Hutan Konservasi: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Peraturan

Diposting pada
Cagar AlamSuaka Margasatwa
Mengkonservasi lingkungan dan biota di dalamnyaMengkonservasi satwa liar
Berukuran kecilBerukuran sedang
Habitat rapuhHabitat relatif utuh
Butuh pelestarian tinggiButuh pelestarian sedang – tinggi
Tidak dapat sembarang orang melakukan kegiatan didalamnya karena perlindungannya ketatDapat dilakukan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, wisata edukasi dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya
Contoh: Cagar Alam Gunung Krakatau, LampungContoh: Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta

3.2 Kawasan Hutan Pelestarian Alam (KPA)

Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990, kawasan pelestarian alam didefinisikan sebagai kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan Pelestarian Alam terdiri atas Taman Nasional, Taman Wisata Alam, dan Taman Hutan Raya.

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango

Taman Nasional (TN) merupakan Wilayah luas dengan keindahan alam dan pemandangan yang dikelola untuk melindungi satu atau lebih ekosistem serta untuk tujuan ilmiah, pendidikan, dan rekreasi. Di dalam wilayah ini tidak diperbolehkan untuk melakukan eksploitasi sumberdaya secara komersial.

Ciri-ciri taman nasional sendiri adalah ukurannya yang luas, habitat relatif utuh, membutuhkan pelestarian tinggi, berpotensi untuk rekreasi, dan pengunjung memberikan manfaat bagi wilayah tersebut, contohnya adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Sukabumi, Jawa Barat.

Taman Wisata Alam (TWA) merupakan kawasan hutan konservasi yang memiliki manfaat sebagai tempat rekreasi dan pariwisata. Ciri-ciri Taman Wisata Alam adalah ukurannya kecil, mempunyai daya tarik, membutuhkan pelestarian yang rendah, dan pengelolaan berorientasi untuk rekreas, contohnya adalah Taman Wisata Alam Mangrove, Angke Kapuk, Provinsi DKI Jakarta.

Taman Hutan Raya (Tahura) merupakan kawasan hutan konservasi yang ekosistemnya dilindungi, termasuk flora dan fauna di dalamnya, serta mempunyai keindahan alam atau mempunyai gejala alam. Tahura bertujuan sebagai koleksi flora atau fauna yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum sebagai penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan. Contoh Taman Hutan Raya adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda di Bandung, Jawa Barat.

3.3 Taman Buru

Taman Buru merupakan kawasan hutan konservasi yang memiliki fungsi utama sebagai akomodasi untuk wisata berburu. Hobi berburu yang sudah ada sejak zaman dahulu menjadi latar belakang berdirinya Taman Buru. Kegiatan perburuan di taman buru diatur ketat, terkait dengan waktu atau musim berburu, jenis binatang yang boleh diburu, dan senjata yang boleh dipakai. Salah satu peraturan yang terdapat pada taman buru adalah larangan kegiatan berburu pada saat musim berkembangbiak. Contoh taman buru yang ada di Indonesia adalah Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi yang berada di kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

4. Peraturan-Peraturan tentang Hutan Konservasi

Hutan konservasi memiliki peranan penting untuk pengawetan sumberdaya hayati serta keanekaragamannya. Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, yaitu Undang-undang No. 5 tahun 1990. Terdapat beberapa peraturan yang telah diterbitkan oleh pemerintah mengenai pengelolaan hutan konservasi, yaitu sebagai berikut:

  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.44/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 Tahun 2017 tentang Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.40/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 Tahun 2017 tentang Fasilitasi Pemerintah pada Usaha Hutan Tanaman Industri dalam Rangka Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.35/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2016 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pengelolaan pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.
  • Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Peraturan-peraturan di atas adalah sebagian kecil dari total peraturan mengenai hutan konservasi yang berjumlah 29 peraturan. Peraturan tersebut sebagian besar dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Terdapat juga peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, yaitu Peraturan Nomor 6 Tahun 2004 tentang Kawasan Lindung.

Semakin banyaknya peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah dari tahun 1997 sampai sekarang mengenai kawasan hutan konservasi diharapkan dapat mengendalikan tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap sumberdaya hayati yang ada di Indonesia.

Peraturan-peratuan lainnya yang berkaitan tentang Kehutanan dapat dilihat pada artikel “Peraturan Perundangan yang Berkaitan dengan Kehutanan

5. Data-Data mengenai Hutan Konservasi di Indonesia

Keanekaragaman spesies flora dan fauna yang ada di Indonesia menjadi kelebihan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan negara lain. Keadaan Indonesia yang berada di iklim tropis dan dilalui garis khatulistiwa menyebabkan banyaknya spesies endemik asli Indonesia. Bentuk geografi Indonesia juga mempengaruhi spesies flora dan faunanya, contohnya saja Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang berhabitat di Sumatera pasti akan berbeda morfologi dan perilakunya dengan Harimau Bali (Panthera tigris balica) yang berhabitat di Pulau Bali.

Berdasarkan data kehutanan yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan (2010), luasan kawasan hutan dan perairan di Indonesia tahun 2010 seluas 136,73 juta hektar dengan detail sebagai berikut.

Kawasan Hutan Tetap (ha)

  • Hutan Lindung: 31.595.082,02 ha
  • Hutan Produksi: 59.080.189,69 ha
  • Hutan Konservasi: 23.355.839,57 ha
  • Total Kawasan Hutan Tetap: 114.031.111,28 ha

Provinsi yang memiliki kawasan hutan konservasi tertinggi adalah Provinsi Papua yaitu seluas 9.704.300 ha. Terdapat juga beberapa provinsi yang tidak memiliki data mengenai hutan konservasi, seperti di Kepulauan Riau, Maluku Utara, dan Papua Barat. Jika dibandingkan dengan data tahun 2002, hutan konservasi di Indonesia meningkat sebesar 2.854.856,57 ha.