Taman Nasional Komodo: Sejarah, Zonasi, Biodiversitas, dan Destinasi Wisata Komodo

Diposting pada

Taman Nasional Komodo merupakan salah satu dari lima taman nasional yang ditetapkan pertama kali di Indonesia. Taman nasional ini terletak di antara dua pulau yaitu Pulau Sumbawa dan Pulau Flores atau  lebih tepatnya berada di wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara astronomis Taman Nasional Komodo ini terletak di antara 11920’ 95” – 11949’ 20” BT dan 824’ 35” – 850’ 2” LS.

Sesuai dengan namanya, Taman Nasional Komodo ini memiliki fungsi utama sebagai habitat perlindungan Komodo (Varanus komodoensis). Reptil langka ini tersebar di dalam kawasan taman nasional yaitu di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, Nusa Kode, dan sebagian kecil di utara dan barat Pulau Flores. Selain sebagai perlindungan komodo, Taman Nasional Komodo ini memiliki paronama yang sangat indah sehingga tak heran jika Taman Nasional Komodo ini juga dijadikan sebagai tempat wisata bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Taman Nasional Komodo

DAFTAR ISI
1. Kondisi Geografi dan Iklim
2. Sejarah
3. Status Hukum
4. Zonasi
5. Biodiversitas Taman Nasional Komodo
6. Komodo (Varanus komodoensis)
7. Destinasi Wisata di Taman Nasional Komodo
8. Akses Menuju Lokasi
9. Masyarakat di Taman Nasional Komodo
10. Foto-Foto Taman Nasional Komodo


1. Kondisi Geografi dan Iklim

Pada umunya, di kawasan Taman Nasional Komodo banyak terdapat bukit-bukit maupun gunung-gunung bahkan di kawasan taman nasional ini juga terdapat gunung berapi, seperti Gunung Sangaeang Api. Hal ini disebabkan karena kawasan Taman Nasional Komodo merupakan tempat bertemunya lempeng Sahul dan lempeng Sunda.

Gunung tertinggi di kawasan taman nasional ini adalah Gunung Satalibo (735 mdpl) di Pulau Komodo dan Gunung Dora Ora (667 mdpl) di Pulau Rinca.  Selain itu di beberapa lokasi terdapat pula lereng-lereng yang curam/terjal dengan kemiringan 00 – 800.

Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim di Taman Nasional Komodo termasuk tipe F atau sangat kering dengan bulan kering antara April sampai dengan Oktober dan bulan basah antara November sampai Maret. Rata-rata curah hujan tahunan 800-1500 mm dengan suhu udara maksimum 43°C dan minimum 17°C.

Angin kering yang bertiup kencang dari arah Tenggara pada bulan April sampai November menyebabkan terjadinya musim kering/kemarau di kawasan Taman Nasional Komodo, sedangkan angin yang membawa hujan bertiup dari arah barat laut pada bulan Oktober sampai Maret menyebabkan musim basah/hujan di kawasaan Taman Nasional Komodo ini (Usboko 2009).

 

2. Sejarah

Sejak tahun 1911, komodo mulai terkenal di kalangan ilmuan. Hal ini terjadi semenjak Peter Ouwens, seorang kurator Museum Zoologi Bogor menerima laporan mengenai penemuan satwa ini dari JKH Van Steyn, seorang Perwira Pemerintah Hindia Belanda. Semenjak saat itu komodo diberi nama Varanus komodoensis Ouwens. Berdasarkan peristiwa ini, mulai muncul kesadaran berbagai pihak untuk menjaga kelestarian satwa langka ini.

Pada tangal 6 Maret 1980, Taman Nasional Komodo dibentuk untuk melindungi komodo dan habitatnya. Pada tahun 1991, Taman Nasional Komodo ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO dan satu tahun kemudian taman nasional ini ditetapkan sebagai Simbol Nasional oleh Presiden Repulik Indonesia pada saat itu.

Selain itu Taman Nasional Komodo juga ditetapkan sebagi Kawasan Perlindungan Laut pada tahun 2000 serta sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada tahun 2006.

Pada tanggal 11 November 2011, Taman Nasional Komodo terpilih menjadi salah satu pemenang sementara New 7 Wonders (Tujuh Keajaiban Dunia Baru) berdampingan dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain. Di keseluruhan pemenang sementara tersebut, Taman Nasional Komodo mendapatkan suara terbanyak. Oleh karena itu Taman Nasional Komodo akhirnya ditetapkan sebagai salah satu dari 7 Keajaiban Dunia Terbaru pada tanggal 13 September 2013.

 

3. Status Hukum

Berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), Taman Nasional Komodo termasuk ke dalam Taman Nasional Kategori II.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 306/Kpts-II/1992 tanggal 29 Februari 1992, luas total kawasan Balai Taman Nasional Komodo adalah 173.300 Ha. Kawasan taman nasional ini terdiri dari beberapa pulau, yaitu Pulau Komodo (33.937 hektar), Pulau Rinca (19.625 hektar), Pulau Padar (2.017 hektar), Pulau Gilimotang (3.328 hektar), dan pulau-pulau kecil serta perairan laut di sekitarnya.

 

4. Zonasi

Zonasi kawasan Taman Nasional Komodo dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Pada pasal 16 ayat 1 dan ayat 2 disebutkan bahwa penataan kawasan dilakukan dengan penyusunan zonasi dan penataan wilayah kerja, sedangkan pada pasal 18 ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa zonasi pengelolaan pada Taman Nasional meliputi Zona Inti, Zona Rimba, Zona Panfaatan, dan/atau zona lain sesuai dengan keperluan yang ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjukan berdasarkan kriteria.

Berdasarkan peraturan tersebut SK Dirjen PHKA No. 65/Kpts/Dj-V/2001 membagi Taman Nasional Komodo dalam 9 zona Zonasi Taman Nasional Komodo yaitu:

4.1 Zona Inti

Zona inti merupakan zona yang mutlak dilindungi, di dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia. Kegiatan yang diperbolehkan adalah kegiatan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan penelitian. Zona inti pada kasawan Taman Nasional Komodo memiliki luas 34.311 Ha.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB.