Efek Rumah Kaca: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Proses Terjadinya

Diposting pada

2.1 Zat-Zat Penyebab Efek Rumah Kaca

Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas ini muncul secara alami di lingkungan, namun dapat juga muncul akibat aktivitas manusia yang tidak dapat disadari sangat berbahaya bagi kondisi bumi.

Adapun penyebab terjadinya efek rumah kaca sebagai berikut:

Uap Air

Uap air merupakan salah satu gas rumah kaca yang paling banyak mencapai atmosfer diakibatkan menguapnya air laut, sungai, dan danau.

Uap air ini timbul secara alami dan sangat bertanggungjawab terhadap efek dari rumah kaca. Aktivitas manusia menjadi salah satu yang mempengaruhi banyaknya konsentrasi uap tersebut secara tidak langsung.

Peningkatan temperature di atmosfer menyebabkan peningkatan konsentrasi uap yang akibatnya efek rumah kaca juga meningkat dengan drastis dan peningkatan tersebut terus berkelanjutan hingga mencapai titik kesetimbangan (ekuilibrium).

Uap air akan mudah memantulkan gelombang panjang sehingga semakin banyak uap air maka akan semakin panas bumi ini.

Prinsip pengurangan uap air agar suhu tidak terlalu panas juga diterapkan pada ruangan ber AC. AC sebenarnya akan mengirimkan udara yang kering karena udara yang kering mengandung sangat sedikit uap air sehingga di suatu ruangan tidak akan terlalu panas akibat sedikitnya peristiwa pantulan-pantulan gelombang panjang oleh uap air.

Karbondioksida

Karbon dioksida merupakan gas yang menduduki peringkat kedua terbanyak yang menyebabkan efek ini.

Karbon dioksida ditimbulkan dari berbagai proses seperti hasil pernafasan mahluk hidup (manusia dan hewan), letusan gunung api, dan hasil proses pembakaran bahan organik seperti tumbuhan.

Manusia juga ikut andil dalam meningkatkan jumlah karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer. Sebagai contoh, ketika manusia membakar bahan bakar untuk kendaraan dan listrik, baik itu yang berasal dari bahan bakar fosil, limbah kayu, atau pun limbah padat.

Selain itu, menurunnya jumlah pepohonan akibat pembukaan lahan dan perambahan kawasan hutan untuk perindustrian dan permukiman juga mempengaruhi penyerapan karbon dioksida yang harusnya diserap oleh pohon tetapi sudah tidak bisa lagi.

Karbon dioksida ini dapat berkurang jika pepohonan semakin banyak karena pohon dapat menyerap karbon dioksida dan memanfaatkannya untuk proses fotosintesis.

Fotosistesis merupakan proses pembuatan makanan pada tumbuhan yang memanfaatkan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan karbohidrat, oksigen, dan energi. Namun proses penyerapan karbon dioksida oleh pepohonan ini lebih lambat dari pada pelepasan karbon dioksida yang dilepaskan oleh aktivitas manusia, sehingga diperlukan kesadaran manusia untuk mengurangi polusi udara tersebut dengan mulai menerapkan gaya hidup cinta lingkungan dan mengurangi aktivitas yang dapat menimbulkan karbon dioksida berlebihan.

Metana

Metana adalah gas alam yang termasuk gas rumah kaca. Metana merupakan salah satu insulator efektif yang mampu menangkap panas dua puluh lebih banyak apabila dibandingkan dengan karbon dioksida.

Metana ini dilepaskan selama produksi dan proses petambangan batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Metana pun dihasilkan dari limbah organik yang membusuk yang terdapat pada pembuangan akhir sampah dan bahkan dapat dikeluarkan dari hasil pencernaan hewan tertentu.

Dinitrogen Oksida

Dinitrogen oksida merupakan salah satu insulator panas sangat kuat. Senyawa ini dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil dan dapat menangkap panas tiga ratus kali lebih besar dibandingkan dengan karbon dioksida.

Gas-gas inilah yang merupakan hasil proses dari manufaktur dan dikhawatirkan dari proses manufaktur ini yang akan menyebabkan lingkungan menjadi lebih rusak.

CFC dan HFC

CFC atau yang sering kita kenal sebagai Freon, merupakan gas yang dihasilkan dari benda-benda pendingin seperti AC dan kulkas.

Gas ini juga akan mengurangi lapisan ozon sehingga sinar ultraviolet mampu masuk ke bumi dan menimbulkan radiasi.

CFC ini akan langsung menyerang lapisan ozon dan mengakibatkan terjadinya pemanasan di bumi. HFCs ini juga terbentuk selama proses manufaktur produk-produk dan dapat menyebabkan pemanasan global.

Sulfur Heksafluorida (SF₆)

Sulfur Heksafluorida merupakan gas yang juga penyebab efek rumah kaca, karena konsetrasi gas ini terus meningkat di atmosfer. Gas ini pun mampu menangkap panas lebih besar dari gas-gas yang telah disebutkan sebelumnya.