Taman nasional laut kepulauan seribu (TNLKS) atau yang juga dikenal sebagai Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan taman nasional yang kawasannya didominasi oleh perairan laut.

Taman nasional ini merupakan destinasi wisata bagi masyarakat di ibu kota yang cukup dekat dan memiliki pesona alam Indonesia yang sangat eksotis. Taman nasional laut pertama di Indonesia ini masih termasuk ke dalam wilayah administratif provinsi DKI Jakarta dan tepatnya berada di kabupaten Pulau Seribu. Taman Nasional Kepulauan Seribu dapat diakses hanya beberapa jam saja dari pelabuhan-pelabuhan yang ada di Jakarta dengan menggunakan speed boat.

DAFTAR ISI
1. Letak Geografis
2. Luas Kawasan
3. Zonasi
4. Iklim dan Topografi
5. Sejarah Kawasan
6. Keanekaragaman Hayati
7. Masyarakat Sekitar Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
8. Destinasi Wisata Alam di TNLKS
9. Mitra Pengelola TNLKS
10. Akses
11. Fasilitas Taman Nasional
12. Foto-Foto Keindahan Alam Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
13. Kantor dan Informasi

1. Letak Geografis

Taman nasional laut ini terletak di kelurahan Pulau Panggang dan kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu, Kabupaten Pulau Seribu, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Secara geografis kawasan taman nasional laut ini terletak di antara 5° 24’ LS – 5° 45’ LS dan 106° 25’ BT – 106° 40’ BT atau terletak sejauh 45-47 km dari sebelah Utara teluk Jakarta.

 

2. Luas Kawasan

Luas Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) adalah 107.489 ha dan hanya sekitar 526 ha saja yang merupakan daratan. Kawasan kepulauan seribu terdiri atas 106 pulau dengan kondisi hutan yang masih bagus dan sekitar 78 pulau merupakan daerah yang dilindungi.

Luasan setiap pulau yang berada di taman nasional laut ini berbeda-beda mulai dari 0,5 ha sampai dengan lebih dari 37 ha. Kepulauan Seribu ini membentang sepanjang lebih dari 80 km arah Utara – Selatan yang membentuk gugusan pulau-pulau karang yang mempunyai kesamaan morfologis dan oseanografi.

 

3. Zonasi

Taman nasional laut tidak jauh berbeda dengan taman nasional yang berada di daratan, taman nasional ini pun menggunakan sistem zonasi dalam pengelolaannya.

3.1 Zona Inti

Zona ini diperuntukan untuk pelestarian plasma nutfah dan perlindungan proses ekologi. Terdapat tiga klasifikasi zona inti, yaitu zona zona inti I, zona inti II, dan zona inti III.

Berdasarkan peruntukan, zona inti I yang lokasinya terletak di Pulau Gosong Rengat digunakan sebagai tempat perlindungan habitat peneluran Penyu Sisik.

Zona inti II terletak di Pulau Penjaliran Timur, Pulau Penjaliran Barat, Pulau Peteloran Timur, dan Pulau Peteloran Barat serta perairan sekitarnya yang merupakan perlindungan bagi ekosistem mangrove dan habitat peneluran Penyu Sisik khususnya di Pulau Peteloran Barat dan Pulau Peteloran Timur.

Zona inti III meliputi Pulau Kayu Angin Bira dan Pulau Belanda. Daerah perairan sekitarnya pun merupakan daerah perlindungan bagi ekosistem terumbu karang yang pemanfaatannya hanya untuk penelitian.

3.2 Zona Lindung

Zona ini memiliki fungsi untuk melindungi zona inti I dan zona inti II karena merupakan satu kesatuan ekosistem, yaitu sebagai tempat mencari makan, pembesaran dan perkembangbiakan Penyu Sisik.

3.3 Zona Pemanfaatan

Zona ini diperuntukkan bagi pengembangan wisata alam laut dan pariwisata. Pada zona ini bukan berarti pengunjung dapat berbuat seenaknya, pengunjung harus tetap membudayakan kegiatan yang berasaskan konservasi sumber daya alam hayati.

3.4 Zona Pemanfaatan Tradisional

Zona ini digunakan untuk mendukung sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di dalam kawasan taman nasional laut. Kegiatan yang diperbolehkan di kawasan ini misalnya kegiatan perikanan tangkap tradisional, budidaya, dan pembuatan sarana umum.

Berbeda dengan taman nasional biasanya, Taman Nasional Kepulauan Seribu ini memiliki zona-zona maritim sebagai berikut:

3.5 Zona Sublitoral

Zona ini adalah zona bagian pantai yang dari batas air surut terendah hingga dasar terdalam. Umumnya kawasan ini memiliki kedalaman antara 20 sampai dengan 40 meter dan di beberapa tempat kedalamannya mencapai 70 meter.

Biota laut yang mendominasi zona ini di antaranya adalah jenis-jenis karang Acropora sp. dan Porites sp.

3.6 Zona Litoral

Zona litoral adalah bagian pantai yang terletak antara batas air pasang tertinggi dan batas air surut terendah, zona ini meliputi wilayah yang sangat luas dan memiliki berbagai jenis terumbu karang dan ikan hias, seperti Mycedium sp., Echinophyllia sp. Oxypora sp. dan Pachyseris sp.

3.7 Zona Supralitoral

Zona ini adalah bagian pantai yang tidak pernah terendam air laut pada saat pasang tertinggi, tetapi masih terkena percika air laut jika ada ombak atau gelombang besar. Zona ini biasanya terdiri atas batu karang atau pantai berpasir di mana merupakan tempat Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) bertelur.

Jenis tumbuhan yang hidup mendominasi di zona ini merupakan jenis-jenis vegetasi mangrove dan merupakan habitat bagi berbagai jenis burung air.

3.8 Zona Daratan

Zona daratan yaitu bagian daratan pulau setelah zona supralitoral. Artinya zona ini sudah cukup kering dari pengaruh air laut. Zona ini biasanya ditumbuhi oleh spesies kelapa (Cocos nucifera).

 

4. Iklim dan Topografi

Iklim di kawasan ini termasuk ke dalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata sekitar 3.015 mm/tahun. Jumlah hari hujan rata-rata kawasan ini sekitar 67 hari/tahun dan suhu harian berkisar antara 21,6°C – 32,3°C dengan rata-rata 27°C.

Perubahan pasang surut sekitar 1,5 – 2 meter menurut musim. Kelembaban relatif berkisar antara 67% sampai dengan 98% (rata-rata 80%) dengan kecepatan angin 2-4 knot/ jam. Kekuatan arus laut rata-rata adalah 20-40 cm/detik.

Iklim di taman nasional ini dipengaruhi oleh dua pola cuaca utama, yaitu musim barat/ barat daya yang terjadi pada bulan Desember-Februari dengan curah hujan 100-400 cm dan musim timur/tenggara yang terjadi pada bulan Juni-Agustus dengan curah hujan antara 50-100 cm.

Musim peralihan terjadi pada bulan Maret sampai dengan Mei dan bulan September-November. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan November sampai Maret. Antara bulan November-April keadaan laut cukup dinamis dengan ombak besar dan kekuatan arus rata-rata adalah 20-40 cm/detik, sedangkan pada bulan Mei-September keadaan cuaca cerah dan kondisi perairan cenderung lebih tenang dengan air yang sangat jernih.

Bulan Mei-September merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) karena pada saat itu air laut sangat jernih, angin tidak begitu kencang berhembus, ombak tidak terlalu besar, dan sangat cocok untuk melakukan kegiatan wisata air.

Kepulauan Seribu berada pada ketinggian 0 sampai dengan 7 mdpl saja sehingga termasuk dalam perairan laut dangkal dengan pulau-pulau karang, rataan terumbu karang (reef flat), dan lereng terumbu karang (reef slope).

Permukaan dasar laut di kepulauan ini umumnya cukup landai beraturan. Namun pada beberapa gugusan pulau terdapat jurang-jurang laut yang dalam, seperti di perairan Pulau Congkok, Pulau Sempit, Karang Bongko, Pulau Opak Kecil, Pulau Kotak Besar, dan Gugusan Pulau Bira Kecil. Beberapa pulau pun memiliki permukaan yang hampir rata dengan permukaan laut, seperti Pulau Air Kecil, Pulau Payung Kecil, Pulau Ubi Besar, dan Pulau Gosong.

Pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu merupakan tanah karang yang terdiri atas puing-puing dan hasil erosi terumbu karang yag dihempaskan ombak pada dataran terumbu rataan, dan ditandai oleh lahan yang rendah dan pasir yang menyusuri pantai.

Semua terumbu karang merupakan bercak karang yang memiliki kekhasan Paparan Sunda dengan kedalaman antara 15-20 meter di atas substrat pasir dan lumpur.

 

5. Sejarah Kawasan

Secara umum sejarah kawasan di TNLKS adalah sebagai berikut:

Waktu Keterangan
21 Juli 1982 Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 527/Kpts/Um/7/1982 sebagian wilayah di kepulauan Seribu ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam Laut dengan luas 108.000 ha
14 Oktober 1982 Berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Kpts/Mentan/X/1982 wilayah Kepulauan Seribu diumumkan sebagai calon Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
21 Maret 1995 Barulah pada tahun 1995 kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu ditetapkan dengan luas 108.000 ha melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 162/Kpts-II/95

 

6. Keanekaragaman Hayati

Bintang Laut di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Keanekaragaman hayati di taman nasional ini sangat kaya dan perlu untuk dijaga oleh semua orang yang mengunjungi taman nasional ini.

6.1 Keanekaragaman Ekosistem

TNLKS umumnya memiliki ekosistem perairan laut maritim tropis karena terdiri atas pulau-pulau dan gugusan-gugusan dengan terumbu karang serta kedalaman laut yang sangat bervariasi. Kawasan ini juga dapat dibagi menjadi sub-ekosistem, yaitu:

  • Sub-ekosistem daratan pantai, sub-ekosistem ini memiliki ciri-ciri dengan relatif kecil, jenis-jenis flora dan fauna serta unsur-unsur non-hayati membentuk darata yang khas.
  • Sub-ekosistem pantai hutan bakau, areal ini adalah areal yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan khas tumbuhan mangrove.
  • Sub-ekosistem terumbu karang merupakan areal terluas dengan bercirikan berbagai flora dan fauna laut yang khas dan indah.

6.2 Keanekaragaman Flora dan Fauna

Tumbuhan yang banyak dijumpai di taman nasional ini di antaranya adalah:

  • Kelapa (Cocos nucifera)
  • Pandan Laut (Pandanus tectorius)
  • Cemara laut (Casuarina equisetifolia)
  • Mengkudu (Morinda citrifolia)
  • Sukun (Artocarpus atilis)
  • Kecundang (Cerbena adollam)
  • Nyamplung (Calophyllum inophyllum)
  • Bogem (Sonneratia)
  • Rhizopora
  • Avicennia
  • Bruguiera eriopetala
  • Ceriops
  • Waru Laut (Hibiscus tiliaceus)
  • Phempis
  • Suriana
  • Tourneforti
  • Spinifex
  • Ipomoea

Sementara itu flora laut yang umum terdapat di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu adalah

  • Kelas ganggang laut
    • Rhodophyta
    • Chlorophyta
    • Phaephyta
  • Rumput laut
    • Halimeda padina
    • Thalassia
    • Caulerpa
    • Gelidium
    • Sargassum
    • Focus
    • Chondrus

Fauna khas dan yang mendominasi di kawasan ini merupakan jenis-jenis biota dari ekosistem terumbu karang, tercatat ada 257 jenis fauna. Juga terdapat terumbu tepi, gosong karang, dan beberapa jenis moluska yang dilindungi, seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kepala kambing, batu laga, akar bahar, dan kerang susu bundar. Tercatat sekitar 113 jenis ikan dan 78 jenis ikan diketahui berasosiasi dengan padang lamun.

Salah satu satwa endemik yang terdapat di TNLKS antara lain Elang Bondol (Haliastur indus). Elang ini pun menjadi maskot ibu kota Jakarta. Selain Elang Bondol, terdapat 17 jenis burung lain yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu.

Dataran terumbu bagian dalam dari bercak terumbu di permukaan laut pada habitat yang terlindung ditandai oleh pasir, puing-puing, dan karang kecil bercabang atau masif, seperti Acropora sp., Porites andrewsi, dan Porites lutea.

Pada dataran karang bagian luar, karang bercabang dan masif membentuk atol kecil, dan Acropora sp., Porites andewsi, dan Porites lutea merupakan jenis yang khas. Himpunan karang dari dataran karang di sekitar Pulau Pari bagian selatan didominasi oleh Acropora sp. dengan pola zonasi yang jelas.

Keanekaragaman jenis lebih rendah pada dataran karang yang terbuka dibandingkan dengan kawasan yang terlindung. Puncak terumbu ditandai oleh karang yang berbentuk tabung dan kurang masif besar serta kecil, seperti Acropora sp., Porites sp., dan Coeloseris sp.

 

7. Masyarakat Sekitar Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Terdapat sekitar 10.000 jiwa pada tahun 2014 yang bermukim di dalam kawasan taman nasional (3 perkampungan penduduk) dan sekitar 7.000 jiwa di sekitar kawasan pekerja, yakni sebagai nelayan tradisional.

Nelayan di Kepulauan Seribu memanfaatkan buah lamun (Enhalus acoroides) juga sebagai tambahan makanan.

Kegiatan ekonomi penduduk umumnya adalah menangkap ikan (termasuk mengumpulkan binatang terumbu karang), berkebun kelapa, pertambangan karang, dan cangkang kima. Pariwisata di sini pun menjadi suatu industri besar yang dapat dijadikan pendapatan terbesar penduduk di sekitar Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.

Pulau Kelapa dan Pulau Panggang merupakan dua pulau utama dalam kawasan. Pulau-pulau lain yang tidak dihuni ditempati oleh para nelayan pada musim-musim tertentu, disewakan atau dibeli sebagai pulau pribadi, dan dikembangkan untuk pariwisata.

Sebanyak 23 pulau telah dimiliki secara pribadi dan dikembangkan menjadi destinasi wisata alam. Sebanyak 80 pulau di Taman Nasional Kepulauan Seribu telah dibangun untuk kegiatan pariwisata, seperti Pulau Putri, Pulau Melintang dan Pulau Bidadari. Pulau-pulau yang telah dibangun tersebut dilengkapi dengan fasilitas seperti lanai, cottage, gedung pertemuan, bungalow, bar, restoran, toko, dan tempat berkemah.

 

8. Destinasi Wisata Alam di TNLKS

Pulau Bidadari di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu merupakan taman nasional yang paling mudah diakses di Indonesia karena letaknya yang berada di provinsi DKI Jakarta.

Pada tahun 1993 saja jumlah pengunjung taman nasional ini mencapai 112.988 wisatawan yang berasal dari dalam dan luar negeri. Kunjungan pada tahun 1994 pun meningkat menjadi 125.840 wisatawan dengan sebagian besar adalah wisatawan dari mancanegara.

Besarnya wisatawan tersebut sebagian besar bertujuan untuk mengunjungi Pulau Ayer Besar, Pulau Bidadari, Pulau Antuk Barat dan Timur, Pulau Pelangi, Pulau Putri, Pulau Laki, Pulau Sepa Barat, Pulau Kotok Besar Tengah dan Timur, dan Pulau Rambut.

Kegiatan wisata yang umum dilakukan di taman nasional ini, antara lain untuk menyelam, berenang snorkeling, berlayar, hunting foto, dan pengamatan burung. Beberapa lokasi yang menarik untuk dikunjungi diantaranya adalah

  • Pulau Jukung, Pulau Panjang, Pulau Macan, Pulau Genteng, Pulau Semut, Pulau Kelor, dan Pulau Petondan dengan terumbu karang yang masih sangat terawat merupakan destinasi yang bagus untuk melakukan snorkeling ataupun ber-diving
  • Pulau Jukung, Pulau Petondan, dan Pulau Belanda merupakan pulau-pulau yang cocok untuk memancing.
  • Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Kayangan merupakan tempat bersejarah di mana terdapat bangunan berupa benteng sisa zaman pendudukan Belanda.
  • Pulau Damar Kecil merupakan pulau yang terdapat sisa-sisa bangunan istana kepresidenan.

 

9. Mitra Pengelola Taman Nasional Kepulauan Seribu

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dalam menjalankan pengelolaannya bermitra dengan berbagai instansi dan organisasi. Mitra yang pernah menjalin kerja sama dengan TNLKS ini di antaranya adalah Yayasan Indonesia Hijau, Yayasan WWF Indonesia, Yayasan Laut Lestari Indonesia, Japan Bekko Association, BirdLife International-Indonesia Programme, PT. Trans Intra Asia/Euroconsult BV, PT. Geode Pataka Alam, dan Puslitbang Biologi-LIPI.

 

10. Akses

Dermaga di Pulau Bidadari

Taman nasional ini dapat dicapai melalui pelabuhan-pelabuhan dari Teluk Jakarta seperti Tanjung Priok, Marina, Ancol, Marunda, dan Muara Karang dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Dari Ancol ke Pulau Bidadari yang sejauh 9 mil perjalanan laut dapat ditempuh dengan menggunakan perahu motor yang memakan waktu 30 menit. Jadwal transportasi dua kali per hari dan empat kali sehari pada saat weekend.
  • Dari Donggala (Tanjung Priok) ke Pulau Panggang dengan menggunakan sarana transportasi laut. Jadwal transportasi laut ini adalah dua kali dalam seminggu dengan lama perjalanan sekitar 5-7 jam. Dari Tanjung Priok sendiri setiap hari Sabtu diselenggarakan perjalanan laut dengan Jet Foil yang akan memakan waktu selama 55 menit.
  • Terdapat jadwal perjalanan kapal harian dari Marina Ancol menuju obyek wisata atau pulau-pulau tertentu dan menuju kompleks wisata Pulau Seribu di Pulau Putri. Angkutan ke obyek wisata dapat dilayani setiap hari Sabtu dan Minggu dengan lama perjalanan sekitar 3-4 jam dapat juga dengan menggunakan perahu (boat) sewaan yang berangkat setiap saat dari Marina dengan lama perjalanan selama 2-2,5 jam.
  • Pesawat udara dapat mendarat di Pulau Panjang sedangkan pesawat Cessna dan Navaholight Air Craft dapat melayani penerbangan reguler ke lokasi setiap hari Senin-Kamis (1 kali sehari) dan pada saat weekend 2 kali dalam sehari. Lama perjalanan dengan menggunakan jalur udara sekitar 25 menit saja.

 

11. Fasilitas Taman Nasional

Fasiltas yang ada di TNLKS di antaranya adalah

  • Di Pulau Laku, Pulau Putri, Pulau Ayer, Pulau Pelangi, Pulau Kotok, Pulau Matahari, Pulau Sepa, dan Pulau Bidadari terdapat fasilitas penginapan seperti hotel, atraksi, dan akomodasi lainnya.
  • Pusat Informasi Konservasi Kelautan yang berada di Pulau Pramuka.
  • Pulau-pulau lain di zona inti dapat ditempuh dari Pulau Pramuka dengan menggunakan perahu sewaan atau perahu dari pihak taman nasional.
  • Di Pulau Panjang terdapat air strip (landasan udara perintis) untuk mengantar turis yang akan berwisata ke Pulau Pari.
  • Di beberapa pulau telah terdapat tempat yang dapat dicapai oleh pesawat pribadi yang biasa datang dari Jakarta.

Fasilitas lainnya yang ada di taman nasional ini antara lain, Kantor Balai Besar Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, pusat pengunjung, pos jaga, dermaga, cottage, ruang pertemuan, bungalow, tempat berkemah, bar, restoran, helipad, toko, perahu motor, perahu karet, pelampung, dan peralatan selam.

 

12. Foto-Foto Keindahan Alam Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

View Kota Jakarta dari Pulau Bidadari

Pemandangan bangunan di Kota Jakarta dari Pulau Bidadari Taman Nasional Kepulauan Seribu

 

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Salah satu destinasi wisata di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang cocok untuj dijadikan spot untuk berfoto

 

Spot Berfoto di Pulau Pari Kepulauan Seribu

Pulau Pari di Kepulauan Seribu merupakan destinasi wisata alam yang memiliki berjuta spot untuk menghasilkan foto terbaik

 

Pulau Pramuka

Pulau Pramuka merupakan salah satu destinasi wisata alam di taman nasional ini yang sangat cocok untuk dikunjungi bersama sahabat-sahabat tercinta

 

Pulau Pramuka Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka juga sangat tenang dan damai sehingga kita akan menikmati syahdunya penampilan alam

 

Pulau Pari TNLKS

Pulau Pari merupakan tempat berlibur yang tepat bersama keluarga atau orang-orang terkasih

 

Pulau Pari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Hutan mangrove dan kecantikan pantai putih menjadi tempat yang sangat tepat untuk mendapatkan foto terbaik

 

Pulau Pantara

Senja di Pulau Pantara merupakan keindahan alam yang bisa kita temui di Taman Nasional Kepulauan Seribu

 

Pulau Kelor Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Pulau Kelor merupakan salah satu destinasi pulau yang patut kita kunjungi

 

Pulau Harapan

Pulau Harapan memiliki air laut yang jernih dan keindahan lansekap yang luar biasa

 

Penginapan Atas Laut di Pulau Bidadari TNLKS

Dapatkan pengalaman menarik dengan menghabiskan waktu di penginapan atas laut Pulau Bidadari

 

Melakukan Kegiatan Mendayung di Pulau Pari

Melakukan Kegiatan Mendayung di Pulau Pari

 

Bersantai di Pulau Pari TNLKS

Bersantai di Pulau Pari sambil menikmati pemandangan alam yang masih terjaga

 

Banana Boat di Pulau Pramuka

Ber-banana boat adalah salah satu fasilitas berwisata yang bisa kita nikmati di Pulau Pramuka

 

13. Kantor dan Informasi

kantor Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Jalan Cempaka Putih Tengah I No. 2A, Jakarta Pusat 10440
Telp. (021) 4248518; 915-942-8
Fax. (021) 4248518
Email: [email protected]

 

Referensi:

Supriatna J. 2014. Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia.

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
Rating: 4.3 from 114 votes