Taman Nasional: Pengertian, Daftar, Zonasi, dan Kasus yang Terjadi

Taman nasional (TN) atau dalam bahasa inggris disebut dengan National park merupakan salah satu tempat yang sangat penting bagi pelestarian makhluk hidup dan sekaligus plasma nutfahnya.

Taman nasional yang ada di Indonesia terletak menyebar dari Sabang sampai Merauke, baik berupa TN daratan ataupun TN bahari (lautan).

Tak jarang pula taman nasional dijadikan sebagai tempat wisata alam yang sangat alami dan menantang, di pulau Jawa saja hampir semua gunung-gunung yang sering didaki termasuk ke dalam kawasan taman nasional, sehingga sebelum melakukan pendakian harus didahului dengan pembuatan surat izin memasuki kawasan konservasi. Penasaran dengan taman nasional yang ada di Indonesia dan ingin mengetahui lebih dalam tentang hal ini? Mari simak ulasan berikut.

Lansekap-Taman-Nasional-Laut-Bunaken
Lansekap Taman Nasional Bunaken

DAFTAR ISI
1.Definisi atau Pengertian Taman Nasional
2. Pengelolaan Taman Nasional
3. Sejarah Taman Nasional
4. Daftar Taman Nasional di Indonesia
5. Zonasi Taman Nasional
6. Contoh Kasus yang Terjadi di Taman Nasional
7. Taman Nasional dan Biogeografi Indonesia
8. Bagaiman Menjadi Wisatawan Taman Nasional
9. Destinasi Olahraga dan Wisata di Taman Nasional

 

1. Definisi atau Pengertian Taman Nasional

Pengertian taman nasional berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2016 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi pada Kawasan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam pada pasal 1 ayat 1 berbunyi,

Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Meskipun taman nasional memiliki fungsi utama untuk konservasi atau pengawetan alam, di berbagai negara memiliki fungsi yang berbeda-beda. TN di Indonesia salah satunya diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati.

Meskipun berbeda-beda, TN di berbagai negara memiliki ciri-ciri berikut:

  1. Biasanya dalam ekosistemnya terdapat flora dan fauna yang khas dan unik (Taman Nasional Komodo yang di dalamnya terdapat spesies Komodo atau TN Ujung Kulon yang didalamnya terdapat Badak Bercula Satu)
  2. Ekosistem didalamnya masih asli
  3. Memiliki luasan yang cukup untuk menunjang proses ekologi
  4. Dikelola melalui sistem zonasi kawasan sesuai dengan fungsinya

 

2. Pengelolaan Taman Nasional

  • Kawasan Hutan Produksi
    • Hutan Produksi Terbatas (HPT)
    • Hutan Produksi Tetap (HP)
    • Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK)
  • Kawasan Hutan Lindung
  • Kawasan Hutan Konservasi
    • Kawasan Suaka Alam
      • Cagar Alam (CA)
      • Suaka Margasatwa (SM)
    • Kawasan Hutan Pelestarian Alam (KPA)
      • Taman Nasional (TN)
      • Taman Wisata Alam (TWA)
      • Taman Hutan Raya (Tahura)
    • Taman Buru

Berdasarkan hierarki penatagunaan fungsi kawasan hutan di atas, TN termasuk ke dalam Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang merupakan bagian dari hutan yang berfungsi sebagai Hutan Konservasi.

Penatagunaan kawasan hutan tersebut berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 pasal 16 yang membahas mengenai kegiatan penetapan fungsi dan penggunaan kawasan hutan.

Penatagunaan kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah fungsi dan peruntukan kawasan tersebut.

Pengelolaan Taman Nasional di Indonesia saat ini dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional terkait yang berada di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK). Contoh pengelola Taman Nasional misalnya, Balai Besar Taman Nasional Ujung Kulon, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dsb.

