Hutanku, Hutanmu, Hutan Kita Semua

Diposting pada

Permasalahan SDA dan lingkungan hidup saat ini sungguh kompleks dan saling terkait dengan jumlah dan pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk yang tinggi dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat memerlukan lahan, pemukiman dan energi sehingga telah membawa dampak yang serius bagi cadangan SDA dan kelestarian lingkungan hidup.

Permasalahan agraria telah menjadi fokus isu tersendiri bagi pengembangan dan pengelolaan SDA berkelanjutan. Salah satu sektor yang sering menjadi sorotan adalah sektor kehutanan. Dalam rekam jejak permasalahan yang menyelimuti permasalahan tersebut beberapa alasan telah menjadi latar belakang terjadinya masalah tersebut. Hal ini menyebabkan banyak sekali permasalahan yang terjadi dan erat kaitannya dengan beberapa permasalahan satu dengan yang lain. Dengan demikian, sektor agraria menjadi salah satu sektor yang harus terus mendapat pengawalan terkait tanggung jawab, kebijakan dan peran antara manusia dengan sektor agraria tersebut.

Masyarakat Sekitar Hutan

 

Sumber Permasalahan Agraria

Pertumbuhan penduduk seakan menjadi duduk permasalahan bagi sebagian masalah pada sektor agraria. Pertumbuhan penduduk ini telah diikuti dengan laju konsumsi yang terus meningkat dan laju pembangunan pun turut tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan manusia dan pembangunan ini kurang diikuti dengan upaya nyata terhadap perlindungan dan pelestarian SDA dan lingkungannya sehingga menyebabkan kerusakan yang semakin serius.

Indonesia yang katanya memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan luasan hutan hujan tropis yang besar seakan menjadi korban bagaimana dampak negatif dari pertumbuhan penduduk dan laju konsumsi oleh manusia yang naik pesat.

Hutan hujan tropis memiliki fungsi yang sangat penting bagi dukungannya terhadap manusia dan pembangunan mengalami kerusakan yang sangat serius. Habitat berbagai jenis kehidupan liar terfragmentasi, menyebabkan berbagai satwa besar seperti orang utan, badak, gajah dan harimau menjadi terganggu dalam perkembangannya. Demikian pula  berbagai habitat yang berada di perairan seperti halnya hutan mangrove mengalami kerusakan yang serius. Hal ini menjadi gambaran khusus betapa erat hubungannya antara suatu sektor kehutanan dengan bidang lain dan apabila hal ini dibiarkan permasalahan agraria sektor kehutanan ini akan menjadi isu yang sering dibahas pada mas depan.

Dalam pembahasannya, peran manusia dalam dampak yang timbul akibat tindakan dan sikap manusia dapat dilihat dari dua variabel yaitu variabel ruang dan variabel waktu. Dalam variabel waktu ditunjukkan dengan peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun, sedangkan dalam variabel ruang ditunjukkan bahwa setiap manusia pada umumnya sangat perhatian terhadap perilakunya.

Sebaliknya, hanya sejumlah kecil saja penduduk bumi yang mempunyai perhatian pada permasalahan global yang berkembang menjadi tujuan pembangunan jangka penjang. Kondisi variabel waktu dan ruang ini sangat dipengaruhi oleh budaya, pengalaman masa lalu dan masalah yang dihadapi.

Banyak di antara manusia yang berhasil mengatasi permasalahan pada wilayah tertentu yang cakupannya tidak begitu luas, dan ada juga yang bisa mengatasi dalam wilayah berskala besar. Permasalahan pokoknya berkaitan langsung dengan gaya hidup dan perilaku konsumtif terhadap sumberdaya yang dihasilkan alam.

Hutan misalnya, pemanfaatan secara terus menerus dari segi hasil hutan berupa kayu atau bahkan non-kayu mengakibatkan degradasi kualitas dan kuantitas hutan itu sendiri. Tindakan ini tidak didampingi oleh tindakan konservasi dan etika lingkungan sehingga mengakibatkan gangguan yang serius.

Seperti contoh, alih fungsi lahan kehutanan menjadi perkebunan yang saat ini menjadi hal yang banyak diangkat dan disoroti. Hutan yang salah satu fungsinya sebagai perlingungan dan pengawetan dari segi sumberdaya dan keanekaragaman hayati diubah fungsinya menjadi lahan perkebunan sawit untuk produksi minyak kawit yang memiliki nilai komersil bagi manusia.

Tentunya hal ini bertentangan dengan fungsi awal lahan dan hutan tersebut yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, tetapi pada kasus ini justru manusia yang lebih mementingkan kepentingan sektoral. Akibatnya banyak alih fungsi lahan, hutan rusak, permasalahan kualitas lahan, penurunan kualitas pada sumberdaya seperti udara, air dan tanah serta berbagai dampak yang berkaitan langsung dengan kasus tersebut.

 

Perspektif dan Tindakan Manusia

Secara total, semua akibat kegiatan manusia dan pembangunan yang telah menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan menunjukkan bahwa jika tindakan tersebut tidak dibarengi dengan konsep konservasi dan etika lingkungan akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah.

Ironisnya, hingga saat ini masih dapat disaksikan perilaku manusia yang semakin egois, mereka dengan seenaknya merusak hutan, terumbu karang, membunuh dengan cara perburuan dan meracuni satwa liar. Di samping itu, tidak hanya kegiatan illegal tetapi juga kegiatan secara legal yang tidak tepat secara ekologis pun banyak terjadi dan terbukti telah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Seperti contoh pembukaan hutan gambut untuk menjadi lahan kelapa sawit, mempunyai konsekuensi tinggi terhadap kerusakan lingkungan seperti hilangnya keanekaragaman hayati, gangguan hama pertanian, kebakaran hutan dan banjir.

Egoisme dan keserakahan manusia adalah perilaku yang berlawanan dengan nilai ekologis lingkungan. Perilaku seperti ini telah menimbulkan malapetaka lingkungan hidup yang semakin serius dan penderitaan berkepanjangan. Perilaku ini juga semakin didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat.

Semakin tinggi tingkat teknologi yang tidak dibarengi oleh etika lingkungan maka akan semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan. Misalkan dalam sektor agraria kehutanan, mesin-mesin untuk memanen kayu harusnya lebih memperhatikan nilai efisiensi dan ekologis dalam lingkungan. Atau bisa juga pola pemanenan terhadap hasil yang akan dipanen harus lebih diperhatikan lagi agar tetap menjaga kelestarian lingkungan.

 

Kalau Bukan Kita, lalu Siapa?

Etika dan moral lingkungan sangat terkait dengan norma-norma biologi dan ekologi, yang dapat membedakan perilaku manusia apakah itu buruk atau tidak. Norma ekologi juga memberikan dan menghargai adanya timbal balik hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan baik biotik maupun abiotik.

Fokusnya adalah melindungi semua komponen dan sistem kehidupan sehingga tatanan rantai dan jaring makanan berjalan baik dalam sistem yang normal. Oleh sebab itu seharusnya manusia lebih memperhatikan etika dan moral ekologis dalam memanfaatkan sumber daya yang dimanfaatkan agar tercipta kondisi yang lestari.

Etika dan moral bermuatann nilai dan prinsip moral yang dianut. Jadi artinya etika adalah uraian tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup atau berkelakuan dan memperlakukan yang lain atau berperilaku terhadap yang lain. Maknanya agar satu pihak tindakannya tersebut mencerminkan kebaikan dan juga mencerminkan kebenaran sehingga dampak yang ditimbulkan tidak buruk bagi pihak yang bersangkutan.

Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh pemerintah dan pemberlakuannya pun juga sistematik dan tepat sasaran. Tetapi apabila hanya itu saja tidak cukup, kita sebagai manusia juga harus sadar terkait dengan kondisi serta dampak yang ditimbulkan apabila kita memanfaatkan sumber daya secara terus-menerus tanpa memperdulikan kelestariannya.

Peran kita dalam membangun sistem konservasi yang lestari memiliki dampak yang sangat besar terhadap keberlangsungan dan keberadaan sumber daya tersebut. Semakin jelas bahwa konflik agraria yang umum terjadi ini disebabkan oleh perilaku dan pola berpikir manusia yang hanya memperdulikan nilai komersiil tanpa memperdulikan nilai dan etika moral lingkungan.

Tindakan konservasi SDA dan lingkungan juga harus dipahami agar tercipta lingkungan dengan sumberdaya yang melimpah dan dapat digunakan secara berkelanjutan. Kalau bukan kita yang melakukannya lalu siapa lagi?

Hutanku, Hutanmu, Hutan Kita Semua
Rating: 5 from 806 vote[s]

Gambar Gravatar
Perkenalkan nama saya Regriya Figo Primadana. Saya merupakan mahasiswa semester 5 Fakultas Kehutanan UGM. Saya lahir pada tanggal 19 April 1998 dan sekarang memasuki usia 20 tahun. Alasan ingin mengikuti kompetisi ini adalah untuk menyalurkan pikiran dan pendapat tentang perkembangan hutan di Indonesia. Selain itu, saya ingin lebih belajar dan memahami tentang tata cara penulisan artikel dengan baik dan benar.