Pohon Pinus (Pinus merkusii): Hutan Pinus, Habitat, Sebaran, Morfologi, Manfaat, dan Budidaya

Pohon Pinus merkusii Jungh. et de Vriese  merupakan jenis pinus yang tumbuh asli di wilayah Indonesia dan pertama kali ditemukan dengan nama “Tusam” di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli botani dari Jerman Dr. F. R. Junghuhn.

Selain termasuk jenis tanaman cepat tumbuh (fast growing species), jenis pinus ini merupakan jenis pinus yang tidak memerlukan syarat-syarat tempat tumbuh yang khusus sehingga mudah untuk dibudidayakan bahkan pada tempat yang kering.

Tidak hanya kayunya saja yang dapat dimanfaatkan, HHBK jenis getah yang dihasilkan Pinus merkusii ini juga dapat diolah menjadi gondorukem dan terpentin. Kedua hasil olahan destilasi getah pinus ini sangat bermanfaat sebagai bahan baku di berbagai industri. Oleh karena itu, Pinus merkusii sangat berpotensi untuk diusahakan.

Strobilus Pohon Pinus

DAFTAR ISI

1. Taksonomi
2. Habitat
3. Sebaran
4. Morfologi
5. Budidaya
5.1 Pengadaan Biji
5.2 Penaburan Benih dan Penyapihan
5.3 Penanaman
5.4 Pemeliharaan
6. Manfaat
6.1 Kayu Pinus
6.2 Getah Pinus
6.3 Wisata Hutan Pinus
Referensi

 

1.   Taksonomi

Kriteria Keterangan
KingdomPlantae
SubkingdomTracheobionta
DivisiSpermatophyta
Sub DivisiGmnospermae
OrdoConifer
FamiliPinaceae
GenusPinus
SpesiesPinus merkusii Jungh. et de Vriese

 

2. Habitat

Pohon pinus memiliki akar tunggang dengan sistem perakaran yang cukup dalam dan kuat sehingga dapat tumbuh di tanah yang dalam/tebal dengan tekstur tanah ringan sampai sedang. Jenis pinus ini juga tidak memiliki syarat tinggi untuk jenis tanah tempat tumbuhnya karena pohon pinus dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah bahkan pada tanah dengan pH asam.

Pinus merkusii dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, namun tempat tumbuh terbaik bagi jenis pohon pinus ini berada pada ketinggian tempat antara 400-2000 mdpl. Pohon pinus yang ditanam pada ketinggian tempat kurang dari 400 mdpl akan menyebabkan pertumbuhannya tidak optimal karena suhu udara yang terlalu tinggi. Selain itu, pertumbuhan pohon pinus yang ditanam di ketinggian tempat lebih dari 2000 mdpl juga tidak akan optimal karena terhambatnya proses fotosintesis.

Tempat tumbuh yang baik bagi jenis pinus ini memiliki curah hujan 1200-3000 mm/tahun dan jumlah bulan kering 0-3 bulan. Di Pulau Jawa, Pinus merkusii dapat tumbuh baik pada tempat yang memiliki ketinggian di atas 400 mdpl dengan curah hujan 4000 mm/tahun (Perhutani 1993).

 

3. Sebaran

Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis pinus yang tumbuh alami di Indonesia khususnya di Aceh, Tapanuli, dan Kerinci. Namun mulai tahun 1970-an Pinus merkusii mulai ditanam di Pulau Jawa untuk bahan baku industri kertas dan untuk keperluan reboisasi lahan-lahan kritis. Hingga saat ini, Pinus merkusii berkembang pesat di seluruh wilayah Jawa.

Selain di Indonesia, pohon Pinus merkusii juga tumbuh di Vietnam, Kamboja, Thailand, Burma (Myanmar), India, dan Filipina. Secara geografis, Pinus merkusii tersebar antara 20 LS – 220 LU dan 950 30’ BB – 1200 31’ BT (Alrasjidet et all 1983 dalam Sallata 2013).

 

4. Morfologi

Hutan Pinus

Pohon Pinus merkusii dapat tumbuh hingga tingginya mencapai 20-40 meter dengan diameter 70-90 cm, bahkan pada pohon pinus yang sudah tua diameter pohon dapat mencapai 100-145 cm. Batang bebas cabang pohon pinus sekitar 2-23 meter.

Pada kondisi tegakan tertutup bentuk batang pohon pinus akan lurus, namun pada kondisi tegakan terbuka/jarang batangnya akan bengkok.  Batang pohon pinus tidak berbanir dan memiliki kulit batang relatif bertekstur kasar serta beralur dalam. Kulit batang pohon pinus ini berwarna coklat kelabu hingga coklat tua dan tidak mudah mengelupas.

Daun Pinus

Daun pohon pinus berbentuk jarum dan pada bagian pangkalnya terdapat sarung sisik yang mengelilingi dua daun jarum.  Panjang daun pohon pinus kurang lebih 10-20 cm. Pohon pinus berbunga (membuat strobilus) dan berbuah sepanjang tahun, terutama bulan Juli-November. Bunga jantan seperti bulir tertumpuk pada pangkal tunas muda, sedangkan bunga betina terkumpul pada ujung tunas muda dalam jumlah yang sedikit.

Biji pohon pinus yang baik memiliki warna kulit kering kecoklatan dan berbentuk bulat padat serta tidak berkerut. Buah pohon pinus sendiri berbentuk kerucut.

Tajuk pohon pinus memiliki bentuk yang khas yaitu berbentuk kerucut, tidak terlalu lebar dan agak rapat pada pohon yang muda, sedangkan pada pohon yang tua bentuk tajuknya seperti limas dan agak jarang.

 

5. Budidaya

5.1 Pengadaan Biji

Strobilus

Biji Pinus merkusii dapat diambil dari buah pinus yang berbentuk kerucut dan sudah matang. Buah pohon pinus yang sudah matang ini memiliki bebapa ciri yaitu berwarna hijau kecoklatan dan sisik buah melebar serta berwarna sedikit kebiruan.

Pengadaan biji dari buah ini dapat dilakukan setiap tahun karena pohon pinus berbuah setiap tahun. Sebelum ditanam biji harus diseleksi terlebih dahulu untuk mendapatkan benih dengan kualitas yang baik. Seleksi biji dilakukan dengan dua cara yaitu melihat secara langsung penampilan fisik biji dan dengan cara perendaman.

Biji yang baik untuk dijadikan benih berwarna kuning kecokelatan dan berbintik hitam, berbentuk bulat, padat, dan tidak mengerut. Selain itu, biji yang baik juga dapat diketahui dengan cara merendam semua biji yang ada ke dalam air. Biji yang baik untuk dijadikan benih akan tenggelam di dalam air, sedangkan biji yang terapung di atas permukaan air tidak baik untuk dijadikan benih.

Sebelum ditabur, benih harus direndam terlebih dahulu dalam air dingin selama 3-4 jam untuk mematahkan dormansi benih.

5.2 Penaburan Benih dan Penyapihan

Benih pinus yang sudah dipatahkan dormansinya siap ditanam pada bedeng tabur dengan media semai. Media semai yang dipilih harus bebas dari hama dan penyakit, cukup berpori dan tidak terlalu padat serta memiliki kandungan unsur hara yang cukup untuk mendukung proses perkecambahan benih.

Media semai yang dapat digunakan berupa kombinasi tanah/humus halus dan pasir dengan perbandingan 2:1. Campuran antara kedua media semai tersebut kemudian disterilkan agar terbebas dari hama dan penyakit. Salah satu cara sterilisasi yang dapat dilakukan yaitu mengsangrai campuran tanah dan pasir selama 4-6 jam dan dijemur di bawah sinar matahari. Media semai yang telah disterilisasi kemudian dimasukkan ke dalam bedeng tabur yang memiliki naungan. Setelah 10-15 hari, benih akan mengalami proses perkecambahan yang berlangsung hingga satu bulan.

Sebelum penyapihan, media tumbuh harus dipersiapkan terlebih dahulu. Media tumbuh yang baik berupa campuran tanah, pasir, dan kompos dengan perbandingan 7:2:1 dengan penambahan pupuk NPK. Selain itu, media tanam harus dicampur dengan tanah yang berasal dari bawah tegakan tua Pinus merkusii. Hal ini dilakukan agar terjadi penularan mikoriza sehingga akar Pinus merkusii yang tumbuh akan bersimbiosis dengan jamur/mikoriza.

Tanah yang mengandung mikoriza yang baik memiliki suhu tanah lebih dari 200C dan pH tanah antara 4,7-5,4.  Benih yang telah menjadi bibit dan berumur 5-8 minggu minggu  sudah siap untuk disapih ke dalam media tumbuh ini.

5.3 Penanaman

Terdapat beberapa kegiatan yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum penanaman. Kegiatan tersebut antara lain pembersihan lapangan dari tumbuhan pengganggu, pengolahan tanah, pembuatan lubang tanam, dan pemasangan ajir.

