Taman Buru: Pengertian, Sejarah, dan Peraturan

Senjata Berburu (pixabay)
Senjata Berburu (pixabay)

Berdasarkan sejarah perburuan harimau yang ada di Indonesia, pada tahun 1911 di Bali Baron Oscar memburu harimau. Tahun 1910-1940 Ledeboer, seorang pemburu ulung, memburu 100 ekor harimau jawa. Tahun 1890-1900 harimau sumatera diburu oleh pemburu belanda. Tahun 1920 dan 1941 juga terjadi pemburuan harimau di Garut dan Banten. Terjadi juga perburuan Harimau Sumatera di Padang pada tahun 1900-1907

Bersamaan dengan didirikannya VOC di Jakarta pada tahun 1600, dibuat juga Lapangan Banteng pada tahun 1644. Lapangan Banteng atau Lapangan Paviljoen ini yaitu kawasan khusus untuk areal berburu oleh Gubernur Jenderal Maetsujiker. Tak tanggung, Gubernur menyiapkan 800 pemburu untuk berburu.

Terancamnya kepunahan hewan buruan semakin tinggi akibat tingginya aktivitas perburuan yang ada pada masa colonial. Akhirnya pada tahun 1931 pemerintah belanda mengeluarkan undang-undang perburuan (Jacht Ordonantie) dan mengeluarkan pula undang-undang binatang liar (Dierenbescherning Ordonantie).

Aktivitas perburuan juga harus tunduk pada undang-undang senjata api, mesiu, dan bahan peledak. Pada tahun 1940, Pemerintah Belanda selanjutnya membentuk Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura dan pada tahun 1941 membentuk Ordonansi Perlindungan Alam.

Setelah masuk ke era kemerdekaan, akhirnya keluar Undang-undang Nomer 5 Tahun 1990. Undang-undang ini berisi tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan menggantikan peraturan perburuan pada zaman belanda. Selanjutnya aturan mengenai teknis perburuan diatur di Permenhut (Peraturan Menteri Kehutanan).

3. Peraturan Perburuan di Indonesia

Berburu yang dilakukan di Taman Buru terikat dengan banyak peraturan teknis. Seorang pemburu yang akan berburu sebelumnya harus mempunyai surat ijin berburu. Surat ijin berburu ini baru bisa dikeluarkan apabila sang pemburu sudah mempunyai akta buru terlebih dahulu. Namun, aturan ini memiliki pengecualian bagi perburuan yang dilakukan secara tradisional

Sebelum perburuan dan setelah perburuan dilakukan, pemburu harus malapor kepada petugas kehutanan dan melapor juga kepada kepolisian setempat. Senjata berburu yang digunakan harus sesuai dengan perjanjian yang sudah dilakukan. Aktivitas perburuan juga harus dipandu oleh pemandu buru.

Jenis satwa maupun jumlah binatang buruan sudah diatur dalam Permenhut No: P.19/Menhut-II/2010 tentang Penggolongan dan Tata Cara Penetapan Jumlah Satwa Buru. Di dalam peraturan tersebut dikatakan bahwa hewan buruan harus memiliki kriteria sebagai berikut:

  • Hewan buruan merupakan satwa liar yang tidak dilindungi. Namun dalam kondisi tertentu, satwa dilindungi juga bisa dijadikan sebagai satwa buruan. Kasus penetapan satwa dilindungi untuk bisa atau ditetapkan sebagai satwa buru dilakukan. Tujuannya untuk mengendalikan hama, pembinaan atau pengontrolan populasi, pembinaan terhadap habitat satwa, kegiatan penelitian dan kegiatan pengembangan, digunakan untuk rekayasa genetik, untuk kebutuhan memperoleh bibit penangkaran, dan sebagai pemanfaatan dari hasil penangkaran.
  • Jumlah satwa buruan berbeda-beda untuk setiap tempat. Jumlah hewan yang bisa diburu ditentukan oleh masing-masing tempat berburu. Hal ini dilakukan kerena mempertimbangkan jumlah populasi hewan dan mempertimbangkan laju peningkatan populasi hewan tertentu. Inventarisasi dan juga pemantauan secara berkala terhadap jumlah populasi dilakukan untuk menentukan jumlah maksimal hewan yang dapat diburu,
  • Waktu Perburuan juga perlu diatur untuk kelestarian lingkungan maupun satwa buruan. Penetapan waktu berburu atau musim berburu harus memperhatikan keadaan sebagai berikut: keadaan dari populasi maupun jenis hewan buru, musim kawin dari hewan buru, musim beranak dan juga musim bertelur, perbandingan jantan betina dalam suatu waktu, serta umur satwa yang akan buru. Apabila terjadi ledakan jumlah hewan liar yang tidak dilindungi dan menjadi hama untuk lingkungan sekitar, maka bisa segera dilakukan tindakan perburuan untuk hewan tersebut.
  • Alat Perburuan sangat penting untuk diatur dalam kegiatan perburuan agar tidak memberikan dampak lain yang tidak diinginkan. Alat buru yang diperbolehkan untuk digunakan dalam kegiatan perburuan di taman buru terdiri dari: senjata api buru, senjata angin, dan alat berburu tradisional, serta alat berburu lainnya menyesuaikan dengan jenis hewan yang akan diburu.

4. Taman Buru di Indonesia

Taman Buru
Taman Buru

Sebagai negara yang terkenal dengan bio diversity-nya, Indonesia mempunyai banyak jenis hewan maupun tumbuhan yang endemik dan unik. Hal ini menarik perhatian banyak orang yang mempunyai hobi berburu. Berikut daftar taman buru yang ada di Indonesia yang tersebar di berbagai daerah: