Gajah Sumatera: Taksonomi, Morfologi, Habitat, dan Upaya Konservasi

Diposting pada

3. Morfologi

Gajah Sumatera adalah salah satu subspesies keturunan dari gajah Asia. Jika dibandingkan dengan gajah Asia lainnya, seperti Gajah Kalimantan, Gajah Thailand, dan Gajah India, ukuran Gajah Sumatera lebih kecil. Gajah Sumatera bisa tumbuh tinggi sampai dengan 3 m, dengan berat badan mencapai 5 ton.

Secara morfologi, Gajah Sumatera serupa dengan spesies gajah lainnya. Telinga yang besar, selain memberikan kemampuan pendengaran yang baik juga membantu gajah menurunkan suhu tubuh. Namun, ukuran telinga Gajah Sumatera lebih kecil jika dibandingkan dengan Gajah Afrika.

Ia juga memiliki belalai yang digunakan untuk mengambil makanan dan minuman. Belalai tersebut terdiri dari setidaknya 4000 jaringan otot, dan berbentuk satu ‘jari’ di ujungnya. Bentuk ini berbeda dengan Gajah Afrika yang punya dua ‘jari’ di ujungnya.

Kulitnya memiliki tebal 2-4 cm, yang ditumbuhi rambut halus dengan tekstur yang relatif kasar. Ukuran kaki gajah dewasa berkisar antara 35 – 44 cm, sedangkan untuk gajah muda berukuran 18 – 22 cm.

Gajah Sumatera jantan memiliki gading yang panjang, sedangkan betina tidak memilikinya. Selain itu, ukuran keduanya juga berbeda, gajah jantan tingginya hingga 3,2 m dengan berat hingga 5 ton, sedangkan betina bertinggi 2,4 m dengan berat mencapai 3,7 ton.

4. Habitat dan Wilayah Jelajah

Gajah Sumatera biasanya hidup di daerah dataran rendah berlembah dengan sumber air yang cukup. Namun, gajah ini juga ditemukan di daerah dengan ketinggian di atas 1700 mdpl, seperti yang terdapat pada hutan Gunung Kerinci.

Awalnya, gajah dapat ditemukan di berbagai ekosistem. Namun, karena aktivitas manusia memperluas wilayah pertanian dan kegiatan merusak ekosistem alam lainnya, gajah menjadi semakin terpojok ke beberapa wilayah sempit.

Gajah biasanya akan sering bergerak untuk mencari makan dan minum. Pergerakan gajah juga dipengaruhi oleh musim yang ada. Pada musim kemarau, gajah akan cenderung bergerak dari hutan dataran tinggi ke hutan dataran rendah. Jika musim hujan, gajah akan melakukan hal yang sebaliknya.

Gajah termasuk hewan nokturnal, yaitu hewan yang aktif di malam hari. Mayoritas aktivitas yang dilakukan oleh gajah terjadi di kala manusia sedang tidur. Kebiasaan gajah yang aktif di kala gelap membantu mereka menghindari kontak secara langsung dengan manusia.

Wilayah jelajah gajah tergolong luas, dimana ia membutuhkan daerah seluas antara 32,4 km2 – 166,9 km2. Luas atau tidaknya wilayah jelajah ini ditentukan oleh ada atau tidaknya berbagai fasilitas hidup gajah, seperti makanan, tempat berlindung, dan tempat reproduksi.

Jarak jelajahnya juga luas, gajah bisa berjalan sejauh 7 km per hari. Jangkauan ini bisa lebih jauh lagi jika musim kering, atau musim buah tiba, yaitu menjadi 15 km per hari. Gajah Sumatera menjelajah wilayahnya dalam bentuk kelompok dan mengikuti jalur yang tetap selama satu tahun perjalanan.