Hutan Konservasi: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Peraturan

Diposting pada

Berlimpahnya ekosistem hutan di Indonesia menyebabkan banyaknya spesies flora dan fauna endemik. Namun, semakin lama semakin banyak hutan yang rusak akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab sehingga diperlukan tindakan konservasi di alam. Oleh karena itu, hutan konservasi didirikan sebagai solusi untuk masalah tersebut.

Keanekaragaman hayati yang ada di alam Indonesia menyimpan keindahan dan keunikan tersendiri, contohnya keindahan burung Cendrawasih yang dijuluki “burung surga” dari Papua. Indonesia sendiri menempati peringkat lima besar di dunia dengan keanekaragaman tumbuhannya, di samping itu Indonesia juga memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi.

Banyaknya spesies endemik flora dan fauna di Indonesia mengharuskan setiap warga negara Indonesia berupaya untuk menjaga dan melindunginya.

Hutan Konservasi

Daftar Isi:
1. Pengertian dan Fungsi Hutan Konservasi
2. Perbedaan Hutan Konservasi dengan Hutan Lindung
3. Jenis-Jenis Kawasan Konservasi
4. Peraturan-Peraturan tentang Hutan Konservasi
5. Data-Data mengenai Hutan Konservasi di Indonesia
6. Masalah Pengelolaan Hutan Konservasi di Indonesia

1. Pengertian dan Fungsi Hutan Konservasi

Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan konservasi didefinisikan sebagai kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.

Advertisement nature photography

Ada tiga tujuan utama dalam kegiatan konservasi yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Hutan konservasi sebagai perlindungan artinya berupaya melindungi peranan keanekaragaman hayati sebagai sistem penyangga kehidupan. Hutan konservasi sebagai pelestarian artinya melestarikan keanekaragaman hayati yang ada dan mencegahnya dari kepunahan, sedangkan hutan konservasi sebagai pemanfaatan artinya memanfaatkan dengan bijaksana dan bertanggungjawab keanekaragaman hayati yang telah ada.

Payung hukum yang mengatur segala kegiatan pada Hutan Konservasi di Indonesia adalah Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan ini disahkan pada tanggal 10 Agustus 1990 oleh Presiden RI Kedua kala itu yaitu Soeharto. Di dalamnya terdapat 14 Bab dan 45 Pasal yang mengatur tentang perlindungan, pemanfaatan, pelestarian, peran serta masyarakat, kawasan-kawasan konservasi, dan ketentuan pidana.

2. Perbedaan Hutan Konservasi dengan Hutan Lindung

Hutan Lindung

Jika dilihat dari definisi, hutan konservasi dan hutan lindung sulit untuk dibedakan. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang belum paham mengenai perbedaan hutan lindung dan hutan konservasi. Meskipun konsep dari konservasi itu sendiri terdapat istilah perlindungan, bukan berarti hutan konservasi sama dengan hutan lindung.

Hutan lindung merupakan kawasan yang memiliki fungsi untuk melindungi ekosistem dan menjaga kualitas lingkungan, seperti memelihara kesuburan tanah, mencegah erosi, menyimpan cadangan air, serta sebagai habitat bagi flora dan fauna.

Ada beberapa hutan lindung juga yang memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran, seperti Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur. Jadi secara garis besar, hutan lindung bertujuan untuk melindungi ekosistem sedangkan hutan konservasi bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati.

Pemerintah mengelola hutan lindung agar hutan tersebut terhindar dari kerusakan akibat ulah manusia. Hutan lindung akan selalu dijaga dan dipelihara oleh pemerintah, sedangkan hutan konservasi dapat dimanfaatkan oleh manusia tetapi dengan cara bijaksana, bertanggungjawab, dan tidak berlebihan.

3. Jenis-Jenis Kawasan Konservasi

Terdapat beberapa jenis kawasan konservasi yang ada di Indonesia, antara lain Kawasan Suaka Alam, Kawasan Hutan Pelestarian Alam, dan Taman Buru. Ketiga jenis kawasan konservasi tersebut memiliki fungsi dan tujuan tertentu.

3.1 Kawasan Suaka Alam (KSA)

Suaka Alam adalah salah satu tipe hutan konservasi yang dilindungi dan dipelihara keadaan alaminya secara utuh untuk tujuan penelitian ilmiah, pendidikan, pemantauan lingkungan, dan sumber daya genetik.

Pada kawasan ini masih diperbolehkan berbagai manipulasi oleh manusia untuk mempertahankan ciri-ciri komunitas yang khas dan mendukung spesies tertentu. Terdapat dua jenis kawasan yang termasuk ke dalam Kawasan Suaka Alam, yaitu Cagar Alam dan Suaka Margasatwa.

Kedua jenis tipe Kawasan Suaka Alam (KSA) ini memiliki  berbagai perbedaan yang dijelaskan pada tabel di bawah ini.