Gajah Sumatera: Taksonomi, Morfologi, Habitat, dan Upaya Konservasi

Diposting pada

5. Makanan

Sebagai hewan darat terbesar di Indonesia, gajah membutuhkan banyak sekali asupan makanan. Total, dalam sehari, gajah bisa menghabiskan 200 – 300 kilogram makanan, atau setara dengan 5% – 10% dari berat tubuhnya sendiri.

Gajah juga butuh banyak minuman. Total dalam sehari, gajah bisa menghabiskan 20 liter – 50 liter air per hari untuk menunjang pencernaannya. Ia bisa menenggak 9 liter air dalam satu kali hisapan.

Gajah memakan berbagai jenis tumbuhan, mulai dari dedaunan, rerumputan, buah, ranting, akar dan kulit batang, rotan, dan tumbuhan budidaya.

6. Sebaran

Pulau Sumatera menjadi wilayah sebaran untuk subspesies Gajah Sumatera. Tercatat, ada 7 provinsi yang menjadi habitat alami Gajah Sumatera, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Gajah Sumatera (instagram.com)

Provinsi Riau menjadi pusat kegiatan konservasi gajah. Lampung juga menjadi salah satu lokasi ideal untuk pemantauan aktivitas gajah. Di provinsi ini, terdapat dua taman nasional yang berpotensi menyelamatkan populasi gajah, yaitu Taman Nasional Way Kambas (TNWK), dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Salah satu kawasan yang digunakan untuk konservasi Gajah Sumatera adalah TNBBS, yaitu kawasan hutan tropis dengan dataran rendah. Hutan ini merupakan hutan terluas ketiga di Pulau Sumatera dengan luas 365.800 ha.

7. Perkembangbiakan

Gajah Sumatera mulai produktif pada usia 10 – 12 tahun. Gajah betina akan memasuki masa kematangan reproduksi pada umur 8 – 12 tahun. Pada masa produktif, gajah jantan cenderung berperilaku agresif pada beberapa momen.

Perilaku agresif gajah jantan ini terjadi setiap 3-5 bulan sekali dengan durasi 1 sampai 4 minggu. Perilaku ini dibarengi dengan keluarnya sekresi kelenjar yang ada di wajah, tepatnya di sekitar mata dan telinga. Sekresi ini berwarna hitam dan bisa merangsang.

Tak ada batasan musim kawin untuk perkembangbiakan gajah. Kawin bisa terjadi sepanjang tahun, selama gajah menginginkannya. Namun, frekuensi perkawinan menjadi lebih sering dan menjadi bersamaan dengan datangnya musim penghujan.

Gajah betina biasanya akan mengandung anaknya dalam kurun waktu yang lama, yaitu sekitar 18 – 23 bulan. Setelah melahirkan, gajah akan menyusui anaknya sampai umur 2 tahun dan dapat mencari makan sendiri. Selanjutnya, gajah betina bisa hamil lagi dalam kurun 4 tahun setelah kelahiran anak sebelumnya.

8. Upaya Konservasi

Berbagai pihak turut serta dalam upaya konservasi yang dilakukan untuk menyelamatkan populasi Gajah Sumatera dari kepunahan. Mulai dari lembaga resmi pemerintah, hingga organisasi non-pemerintah. Pihak-pihak tersebut saling bekerjasama menyelamatkan gajah dari upaya pembunuhan dan perburuan liar yang dilakukan manusia.

Pemerintah sendiri turut andil dalam konservasi ini dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Kemudian, pemerintah juga mengatur mengenai konservasi Gajah Sumatera dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Seperti yang diketahui, populasi Gajah Sumatera kini berada dalam kondisi kritis. Terakhir, jumlah gajah yang bisa teridentifikasi adalah sekitar 2400 – 2800 ekor. Padahal, gajah merupakan salah satu spesies payung dalam ekosistem hutan.

Penyusutan populasi dalam jumlah besar ini disebabkan oleh beberapa faktor utama yaitu pengurangan luas habitat dengan drastis, perburuan liar, dan konflik dengan manusia. Di beberapa wilayah pertanian dan perkebunan, gajah dianggap sebagai ‘hama’ karena merusak, atau lebih tepatnya memakan tanaman komoditi di perkebunan tersebut.

Upaya yang dilakukan pemerintah salah satunya adalah membentuk Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) yang juga menangani spesies lain yang terancam punah. BBKSDA memiliki beberapa pawang dan petugas khusus yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi pergerakan Gajah Sumatera.

Para pawang dan petugas, dengan mengendarai gajah, melakukan berbagai macam kegiatan. Antara lain menggiring gajah yang memasuki pemukiman dan kebun untuk kembali ke hutan, mengembalikan ke jalur jelajah, hingga membuat lokasi konservasi baru.

Di Riau, ada Hutan Talang yang diproyeksi menjadi lahan konservasi Gajah Sumatera. Namun, upaya ini menemui jalan terjal, karena pemerintah berencana membangun jalan lingkar yang melintasi area hutan ini. Hal ini membuat luasan tanah konservasi masih kurang memadai untuk mempertahankan populasi Gajah Sumatera.

Di sisi lain, terdapat lembaga non-pemerintah yang juga turut andil dalam upaya konservasi Gajah Sumatera. Misalnya, World Wild Fund of Nature (WWF) yang sejak tahun 2004 terus berjuang membantu melestarikan mamalia besar ini dari kepunahan.

Pada tahun 2004, WWF memiliki andil besar dalam penetapan Taman Nasional Tesso Nilo di Provinsi Riau. Dua tahun berikutnya, Provinsi Riau, dalam Permenhut No.5 Tahun 2006, ditetapkan sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera.

Tak berapa lama setelah ditetapkannya Taman Nasional Tesso Nilo, WWF membentuk tim patroli Flying Squad, yang bertugas untuk mengawal gajah liar yang memasuki kawasan penduduk dan kebun. Tim patroli ini terdiri dari sembilan pawang dipadu dengan empat gajah terlatih.

Tim ini berhasil menekan angka kerugian yang diakibatkan oleh konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah, serta mencegah terjadinya pembunuhan gajah.

Lima tahun setelahnya, WWF bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memasang GPS Satellite Collar di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Upaya ini dilakukan untuk mengetahui arah pergerakan gajah berdasarkan satelit, untuk mencegah gajah masuk kawasan penduduk dan komersial, sehingga mengurangi jumlah konflik dengan manusia.

Selain itu, WWF juga melakukan penelitian terkait sebaran, populasi, dan hubungan darah yang terdapat pada Gajah Sumatera. Hal ini ditujukan agar mengetahui sejauh mana hubungan kekerabatan, baik antara individu maupun kelompok.