Taman Nasional Way Kambas

Diposting pada

Pesona Taman Nasional Way Kambas sangatlah elok dengan keindahannya. Akses untuk menuju tempat ini pun sangat mudah untuk dicapai jika dari Jakarta. Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan kawasan konservasi dengan memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Taman Nasional Way Kambas bertempat di provinsi Lampung, tepatnya di jalan Labuan Ratu, kabupaten Lampung. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati kekayaan yang dimiliki Taman Nasional Way Kambas dengan khas gajah Sumatera yang sedang disekolahkan.

Potensi keberadaan satwa liar di Taman Nasional Way Kambas sangat tinggi sehingga terdapat lembaga konservasi seperti Sumatera Rhino Sanctuary. Sumatra Rhino Sanctuary (SRS) adalah program yang bertujuan untuk mengembangbiakan Badak Sumatera.

Tujuan dari program SRS adalah untuk melahirkan keturunan badak yang sangat langka. Selain Badak, Taman Nasional Way Kambas memiliki Gajah Sumatera yang dapat membantu para wisatawan berkeliling sehingga para wisatawan yang berkunjung akan sangat menikmati perjalanan.

Taman Nasional Way Kambas

 

DAFTAR ISI
1. Letak Geografis dan Luas Kawasan
2. Iklim dan Topografi
3. Sejarah Kawasan
4. Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem
5. Masyarakat Sekitar Taman Nasional Way Kambas
6. Wisata Alam di Taman Nasional Way kambas
7. Fasilitas
8. Partner Organisasi Taman Nasional Way Kambas
9. Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis Taman Nasional Way Kambas

 

1. Letak Geografis dan Luas Kawasan

Letak geografis Taman Nasional Way Kambas terletak di antara 4O 37’ – 5O 16’ LS dan 105O 33’ – 105O 55’ BT. Kawasan ini berada pada daerah bagian tenggara pulau Sumatra tepatnya di wilayah Provinsi Lampung.

Kawasan Taman Nasional Way Kambas masuk ke dalam enam kecamatan yaitu kecamatan Labuan Maningai, Way Jepara, Sukadana, Purbolinggo, Rumbia, dan kecamatan Seputih Surabaya.

Saat ini Taman Nasional Way Kambas memiliki kawasan yang cukup luas. Luas kawasan taman nasional ini sekitar 130.000 ha dan 60% dari kawasan ini berupa rawa, belukar, dan bekas peladangan. Wilayah taman nasional ini cukup luas dibandingkan taman nasional yang lain.

 

2. Iklim dan Topografi

Taman Nasional Way Kambas memiliki tipe iklim A berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Taman nasional ini pun memiliki jenis iklim khas khatulistiwa dengan iklim hutan hujan tropis dan iklim sabana.

Pada bulan November hingga bulan Maret kawasan ini diprediksi sudah memasuki musim hujan. Musim kemarau diprediksi pada bulan Juli hingga September. Curah hujan rata-rata taman nasional ini sekitar 2.495 mm/tahun, umumnya dengan suhu kisaran 20O-31OC.

Keadaan topografi kawasan Taman Nasional Way Kambas relatif datar tetapi sedikit bergelombang yang disebabkan daerah lembah yang terpotong oleh sungai-sungai di bagian kawasan Barat. Ketinggian kawasan ini berkisar antara 0 – 225 m dpl.

 

3. Sejarah Kawasan

Sejarah kawasan Taman Nasional Way Kambas pertama kali tercatat pada tahun 1924. Pada tahun tersebut kawasan Taman Nasional Way Kambas hanya terbagi atas beberapa kawasan hutan lindung. Tahun 1936 diusulkan menjadi kawasan margasatwa oleh Mr. Rookemaker sebagai Residen wilayah Lampung.

Disusul dengan surat keputusan Gubernur Belanda pada tanggal 26 Januari 1937 untuk menetapkan kawasan Way Kambas sebagai suaka margasatwa dengan kawasan seluas 130.000 ha.

Pada tahun 1978, Menteri Pertanian mengeluarkan kebijakan yang dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian yang berisikan pengubahan status kawasan Suaka Margasatwa Way Kambas menjadi Kawasan Pelestarian Alam.

Tahun 1982 Menteri Pertanian RI mengubah Kawasan Pelestarian Alam menjadi Taman Nasional Way Kambas. Pada tanggal 1 April 1989 mulai dikeluarkannya surat Keputusan Menteri Kehutanan dengan No. 444/Menhut-II/1989 dengan penetapan luas Taman Nasional Way Kambas sekitar 130.000 ha. Pendeklarasian ini bertepatan dengan Pekan Konservasi Nasional di Kaliurang, Yogyakarta.

Pada tanggal 13 Maret 1991, pengelolaan Taman Nasional Way Kambas diberikan kepada Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam II Tanjung Karang. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dengan Nomor 185/Kpts-II/1997 Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas dinyatakan sebagai Balai Taman Nasional Way Kambas.

 

4. Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem

Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Way Kambas sangat beragam, baik itu flora maupun faunanya. Taman Nasional Way Kambas memiliki tipe ekosistem di antaranya yaitu ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem hutan rawa, ekositem mangrove, dan ekosistem hutan pantai.

Dari ekosistem utama terdapat perubahan ekosistem dari darat ke perairan yaitu tipe ekosistem riparian, di mana ekositem ini ditandai dengan adanya formasi vegetasi. Ekosistem tipe riparian belum dikategorikan sebagai ekosistem yang lazim dikarenakan ekosistem ini berada pada zona peralihan antara air dan darat. Jenis ekosistem ini ditandai dengan tumbuhan yang merambat/ liana.

Kawasan Way Kambas memiliki beberapa tipe ekosistem lahan basah, di antaranya hamparan lumpur pasang surut, hamparan pasir, rawa mangrove, sungai-sungai yang mengalir lambat secara terus-menerus, lahan rumput yang digenapi secara musiman, hutan rawa air tawar, dan hutan rawa musiman.

Jenis tumbuhan di kawasan Taman Nasional Way Kambas yang sering ditemukan yaitu tumbuhan dari spesies Avicennia morina (Api-Api), Dipterocarpus sp. (Keruing), Shorea sp. (Meranti), Canarium sp. (Kenari), Livistona hasselti (Palem Sendang), Gluta renghas (Rengas), Schima walichii (Puspa), Intsia palembanica (Merbau) termasuk tanaman endemik di Taman Nasional Way Kambas.

Ekosistem hutan hujan dataran rendah memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi serta berstratum lengkap. Ekosistem hutan hujan dataran rendah berada di sekitar kawasan barat taman nasional ini. Kawasan ini juga merupakan daerah yang paling tinggi dibandingkan yang lainnya.

Ekosistem hutan pantai atau disebut ekosistem pantai letaknya berada dekat dengan pantai, tetapi kawasan ini tidak ditandai dengan genangan air laut atau air tawar. Tanah yang biasanya mendominasi adalah tanah bertekstur pasir.

Kawasan ekosistem pantai terletak di sepanjang Pantai Timur Taman Nasional Way Kambas. Ciri utama ekosistem pantai adalah adanya tumbuhan Terminalia cattapa (Ketapang) dan Casuarina equisetifolia (Cemara laut).

Selain kondisi tumbuhan yang beragam, ekosistem pantai biasa menjadi tempat berlindung burung-burung yang bermigrasi dari Australia ke dataran Cina Siberia. Tercatat burung yang bermigrasi berjumlah 280 spesies yang sering singgah di Kawasan Taman Nasional Way Kambas, spesies-spesies tersebut di antaranya sebagai berikut:

Taman Nasional Way Kambas
Rating: 4.8 from 50 vote[s]

Gambar Gravatar
Nama saya Riris Ismidiyati asal Ciranjang kabupaten Cianjur. Saat ini saya sedang berkuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Biologi. Keseharian saya selain berkuliah saya aktif di organisasi intra kampus yaitu organisasi Dewan Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi sebagai anggota Penelitian dan Pengembangan Keilmuan. Selain itu aktif di organisasi Badan Semi Otonom Jurusan yaitu Sativa dan Ribosa.