terlalu menanjak dan cenderung landai, bahkan terdapat turunan.

Pos selanjutnya adalah pos Kandang Batu. Untuk mencapai pos ini jalur yang harus ditempuh menanjak dan memiliki berbagai rintangan yang mewajibkan anda untuk ekstra hati-hati. Di jalur ini anda akan melewati sungai yang berisikan air panas dari mata air alami di gunung ini. Anda akan melalui jalur ini dengan cara menyusuri sungai air panas, di sini anda harus ekstra hati-hati karena jalan yang dipijak adalah bebatuan yang sudah banyak ditumbuhi oleh lumut sehingga akan sangat licin. Jalan di samping sungai ini pun sangat sempit sehingga hanya muat untuk satu orang saja.

Pos selanjutnya adalah pos Kandang Badak. Dari pos sebelumnya anda akan memlaui jalur sempit dan kemudian menapaki jalur yang cukup landai sampai akhirnya tiba di pos ini. Di pos ini sebaiknya anda membangun tenda karena di sini tidak ada bangunan yang cocok untuk berlindung. Di Kandang Badak ini juga merupakan site untuk berkemah yang baik. Pastikan di sini anda mengisi cadangan air karena setelah pos ini, air akan susah untuk ditemui.

Setelah itu anda berjalan kembali, anda akan menghadapi pertigaan. Arah kiri menuju puncak Gunung Pangrango dan arah kanan menuju puncak Gunung Gede.

Jalur menuju puncak Gunung Gede diwarnai dengan tanjakan yang sangat terjal dan ada beberapa tanjakan yang kemiringannya hampir 90 derajat. Tanjakan ini dinamai Tanjakan Setan, namun jangan khawatir karena di tanjakan ini sudah disediakan tali untuk membantu anda menaikinya. Setelah itu anda hanya tinggal berjalan mangarungi jalur berpasir untuk sampai di puncak yang berketinggian 2.958 mdpl.

Jalur menuju puncak Gunung Pangrango diwarnai dengan suasana hutan belantara khas hutan hujan tropis dataran tinggi. Di sini anda akan menemui berbagai jenis pohon yang berukuran besar. Di puncak Gunung Pangrango yang memiliki ketinggian 3.019 mdpl masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan sehingga apabila anda ingin melihat pemandangan yang indah anda harus pergi terlebih dahulu ke alun-alun Mandalawangi yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan bunga edelweis.

10.2 Jalur Pendakian Gunung Putri

Basecamp jalur pendakian ini berada dekat denga basecamp Cibodas, letak persisnya berada di antara pasar Cipanas dengan Istana Cipanas. Anda dapat menjangkau tempat ini dengan menggunakan kendaraan umum sampai pasar Cipanas, kemudian menggunakan angkutan umum menuju ke kaki gunung Gede Pangrango, tepatnya menuju basecamp Gunung Putri.

Basecamp Gunung Putri berada pada ketinggian 1.450 mdpl. Jalur ini lebih terjal dibandingkan dengan jalur Cibodas, namun dengan jalur ini anda dapat menghemat waktu perjalanan dan juga akan melewati lautan Edelweis di Surya Kencana.

Di basecamp Gunung Putri juga, anda akan diperiksa oleh petugas TNGGP. Apabila anda membawa barang yang dilarang untuk pendakian maka barang-barang tersebut akan disita oleh petugas dan bisa diambil kembali ketika anda menuruni gunung.

Awal perjalanan menyusuri jalur ini anda akan disambut oleh jalanan bebatuan yang di kanan kirinya merupakan kebun milik warga. Kemudian setelah melewati sungai jalan menanjak mulai anda rasakan. Untuk persediaan air, anda dapat mengambil air dari pipa air bersih milik warga yang berlubang.

Pos pertama yang akan kamu kunjungi adalah pos Tanah Merah. Pos ini berjarak sejauh 60 menit perjalanan dari pipa air tadi. Pos Tanah Merah sendiri merupakan bangunan tua bekas kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pos yang berada pada ketinggian 1.850 mdpl ini memiliki dinding dan lantai yang sudah berlubang namun masih layak untuk dipakai berlindung karena memiliki atap yang masih bagus.

Pos Legok Lenca merupakan pos selanjutnya setelah pos Tanah Merah. Pos ini berada pada ketinggian 2.150 mdpl. Untuk mencapai pos ini, kita harus menyusuri jalanan yang lebih menanjak dari sebelumnya ditemani dengan suasana sunyi senyap khas hutan hujan tropis dataran tinggi yang sangat lebat.

Setelah pos Legok Lenca, anda akan disambut dengan trek yang lebih menantang dari sebelumnya. Trek ini akan sangat berdebu pada musim kemarau dan akan sangat licin pada saat musim hujan. Parahnya lagi, trek di sini hanya cukup untuk satu orang jadi apabila anda berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun, salah satu dari anda harus menunggu terlebih dahulu.

Setelah berjalan sekitar 180 menit dari pos sebelumnya, anda akan sampai di pos Buntut Lutung (Ekor Lutung) yang berada pada ketinggian 2.300 mdpl. Di pos ini anda dapat mendirikan tenda untuk beristirahat karena tempat ini cenderung datar dan rimbun oleh pepohonan.

Pos selanjutnya adalah pos Lawang Seketeng pada ketinggian 2.500 mdpl lalu pos Maleber pada ketinggian 2.625 mdpl. Pos Maleber ini menyediakan bangunan untuk berteduh ketika hujan turun atau untuk sekedar berteduh dari sinar matahari.

Setelah melakukan perjalanan kembali anda akan menemui padang Edelweis yang sangat luar biasa. Tempat ini disebut sebagai Alun-Alun Surya Kencana. Alun-alun Surya Kencana ini merupakan tempat bertemunya para pendaki yang menggunakan jalur Gunung Putri dan Selabintana. Para pendaki dari Gununung Putri akan sampai di daerah ini dari arah Timur, sedangkan dari arah Selabintana akan muncul dari arah Barat alun-alun ini.

Hanya butuh sedikit perjuangan lagi untuk mencapai puncak Gunung Gede apabila anda sudah berada di Alun-Alun Surya Kencana karena puncak gunung tersebut sudah jelas terlihat dari arah Surya Kencana.

10.3 Jalur Pendakian Selabintana

Basecamp Selabintana yang merupakan salah satu gerbang menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango terletak pada letinggian 960 mdpl. Basecamp ini merupakan basecamp paling rendah dibandingkan dengan basecamp yang lainnya.

Jalur ini juga merupakan jalur yang tidak disukai oleh para pendaki karena di sepanjang jalur terdapat pacet yang siap menguras darah para pendaki serta jalurnya yang sulit diakses oleh kendaraan umum.

Meskipun demikian, Selabintana merupakan tempat rekreasi yang cukup asyik karena tempat ini menyediakan tempat bermain, camping ground, penginapan, hotel, dan air terjun yang menawan.

Air terjun yang disebutkan di atas merupakan air terjun Cibeureum yang memiliki ketinggian 70 meter. Sayangnya memang akses untuk menuju ke lokasi ini cukup jauh dan memakan energi yang cukup besar.

Sama seperti basecamp yang lainnya, di basecamp ini anda akan diperiksa terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan dengan berbagai urusan administrasi anda bisa langsung mendaki melalui jalur ini atau berkemah terlebih dahulu di Selabintana.

Track ini akan diawali dengan jalanan dengan alas batu yang disusun rapi untuk kenyamanan para pendaki. Kemudian anda akan menyusuri sungai yang sangat jernih dan bisa juga sebagai cadangan persediaan air minum anda. Lalu anda akan memasuki hutan yang cukup lebat ditemani oleh berbagai suara khas satwa di hutan, bahkan anda akan menemukan monyet-monyet bergelantungan di sekitar jalur pendakian ini.

Setelah 30 menit berjalan anda akan melihat menara pengamatan burung. Kemudian anda akan mencapai pos pertama, pos Citinggir yang berada pada ketinggian 1.000 mdpl.

Selepas dari pos ini, anda akan melalui jalur yang sangat dipenuhi oleh pacet yang akan menyedot darah anda. Jalur ini pun mulai terasa berat karena tanjakan yang mulai terasa dan tanah yang gembur sehingga akan licin apabila dilewati.

Agar anda terhindar dari serangan pacet, siapkanlah obat anti nyamuk semprot karena pacet sangat tidak suka dengan benda tersebut. Untuk berjaga-jaga, sebelum melakukan pendakian pun gunakanlah sepatu yang menutupi mata kaki dan menggunakan kaos kaki yang tebal sampai menutupi lutut. Alangkah lebih lagi apabila sebelumnya anda mengoleskan cairan tembakau agar pacet tidak mudah menyerang.

Pos selanjutnya adalah pos Citinggir Barat yang terletak pada ketinggian 1.175 mdpl. Selanjutnya anda akan menempuh jalur yang menanjak kemudian melandai dan pacet-pacet pun mulai hilang. Pos selanjutnya adalah pos Cigeber yang berada pada ketinggian 1.300 mdpl.

Selepas dari pos Cigeber, anda akan menyusuri trek yang mulai terbuka dari pepohonan dan apabila anda melakukan perjalanan malam, anda akan melihat banyak bintang-bintang bertaburan.

Pos selanjutnya adalah pos Cileutik yang berada pada ketinggian 1.500 mdpl. Beranjak dari pos ini, kita dapat menemui air terjun pendek yang dapat anda nikmati. Setelah menyebrangi air terjun ini, trek kembali menanjak dan pemandangan kembali berupa hutan yang rimbun. Perjalanan ini akan ditemani oleh trek dengan tanah yang basah dan akan membuat perjalanan terasa sulit.

