Lahan Basah: Pengertian, Sebaran, dan Jenis

Diposting pada

5.5 Lahan Basah Buatan

Lahan basah buatan merupakan lahan hasil rancangan manusia yang terdiri dari hewan, air, dan tanaman. Lahan ini menyerupai rawa alami yang kemudian dimanfaatkan manusia. Biasanya desain wilayah ini digunakan untuk pemurnian air tercemar dengan optimalisasi proses-proses fisika, biologi, dan kimia. Semuanya saling terintegrasi seperti layaknya rawa alami.

5.6 Lahan Basah Mineral

Lahan basah mineral sendiri terdiri dari Marsh yang merupakan suatu ekosistem dengan kandungan mineral kurang baik dan didominasi oleh rerumputan. Marsh dapat ditemukan di pinggiran sungai khususnya pada proses pembentukan wilayah delta sungai.

Tumbuhan yang berada pada wilayah ini dapat menurunkan laju air serta meningkatkan kadar nutrisi karena adanya sedimentasi. Hal ini dapat menyebabkan adanya peningkatan pembentukan Marsh itu sendiri.

Jenis lainnya yaitu Swamp (rawa), yang merupakan jenis lahan yang mempunyai drainase buruk dan miskin kandungan mineral pada tanahnya, serta didominasi oleh semak dan tumbuhan kayu. Rawa dapat ditemui di seluruh wilayah di dunia pada daerah dataran rendah dekat dengan sungai. Sebagian dari rawa merupakan hasil bentukan Marsh yang lambat laun mengisi bagian cekung pada wilayahnya.

5.7 Lahan Basah Organik

Pada lahan basah organik terdiri dari Bog. Bog yaitu ekosistem lahan basah yang memiliki karakteristik drainase tergolong buruk, basah, didominasi oleh tumbuhan berbunga dan lumut. Kandungan air yang terdapat di Bog adalah asam dan sumbernya didominasi oleh air hujan.

Jenis lain pada lahan ini yaitu Fen yang merupakan ekosistem lahan basah dengan ciri didominasi oleh rumput dan alang-alang, serta memiliki tanah yang lunak. Kandungan yang terdapat di dalam airnya adalah basa yang bersumber dari aliran di atas tanah.

Kedua klasifikasi lahan tersebut didasarkan pada mekanisme hidrologi yang dimiliki setiap lahannya.

6. Contoh Lahan Basah di Indonesia

Indonesia memiliki lahan yang tergenang tersebut kurang lebih 30.3 juta hektar yang kemudian tersebar pada berbagai penjuru wilayah. Total luas lahan ini seiring berjalannya waktu terus-menerus mengalami penurunan. Penurunan lahan tersebut dikarenakan adanya alih fungsi menjadi pertanian, pemukiman, hingga faktor eksploitasi lainnya.

Salah satu wilayah yang terkena alih fungsi lahan adalah Ibukota Jakarta. Ibukota Jakarta dulunya merupakan wilayah yang terdiri dari rawa-rawa, namun seiring berjalannya waktu kemudian berubah menjadi perkotaan.

Indonesia memiliki berbagai jenis lahan basah, di antaranya adalah wilayah rawa, lahan gambut, hingga daerah mangrove. Lahan gambut serta mangrove merupakan dua wetland yang sering mengalami kerusakan.

Pulau Rambut (instagram.com)
Pulau Rambut (instagram.com)

Selain itu di Indonesia juga terdapat lahan basah buatan. Lahan tersebut kemudian digunakan persawahan, situ, embung, kolam air tawar, tambak, bendungan, kolam stabilisasi limbah, rawa buatan, hingga parit ataupun saluran.

Konvensi Ramsar telah menetapkan kawasan-kawasan yang memiliki fungsi lahan basah yang harus dilindungi di dunia yang dikenal sebagai Situs Ramsar.

Terdapat 7 kawasan yang ditetapkan sebagai situs ramsar di Indonesia yaitu:

  • Pulau Rambut
  • Taman Nasional Berbak
  • Taman Nasional Sembilang
  • Danau Sentarum
  • Taman Nasional Rawa Aopa Watumohae
  • Taman Nasional WASUR
  • Taman Nasional Tanjung Puting

7. Upaya Konservasi

Upaya konservasi yang dilakukan guna menyelamatkan wetland berasal dari berbagai macam pihak yang terlibat. Konvensi Ramsar (The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat) merupakah salah satu dari sekian badan yang bergerak dalam upaya konservasi.

Konvensi Ramsar merupakan kesepakatan taraf internasioal mengenai perlindungan wilayah yang tergolong lahan basah yang memiliki posisi penting untuk kelanjutan ekosistem pada burung air.

Kesepakatan tersebut menghasilkan poin-poin penting dalam perlindungan lahan basah yaitu pemanfaatan secara bijaksana, pencegahan terhadap kerusakan dari bidang sosial, ekonomi, ilmiah, dan ekowisata, serta pelestarian kawasan wetland dunia.

Negara yang termasuk kedalam Konvensi Ramsar wajib mendaftarkan wilayah lahan basah sekurang-kurangnya satu wilayah yang dimiliki negaranya. Daftar tersebut hingga saat ini disebut sebagai “Daftar Ramsar”.

Kemudian Negara yang telah terdaftar sebagai anggota dengan wajib melindungi lokasi yang telah didaftarkan dan membangun serta melaksanakan rencana pada tingkat pemerintah untuk dapat menggunakan lahan basah pada wilayahnya dengan bijaksana.

Perundangan yang dimilki Indonesia hingga dunia kebanyakan berfokus pada konservasi gambut. Sehubungan dengan perlindungan terhadap lahan gambut, maka peraturan kemudian diterbitkan oleh KLHK meliputi:

Gambar Gravatar
Mahasiswi Manajemen Hutan Institut Pertanian Bogor yang berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Beaswan Karya Salemba Empat yang menyukai desain dan editing. Juga menyukai berinteraksi dengan masyarakat dan anak-anak.