Konservasi: Pengertian, Metode, dan Sejarah

Diposting pada

5. Sejarah Konservasi di Indonesia

Sebelumnya, pada abad ke-15 kegiatan konservasi sudah dijalankan pada masa kerajaan nusantara yang berbasiskan tradisi sakral. Pada masa tersebut, unsur magis seperti kepercayaan mistis dan kekuatan alam sangat kental di berbagai elemen kehidupan masyarakat.

Banyak sekali pantangan-pantangan pada masa  tersebut. Misalnya, dilarang nebgambil jenis-jenis pohon atau hewan tertentu dan larangan memasuki tempat seperti rawa, danau, hutan dan gunung.

Larangan-larangan tersebut secara tidak langsung merupakan tindakan konservasi yang dilakukan masyarakat pada zaman tersebut.

Konservasi di Indonesia berawal dari adanya keinginan untuk memiliki sumber daya alam yang dimiliki Indonesia oleh naturalis Belanda. Berikut sejarah konservasi di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda:

  • Tahun 1910: Para naturalis Belanda tidak setuju apabila adanya kebijakan atau tindakan kolonial yang merusak ekosistem sehingga melahirkan adanya Undang-Undang Perlindungan bagi Mamalia Liar dan Burung Liar.
  • 22 Juli 1912: dibentuk Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda di Bogor dengan ketua SH Koorders yang mengusulkan tempat-tempat serta berbagai jenis flora dan fauna tertentu untuk perlindungan. Kemudian terdapat 12 lokasi yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Lokasi tersebut yaitu beberapa danau di Banten, Pulau Krakatau, dan Pulau Panaitan, laut Pasir Bromo, Pulau Nusa Barung, Semenanjung Purwo dan Kawah Ijen.
  • Tahun 1916: dibuat peraturan dan melahirkan Peraturan tentang Monumen Alam serta menetapkan 43 monumen alam salah satunya Taman Nasional Ujung Kulon di tahun 1921.
  • Tahun 1937: didirikan Natuur Bescherming afseling Ven’s Lands Flantatuin oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk pengawasan terhadap cagar alam dan suaka margasatwa baik flora dan faunanya juga termasuk mengurus pegawai dan anggarannya.
  • Tahun 1940: diterbitkannya Peraturan Perburuan Jawa-Madura sehingga terdapat pembagian tugas yaitu kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dikelola langsung oleh Kantor Besar Kehutanan di Bogor. Sedangkan kawasan Cagar alam dan suaka Margasatwa lainnya dikelola oleh Inspektur Kehutanan Provinsi.

Setelah Indonesia merdeka, upaya-upaya konservasi tak berhenti sampai di situ. Berikut sejarah konservasi di Indonesia setelah kemerdekaan:

  • Tahun 1947: penetapan Bali Barat sebagai kawasan Suaka Alam.
  • Tahun 1950: adanya Urusan Perlindungan Alam di Djawatan Kehutanan, dengan tugas utama menangani perburuan badak di Ujung Kulon.
  • Tahun 1952: terbentuknya Lembaga Pengawetan Alam oleh Kebun Raya Bogor.
  • Tahun 1956: Urusan Perlindungan Alam di Djawatan Kehutanan statusnya berubah menjadi Bagian Perlindungan Alam (BPA) sehingga secara penuh untuk menyelenggarakan organisasi secara vertikal.
  • Tahun 1954: adanya kerjasama dengan IUCN dan rehabilitasi suaka margasatwa.
  • Tahun 1950-1959: penertiban tanah-tanah yang dikuasai masyarakat secara represif oleh Djawatan Kehutanan.
  • Tahun 1966: terbentuk Direktorat Jenderal Kehutanan yang berada dibawah Departemen Pertanian melalui Surat Keputusan Presiden Kabinet Nomor 75/II/Kep/11/1966.
  • 9 Maret 1967: terbentuk Struktur Organisasi Departemen Kehutanan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor Kep./30/11/1966 dan Nomor Kep/18/3/1967
  • 25 – 28 November 1969: pertemuan teknis IUCN ke – 7 di New Delhi, India Indonesia mengutus IDr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng dan Ir. Hasan Basjarudin.
  • Tahun 1974: Kegiatan oleh Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam yang berhasil menyusun kawasan-kawasan konservasi yang ada di Indonesia dengan bantuan FAO/ UNDP serta NGO lainnya.
  • Tahun 1978: tercatat 104 jenis satwa dinyatakan dilindungi
  • Tahun 1982: Kongres Taman Nasional Sedunia ke – 3 di Bali yang melahirkan Deklarasi Bali.
  • Tahun 1983: dibentuknya Departemen Kehutanan sehingga Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam statusnya diubah menjadi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA)
  • Tahun 1985: tercatat 95 jenis mamalia, 371 jenis burung, 28 jenis reptile, 6 jenis ikan, dan 20 jenis serangga dinyatakan dan ditetapkan dilindungi oleh Negara.

Jadi, Konservasi sangat dibutuhkan demi keberlangsungan semua makhluk hidup di dunia ini ya. Semoga artikel ini menambah wawasan Anda. Salam Lestari!

 

Editor:
Mega Dinda Larasati