Penanaman bibit Pinus merkusii dapat dilakukan saat awal musim hujan atau pada saat musim hujan cukup merata. Sistem penanaman dapat dilakukan secara monokultur maupun tumpang sari dengan memperhatikan tanaman penyelanya. Kedua sistem penanaman ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jarak tanam yang biasanya digunakan adalah 8m x 8m.

5.4 Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan dilakukan agar tanaman muda Pinus merkusii dapat tumbuh dengan baik. Kegiatan pemeliharaan ini meliputi penyulaman, penyiangan dan pendangiran, pemberantasan hama dan penyakit, penjarangan, serta pengendalian kebakaran hutan.

5.4.1 Penyulaman

Penyulaman merupakan kegiatan penanaman kembali untuk mengganti tanaman yang rusak atau mati sehingga jumlah tanaman per hektar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Kegiatan penyulaman dikategorikan menjadi tiga yaitu penyulaman ringan (persen jadi tanaman 80-100%), penyulaman intensif (persen jadi tanaman 60-80%) dan penanaman ulang (persen menjadi tanaman <60%). Kegiatan penyulaman sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim hujan dan dilaksanakan pada satu bulan pertama setelah penanaman.

5.4.2 Pendangiran dan Penyiangan

Kegiatan pendangiran dilakukan ketika kondisi tanah di sekitar tanaman padat atau berdrainase jelek. Pendangiran dilakukan di tanah sekitar tanaman pinus dengan radius 0,5 meter. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan.

Kegiatan penyiangan merupakan kegiatan membersihkan tanaman dari gulma dan tumbuhan pengganggu lainnya baik yang berada di tanah maupun yang merambat seperti liana. Hal ini dilakukan agar tanaman pinus muda yang baru tumbuh terhindar dari persaingan untuk mendapatkan unsur hara maupun cahaya matahari. Metode penyiangan dapat dilakukan secara manual, mekanis, maupun secara kimiawi.

5.4.3 Pemberantasan Hama dan Penyakit

Pemberantasan hama dan penyakit harus dilakukan untuk mencegah tanaman sakit atau mati karena serangan hama maupun penyakit. Hama yang perlu diwaspadai karena sering menyerang tanaman pinus adalah Kumbang Ambrosia (Platypus trepanatus) dan Kutu Lilin (Pine wooly adelgids).

5.4.4 Pemupukan

Pemupukan dilakukan untuk mencegah terjadinya defisiensi nutrisi yang akan menghambat pertumbuhan tanaman pinus. Defisiensi nutrisi ini disebabkan oleh tanah kritis, siklus nutrisi kurang baik, pencucian air, dan tidak adanya cendawan mikoriza.

Pemupukan tanaman pinus dapat dilakukan dengan menggunkan pupuk organik, pupuk anorganik, maupun pupuk biologi. Pemupukan dilakukan ketika awal penanaman, setelah penanaman hingga penutupan kanopi dan setelah awal penjarangan.

5.4.5 Penjarangan

Penjarangan dilakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih baik bagi tegakan pinus selanjutnya. Pohon pinus yang dibuang saat penjaranagn meliputi pohon yang terserang hama dan penyakit, serta batang utama bengkok atau menggarpu. Penjarangan dilakukan ketika tajuk antar pohon pinus saling bersinggungan.

5.4.6 Pengendalian Kebakaran

Serasah daun Pinus merkusii  yang kering dan batang pohon pinus yang mengandung getah sangat peka terhadap api. Apabila terjadi kebakaran pohon pinus ini akan terbakar habis. Beberapa tindakan pencegahan atau pengendalian kebakaran yang harus dilakukan antara lain:

  1. Membuat jalur sekat bakar dan jalur hijau secara jelas dan tegas,
  2. Membentuk satuan tugas pengendali kebakaran dan melakukan patroli keamanan, serta
  3. Membangun sistem komunikasi yang menjangkau seluruh areal hutan dan sekitarnya.

 

6. Manfaat

Hampir semua bagian dari pohon Pinus merkusii dapat dimanfaatkan. Selain menghasilkan kayu, tanaman ini juga menghasilkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah. Namun selain kedua manfaat tersebut, Pinus merkusii dapat digunakan sebagai tanaman peneduh bahkan tanaman hias.

6.1 Kayu Pinus

Kayu yang dihasilkan oleh pohon Pinus merkusii termasuk ke dalam jenis kayu ringan-sedang dengan berat jenis antara 0,46-0,7. Kayu pinus ini juga termasuk ke dalam kelas kuat II – III dan kelas awet IV. Kayu gubal pinus memiliki ketebalan 6-8 cm berwarna putih atau kekuning-kuningan, sedangkan pada bagian ateras berwarna coklat tua atau kemerah-merahan.