Dalam mengelola kawasan taman nasional yang sangat luas, balai besar biasanya membagi kawasan menjadi beberapa bagian yang disebut dengan resort. Setiap resort ini diketuai oleh seorang Kepala Resort.

Agar fungsi Taman Nasional berjalan sebagaimana mestinya, biasanya terdapat Polisi Hutan yang bertugas untuk melakukan patroli di kawasan hutan konservasi ini. Dalam rangka mengurangi tingkat konflik antara masyarakat dengan pengelola kawasan, saat ini terdapat MMP (Masyarakat Mitra Polhut) yang bertugas untuk mengamankan kawasan Taman Nasional juga.

Hanya saja jumlah Polisi Hutan yang dipekerjakan di Taman Nasional biasanya hanya sedikit dan tidak mewakili seluruh kawasaan. Sebagai contoh pada kawasan Taman Nasional dengan luas puluhan ribu hektar hanya terdapat belasan Polisi Hutan yang bertugas.

Selain dibagi menjadi beberapa resort sub pengelolaan, berdasarkan peruntukannya kawasan TN juga dibagi berdasarkan karakteristik dari kawasan yang disebut dengan zonasi yang menjadi dasar dari tindakan pengelolaan dalam TN. Zonasi ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.

 

3. Sejarah Taman Nasional

Konsep awal dalam pembentukan taman nasional dimulai secara legal sejak negara digdaya Amerika Serikat menetapkan Yellowstone sebagai kawasan yang dilindungi pada tahun 1872. Yellowstone ini dilindungi karena kekhasan ekosistem dan keindahan alam yang luar biasa.

Sebenarnya usaha pertama kali pembentukan taman nasional dilakukan oleh presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln yang saat itu menandatangani Act of Congress pada 30 Juni 1864. Isinya adalah menetapkan Lembah Yosemite dan Mariposa Grove di Giant Sequoia sebagai wilayah yang dilindungi. Namun wilayah ini belum menjadi taman nasional secara resmi sampai 1 oktober 1890.

Setelah itu konsep taman nasional kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Australia menetapkan Taman Nasional Royal pada tahun 1879, Kanada menetapkan Taman Nasional Banff (TN Gunung Rocky) pada tahun 1887, Selandia Baru menetapkan taman nasional pertamanya pada tahun 1887, dan Swedia menetapkan taman nasional pertama di Eropa pada tahun 1910.

Di Indonesia sendiri konsep taman nasional mulai ada sejak tahun 1800-an dimana saat itu pada tahun 1817 Kebun Raya Bogor berdiri.

Kebun Raya Bogor ini memiliki fungsi sebagai kebun koleksi tumbuhan-tumbuhan di Indonesia yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Selain itu, terdapat pula spesies-spesies introduksi yang berasal dari negara lain.

Pada tahun 1852 didirikan Kebun Raya Cibodas yang terletak di kaki gunung Gede Pangrango.

Setelah didirikannya Kebun Raya Cibodas, Sijfeer Koordes membentuk gerakan pelestarian alam di Indonesia. Sejak saat itu pula mulai banyak wilayah di Indonesia yang menjadi cagar alam.

Sebagian cagar alam yang sudah terbentuk pada akhirnya ditetapkan sebagai taman nasional. Taman nasional yang ada saat itu adalah TN Komodo, TN Baluran, TN Gunung Leuser, dan TN Ujung Kulon.

 

4. Daftar Taman Nasional di Indonesia

Berikut adalah daftar lengkap taman nasional yang ada di Indonesia:

No.Nama TNTahun DitetapkanLuas Total (ha)Persentase Wilayah PerairanStatus Internasional
Bali dan Nusa Tenggara
1 

TN Bali Barat

199519.000
2 

TN Gunung Rinjani

199041.300
3 

TN Gunung Tambora

201571.600
4 

TN Kelimutu

19925.000
5 

TN Komodo

1980181.70066%Situs Warisan Dunia: World Network of Biosphere Reserve
6 

TN Laiwangi Wanggameti

199847.000
7 

TN Manupeu Tanah Daru

199888.000
Jawa
8 

TN Alas Purwo

199243.400
9 

TN Baluran

198025.000
10 

TN Bromo Tengger Semeru

198350.300World Network of Biosphere Reserves
11 

TN Gunung Ciremai

200415.500
12 

TN Gunung Gede Pangrango

198015.000World Network of Biosphere Reserves
13 

TN Gunung Halimun Salak

199240.000
14 

TN Gunung Merapi

20046.400
15 

TN Gunung Merbabu

20045.700
16 

TN Karimunjawa

1986111.600Mendekati 100%
17 

TN Kepulauan Seribu

198210.800Mendekati 100%
18 

TN Meru Betiri

198258.000
19 

TN Ujung Kulon

1992120.60036,74%Situs Warisan Dunia
Kalimantan
20 

TN Betung Kerihun

1995800.000
21 

TN Bukit Baka Bukit Raya

1992181.100
22 

TN Danau Sentarum

1999132.000Situs Ramsar
23 

TN Gunung Palung

199090.000
24 

TN Kayan Mentarang

19961.360.500
25 

TN Kutai

1982198.600
26 

TN Sebangau

2004568.700
27 

TN Tanjung Puting

1982415.000World Network of Biosphere Reserves
Maluku dan Papua
28 

TN Aketajawe-Lolobata

2004167.300
29 

TN Lorentz

19972.505.000Situs Warisan Dunia
30 

TN Manusela

1982189.000
31 

TN Teluk Cendrawasih

20021.453.50090%
32 

TN Wasur

1990413.800Situs Ramsar
Sulawesi
33 

TN Bunaken

199189.00097%
34 

TN Kepulauan Togean

2004362.00019,34%
35 

TN Lore Lindu

1982229.000World Network of Biosphere Reserves
36 

TN Rawa Aopa Watumohai

1989105.200Situs Ramsar
37 

TN Taka Bone Rate

2001530.800Mendekati 100%World Network of Biosphere Reserves
38 

TN Wakatobi

20021.390.000Mendekati 100%World Network of Biosphere Reserves
39 

TN Gandang Dewata

2017
Sumatera
40 

TN Batang Gadis

2004108.000
41 

TN Berbak

1992162.700Situs Ramsar
42 

TN Bukit Barisan Selatan

1999365.000Unit Situs Warisan Dunia
43 

TN Bukit Duabelas

200060.500
44 

TN Bukit Tiga Puluh

1995127.700
45 

TN Gunung Leuser

1980792.700Unit Situs Warisan Dunia dan World Network of Biosphere Reserves
46 

TN Kerinci Seblat

19991.375.000Unit Situs Warisan Dunia
47 

TN Sembilang

2001205.100Situs Ramsur
48 

TN Siberut

1992190.500World Network of Biosphere Reserves
49 

TN Tesso Nilo

200438.600
50 

TN Way Kambas

1989130.000
51 

TN Zamrud

201631.480

5. Zonasi Taman Nasional

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 56 Tahun 2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional Menteri Kehutanan,

Zonasi taman nasional adalah suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan-rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas, dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Zonasi ini dilakukan secara prosedural mengikuti peraturan yang berlaku.

Zonasi pada taman nasional meliputi kegiatan:

  1. Persiapan
  2. Pengumpulan dan analisis data
  3. Penyusunan draft rancangan zonasi
  4. Konsultasi publik
  5. Pengiriman dokumen
  6. Tata batas
  7. Penetapan

Terdapat beberapa zona dalam kawasan TN yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Berikut adalah penjelasan mengenai zona-zona yang berada di dalam TN sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia saat ini.

5.1 Zona Inti

Zona inti adalah bagian taman nasional yang mempunyai kondisi alam baik ataupun fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang mutlak dilindungi, berfungsi untuk perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati yang asli dan khas.

Zona inti ini memiliki fungsi untuk melindungi ekosistem, pengawetan flora dan fauna khas beserta habitatnya yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penunjang budaya.

Kriteria zona inti:

  1. Memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
  2. Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya yang merupakan ciri khas ekosistem dalam kawasan taman nasional yang kondisi fisiknya masih asli dan belum diganggu manusia
  3. Mempunyai kondisi alam yang asli yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia
  4. Mempunyai luasan yang cukup dan bentuk tertentu yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis tertentu untuk menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami.
  5. Mempunyai ciri khas potensi dan memerlukan upaya konservasi
  6. Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa liar beserta ekosistemnya yang langka dengan keberadaannya yang terancam punah
  7. Merupakan habitat satwa dan atau tumbuhan tertentu yang prioritas dan khas/endemik
  8. Merupakan tempat aktivitas satwa migran

 

5.2 Zona Rimba

Zona rimba atau zona perlindungan bahari pada kawasan taman nasional perairan adalah bagian dari taman nasional yang karena letak, kondisi, dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan.

Zona rimba memiliki fungsi untuk kegiatan pengawetan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan alam bagi kepentingan penelitian, pendidikan konservasi, wisata terbatas, habitat satwa migran dan menunjang budidaya serta mendukung zona inti.

Kriteria zona rimba:

  1. Kawasan yang merupakan habitat atau daerah jelajah untuk melindungi dan mendukung upaya perkembangbiakan dari jenis satwa liar
  2. Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan
  3. Merupakan tempat kehidupan bagi jenis satwa migran

 

5.3 Zona Pemanfaatan

Zona pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi, dan potensi alamnya, yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/ jasa lingkungan lainnya.

Zona pemanfaatan memiliki fungsi untuk pengembangan pariwisata alam dan rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, serta kegiatan penunjang budidaya.

Kriteria zona pemanfaatan:

  1. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa, atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik
  2. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam
  3. Kondisi lingkungan yang mendukung pemanfaatan jasa lingkunganm pengembangan pariwisata alam, penelitian, dan pendidikan
  4. Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangunnya sarana prasarana bagi kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata alam, penelitian, dan pendidikan
  5. Tidak berbatasan langsung dengan zona inti

 

5.4 Zona Tradisional

Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam.

Zona tradisional memiliki fungsi untuk pemanfaatan potensi tertentu taman nasional oleh masyarakat setempat secara lestari melalui pengaturan pemanfaatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kriteria zona tradisional:

  1. Adanya potensi dan kondisi sumberdaya hayati non kayu tertentu yang telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat setempat guna memenuhi kebutuhan hidupnya
  2. Di wilayah perairan terdapat potensi dan kondisi sumberdaya alam hayati tertentu yang telah dimanfaatkan melalui kegiatan pengembangbiakan, perbanyakan, dan pembesaran oleh masyarakat setempat guna memenuhi kebutuhan hidupnya

 

5.5 Zona Rehabilitasi

Zona rehabilitasi adalah bagian dari taman nasional yang karena mengalami kerusakan, sehinga perlu dilakukan kegiatan pemulihan komunitas hayati dan ekosistemnya yang mengalami kerusakan.

Zona rehabilitasi ini berfungsi untuk mengembalikan ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alaminya.

Kriteria zona rehabilitasi:

  1. Adanya perubahan fisik, sifat fisik, dan hayati yang secara ekologi berpengaruh kepada kelestarian ekosistem yang pemulihannya diperlukan campur tangan manusia
  2. Adanya invasif spesies yang menggganggu jenis atau spesies asli dalam kawasan
  3. Pemulihan kawasan akibat sebab-sebab di atas minimal dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun

 

5.6 Zona Religi, Budaya, dan Sejarah

Zona religi, budaya, dan sejarah adalah bagian dari taman nasional yang didalamnya terdapat situs religi, peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, perlindungan nilai-nilai budaya, atau sejarah.

Zona religi, budaya, dan sejarah ini berfungsi untuk memperlihatkan dan melindungi nilai-nilai hasil karya, budaya, sejarah, arkeologi maupun keagamaan, sebagai wahana penelitian, pendidikan dan wisata alam sejarah, serta arkeologi dan religius.

Kriteria zona religi, budaya, dan sejarah:

  1. Adanya lokasi untuk kegiatan religi yang masih dipelihara dan dipergunakan oleh masyarakat
  2. Adanya situs budaya dan sejarah baik yang dilindungi undang-undang maupun tidak dilindungi undang-undang

 

5.7 Zona Khusus

Zona khusus adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi, dan listrik.

Zona berfungsi untuk kepentingan aktivitas kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut sebelum ditunjuk/ ditetapkan sebagai taman nasional dan sarana penunjang kehidupannya, serta kepentingan yang tidak dapat dihindari berupa sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi, dan listrik.

Kriteria zona khusus:

  1. Telah terdapat sekelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ ditetapkan sebagai taman nasional
  2. Telah terdapat sarana prasarana antara lain telekomunikasi, fasilitas transportasi, dan listrik sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ ditetapkan sebagai taman nasional
  3. Lokasi tidak berbatasan dengan zona inti

 

Pada taman nasional yang ada di Indonesia, minimal terdapat zona inti, zona rimba, dan zona pemanfaatan, sedangkan zona lainnya tergantung dari kondisi ekologi, sosial, ekonomi, dan budayanya.

Zonasi pada taman nasional ini pun menyebabkan beberapa kegiatan tidak bisa dilakukan pada zona-zona tertentu. Tabel di bawah menunjukan kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan di zona-zona tertentu di taman nasional.

ZonaKegiatan yang Dapat Dilakukan
IntiPerlindungan dan pengamanan

-Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya

-Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan atau penunjang budidaya

-Dapat dibangun sarana dan prasarana tidak permanen dan terbatas untuk kegiatan penelitian dan pengelolaan

Rimba-Perlindungan dan pengamanan

-Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam, hayati dan ekosistemnya

-Pengembangan penelitian, pendidikan, wisata alam terbatas, pemanfaatan jasa lingkungan dan kegiatan penunjang budidaya

-Pembinaan habitat dan populasi dalam rangka meningkatkan keberadaan populasi hidupan liar

-Pembangunan sarana dan prasarana sepanjang untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan wisata alam terbatas

Pemanfaatan-Perlindungan dan pengamanan

-Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya

-Penelitian dan pengembangan pendidikan, dan penunjang budidaya

-Pengembangan potensi dan daya tarik wisata alam

-Pembinaan habitat dan populasi

-Pengusahaan pariwisata alam dan pemanfaatan kondisi/ jasa lingkungan

-Pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan, penelitian, pendidikan, wisata alam, dan pemanfaatan kondisi/ jasa lingkungan

Tradisional-Perlindungan dan pengamanan

-Inventarisasi dan monitoring potensi jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat

-Pembinaan habitat dan populasi

-Penelitian dan pengembangan

-Pemanfaatan potensi dan kondisi sumberdaya alam sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku

Religi, Budaya, dan Sejarah-Perlindungan dan pengamanan

-Pemanfaatan pariwisata alam, penelitian, pendidikan, dan religi

-Penyelenggaraan upacara adat

-Pemeliharaan situs budaya dan sejarah, serta keberlangsungan upacara-upacara ritual keagamaan/ adat yang ada

Khusus-Perlindungan dan pengamanan

-Pemanfaatan untuk menunjang kehidupan masyarakat

-Rehabilitasi

-Monitoring populasi dan aktivitas masyarakat serta daya dukung wilayah

 

6. Contoh Kasus yang Terjadi di Taman Nasional

Keberadaan taman nasional saat ini menjadi salah satu masalah sosial yang menimbulkan berbagai konflik. Hampir di setiap taman nasional memiliki masalah sosial yang tidak dapat terelakan, berikut adalah contoh-contoh konflik dan masalah yang terdapat di taman nasional.

6.1 Kebakaran di Lereng Gunung Ciremai

Kebakaran di kawasan konservasi memang sering terjadi entah itu akibat dari tindakan pembakaran yang sengaja ataupun kebakaran hutan yang tidak disengaja. Kasus kebakaran hutan yang terjadi di taman nasional salah satunya adalah kebakaran di lereng Gunung Ciremai.

Berita selengkapnya dapat anda ikuti di sini.

6.2 Perburuan Satwa Liar

Kawasan konservasi banyak menyimpan berbagai jenis satwa liar yang sangat bernilai harganya, hal ini pulalah yang menyebabkan banyak orang ingin mendapatkan satwa-satwa liar untuk kepentingan ekonomi. Berikut merupakan salah satu berita mengenai perdagangan satwa liar ilegal.

Ditangkap, Pedagang Satwa Liar Dilindungi yang Berkeliaran di Taman Nasional

6.3 Pembukaan Lahan

Pembukaan lahan menjadi lahan pertanian atau hunian merupakan salah satu hal yang marak terjadi di kawasan konservasi di Indonesia. Sumber daya lahan yang semakin sulit didapat memaksa masyarakat harus menempati kawasan konservasi. Berikut merupakan salah satu berita mengenai Ancaman Pembukaan Lahan di Taman Nasional Gunung Leuser Itu Memang Ada

6.4 Kurangnya Personel Pengelolaan

Personel pengelola taman nasional memang jauh dari kata cukup. Kawasan yang dapat mencapai lebih dari 100.000 ha biasanya hanya terdapat kurang dari 100 personel untuk mengamankan kawasan tersebut. Contoh nyata dari kejadian ini adalah “Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Kekurangan Petugas dan Minim Fasilitas

 

7. Taman Nasional dan Biogeografi Indonesia

Globe

7.1 Biogeografi

Biogeografi adalah suatu istilah biologi mengenai pola distribusi flora dan fauna dalam skala waktu dan ruang. Bila dilihat distribusi flora dan fauna di Indonesia, kawasan biogeografi kita terbagi menjadi biogeografi Sunda, Sahul, dan Wallace. Ada dua kawasan biogeografi utama, yaitu Sunda (Oriental) dan Sahul (Australia) serta yang menjadi tambahan yang merupakan campuran keduanya disebut Wallacea.

Biogeografi oriental adalah biota berasal dari dan berafiliasi dengan kawasan Asia, yaitu Jawa, Kalimantan, dan Sumatera, kawasan ini sering disebut dengan kawasan Sunda. Kemudian biogeografi lain adalah Australia dan di Indonesia yang masuk ke dalam biogeografi ini terdiri atas Kepulauan Aru dan Papua, atau sering disebut dengan Kawasan Sahul.

Di antara kedua biogeografi besar itu, yang biotanya merupakan campuran dan bahkan menjadi khas tersendiri disebut biogeografi Wallacea yang terdiri atas Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Selain itu, John dan Kathy MacKinnon (1986) serta Mackinnon dan Arta (1982) telah mengidentifikasi tujuh unit biogeografi utama di seluruh Indonesia, yakni Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku, dan Irian.

Masing-masing unit ini diidentifikasi lagi dalam sub-unit yang ada. Di dalam unit itu, prioritas utama yang disarankan adalah kawasan perlindungan yang besar yang meliputi ekosistem utama. Sebagai contoh, unit biogeografi Sumatera terdapat 7 sub-biogeografi dengan batasan-batasan dari penyebaran flora dan faunanya.

7.2 Pengelolaan TN

Taman nasional adalah kawasan yang ditetapkan karena memiliki spesies tertentu, ekosistem, atau keunikan dan keindahan alam yang perlu dilindungi dan sifatnya yang khas pada skala nasional. Umumnya kawasan ini sangat luas, melebihi cagar alam, taman margasatwa, hutan wisata, dan juga dapat mendukung fungsi konservasi sekaligus.

Indonesia sendiri merupakan negara yang sangat potensial untuk penerapan wisata alam berbasis satwa liar di taman nasional. Wisata alam berbasis satwa liar dapat menjadi sarana konservasi satwa liar yang efektif terutama jika kegiatan ini diintegrasikan dengan perencanaan serta pengelolaan yang baik.

Jika pengelolaan yang tidak baik terjadi, maka yang didapatkan bukanlah dampak positif seperti yang diharapkan, melainkan dampak negatif yang dapat membahayakan keberadaan satwa liar, lingkungan, ataupun masyarakat lokal di wilayah tersebut.

Selain itu, diperlukan juga keterlibatan dari berbagai pihak seperti pemerintah, pihak swasta, masyarakat lokal, ahli lingkungan, ahli konservasi, ahli sosial, dan ahli ekonomi untuk memaksimalkan praktik wisata alam.

Dengan demikian, wisata alam berbasis satwa liar yang sangat cocok diterapkan di taman nasional akan menjadi sarana yang efektif dalam konservasi satwa liar sehingga memberikan dampak yang positif bagi keberlangsungan satwa liar, lingkungan, daerah wisata, masyarakat, bahkan negara.

 

8. Bagaimana Menjadi Wisatawan Taman Nasional

Berwisata di Taman Nasional

Setiap tahun jutaan masyarakat dunia mengunjungi kawasan konservasi ataupun kawasan lindung, seperti Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Hutan Lindung, Taman Hutan Raya, Taman Monumen, Suaka Alam Laut, dan lain sebagainya.

Selain berekreasi, melihat pemandangan, spesies flora dan fauna yang kharismatik, bertenda, berolahraga alam, dan lainnya, kawasan konservasi maupun lindung ini memang diperlukan untuk suplai oksigen, retensi air, dan nilai ekonomi lainnya baik langsung maupun tidak langsung.

Fungsi kawasan ini dijaga oleh hukum yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perikanan dan Kelautan. Selain itu, pengelolaan kawasan konservasi dan kawasan lindung pun terikat dalam perjanjian-perjanjian internasional.

8.1 Cara Mengunjungi Taman Nasional di Indonesia

Untuk mengunjungi taman nasional, di setiap negara memiliki aturan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, untuk mengunjungi taman nasional diharuskan untuk memiliki surat izin masuk kawasan konservasi yang bisa didapatkan dari Balai Besar Taman Nasional yang akan anda kunjungi.

Berwisata di Taman Nasional memang sangat jarang bagi masyarakat Indonesia, hanya masyarakat tertentu, khususnya yang berani berpetualang. Itu pun mereka mengunjungi taman nasional untuk berolahraga bukan untuk berwisata secara murni. Olahraga yang dapat dilakukan di kawasan konservasi ini adalah mendaki gunung, menjelajah rimba, olah raga air, dan rafting.

 

9. Destinasi Olahraga dan Wisata di Taman Nasional

Pulau Komodo Tampak dari Atas

Kebanyakan TN berada di kawasan pegunungan. Karena itu banyak destinasi pendakian yang bisa dijelajahi, seperti Gunung Gede Pangrango, Salak, Halimun, Ciremai, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Kerinci, Leuser, Sebayak, Noki Lalaki, Bulawa, Colo, Palung, Rinjani, Kelimutu, Wanggameti, Manusela, dan Pegunungan Jaya Wijaya di TN Lorentz.

9.1 Wisata Lansekap

Taman nasional yang memiliki keindahan lansekap yang dapat dikunjungi di Indonesia sangat beragam. Apabila ingin merasakan lansekap padang rumput, TN yang dapat dikunjungi adalah TN Meru Betiri, Alas Purwo, dan Baluran di Jawa Timur.

Taman Nasional yang memiliki lansekap atau ekosistem hutan kering di Indonesia dapat dirasakan di TN Bali Barat, Gunung Rinjani, Laiwangi, dan TN Wasur di Papua.

Taman Nasional yang memiliki ciri khas lahan gambut dapat ditemukan hampir di TN yang ada di Kalimantan, seperti TN Tanjung Puting, Danau Sentarum, Sebangau, Berbak, Tesso Nilo, dan TN Lorentz di Papua.

Taman Nasional yang memiliki kawasan laut yang dapat dikunjungi untuk berekreasi di laut (diving, snorkling, dan olahraga air lainnya) diantaranya adalah TN Ujung Kulon, Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Siberut, Bali Barat, Togean, Takabonarate, Bunaken, Wakatobi, dan TN Teluk Cendrawasih di Papua. Kawasan konservasi yang paling cocok untuk kegiatan berselancar di antaranya adalah TN Siberut dan TN Alas Purwo.

9.2 Wisata dengan Satwa yang Unik

Taman Nasional yang memiliki spesies satwa yang sangat unik banyak dijumpai di Indonesia. Satwa liar unik yang dapat ditemukan di TN diantaranya adalah

  • Badak Jawa (TN Ujung Kulon),
  • Badak Sumatera (TN Way Kambas, TN Bukit Barisan Selatan, dan TN Leuser),
  • Harimau Sumatera (semua TN di Sumatera terdapat Gajah Sumatera, kecuali TN Siberut),
  • Gajah Sumatera (semua TN di Sumatera terdapat Gajah Sumatera, kecuali TN Siberut dan Batang Gadis),
  • Orangutan Sumatera (TN Leuser),
  • Owa Jawa (TN Ujung Kulon, TN Gunung Gede Pangrango, dan TN Halimun Salak),
  • Orangutan Kalimantan (semua TN di Kalimantan),
  • Jalak Bali (TN Bali Barat),
  • Komodo (TN Komodo),
  • Banteng (TN Alas Purwo, TN Baluran, dan TN Meru Betiri),
  • Burung Cendrawasih, Kangguru Pohon, Kasuari (TN Lorentz dan TN Wasur), serta
  • Burung-burung kakatua raja dan burung endemik Wallacea dapat ditemukan di TN Manusela dan TN Wanggameti.

 

Itulah berbagai informasi lengkap mengenai Taman Nasional di Indonesia. Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

MacKinnon J, M B Artha. 1982. National Conservation Plan for Indonesia. Bogor (ID): FAO

Supriatna J. 2014. Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia

Taman Nasional: Pengertian, Daftar, Zonasi, dan Kasus yang Terjadi
Rating: 4.2 from 124 votes

Recommended For You

About the Author: Tomi Ardiansyah

Founder of Forester Act!

17 Comments

  1. Bang mau tanya nih di masalah di pengelolahan taman nasional disitu ada kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung ..bukan nya itu masuk pengelolahan nya perum perhutani ya..minta bimbimbingan nya bang penjelasan nya gmna

    1. Jadi kawasan hutan itu dibagi menjadi 3 berdasarkan fungsinya, yaitu hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi. Taman Nasional termasuk ke dalam hutan konservasi yang wilayahnya dalam kawasan hutan konservasi. Di dalam kawasan hutan konservasi tidak ada kawasan hutan lindung ataupun kawasan hutan produksi.

      Di kawasan hutan konservasi tidak diperbolehkan untuk menebang pohon, bahkan tidak sembarang orang dapat masuk ke zona tertentu di Taman Nasional, yaitu zona inti.

      Kalau ingin banyak diskusi tentang hutan, silakan hubungi saya saja, nomornya ada di halaman contact us

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *