Taman Nasional Bali Barat: Letak, Luas, Sejarah, Biodiversitas, dan Wisata Alam

Taman Nasional Bali Barat merupakan satu-satunya taman nasional yang berada di Provinsi Bali. Bali sendiri merupakan pulau dewata yang menjadi destinasi wisata Internasional sehingga TN Bali Barat memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan.

Selain itu, TN Bali Barat menjadi sangat penting guna menjaga atau mengonservasi satwa yang saat ini sangat dilindungi, Jalak Bali (Leocopsar rothschildi) yang saat ini jumlahnya tidak lebih dari 20 ekor saja di alam liar (Supriatna 2014).

Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat dalam hal wisata alam dinilai cukup baik. Indikatornya adalah TN Bali Barat ini menyediakan IPPA (Izin Pemanfaatan Pariwisata Alam) kepada perusahaan yang dapat mengembangkan sektor pariwisata.

Salah satu perusahaan yang memiliki IPPA untuk kawasan di TN Bali Barat adalah Sustainable Group. Perusahaan ini bukan hanya memberdayakan masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan mengadakan penelitian, melainkan perusahaan ini juga turut mengambil andil dalam pelestarian kawasan TN Bali Barat.

Stakeholder lainnya yang turut serta dalam pengelolaan di TN Bali Barat ini adalah Universitas Indonesia, SMG, Columbia University, dan USAID.

Penyu Hijau Bali Barat

1. Letak Geografis

Taman Nasional Bali Barat secara geografis terletak pada koordinat antara 8 derajat 5 menit – 8 derajat 13 menit Lintang Selatan dan 114 derajat 26 menit – 114 derajat 35 menit Bujur Timur.

Kawasan ini berada di wilayah administrasi kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng dan kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Secara persis letak TN Bali Barat adalah sejauh 60 km ke arah barat laut dari Ibu Kota Bali, Denpasar.

2. Luas Kawasan

Luas kawasan Taman Nasional ini adalah 19.002,89 hektare yang terbagi pada kabupaten Jembrana dan Buleleng.

Dua desa dan perkebunan kelapa seluas 618 hektare terdapat di dalam kawasan, yaitu di sepanjang jalan dari Gilimanuk hingga Singaraja.

Terdapat daerah pertanian di bagian selatan yang memanjang ke bagian tengah hingga ke bagian utara kawasan. Daerah bagian utara dan barat hingga sejauh 1 km dari pantai merupakan kawasan karang dan perairan termasuk pulau Menjangan.

3. Iklim dan Topografi

3.1 Iklim

Iklim di Taman Nasional Bali Barat termasuk ke dalam iklim tipe D, dengan nilai Q sekitar 85,29% dan curah hujan berkisar antara 972-1.559 mm/tahun (rata-rata 1.480,6 mm/tahun).

Musim hujan terjadi pada bulan Januari sampai Maret dan musim kemarau terjadi antara bulan April sampai September.

Kelembaban udara rata-rata sekitar 85% dan suhu rata-rata pada bulan November sampai dengan April berkisar antara 28-29 derajat celcius.

3.2 Topografi

Keadaan topografi pada kawasan taman nasional ini cenderung berbukit-bukit sampai bergunung, dan hanya sebagian kecil datar sampai bergelombang.

Kawasan ini terletak pada ketinggian antara 210-1.144 m dpl. Terdapat berbagai gunung yang ada di kawasan di antaranya adalah

  • Gunung Prapat Agung 310 m dpl di bagian utara, sedangkan sisanya berada di bagian selatan, seperti
  • Gunung Panginuman 816 m dpl
  • Gunung Bakungan 803 m dpl
  • Gunung Ulu Teluk Terima 603 m dpl
  • Gunung Nyangkrut 347 m dpl, dan
  • Gunung Malaye 332 m dpl.

Jenis tanah di kawasan ini sebagian besar adalah tanah berjenis latosol, dan selebihnya merupakan tanah aluvial dengan bentuk wilayah datar serta tanah mediterian yang berbentuk wilayah lipatan pegunungan.

Terdapat empat buah pulau di dalam kawasan, yaitu Pulau Menjangan, Pulau Gadung, Pulau Burung, dan Pulau Kalong.

4. Sejarah Kawasan Taman Nasional Bali Barat

13 Agustus 1947, berdasarkan Keputusan Dewan Raja-Raja di Bali No. E/1/4/5/47 ditetapkan Taman Pelindung Alam Bali yang meliputi kompleks Banyuwedang seluas 19.365,8 hektare.

Tahun 1970, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 40/Kpts/Um/8/1970 Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dinyatakan sebagai satwa langka yang dilindungi.

14 Oktober 1982, Taman Nasional Bali Barat dideklarasikan saat berlangsung kongres Taman Nasional se-Dunia di Denpasar, Bali dan juga berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982 dengan luas 77.727 hektare yang terdiri atas Suaka Margasatwa Bali Barat (19.558,5 hektare), Cagar Alam (2.250 hektare), Hutan Lindung (55.312,5 hektare) dan perairan pantai (6.280 hektare).

15 September 1995 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/95 untuk mengukuhkan penetapan status kawasan TN Bali Barat dengan luas 19.002,89 hektare. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai World Heritage Site (situs warisan dunia).

5. Biodiversitas dan Ekosistem Taman Nasional Bali Barat

5.1 Keanekaragaman Flora dan Ekosistem

Vegetasi yang ada di TN Bali Barat dipengaruhi oleh iklim monsoonal terutama yang berada di daerah dataran rendah.

Ekosistem di daerah ini merupakan ekosistem peralihan antara daerah beriklim basah dengan ekosistem beriklim kering. Ekosistem-ekosistem tersebut antara lain

  • Hutan hujan tropis dataran rendah dengan berbagai jenis, seperti Duren-Duren (Aglaia argentea), Kesambi (Schleichera oleosa), Anjring (Drypetes), Bayur (Pterospermum diversifolium), Ketangi (Lagerstroemia speciosa), Laban (Vitex pubescens), dan Klampok (Eugenia javanica).
  • Savana di daerah Cekik didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica) diselingi tegakan Lontar (Borassus flabelliffer), Gebang (Corypha), dan Sawo Kecik (Manilkara kauki). Di savana Semenanjung Prapat Agung didominasi oleh pohon Gebang (Corypha sp.) dan Lontar (Borassus sp.), jenis lainnya adalah Bidara (Zizyphus jujuba), Kesambi (Schleichera oleosa), Pilang (Acacia leucophloea), Acacia lebbekioides, sejenis rumput Desmostachys bipinnata dan mimba/intaran (Azadirachta indica).
  • Hutan mangrove tersebar di Teluk Gilimanuk, pantai Batugondang, pantai Teluk Terima, dan Banyu wedang. Jenisnya didominasi oleh Tancang (Bruguiera cylindrica atau Bruguieragymnorrhiza), Ceriops tagal, Excoecarria agallocha, Lumnitzera , berbagai jenis Bakau (Rhizopora stylosa dan Rhizopora apiculata), Sonneratia alba, Nipah (Nypa fruticans), dan api-api (Avicennia marina), serta terdapat jenis yang umum di Indonesia bagian timur dan Australia timur laut, yaitu Osbornia octodonta.
  • Hutan musim terdapat di bagian barat kawasan, didominasi oleh Jenis Talok (Grewia koordersiana), Asam (Tamarindus indica), Pilang (Acacia leucophloea), Berasan (Cryptocarya), Timoko (Kleinhovia hospital), dan Bidara (Zizyphus jujuba). Terdapat juga alang-alang, Gelagah (Saccharum spontanum), Teki (Cyperus rotundus), Tumpang (Spergula arvensis), Merakan (Andropogon contortus), Kasat, Rengas, Kesut, dan Sari.
  • Hutan rawa terdapat di Tegal Bunder yang merupakan daerah peralihan dari vegetasi mangrove dan vegetasi rawa. Terdapat jenis Excoecaria agallocha yang merupakan tumbuhan yang menghasilkan makanan kesukaan Jalak Bali.
  • Hutan dengan tanaman eksotis dari daerah luar, seperti Jati (Tectona grandis), Kayu Putih (Melaleuca leucodendron), Cendana (Santalum album), Sono Keling (Dalbergia latifolia), Sono Siso (Dalbergia sisoo), Akasia (Acacia auriculiformis), Eboni (Diospyros celebica), Sawo Kecik (Manilkara kauki), Kemlandingan (Leucaena leucocephala), Burahol (Stelechocarpus burahol), dan Murbei (Morus).
  • Terdapat juga eksosistem hutan basah alam yang menutup pegunungan dan cenderung ekosistem ini belum terganggu. Pada lereng selatan terdapat pohon Putat (Planchonia valida), Nyatoh (Palaquium javense), Takir (Duabanga inoluccana), Bayur (Pterospermum javanicum dan Pterospermum diversifolium), dan sejenis Kitiwu (Meliosma ferruginosa).

5.2 Keanekaragaman Fauna

Jalak Bali

Taman Nasional Bali Barat identik dengan taman nasional yang bertanggung jawab untuk melestarikan spesies terancam punah, Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).

Burung Jalak Bali merupakan primadona taman nasional ini, dan termasuk burung pesolek yang senantiasa menyenangi habitat yang bersih, serta jelajah terbangnya tidak pernah jauh.

Burung tersebut memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra ketat karena populasinya rendah dan mudah ditangkap. Berdasarkan daftar hewan terancam di dunia IUCN, Jalak Bali termasuk ke dalam kategori Critically Endangered yang berarti populasi Jalak Bali di alam sangat kritis, dan sangat terancam untuk punah.

Selain Jalak Bali, terdapat pula Jalak Putih (Turnus melanopterus), Jalak Suren (Sturnus contra), Ibis Putih Kepala Hitam (Threskiornis melanochepalus), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Wili-Wili Besar (Esacus magnirostris), dan Bangau Tongtong (Leptotilos javanicus).

Jenis satwa lain di antaranya, Bateng (Bos javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Luwak (Pardofelis marmorata), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hystrix brachyura brachyura), dan Kancil (Tragulus javanicus javanicus).

Satwa lain yang dijumpai di sekitar perairan adalah Ikan Duyung (Dugong dugon), Ikan Hiu (Carcharodon carcharias), Ikan Bendera (Plateax pinnatus), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Kima Raksasa (Tridacna gigas), dab Biawak (Varanus salvator).

6. Kawasan Wisata yang Telah dan Akan Dikembangkan

Sunrise di Bali

Taman Nasional Bali Barat memiliki banyak tempat alami yang bisa dijadikan sebagai kegiatan berwisata alam. Lokasi-lokasi wisata tersebut di antaranya adalah:

6.1 Pura Pulaki

Bagian timur dari kawasan (6 km dari Cekik) terdapat Pura Pulaki yang cukup besar, didirikan di pinggir tebing bukit batu karang yang menghadap ke laut dengan pasir putih kuarsa. Dibangun pada abad ke-16 sehubungan dengan riwayat perjalanan Sang Hyang Nirartha yang putra sulungnya diistanakan di Pulaki dengan sebutan “Bhatiri Malanting”. Pura ini terletak di tepi jalan raya antara kota Singaraja dan Gilimanuk. Lokasi ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Di sekitar daerah ini pula banyak ditemukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).

6.2 Sumber Air Panas

Di daerah Banyuwedang tepatnya pada hutan mangrove, terdapat sumber air panas yag banyak dikunjungi penduduk untuk menyembuhkan penyakit kulit.

6.3 Terumbu Karang yang Eksotis

Terumbu Karang Bali Barat

Di perairan pantai dari kawasan terutama di sekitar Teluk Terima terdapat terumbu karang dengan panorama yang menarik, tempat ini biasa digunakan untuk rekreasi menyelam. Di sekitar pantai ini berkeliaran monyet ekor panjang yang sudah jinak.

Pada daerah yang bersebrangan dengan Pulau Menjangan, di sana merupakan tempat penyu untuk bersarang.

6.4 Candi Taman Sari dan Berbagai Pura

Di Teluk Terima terdapat Candi Taman Sari serta makam Jayaprana dan Layur Sari yang berada di atas bukit (1 km) dari ujung jalan raya antara Gilimanuk-Singaraja yang sering dikunjungi penduduk beragama Hindu untuk berziarah, terutama pada hari besar.

Sebelah barat daya kawasan juga terdapat tempat peribadatan/ pura kecil dengan beberapa janur dan sesaji khas Bali yang masih digunakan.

Di Cekik terdapat pura Bakungan yang keramat.

6.5 Pelestarian Jalak Bali

Di Tegal Bunder terdapat Proyek Penangkaran Jalak Bali yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

6.6 Wisata Lansekap dan Pulau

Daerah Klatakan pada ketinggian 400 m dpl, memiliki pemandangan yang indah. Pemandangan alam ini dilengkapi pula dengan berkeliarannya rusa dan burung Rangkong.

Pulau Bahari merupakan obyek wisata Bahari. Lokasi ini dapat dicapai dengan menggunakan “Glass Bottom Boat” yang sekalian bisa digunakan untuk mengelilingi pulau.

Menyusuri jalan setapk sejauh 25 km di pantai Prapat Agung menjadi salah satu kegiatan yang cukup menarik.

6.7 Pulau Menjangan

Kura-Kura

Pulau Menjangan memiliki luas sekitar 175 hektare yang terletak di sebelah Utara kawasan TN Bali Barat. Pulau ini merupakan pulau yang terdiri atas karang, bebatuan, dan tanah hitam vulkanik.

Di pulau ini wisatawan dapat melakukan aktivitas berenang, menyelam, dan berperahu. Terdapat Pulau Tabuan di sebelah Utara Pulau Menjangan dan dermag di Teluk Menjangan.

7. Pengelolaan dan Sumber Daya Manusia

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 096/Kpts-II/1984 tanggal 12 Mei 1984 ditetapkan struktur organisasi Taman Nasional Bali Barat. Kawasan ini dikelola oleh Balai Taman Nasional Bali Barat (Unit Pelaksana Teknis Eselonn III) dengan jumlah pegawal yang cukup memadai, yaitu lebih dari 100 orang.

8. Partner Organisasi

Balai Besar Taman Nasional Bali Barat telah melakukan berbagai kerja sama dengan berbagai lembaga, di antaranya yaitu:

  1. BirdLife International
  2. American Zoo and Aquarium Association (AZA)
  3. Kebun Binatang Surabaya
  4. Jersey Wildlife Preservation Trust (JWPT)
  5. Universitad Udayana
  6. Trimbawan Swastama Sejati (SMG)
  7. Shorea Barito Wisata
  8. Universitas Indonesia
  9. Institut Pertanian Bogor
  10. Dan Pemerintah Daerah Provinsi Bali, maupun pemerintah daerah tingkat kabupaten/ kota

9. Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis Ketika Memasuki Kawasan Taman Nasional

Beberapa aturan berikut merupakan aturan yang harus ditaati apabila ingin berkunjung ke TN Bali Barat.

  1. Setiap pengunjung yang memasuki kawasan Taman Nasional Bali Barat harus membayar tiket masuk dan asuransi kecelakaan.
  2. Pengunjung domestic yang ingin melakukan penelitian atau kegiatan lain yang sejenis perlu mendapat izin dengan cara mengajukan permohonan tertulis kepada Pimpinan atau Pengelola Taman Nasional Bali Barat dan melampirkan proposal penelitian.
  3. Pengunjung asing yang ingin melakukan kegiatan survei, penelitian, atau kegiatan lain yang sejenis harus memiliki izin penelitian dengan cara mengajukan permohonan tertulis kepada Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
  4. Disarankan untuk mengunjungi Wisma Cinta Alam dan/ atau Pusat Informasi Taman Nasional guna mendapatkan gambaran mengenai Taman Nasional Bali Barat, baik berupa potensi maupun keadaan umum kawasan dalam bentu gambar, tulisan, peta, foto, peraturan, dan fasilitas yang ada.
  5. Pengunjung yang membutuhkan tour guide dapat menghubungi Balai Taman Nasional Bali Barat.
  6. Para pengunjung kawasan karang dan perairan di kawasan TN Bali Barat memiliki kewajiban untuk:
    1. Mengikuti tata tertib yang disediakan oleh pihak taman nasional untuk menjamin terciptanya perlindungan maksimum bagi terumbu-terumbu karang di kawasan Taman Laut Nasional, dan menjamin keselamatan serta keamanan para pengunjung
    2. Mengikuti saran maupun perintah awak perahu dan pemandu atau petugas yang ada di perahu
  7. Para pengunjung kawasan karang dan perairan tidak diiizinkan untuk:
    1. Menangkap, memerangkap, menjaring, memindahkan, mengeluarkan dari air, atau memegangnya dengan kasar, atau merusak, atau membunuh apa saja yang hidup di laut.
    2. Merusak, mengubah, memindahkan, atau mengeluarkan dari air obyek atau bentuk alami apa saja.
    3. Duduk, berdiri, atau istirahat di karang-karang hidup pada terumbu karang, kecuali dalam keadaan yang mengancam kehidupan pengunjung.
    4. Membuang atau memasukan sampah atau benda apa saja ke dalam laut yang termasuk wilayah kawasan laut yang dilindungi.
    5. Berlabuh atau mendarat di pantai di mana saja selain di tempat-tempat yang telah disediakan untuk berlabuh dan mendarat.
  8. Pengunjung atau wisatawan yang ingin melakukan snorkeling atau menyelam dapat menyewa peralatan yang disewakan oleh pihak pengelola di Labuan Lalang.
  9. Pengunjung dapat menggunakan fasilitas berupa Pondok Wisata di Labuan Lalang, Menara Pengamatan di Banyuwedang dan Sumberrejo, Perahu Motor, Shelter, dan MCK di Teluk Terima dan Labuan Lalang, dan bagi pengunjung yang ingin menginap disarankan di Labuan Lalang.

10. Akses Menuju Kawasan Taman Nasional Bali Barat

Pelabuhan di Bali

Taman Nasional Bali Barat dapat dicapai melalui akses-akases berikut:

  1. Jalur Utara, melalui jalan raya Gilimanuk – Singaraja sepanjang pantai Utara Pulau Batik
  2. Jalur Selatan, melalui jalan raya Gilimanuk – Denpasar
  3. Melalui Jalan Raya Gilimanuk-Cekik-Negara (43,3 km) atau jalan raya Cekik-Seririt-Singaraja (85 km)
  4. Jalan dari Surabaya – Banyuwangi – Ketapang, Pulau Jawa menyebrangi Selat Bali ke Gilimanuk, Pulau Bali menggunakan kapal penyebrangan feri, ditempuh selama 30 menit. Kapal ini beroperasi setiap jam selama 24 jam. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus ke Cekik (pintu gerbang kawasan dengan jarak 200 km).
  5. Jalur udara, menuju pelabuhan udara Ngurah Rai di Denpasar dilanjutkan melalui jalur Selatan menuju Cekik dengan menggunakan bus, ditempuh selama 3 jam. Penerbangan menuju Pulau Bali selalu ada setiap hari baik dari Jakarta atau Surabaya (Indonesia), Singapura, mauoun Perth dan Sidney di Australia, penerbangan dari Los Angeles dan Honolulu menuju Bali hanya ada tiga kali dalam seminggu.
  6. Dari Kuta menuju Terminal Ubung menggunakan taksi, dilanjutkan menuju Gilimanuk sekitar 3 jam, kemudian menuju Kantor Taman Nasional.
  7. Dari Gilimanuk menuju Labuan Lalang, kemudian menyewa perahu motor menuju Pulau Menjangan selama 30-40 menit.

11. Fasilitas dan Transportasi

Fasilitas yang ada di Balai Taman Nasional Bali Barat, antara lain

  • Kantor (3 buah),
  • Rumah Dinas (11 unit),
  • Pondok Kerja (17 buah),
  • Pondok/ Pos Jaga (18 buah),
  • Guesthouse (2 buah),
  • Gudang (3 buah),
  • Asrama/ Mess (2 buah),
  • Stasiun lapangan (2 buah),
  • Garasi (3 buah),
  • Kendaraan Roda Empat (7 unit),
  • Kendaraan Roda Dua (10 unit),
  • Speedboat (3 buah),
  • Perahu motor (7 buah),
  • Telefon (1 buah),
  • RIG (5 buah),
  • HT (29 buah), dan
  • Sound System (1 set).

Fasilitas lainnya yang ada di kawasan ini adalah Pusat Informasi, Pondok Wisata, Rumah Makan, Menara Pengamatan, Perahu Motor, Shelter, MCK, Jalan Setapak, Peralatan Selam, Radio Komunikasi, Restoran, Wisma Cinta Alam, Tempat Berkemah, dan Penangkaran Jalak Bali.

Fasilitas penunjang lain yang ada di TN Bali Barat adalah dua paket wisata, trekking dan menyelam. Trekking dilakukan dengan menyusuri jalan setapak dengan berkeliling selama 3-4 jam. Sepanjang perjalanan pengunjung dapat melihat Jalak Bali, Lutung, Kijang, Monyet Ekor Panjang, dan Ayam Hutan. Menyelam dilakukan di Teluk Menjangan dan pengunjung dapat melihat terumbu karang yang masih alami.

Di daerah Gilimanuk dapat dijumpai beberapa penginapan, di antaranya Pondok Asih, Pondok Gili Sari, Pondok Kartika Candra, dan Pondok Nusantara II. Selain itu, terdapat pula biro pariwisata alam, seperti PT. Trimbawan Swastama Sejati dan PT. Shorea Barito Wisata.

12. Kantor Balai Besar Taman Nasional Bali Barat

Cekik – Kantor Pos Gilimanuk 82253, Kabupaten Jembrana, Bali Barat
Telfon: (0365) 61060, 61173,
Fax.: (0365) 61060,
HP: 0812-384-7237
Email: forestry@indo.net.id
No. Frekuensi SSB: 10000

 

Referensi:

Supriatna J. 2014. Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia (YOI)

Taman Nasional Bali Barat: Letak, Luas, Sejarah, Biodiversitas, dan Wisata Alam
Rating: 4.8 from 62 votes

Recommended For You

About the Author: Tomi Ardiansyah

Founder of Forester Act!

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *