Air Tanah: Pengertian, Jenis, Akuifer, Manfaat, dan Pencemaran

Diposting pada

6.2 Akuiklud

Tanah lempung merupakan contoh dari lapisan akuiklud, di mana lapisan ini mempunyai karakteristik yang unik. Akuiklud merupakan lapisan batuan yang dapat menyimpan air, namun tidak dapat meloloskan air dalam kadar yang cukup.

Kemampuanya ini berkaitan dengan titik jenuh tanah. Karena kemampuanya ini, lapisan tanah akuiklud banyak digunakan untuk bahan baku pembuatan batu bata dan genting. Lapisan ini sebagian besar tersususn atas silika dan berbagai mineral kompleks seperti aolinite, linite, montmorlionite, halloysite, smectite, chlorite, attapulgite, allophone, serta verminculite.

6.3 Akuifug

Kebanyakan lapisan akuifug ini disamakan sebagai lapisan akuiklud. Padahal, lapisan ini memiliki perbedaan yang mendasar. Lapisan akuifug merupakan lapisan yang kebal air, di mana laisan ini tidak dapat mengalirkan dan menyimpan air, seperti granit serta batuan keras, padat, dan kompak.

6.4 Akuitar

Lapisan akuitar memiliki karakteristik yang hampir sama seperti akuifer. Lapisan akuitar juga dapat menyimpan air seperti halnya akuifer. Namun perbedaanya, lapisan akuitar ini hanya dapat mengalirkan air dalam jumlah yang terbatas. Hal ini disebabkan karena letak akuitar sendiri yang berada di antara lapisan akuifer dan akuiklud. Contoh dari lapisan akuitar seperti batuan serpih, scoria, napal dan batu lempung.

7. Cekungan Air Tanah (CAT)

Menurut Kodoatie (2012) cekungan air tanah adalah adalah suatu wilayah yang dibatasi hidrogelogis, suatu tempat terjadinya seluruh kejadian hidrogeologis seperti pelepasan air tanah, pengaliran, dan pengimbuhan. Cekungan Air Tanah (CAT) atau biasa disebut ground water basin adalah batas teknis air tanah dalam pengeloaan sumber daya airnya.

Berdasarkan PP No. 43 Tahun 2008, terdapat tiga kriteria dari CAT, yaitu:

Advertisement nature photography
  1. mempunyai batas hidrogelogogis yang terus dikontrol oleh kondisi hidraulik air,
  2. dalam satu sistem pembentukan air tanah, mempunyai daerah imbuhan dan pelepasan air tanah, serta
  3. terdapat satu kesatuan sistem akuifer.

Tidak semua daerah memiliki sumber daya air yang melimpah sehingga ada daerah yang dinamakan daerah non CAT. Di daerah ini, tidak terdapat sumber mata air yang melimpah, tidak memiliki batas hidrogeologis, tidak memiliki daerah imbuhan dan lepasan air, serta tidak mempunyai kesatuan sistem akuifer.

8. Kualitas

Secara umum, kualitas air tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya iklim, vegetasi, geologi, aktivitas manusia termasuk limbah-limbah industri, rumah tangga, pertanian, dan pestisida. Kualitas dapat dilihat dari beberapa indikator yang dapat diukur di antaranya adalah pH (keasaman air tanah), kandungan zat padat terlarut,  dan kandungan ion dalam air.

Pengukuran kualitas air dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan apakah air tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku industri atau tidak. Air yang digunakan tersebut harus benar-benar memenuhi persyaratan sebelum digunakan karena akan mempengaruhi kesehatan mahluk hidup yang mengonsumsinya.

8.1 Berdasarkan Tingkat Keasaman

Derajat keasamaan atau pH air dapat dipengaruhi oleh iklim dan vegetasi. Iklim dalam mempengaruhi kualitas air ditentukan salah satunya oleh air hujan, di mana air hujan yang jatuh biasanya sudah tercampur dengan unsur-unsur lainnya seperti CO2, N2, dan O2.

Vegetasi pun akan mempengaruhi kualitas air, terutama vegetasi yang sudah mati membusuk. Vegetasi tersebut akan mengeluarkan unsur-unsur seperti Fosfor (P), Nitrogen (N), dan kalium (K) serta unsur-unsur lainnya yang akan terlarut dan terbawa oleh air yang melalui daerah tersebut.

Biasanya vegetasi yang sudah mati membusuk ini relatif memiliki pH rendah atau bersifat asam yang berpengaruh besar terhadap pelarutan unsur kimia dalam air. Keasamaan air biasanya disebabkan oleh terlarutnya CO2 dalam air dan menjadi senyawa asam karbonat (H2CO3).

Air yang memenuhi syarat untuk keperluan air minum dan keperluan rumah tangga lainnya yaitu berkisar pH 6-9. pH asam memungkinkan bakteri dan zat lainya dapat tumbuh dengan cepat. Air yang kita konsumsi sehari-hari ini dianjurkan dengan pH normal antara 6-7.

Tak hanya bagus untuk dikonsumsi manusia, air ber pH netral juga digunakan tumbuhan untuk melakukan fungsi fisiologis tumbuhan. Di dalam air ber-pH netral akan tersimpan banyak kandungan mineral yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.

Lalu bagaimana jika air ber pH basa?

Air dengan pH tinggi anara 8-10 saat ini banyak dikembangkan di masyarakat sebagai air pengobatan. Kandungan pH basa dalam air dapat menetralkan keadaan tubuh yang asam sehingga air ini sangat cocok untuk orang yang dalam keadaan fase penyembuhan dari suatu penyakit. Selain itu, air ber-pH basa relatif mahal untuk dikonsumsi.

Air ber-pH netral yang banyak ditemui juga tak kalah bagus kualitasnya. Seperti contohnya air tanah. Air tanah dengan kualitas baik biasanya memiliki keasaman yang relatif kecil atau setara dengan netral. Keasaman air yang berasl dari dalam tanah ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar. Ketika lingkungan terganggu atau daerah sekitar resapan tercemari maka keasaman airnya pun akan berubah drastis. Hal tersebut membuat kualitasnya semakin menurun.

Gambar Gravatar
Mahasiswa IPB, Departemen Manajemen Hutan yang berasal dari Pangandaran, Kelahiran Desember 1998. Sekarang aktif dalam Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan.