Hutan Hujan Tropis: Pengertian, Ciri, Sebaran, Manfaat, dan Keadaannya

Diposting pada

5. Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman Hayati
Ilustrasi Keanekaragaman Hayati Fauna

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas hutan hujan tropis terkenal beraneka ragam. Sebaran keanekaragam tersebut memiliki karakteristik unik pada setiap wilayah. Persebaran keanekaragaman hutan hujan tropis Indonesia didasarkan mengikuti garis wallace, yang terbagi menjadi tiga wilayah yaitu wilayah barat, tengah, dan timur. Keanekaragaman hayati ini pun meliputi keanekaragaman flora dan keanekaragaman fauna.

Keanekaragaman flora yang ditemukan dalam hutan ini sangat melimpah begitupun keanekagaram fauna yang dapat dijumpai di dalam hutan. Flora dan fauna ini sangat menggantungkan kehidupannya di hutan ini untuk kelangsungan hidupnya.

5.1 Wilayah Barat

Wilayah hutan hujan tropis bagian barat meliputi daerah Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Fauna yang terdapat pada daerah ini disebut sebagai fauna tipe asiatis, seperti harimau, beruang, gajah, dan banteng.

Ciri yang khas dari fauna tipe ini, terlihat dari pengelompokannya yang didominasi oleh jenis mamalia, hewan besar, dan berkaki empat. Spesies endemik juga mendominasi flora dan fauna di wilayah barat ini.

Spesies endemik merupakan tumbuhan maupun hewan yang menempati sebuah biota dan keberadaannya menjadi unik pada suatu wilayah tertentu. Spesies dikatakan langka apabila keberadaannya di alam dalam kategori terancam, terganggunya habitat, dan kelangkaan sumber makanannya di alam.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora atau biasa disebut sebagai CITES merupakan konvensi internasional yang bergerak dalam konservasi flora dan fauna yang dapat diperdagangkan.

CITES terbentuk akan kesadaran untuk melindungi flora dan fauna yang terancam punah. Perdagangannya sangat diatur dalam hal ini. Tidak semua binatang dilindungi dapat diperjualbelikan secara legal. Harus ada ketentuan khusus yang memenuhi dan didukung oleh izin yang menyatakan bahwa spesies tersebut telah lulus dari konservasi. CITES memasukkan daftar spesies satwa dan tumbuhan yang dilindungi ke dalam tiga apendiks.

Semakin tinggi tingkatan apendiks, akan semakin tidak terlalu ketat dalam konservasinya, dalam artian flora maupun fauna tersebut dalam kondisi aman dari segi jumlah maupun keberlangsungan hidupnya namun tetap harus diperhatikan pemanfaatanya. Status apendiks dapat berubah seiring dengan perkembangan kondisinya. Apakah akan membaik atau malah makin memburuk.

Apendiks I yang notabene merupakan spesies yang sama sekali dilarang perdagangannya dapat saja berubah peringkatnya ke apendiks II dengan penangkaran.

Begitu pula dengan apendiks III yang dapat saja berubah menjadi apendiks I atau apendiks II, bila keberadaanya di alam liar semakin terganggu.

Penentuan apendiks ini tidak lepas dari otoriter birokrasi perizinan yang telah disepakati oleh masing-masing negara.

Orang Utan sebagai Salah Satu Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Ada beberapa spesies endemik wilayah barat ini yang masuk dalam kategori apendiks. Salah satu contohnya adalah orang utan (Pongo pygmaeus) asal kalimantan masuk dalam apendiks I. Orang utan tidak boleh diperdagangkan secara internasional. Kelangkaan ini disebabkan karena rusaknya habitat orang utan akibat adanya pembalakan liar secara besar-besaran dan konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Dalam kurun waktu satu dekade setidaknya ada 1,2 juta ha kawasan hutan dialih fungsikan untuk kepentingan lain.

Jenis flora yang berada di kawasan barat ini mempunyai ciri kayunya berharga, hijau sepanjang tahun, dan heterogen atau menyebar.

Contoh flora di kawasan ini seperti famili dipterocarpaceae, keruing, beringin, dan paskis. Spesies endemik yang paling terkenal di wilayah ini adalah bunga raksasa Raflesia arnoldi asal bengkulu. Bunga ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 telah ditetapkan sebagai bunga nasional.

Status konservasi bunga ini menurut IUCN masuk dalam spesies yang terancam punah. Raflesia dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 120-365 mdpl begitu pula iklim yang mendukung sangat sesuai dengan hutan tropis di kawasan Sumatera dan Kalimantan.