Selamat Datang di TNBBBR, Keluarga Baru Orang Utan!

Diposting pada

2. Empat individu pada 2 Mei 2016

Orangutan yang dilepas bernama Dany, Anas yang merupakan orang utan jantan dewasa serta Mama Semak dan Baby Pai yang merupakan orang utan ibu dan anak. Pelepasliaran dilakukan di kawasan resort Mentatai TNBBBR Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi Kalimantan Barat.

3. Sebelas individu pada 4 Des 2016

Jumlah orang utan yang dilepasliarkan sebanyak 11 individu, 7 diantaranya betina dan 4 jantan. Orang utan tersebut bernama: Kisar, Mini, Sarimin, Beda, Rina, Juki, Susi, Hingga waktu tersebut, jumlah individu rehabilitan di TNBBBR total menjadi 29.

4. Duabelas individu pada Februari 2017

Pelepasan individu orang utan pada waktu ini berjumlah 4 jantan, 8 betina, dan 1 individu repatriasi dari Thailand sehingga jumlah totalnya menjadi 41.

5. Satu individu pada 30 Maret 2017

Mimi, seekor orang utan betina berumur 10 tahun dikembalikan ke rumahnya di SPTN Wilayah I Nanga Pinoh, Resort Mawang Mentatai kawasan TNBBBR. Dengan dilepaskannya Mimi, jumlah individu rehabilitan mencapai 42.

6. Enam individu pada 22-26 Mei 2017

Orang utan yang dilepasliarkan berjumlah 6 individu, 1 individu Orang utan jantan bernama Kato dan 5 individu Orang utan betina bernama Ranesi, Carmen, Susan, Kipoy, dan Zoe. Mereka dilepas di lokasi┬áSungai Bemban, Resort Tumbang Hiran SPTN Wilayah II Kasongan – TNBBBR.

7. Dua individu pada 9 Juni 2017

Amin (jantan, 6 tahun) dan Shila (betina, 7 tahun) menjadi penghuni baru TNBBBR saat itu. Amin adalah orang utan yang diselamatkan dari PT. Karya Utama Tambang (KUT) pada 7 Maret 2013, sedangkan Shila merupakan hasil penyerahan dari Desa Monterado oleh Yayasan Kobus di Sintang kepada YIARI pada 21 November 2014.

8. Dua individu pada Desember 2018

Alba, seekor orang utan albino yang ditengarai satu-satunya di dunia berumur 5 tahun dilepasliarkan di TNBBBR, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Bersama Alba, juga dilepasliarkan orang utan lain bernama Kika.

9. Empat individu pada Januari 2018

Awal tahun 2018 menjadi kabar baik bagi konservasi orang utan karena pelepasliaran 4 individu orangutan di TNBBBR.

10. Tiga individu pada Juli 2018

Sebanyak 13 individu orang utan dilepaskan di TNBBBR pada bulan Juli 2018 menyusul orang utan rehabilitan lain yang lebih dulu dilepaskan.

11. Sepuluh individu pada Agustus 2018

Pada bulan Agustus 2018, orang utan kembali dilepasliarkan sebanyak 10 individu dengan jumlah total menjadi 102.

12. Enam individu pada 5 Desember 2018 (6 individu)

Enam orang utan yang terdiri dari 2 jantan bernama Grendon dan Sepang serta 4 betina yaitu Mary, Ranger, Gaya, dan Ramin dilepaskan di TNBBBR sehingga total individu menjadi 112.

13. Enam individu pada Februari 2019

Maily (induk), Osin (anak), Lady, Obi, Muria, dan Zoya menjadi keluarga baru di TNBBBR pada awal tahun ini. Rencananya, akan ada dua tahap pelepasliaran berikutnya pada tahun 2019.

 

Tahapan Pelepasliaran

Setelah melalui proses rehabilitasi, ada individu yang siap untuk dilepasliarkan dan ada pula yang tidak. Individu yang siap dilepasliarkan harus dipastikan lolos pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi perilaku dan mental serta kondisi kesehatan yang pulih untuk bisa kembali ke habitatnya. Hal ini dapat diamati melalui keterampilan memanjat, mencari makan, membuat sarang, jarang sakit, dan tidak ada indikasi penyimpangan.

Individu yang tidak cukup beruntung untuk kembali ke alam bebas akan menjadi penghuni pusat rehabilitasi. Kondisi tersebut biasanya disebabkan karena terlalu lama dipelihara dan mendapat perlakuan yang salah sehingga secara permanen kehilangan kemampuan bertahan hidup di alam liar. Selain itu, individu dengan struktur tulang yang berubah, usia terlalu tua, atau cacat permanen juga tidak bisa kembali ke habitat aslinya.

 

Pelepasliaran Bukan Tujuan Akhir

Pelepasliaran tidak menjadi tahapan akhir dalam upaya konservasi orang utan. Indikator keberhasilan pelepasliaran orang utan adalah mereka dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan baik di habitatnya serta meningkatnya jumlah populasi dan terjamin keberlangsungan hidup orang utan di alam. Pasca pelepasliaran, hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah monitoring individu selama 1-2 tahun dari bangun hingga tidur lagi di sarang.

Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah radio tracking ke lokasi yang menjadi area jelajah orang utan untuk mengetahui sejauh mana pergerakan orang utan yang sudah dilepasliarkan. Selain itu, juga dilakukan evaluasi periodik untuk memastikan orang utan yang dilepasliarkan akan membentuk populasi orang utan liar yang baru.

 

Tantangan Pelepasliaran

Mengembalikan orangutan ke habitatnya mulai dari waktu penyelamatan di lokasi konflik (rescue), proses rehabilitasi, pencarian lokasi baru, dan pemindahan orang utan ke lokasi baru (reintroduksi) merupakan proses yang penuh dengan tantangan.

Beberapa tantangan yang dihadapi oleh pelaku rehabilitasi orang utan antara lain:

1. Keterbatasan tenaga. Jumlah dan distribusi tenaga seringkali tidak sebanding dengan jumlah individu yang direhabilitasi.
2. Keterbatasan biaya. Rehabilitasi orang utan merupakan langkah yang panjang dan memerlukan biaya tinggi.
3. Rehabilitasi orang utan memakan waktu yang tidak singkat. Proses ini dapat berlangsung selama 7-8 tahun tergantung pada kemampuan masing-masing individu.
4. Upaya konservasi orang utan yang berpacu dengan waktu. Deforestasi serta degradasi hutan dan lahan yang masif menjadi ancaman bagi upaya rehabilitasi orang utan yang memakan waktu cukup lama.
5. Luas area pelepasliaran terbatas. Hal ini memunculkan himbauan kepada pemilik lahan di luar kawasan untuk mengalokasikannya sebagai tempat pelepasliaran.
6. Perlu dukungan dari berbagai pihak. Dukungan terhadap upaya konservasi mutlak diperlukan baik dari pemerintah, Non-Governmental Organization (NGO), donatur, dan masyarakat umum.
7. Perjalanan menuju titik pelepasliaran. Kondisinya berupa beban yang berat, medan yang susah, jarak yang panjang, waktu yang lama. Selama itu pula, orang utan harus dipastikan tidak stres karena berada di kandang.
8. Tidak ada buku panduan rehabilitasi orang utan. Hal ini menjadi tantangan terbesar bagi pelaku rehabilitasi.

 

Kerja Sama dengan Masyarakat

Pihak yang terlibat dalam upaya konservasi orang utan di TNBBBR seperti disebutkan dalam Rencana Aksi Strategis Konservasi Orang Utan 2007 adalah Ditjen PHKA KLHK, Pemda, BPK, LSM, Ornop, PKBSI, Ditkeswan, pusat karantina hewan, pusat reintroduksi, kebun, universitas, HPH, HTI, tambang, Ditjen Tata Ruang KPUPR, BPDAS, BTNBBBR, dan masyarakat itu sendiri.

Penetapan TNBBBR sebagai lokasi pelepasliaran juga merupakan bagian dari manajemen partisipatif dengan masyarakat. Hal ini diperkuat dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara Balai TNBBBR dan masyarakat Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring.

Masyarakat setuju dengan program pelepasan ini dan berkomitmen untuk berperan aktif dalam pemeliharaan habitat orang utan. Adanya MoU diharapkan menjamin keberlangsungan hidup masyarakat setempat dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya yang ada. Masyarakat setempat diberikan akses dalam bentuk zona tradisional yang difungsikan untuk pemanfaatan potensi tertentu secara lestari untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 yang diperbarui dalam Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

Adanya kerja sama ini sekaligus menjadi resolusi konflik tenurial yang sudah terjadi selama lebih dari 10 tahun. Media juga mempunyai peranan besar dalam sosialisasi dan penyampaian informasi kepada publik sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak terkait rehabilitasi orang utan dan habitatnya.