Setelah pos Cileutik ini anda akan menemukan site untuk berkemah yang sampai akhirnya apabila terus melakukan perjalanan anda akan sampai di suatu pertigaan yang memberikan jalan ke arah puncak Gunung Gumuruh atau ke arah Alun-Alun Surya Kencana.

Setelah sampai di Alun-Alun Surya Kencana puncak Gunung Gede sudah sangat terlihat hanya tinggal menanjak sedikit lagi. Apabila akan melakukan pendakian ke puncak Gunung Pangrango maka tinggal mengikuti jalur yang ada.

 

11. Peraturan bagi Para Pengunjung

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan bagi anda yang ingin mengunjungi hutan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

  • Setiap pengunjung harus memiliki Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi
  • Segala bentuk penelitian yang dilakukan di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) harus mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak tertentu
  • Dilarang membuang sampah sembarang dan meninggalkan sampah di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sampah harus dibuang di luar kawasan TNGGP.
  • Dilarang membawa keluar benda apapun yang berasal dari dalam kawasan TNGGP.
  • Dilarang melakukan perusakan terhadap flora maupun fauna di dalam kawasan.
  • Dilarang membuat api yang dapat mengakibatkan kebakaran hutan.
  • Pendakian harus ditemani oleh para pendaki yang sudah berpengalaman atau dengan petugas TNGGP.
  • Para pendaki harus membawa peralatan pendakian standar.
  • Pendakian tidak boleh menggunakan sandal.
  • Pendakian harus dilaksanakan secara beregu.

 

12. Fasilitas

Fasiltas yang disediakan oleh pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di antaranya adalah:

  • Pusat Informasi
  • Kantor Balai Besar
  • Cek kesehatan untuk pendakian
  • Kebun Raya Cibodas
  • Camping site
  • Pos pendakian
  • Penunjuk arah pendakian
  • Pusat Pendidikan Konservasi Bodogol
  • MCK
  • Canopy Walk

 

13. Akses Menuju Kawasan

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sangat ramai dikunjungi oleh para pecinta wisata alam, terutama pada hari Sabtu. Kawasan ini dapat dimasuki melalui jalan setapak yang telah tersedia di setiap pintu masuk kawasan (Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana).

Pintu masuk Cibodas dapat diakses dari Jalan Raya Bogor – Bandung dan masuk ke arah Selatan di kawasan kecamatan Pacet, Cianjur yang dekat dengan RSUD Cianjur.

Pintu masuk Gunung Putri dapat diakses juga dari Jalan Raya Bogor – Bandung, namun untuk menjangkau tempat ini kita harus berbelok ke arah selatan dari Cipanas.

Tautan terkait
..

Selabintana merupakan pintu masuk yang lebih dekat dengan Sukabumi. Pintu masuk ini harus diakses dari Sukabumi.

 

14. Mitra Pengelola TNGGP

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam pengelolaannya tidak hanya berdiri sendiri, namun ada beberapa organisasi yang saling bekerjasama untuk mencapai pengelolaan yang lestari. Mitra pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di antaranya adalah

  • Yayasan WWF Indonesia
  • Yayasan Owa Jawa (YOJ)
  • The Indonesian Network for Plan Conservation (InetPC)
  • Conservation International-Indonesia Program (CI-IP)
  • Yayasan Alam Mitra Indonesia (ALAMI)
  • USAID
  • Konsorsium Gedepahala
  • SKEPHI
  • Yayasan Bio Sain dan Bioteknologi Bandung (YPBB)
  • Hans Seidel Foundation
  • BPPT
  • Voluntary Service Overseas (VSO)
  • Sarbi Moerhani Lestari
  • Relawan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango
  • Pemerintah daerah kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi

 

15. Kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Jl. Raya Cibodas 3 Sindanglaya, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
Kode Pos 43253
Telp. (0263) 512776
Fax. (0263) 519415
www.gedepangrango.org

 

Referensi:

Basecamp Para Pendaki. Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrangi via Selabintana. [http://www.pendakigunung.top/2017/05/jalur-pendakian-gunung-gede-pangrango-via-selabintana.html] diakses pada 21 November 2017.

Supriatna J. 2014. Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia

Zona Libur. Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango via Cibodas. [http://zonalibur.com/jalur-pendakian-gunung-gede-pangrango-via-cibodas/] diakses pada 18 November 2017.

Silakan Baca Juga Artikel Terkait Kami
Ringkasan
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP): Wisata, Lokasi, Luas, Pendakian, Sejarah, dan Biodiversitas
Judul Artikel
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP): Wisata, Lokasi, Luas, Pendakian, Sejarah, dan Biodiversitas
Deskripsi
Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia bersama dengan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dan 3 taman nasional lainnya. Taman nasional ini menyimpan banyak kekayaan biodiversitas dan memiliki lansekap yang sangat indah untuk dinikmati.
Penulis
Publisher
Forester Act
Publisher Logo
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP): Wisata, Lokasi, Luas, Pendakian, Sejarah, dan Biodiversitas
Rating: 4.9 from 35 votes