Sumber Daya Batu Bara di Indonesia

Sumber daya batu bara adalah bahan bakar fosil yang juga merupakan salah satu jenis batuan sedimen yang dapat terbakar dan dibentuk oleh sisa endapan organik jutaan tahun yang lalu. Pembentukan batu bara yang paling produktif adalah pada sekitar 360 juta tahun yang lalu sampai 290 juta tahun yang lalu atau lebih dikenal dengan periode karbon.

Di mana pada saat itu seluruh deposit batu bara (black coal) terbentuk sempurna dimulai di bagian bumi bagian utara, lalu pada periode permian atau sekitar 270 juta tahun yang lalu mulai terbentuk di bagian bumi bagian selatan hingga pada periode tersier 70 sampai 11 juta tahun yang lalu di bagian bumi yang lainnya.

Batu Bara di Nusantara

Dump Truk Batu Bara
Dump Truk Batu Bara

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen batu bara yang patut diperhitungkan di dunia.

Menurut CNBC Indonesia, tahun 2018 Indonesia melalui tambang Tabalong Coal Concession yang dimiliki PT. Adaro Energy Tbk berhasil memproduksi sekitar 50 juta ton batu bara.

Adaro Energy Tbk sendiri merupakan perusahaan tambang terbesar di belahan bumi bagian selatan atau yang terbesar ke empat di seluruh dunia dan memiliki sekitar 6 anak perusahaan yakni Adaro Indonesia, Saptaindra Sejati, Maritim Barito Perkasa, Sarana Daya Mandiri, dan Adaro Eksplorasi Indonesia yang semuanya menjadikan batu bara sebagai komoditi utama.

Lokasi utama tambang Adaro Energy terletak di Kalimantan Selatan, tempat ditambangnya Envirocoal, batubara termal dengan kadar polutan yang rendah.

Adaro Energy juga memiliki aset batubara metalurgi yang beragam mulai dari batubara kokas semi lunak sampai batubara kokas keras premium.

Bukan hanya Adaro Energy Tbk, perusahaan tambang batu bara no. 1 di Indonesia adalah Kaltim Prima Coal yang memproduksi sekitar 60 juta ton pertahun, Berau Coal 33 juta ton pertahun, Kideco Jaya Agung 32 juta ton per tahun, Arutmin Indonesia 28,8 juta ton pertahun, Bukit Asam 25,5 juta ton pertahun, Borneo Indobara 17.3 juta ton pertahun, Indominco Mandiri 13 juta ton pertahun, Antang Gunung Meratus 7,7  juta ton pertahun, dan Indexim Colaindo 6 juta ton per tahun.

Menurut data dari BP Statistical Review of World Energy 2017, pada tahun 2016 Indonesia menempati posisi ke lima sebagai negara yang memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia dengan volume produksi 255,7 (setara juta ton minyak) dibawah India, Australia, Amerika Serikat, dan China.

Dan saat ini Indonesia menempati urutan 9 dengan cadangan batu bara sebesar 2,2% dari total cadangan batu bara dunia. Dengan tambang batu bara yang tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Sejak tahun 1990-an Indonesia mengalami peningkatan dalam produksi batu bara, mengekspor hampir 70-80% hasil batu bara ke luar negeri dan sisa nya dijual di pasar domestik.

Pada akhir tahun 2000 an, adanya trending batu bara membuat para pengusaha dan keluarga kaya di Indonesua menjadi pengusaha batu bara dengan berlomba-lomba menguasai daerah Sumatera dan Kalimantan untuk mendapatkan keuntungan karena tingginya harga batu bara pada saat itu.

Fase ini membuat batu bara bak “emas baru” yang menjadi pangsa bisnis ekspor yang menggiurkan. Hal ini disebabkan:

  • Indonesia sendiri mempunyai cadangan batu bara yang cukup melimpah dengan kualitas menengah
    hingga rendah.
  • Batu bara merupakan kekuatan pembangkit listrik yang dominan dipakai di dunia global.
  • Proses ektraksinya relatif murah dibandingkan sumber energi yang lain.
  • Indonesia terletak dalam geografis yang strategis untuk memasarkan hasil produksi pada negara-negara yang membutuhkan suplai batu bara.

Batu bara sendiri menjadi angin segar untuk Indonesia dalam membantu pertumbuhan ekonomi yang notabenenya masih negara berkembang. Hingga pada tahun 2008 terjadinya krisis keuangan global yang berdampak pada penurunan harga komoditi membuat anjlok bisnis batu bara. Sampai pada puncaknya tahun 2009 sampai 2011 harga batu bara global merosot tajam.

Pada tahun 2016 kenaikan harga minyak bumi memicu harga batu bara naik ke level yang lebih menguntungkan, banyak pula permintaan batu bara domestik yang didominasi pembangkit tenaga listrik yang baru di Indonesia membuat titik terang terang perputaran bisnis batu bara di kalangan pengusaha pertambangan.

Dewasa ini, pemerintah sendiri telah menyadari untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fossil. Beberapa tahun ini pemerintah menyatakan keinginan untuk membaur sumber energi yang lain seperti minyak bumi, gas alam, dan energi terbarukan.

Bahaya Sekaligus Manfaat Sumber Daya Batu Bara untuk Kehidupan

Batu Bara
Batu Bara

Batu bara sendiri adalah jenis batuan sedimen yang terbentuk oleh carbon, hydrogen, oxygen, dan lain-lain.

Bahaya Sumber Daya Batu Bara

Dalam bentuknya yang masih padat, batu bara dapat mengalami gesekan yang menghasilkan debu jenis fibrogenic. Debu jenis ini merupakan debu yang sangat beracun jika masuk ke dalam paru-paru karena dapat membuat kinerja paru-paru memburuk atau mengganggu fungsional organ tersebut.

Dalam setiap pembakarannya, batu bara juga menghasilkan debu yang mematikan dalam senyap yakni Particular Matter 25,5 (PM 25,5) yang ukurannya sangat kecil sekitar 2,5 mikrometer atau 30% dari diamter rambut manusia.

Bahkan karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini bisa menembus masker yang biasa digunakan.

Paparan PM 25,5 pada orang dewasa dapat menyebabkan berbagai macam penyakit antara lain stroke, paru-paru kronik, kanker paru, dan pernafasan.

Menurut data yang bersumber dari Greenpeace pada tahun 2018 ada 2681 orang di Indonesia yang terdampak stroke, 323 orang kanker paru-paru, dan 179 orang terkena penyakit pernafasan atau kardiovaskular yang kesemuanya terdampak penyakit tersebut akibat PM 25,5 di sekitar area pertambangan.

Tidak hanya bahaya karena batu bara itu sendiri, area pertambangan atau bekas lubang pertambangan batu bara pun cukup menjadi sorotan karena membahayakan mahluk hidup yang berada di sekitarnya.

Setiap pembukaan lahan baru atau perluasan area pertambangan, dilakukan pengeboran yang bedampak pada tanah di sekitar dan berakibat pada permukiman masyarakat yang mudah retak, aliran sungai tercemar, dan sumur-sumur pun mengering.

Seperti yang disebutkan dalam media berita Mongabay Indonesia, di Desa Gunung Karasik, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, warga harus berjalan tiga kilometer lebih jauh untuk dapatkan sungai yang masih bersih akibat sungai terdekat mereka telah tercemar limbah batubara.

Di Indonesia, sudah banyak laporan dan aksi yang dilakukan masyarakat untuk mencegah daerahnya menjadi area pertambangan, namun hal ini dirasa tidak berpengaruh banyak karena adanya konflik dan intimidasi yang terjadi antara masyarakat, aparat keamanan elit pengusaha, dan oligarki batu bara di daerah tersebut.

Manfaat Sumber Daya Batu Bara

Selain bahayanya, ada banyak sekali manfaat batu bara. Kebanyakan orang hanya mengetahui batu bara sebagai sumber tenaga pembangkit listrik padahal ada banyak sekali manfaat batu bara yang fungsional untuk kelangsungan kehidupan, tiga di antaranya adalah:

  • Komponen sabun. Pabrik industri membutuhkan hasil sampingan olahan batu bara untuk zat pelarut atau pengikat aroma sabun.
  • Produksi bahan pengeras. Batu bara juga digunakan sebagai bahan pembakaran dalam industri baja, sifatnya yang dapat menghasilkan panas mampu memisahkan baja sesuai kualitas nya.
  • Produksi fenol. Fenol merupakan salah satu bahan bakar yang digunakan untuk menggerakan mesin-mesin di dunia industri dan fenol sendiri dihasilkan dari tar batu bara yang sudah halus.

Mengurangi Penggunaan Batu Bara

Energi Alternatif Terbarukan
Energi Alternatif Terbarukan

Banyak alasan mengapa manusia harus mengganti energi fosil menjadi energi alternatif atau energi terbarukan.

Menurut Wikimedia Commons, 50 tahun dari sekarang energi fosil diprediksi akan habis. Banyaknya eksploitasi gas minyak bumi dan batu bara juga membuat lingkungan tercemar dan kurangnya keseimbangan ekosistem.

Di antaranya yang dapat menggantikan bahan bakar fosil adalah:

  • Geothermal yakni daya panas bumi. Dampak negatif pemanfaatan energi panas bumi terhadap lingkungan dapat dikatakan tidak ada, tidak ada emisi karbon dan tidak ada hujan asam sehingga ramah untuk lingkungan.
  • Alkohol/ Etanol diproduksi dari berbagai macam bahan pangan dan seluruh bagian hasil pertanian. Sejak lama, negara Brazil telah berhasil mengembangkan etanol untuk program bahan bakar hingga saat ini di Brazil sudah tidak ada lagi kendaraan pribadi yang menggunakan bensin murni.
  • Heliokultur adalah proses memanen energi matahari dengan memindahkan karbon dikosida dengan memanfaatkan pertanian.