Kayu pinus memiliki tekstur kekerasan daya kembang surut dan retak sedang. Sifat pengerjaan mudah untuk dipapas, namun agak sulit digergaji karena getah yang terkandung didalamnya (Samingan 1980 dalam Burrahman 2006).

Kayu pinus dapat dipanen ketika pohon pinus berumur 15 tahun. Kayu pinus pada umumnya dimanfaatkan dalam pembuatan perabotan rumah, kayu lapis, korek api, kertas serat panjang, tiang listrik, bahan baku mainan anak-anak dan lain sebagainya.

6.2 Getah Pinus

Selain kayunya yang dapat dimanfaatkan, pohon pinus juga menghasilkan getah yang dapat juga dimanfaatkan. Getah yang dihasilkan pohon pinus termasuk kedalam jenis oleoresin yang merupakan cairan asam resin.  Getah pohon pinus ini didapatkan jika batang pohon pinus dilukai (disadap) baik dengan menggunakan metode koakan maupun metode bor. Getah pohon pinus muali bisa dipanen mulai pada saat  umur pohon pinus mencapai 10 tahun.

Getah pohon pinus dapat diolah menjadi terpentin dan gondorukem melalui tahap penyulingan atau destilasi langsung maupun tidak langung. Gondorukem merupakan fraksi padat yang dihasilkan dari proses penyulingan, sedangkan terpentin merupakan fraksi cair.

Gondorukem dan terpentin yang dihasilkan dari getah Pinus merkusii memiliki karakteristik yang berbeda dengan gondorukem dan terpentin yang dihasilkan pinus jenis lainnya. Gondorukem dan terpentin yang dihasilkan ini memiliki berbagai manfaat. Gondorukem biasanya dimanfaatkan untuk bahan sizing produk kertas dan produk sabun, bahan campuran dalam cat, vernis, tinta, plastik, dan ban, sedangkan terpentin digunakan sebagai pengencer dan pelarut, serta sebagai bahan baku industri aromatic dan disinfectan.

Nilai ekonomis gondorukem dan terpentin yang dihasilkan getah pohon pinus ini tidak dapat ditemukan pada jenis tanaman hutan lainnya.

6.3 Wisata Hutan Pinus

Hutan Pinus Imogori

Wisata alam saat ini sedang diminati oleh masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat perkotaan. Wisata hutan pinus pun menjadi primadona di berbagai tempat di tanah air, sebut saja hutan pinus mangunan, hutan pinus jogja, dan yang paling terkenal adalah hutan pinus imogiri. Wisata hutan pinus ini menjadi momen untuk melepas kepenatan dan berfoto ria bersama orang-orang terdekat.

Perum Perhutani pun saat ini sedang mengoptimalkan bisnis ini karena salah satu hasil hutan bukan kayu yang dapat dimanfaatkan adalah jasa lingkungan. Tanpa mengurangi tegakan pohon pada hutan pinus, areal kerja Perum Perhutani dapat menjadi pundi-pundi uang demi berlangsungnya kehidupan perusahaan.

 

Itulah deskripsi singkat mengenai Pinus merkusii Jungh. et de Vriese yang merupakan salah satu tanaman yang cocok untuk dibudidayakan sebagai investasi masa depan karena memiliki berbagai manfaat baik untuk lingkungan maupun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri. Semoga dapat menambah wawasan kamu dalam mengenal jenis pinus ini ya!

 

Referensi:

Burrahman M. 2006. Pengujian ketelitian penggunaan tabel tegakan pinus (Pinus merkusii Jungh. Et de Vriese) Di KPH Cianjur Perum Perhutani Unit III [skripsi]. Bogor (ID) : Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

Hadi AQ, Napitupulu RM. 2012. 10 Tanaman Investasi Pendulang Rupiah. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya

Perum Perhutani.1993. Silvikultur Tanaman Hutan Industri. Madiun (ID) : Pusat Pendidikan Kehutanan.

Sallata MK. 2013. Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) dan keberadaannya di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Info Teknis Eboni . Vol 10 (2) : 85 – 98

Pohon Pinus (Pinus merkusii): Hutan Pinus, Habitat, Sebaran, Morfologi, Manfaat, dan Budidaya
Rating: 4.3 from 133 votes

Recommended For You

About the Author: Mega Dinda Larasati

Mahasiswa Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB.

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *