Catatan Kebakaran Hutan di Indonesia

Diposting pada

Indonesia tidak pernah luput dari catatan kelam kebakaran hutan. Kawasan hutan Indonesia seluas 125,9 juta hektare merupakan anugerah, dan dalam waktu yang bersamaan bisa juga menjadi musibah karena kebakaran hutan.

Kebakaran hutan yang terjadi sering parah dan berdampak serius bagi lingkungan dan kesehatan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai sorotan di mata dunia karena mencerminkan tata kelola hutan yang buruk. Lalu, mengapa kebakaran hutan di Indonesia terus terjadi?

Asap mengepul dari kebakaran lahan gambut di kawasan penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Provinsi Riau, Selasa (1/4). Mulai tanggal 4 April Satgas Operasi Terpadu Darurat Asap menyerahkan tongkat komandan kepada Pemprov Riau, dengan teta

 

Sejarah Kebakaran Hutan di Indonesia

Jejak kebakaran hutan di Indonesia yang terekam dalam sejarah adalah sebagai berikut.

1. Pra kemerdekaan

  1. Penggunaan api diperkirakan mulai lebih dari ratusan tahun yang lalu yang dibuktikan dengan adanya timbunan sisa-sisa terbakarnya vegetasi di dalam tanah di hutan hujan tropis.
  2. Peningkatan populasi di Jawa pada tahun 1870 menyebabkan hilangnya hutan-hutan primer di Jawa yang disertai dengan aktivitas manusia: api untuk berburu, kesenangan, pembersihan lahan, akses, dan perubahan hutan menjadi lahan peternakan.
  3. Asap tercium sampai bermil-mil jauhnya di laut pada saat penjelajah Eropa mendarat di Kalimantan.
  4. Kebakaran hutan menjadi dasar aturan (ordonansi) pada masa pemerintah Hindia Belanda maupun kerajaan antara lain:
    1. Ordonansi Hutan untuk Jawa dan Madura (1927) pasal 20
    2. Provinciale Bosverordening Midden Java (pasal 14) yang menyebutkan upaya kesiapsiagaan menghadapi musim kebakaran di bulan Mei sampai dengan November dan tata cara penggunaan api (pembakaran) di perbatasan hutan.
    3. Rijkblad-Soerakarta Ongko 11 (tahun 1939) yang memuat “anulak bencana geni ing alas” atau tatatanan untuk menolak bencana yang diakibatkan oleh api di dalam hutan. (Soedarmo, 1999).
  5. Pembukaan ratusan ribu hektar hutan untuk perkebunan karet, kopi, dan teh, baik di Jawa maupun Sumatera pada masa sebelum kemerdekaan mulai muncul saat transmigrasi penduduk Jawa sebelum kemerdekaan yang dilakukan oleh bangsa Eropa ke wilayah Sumatera Bagian Utara.

2. Pasca kemerdekaan

Periode kebakaran hutan dalam skala besar yang terjadi di Indonesia dimulai dari tahun 1982-1983, 1987, 1991, 1994, 1997-1998, dan 2015.

  • 1982/1983. Tahun 1982/1983 terjadi kemarau panjang yang menjadi pemicu kebakaran besar di Kalimantan Timur yang menghancurkan 3,2 juta hektar dengan kerugian mencapai lebih dari 6 triliun rupiah.
  • 1987. Tahun 1987 tercatat hutan seluas 66.000 ha terbakar (luas total diperkirakan sepuluh kali lebih luas dari angka tersebut) yang menyebar mulai dari Sumatera bagian barat, Kalimantan sampai Timor sebelah timur.
  • 1991. Tahun 1991 pada lokasi-lokasi yang hampir sama dengan kebakaran pada tahun 1987 dengan luas 500.000 ha dan menimbulkan dampak terjadinya asap pada skala lokal.
  • 1994/1995. Tahun 1994 terjadi kebakaran besar di Pulau Sumatera dan Kalimantan dengan luasan 500.000 ha pada tahun 1991 dan lebih dari 5 juta hektare pada tahun 1994 akibat kemarau panjang. Bencana asap tersebar hingga Malaysia dan Singapura yang kemudian mendasari beberapa proyek dan kerja sama Internasional dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
  • 1997/1998. Kebakaran hutan tahun 1997/1998 menjadi bencana lingkungan paling buruk sepanjang abad karena membakar hutan dan lahan di Pulau Sumatera dan Kalimantan seluas 11,7 juta hektare dan menelan biaya ekonomi sekitar 1,62-2,7 miliar dolar. Kebakaran menyebabkan bencana asap, lumpuhnya transportasi massal, roda perekonomian masyarakat, dan kesehatan penduduk hingga negara tetangga dan mengganggu stabilitas politik.
  • 2002-2009. Kebakaran hutan besar juga terjadi pada periode tahun 2002, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008 dan 2009 baik di areal milik perusahaan perkebunan, konsesi hutan dan milik masyarakat yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran periode ini memiliki kekhasan karena terjadi dengan modus operasi yang jelas yaitu penyiapan lahan untuk pembakaran baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun perusahaan baik kehutanan maupun perkebunan. Dampak terhadap lingkungan menjadi-jadi karena instansi yang berwenang sudah mulai kewalahan dan tidak sedikit yang ikut bermain karena menyangkut mitra bisnis atasannya.
  • 2010-2015. Diketahui bahwa jumlah titik api mulai tahun 2010 hingga 2013 adalah 4.152, 22.128, 20.850, 15.107. Luas kebakaran hutan yang tercatat pada tahun 2013 dan 2014 adalah 4.918,74 dan 44.411,36 hektare. Bencana kebakaran hutan dan lahan dengan skala besar periode ini terjadi pada tahun 2015 mencapai 2,61 juta ha dan menghasilkan emisi dari kebakaran gambut sebesar 389.804,21 Gg CO2 eq. Perkiraan biaya ekonomi akibat kebakaran mencapai Rp 221 triliun. Hal ini menyebabkan terganggunya sistem transportasi, melumpuhkan perekonomian masyarakat, kesehatan, bencana asap hingga mencapai Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
  • 2016-sekarang. Indonesia mendapat kecaman dari berbagai pihak atas kebakaran besar pada tahun 2015 dan banyak belajar sehingga angka kebakaran terus menurun dari tahun ke tahun. Luas kebakaran hutan pada tahun 2016-September 2018 yaitu 14.604,84, 11.127,49, dan 4.666,39 hektare. Kebakaran hutan dan lahan terus terjadi dari tahun ke tahun, dan titik api selalu menyebar di beberapa wilayah bagian di Indonesia.

 

Dampak dan Kerugian Kebakaran Hutan

Dampak kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi hampir setiap tahun dengan frekuensi, intensitas, dan luas arealnya berbeda. Dampak tersebut dapat dikategorikan ke dalam beberapa bidang sebagai berikut.

Gambar Gravatar
Siti Hudaiyah atau akrab disapa Haha merupakan mahasiswa aktif Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Disela-sela menjalankan perkuliahan, Haha juga aktif berorganisasi, ko-asisten praktikum, dan terkadang menulis. Ia berharap agar mahasiswa kehutanan mampu menyumbangkan gagasan-gagasan yang lebih besar untuk keberlanjutan hutan Indonesia.