Hutan merupakan suatu kawasan yang harus dilindungi karena hutan merupakan kawasan yang menjaga berbagai fungsi penyangga kehidupan. Perlindungan hutan memerlukan berbagai ilmu pengetahuan agar dapat menuntaskan masalah sampai ke pusat permasalahan. Proteksi hutan dalam hal kebakaran hutan merupakan hal yang sangat penting di Indonesia.

Kebakaran hutan adalah suatu keadaan dimana hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan atau hasil hutan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan (Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 12 Tahun 2009).

Kebakaran Hutan

Mempelajari perilaku dan komponen api merupakan hal mendasar agar kebakaran hutan dapat dikontrol bahkan dicegah. Ketika kebakaran hutan dapat dicegah maka berbagai fungsi hutan tetap terjaga.

Objek utama dari kebakaran hutan adalah hutan dan api. Hutan merupakan ekosistem yang di dalamnya didominasi oleh pepohonan dan hutan memiliki fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi.

Api didefinisikan sebagai suatu peristiwa atau reaksi kimia eksotermik yang disertai timbulnya panas/ kalor, cahaya, asap, dan gas dari bahan yang terbakar. Apabila suatu molekul mengadakan kontak amat dekat dengan molekul oksidator (oksigen) maka pada umumnya akan terjadi reaksi kimia. Apabila tumbukan antar molekul hanya berenergi rendah maka reaksi kimia tidak akan terjadi, tetapi apabila energi cukup besar maka reaksi akan berlangsung. Reaksi ini akan sangat panas karena melepaskan energi yang cukup besar secara eksotermis. Energi ini memanaskan bahan bakar dan oksigen yang selanjutnya berekasi dan menimbulkan reaksi kebakaran (Kusumo 2008).

Proses pembakaran adalah proses kimia-fisika yang merupakan kebalikan dari reaksi fotosintesis. Kadar volume oksigen yang sedikit dapat menyebabkan api padam, sedangkan dengan kadar volume oksigen yang lebih banyak api dapat bertahan lebih lama. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi dalam proses pembakaran. Sesuai dengan syarat-syarat terjadinya nyala api yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Jika salah satunya tidak ada maka api akan padam (Suharsini 2005).

Syarat perlu munculnya api ada tiga, yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Syarat tersebut merupakan komponen dari api, apabila salah satu komponen tersebut tidak ada maka api tidak akan terjadi. Ketiga komponen tersebut seringkali disebut segitiga api.

Selain komponen utama api, perilaku api perlu dipelajari untuk mengendalikan kebakaran hutan. Perilaku api ini berkaitan dengan pengendalian, dampak, dan penilaian kebakaran hutan. Perilaku api adalah cara api berkembang, bagaimana bahan bakar menyala, bagaimana api berkembang, dan mengenai penjalaran api.

Parameter yang sering dipakai dalam memahami perilaku api adalah tinggi nyala api, kecepatan penjalaran api, dan kondisi asap. Parameter ini seringkali dicari untuk menentukan jenis pengendalian api yang sesuai untuk kebakaran hutan di hutan jenis-jenis tertentu.

Perilaku api dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu topografi, cuaca, dan bahan bakar. Faktor-faktor ini disebut sebagai segitiga lingkungan api. Faktor bahan bakar mencakup sifat dan kadar air bahan bakar dan faktor cuaca mencakup berbagai faktor pembentuk cuaca atau iklim.

Data Kebakaran Hutan

Kebakaran di Indonesia hampir seluruhnya disebabkan oleh faktor buatan yang disengaja maupun tidak disengaja. Penyebab kebakaran secara alami di Indonesia sangat kecil terjadi. Petir yang di negara lain menjadi faktor alami terbesar penyebab kebakaran hutan tidak bisa menyebabkan kebakaran hutan di Indonesia karena di Indonesia petir senantiasa diiringi dengan hujan yang cukup deras.

Sumber: Redaksi Forester Act !


Referensi

Kusumo R H. 2008. Evaluasi Sarana Terjadinya Kebakaran Hutan. Jakarta (ID): Grafindo.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan.

Suharsini M. 2005. Kimia dan Kecakapan Hidup. Jakarta (ID): Ganeca Exact.