Mengenal Potensi Makroalga Sebagai Biodiesel Pengganti Bahan Bakar Fosil

Diposting pada

Jika kita melihat informasi baik melalui internet maupun televisi sudah banyak sekali digalakan gerakan hemat energi. Hal ini tidak lain karena adanya fakta bahwa sumber energi tidak terbarukan seperti minyak bumi, batu bara, dan lain-lain sudah mulai menipis. Namun sayangnya konsumsi penggunaannya sebagai bahan bakar justru semakin bertambah.

Jika tidak segera ditemukan solusinya, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan sumber daya tersebut akan benar-benar habis dan pada akhirnya manusia sendirilah yang akan dirugikan. Oleh karena itu, banyak sekali penelitian dan kajian-kajian yang dilakukan untuk mencari bahan bakar lain yang bisa menggantikan posisi minyak bumi yang keadaannya semakin krisis.

Untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, maka dibutuhkan alternatif bahan bakar lain yang lebih ramah lingkungan. Pengembangan bahan bakar alternatif saat ini yang banyak dikenalkan adalah yang berasal dari pati-patian seperti jagung, sorgum, atau singkong.

Namun penggunaan bahan ini dirasa kurang efektif di masa depan. Hal ini dikarenakan bahan pangan yang mengandung sumber pati termasuk bahan pangan pokok yang kebutuhannya harus terus tersedia. Sedangkan ketersediaan lahan semakin hari semakin berkurang akibat pembangunan permukiman maupun industri. Jika seperti itu, lalu darimana manusia akan bisa mendapatkan pengganti bahan bakar ramah lingkungan?

Makroalga, Sumber Daya Hayati Potensial yang Tersembunyi

Rumput Laut sebagai Makroalga Biodiesel
Rumput Laut sebagai Makroalga Biodiesel

Faktanya, selain bagian daratan ada bagian lain bumi yang terbukti memiliki kekayaan sumber daya berlimpah yaitu lautan. Bumi terdiri dari 2/3 lautan, apalagi negara Indonesia yang hampir sekeliling negerinya dikelilingi oleh laut. Tentu potensi akan sumber daya yang dimiliki sangat sangat besar.

Sayangnya sumber daya yang sangat melimpah ini belum banyak yang dieksplorasi apalagi hingga diproduksi secara massal. Sejauh ini sumber daya yang sudah dikelola  kebanyakan berasal dari bidang perikanan. Namun nyatanya masih banyak potensi lautan yang terlewatkan. Salah satunya adalah makroalga. Makroalga merupakan salah satu jenis tumbuhan tingkat rendah, jenis makroalga yang sudah banyak dikenal masyarakat adalah rumput laut.

Advertisement nature photography

Potensi alga dapat dimanfaatkan sebagai agen biodiesel. Menurut Kholiq (2015), penggunaan biodiesel memiliki banyak keuntungan antara lain tidak mengandung sulfur dan senyawa benzene yang karsinogenik, sehingga biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani dibanding dengan solar. Biodiesel juga tidak menambah efek rumah kaca dikarenakan karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon.

Keuntungan Makroalga sebagai Biodiesel Pengganti Bahan Bakar Fosil

Keuntungan dari penggunaan alga sebagai bahan bakar adalah produksi lipidnya yang lebih tinggi dibanding dengan tanaman lain. Menurut Kwangdinata, dkk (2013) produksi lipid pada mikroalga sebesar 20,6558% dari berat keringnya. Selain tingkat produksinya yang tinggi, budidaya mikroalga juga tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga secara tidak langsung dapat mengatasi permasalahan konfrontasi lahan.

Menurut Santoso dan Sudaryono (2014), proses budidaya biodiesel dengan makroalga menyebabkan beban lingkungan sebanyak 5% sedangkan dari biodiesel dengan menggunakan kelapa sawit menyebabkan beban lingkungan sebanyak 14%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kelapa sawit membutuhkan lahan yang sangat luas dalam pembudidayaannya. Sedangkan budidaya alga dapat dilakukan lebih efisien di kolam-kolam dan hasil yang didapatpun lebih banyak.

Mengetahui berbagai keuntungan yang bisa diambil dari pemanfaatan makroalga ini menyadarkan kita bahwa masih banyak sekali sumber daya alam yang bisa dikonservasi dan diolah menjadi berbagai produk berguna yang dapat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup umat manusia baik di masa kini maupun masa depan.

Demikianlah sedikit pemaparan mengenai potensi makroalga yang bisa diolah dan diproses sebagai bahan bakar hayati pengganti bahan bakar fosil yang keadaannya sudah semakin krisis. Semoga dapat menjadi informasi yang berharga bagi kita semua.

Gambar Gravatar
Mahasiswi Biologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan anggota HIVE (Human Initiative Volunteer Energy) yang hobi menulis karena dengan menulis dapat menyampaikan informasi ke masyarakat banyak.