Jalak Bali, Satwa Endemik dengan Suara Merdu

Diposting pada

3. Fakta Unik Jalak Bali

Selain menawan, Burung Jalak Bali memiliki berbagai keunikan lainnya. Burung ini merupakan fauna endemik Pulau Bali, sehingga akan jarang ditemukan secara liar di daerah lain.

Cara mencari makan satwa ini yaitu dengan menggali atau membongkar tanah gembur menggunakan paruhnya. Makanan yang di cari adalah larva, serangga, dan juga cacing. Burung ini juga senang mencari makan pada tempat yang terbuka seperti di padang rumput, semak-semak, dan permukaan tanah.

Burung ini senang berkelompok dalam mencari makan karena untuk membuat formasi ketika terbang dan ketika ada hujan akan lebih mudah untuk menerobos secara bersama-sama. Satwa ini hanya makan satu kali dalam sehari.

Kelopak mata yang khas juga menambah daya tarik dari burung ini. Kelopak mata berwarna biru, membuatnya tampak berbeda dengan burung lain.

Si Cantik Jalak Bali (pinterest.com)
Si Cantik Jalak Bali (pinterest.com)

Burung ini terkenal dengan kicauannya yang khas yaitu campuran siul dengan terdapat jeda nada beberapa saat dan pekikkan melengking. Keunikan siulan ini yang terkadang membuat kicauan burung ini menjadi suatu melodi.

Jalak bali merupakan jenis burung komunal yang suka berkelompok dalam hidupnya. Pada saat jalak bali menemukan pasangannya, perilaku komunal tersebut berubah sehingga burung  yang berpasangan akan hidup berdua. Kedua pasangan burung tersebut biasanya membuat sarang di pohon dengan tinggi kurang lebih 175 cm.

Jalak bali mempunyai musim kawin bulan basah (musim penghujan), yaitu bulan November hingga Mei. Burung ini mempunyai telur berwarna hijau kebiruan dengan bentuk oval memanjang. Dibutuhkan waktu selama 17 hari dalam pengeraman telur sampai menetas

4. Status Kelangkaan dan Penyebabnya

Di balik keindahan dan merdunya suara Burung Jalak Bali terdapat ancaman kepunahan. Menurut konvensi perdagangan internasional atau dikenal dengan CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) burung jalak bali masuk dalam Appendix 1. Artinya, satwa ini berada pada kelompok yang tidak dapat diperdagangkan, dilarang mengambil dan memperjualbelikan, serta terancam kepunahan.

Sedangkan dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) satwa ini masuk dalam kategori kelangkaan spesies “kritis” (Critically Endangered). Artinya satwa ini memiliki status konservasi  yang mempunyai risiko besar untuk mengalami kepunahan dalam waktu yang dekat dan terancam punah di alam liar.

Ancaman kepunahan disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor alami dan faktor non-alami. Kepunahan dari burung ini lebih banyak disebabkan karena adanya faktor non-alami. Faktor ini disebabkan oleh perilaku manusia yang menyebabkan satwa yang ada kehidupannya terdesak dan populasi di alam liar menurun.

Manusia sering melakukan perburuan liar terhadap burung ini, karena burung ini termasuk burung indah dan mempunyai suara yang bagus. Perburuan liar ini menyebabkan berubahnya tatanan dan struktur habitat yang sudah seimbang.

Bisa jadi jumlah antara burung jantan dengan betina tidak seimbang sehingga menyebabkan kegagalan reproduksi. Kelangkaan satwa ini akibat manusia disebabkan adanya deforestasi. Sehingga habitat dari burung ini menjadi tidak bagus (sempit) serta berkurangnya ketersediaan makanan yang ada.

Selain itu, pertambahan penduduk juga mempengaruhi kelangkaan dari burung tersebut. Penduduk yang padat lama-lama dapat menggusur habitat alami satwa ini. Menurut data BKSDA Bali Barat, ruang hunian atau biasa dikenal dengan home ring dari satwa inii sekarang tidak lebih dari 1000 hektar.

Selain faktor non-alami atau faktor manusia terdapat juga faktor alam yang mempengaruhi kelangkaan burung jalak bali di habitatnya. Faktor ini seperti adanya predator alami dari burung jalak bali, penyakit, satwa pesaing untuk memperebutkan tempat hidup atau makanan, bencana alam, dan mati setelah usianya tua.

Predator dari satwa ini yaitu ular dan jenis burung elang. Contoh dari adanya faktor alam yaitu adanya musim kemarau yang menyebabkan keadaan lingkungan di Taman Nasional Bali Barat tidak nyaman dan mengurangi kualitas habitat untuk burung ini. Kemarau membuat persediaan air berkurang bahkan hingga kekeringan.

Oleh karena itu, pemerintah Republik Indonesia memberikan perhatian yang sangat serius kepada Jalak Bali dengan menetapkan burung ini sebagai satwa liar yang dilindungi dalam undang-undang. Pemerintah memberikan perlindungan hukum dengan menetapkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 421/Kpts/Um/8/1970 tanggal 26 Agustus 1970.

Perlindungan hukum lain yang ditetapkan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Jalak Bali. Di dalamnya terdapat larangan memperdagangkan satwa tersebut kecuali hasil dari penangkaran generasi ketiga (indukan bukan dari alam).

Strategi konservasi lain yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk perlindungan satwa enemik yang satu ini yaitu dengan cara ex-situ dan in-situ. Pelestarian dengan cara ex-situ yaitu dengan penangkaran burung ini di luar habitat aslinya seperti pada kebun binatang dan penangkarang yang terdapat di Buleleng, Bali.

Pelestarian dengan cara in-situ yaitu dengan cara konservasi pada habitat aslinya. Konservasi in-situ ini dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas habitat asli burung Jalak Bali yang berada di Taman Nasional Bali Barat.

Upaya perbaikan habitat dapat dilakukan dengan cara mengurangi deforestasi dengan reboisasi dan reforestasi, melarang perburuan liar di habitat asli, dan mengurangi akses masyarakat ke habitat asli Burung Jalak Bali.