Taman Nasional Gunung Rinjani: Letak, Luas, Sejarah Kawasan, dan Danau Segara Anak

Diposting pada

Taman Nasional Gunung Rinjani adalah taman nasional yang sangat cocok untuk dijadikan wahana wisata alam bagi anda yang menyukai tantangan. Taman Nasional yang biasa dikenal dengan singkatan TNGR ini memiliki daya tarik tertinggi dari objek kaldera dan Danau Segara Anak dengan anak gunungnya yang sangat menakjubkan.

Meskipun demikian, konservasi sangat penting dilakukan di wilayah TNGR karena wilayah ini berpotensi memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi mengingat wilayah ini berada di sebelah barat garis Wallace.

Danau Segara Anak dan Gunung Baru

DAFTAR ISI
1. Letak Geografis
2. Luas Kawasan
3. Iklim dan Topografi
4. Sejarah Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani
5. Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem
6. Keadaan Sosial Budaya Masyarakat Sekitar Taman Nasional
7. Kawasan Wisata yang Telah dan Akan Dikembangkan
8. Organisasi Mitra dalam Pengelolaan TNGR
9. Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis yang Harus Ditaati ketika Berkunjung
10. Akses Menuju TNGR
11. Fasilitas dan Transportasi
12. Kantor Balai Besar Taman Nasional Rinjani

1. Letak Geografis

Taman Nasional Gunung Rinjani secara geografis terletak di antara 8 derajat 18 menit 18 detik sampai dengan 8 derajat 32 menit 30 detik Lintang Selatan dan 116 derajat 21 menit 30 detik sampai dengan 116 derajat 34 menit 15 detik Bujur Timur.

Secara administratif, lokasi ini berada di wilayah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Advertisement nature photography

 

Luas kawasan ini kurang lebih memiliki total wilayah seluas 40.000 hektare. Kawasan ini sama dengan kawasan taman nasional lainnya, memiliki berbagai zona untuk kepentingan pengelolaan. Contoh zona yang ada di TNGR adalah zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona tradisional dan lain-lain.

 

Kawasan ini memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh angin muson tenggara (angin timur) yang sifatnya kering pada bulan April – September, dan angin muson barat laut yang sifatnya basah pada bulan Oktober – April.

Curah hujan berkisar antara 2.000 – 4.000 mm/tahun di bagian selatan dan tengah, sedangkan di bagian timur lebih kering dengan curah hujan rata-rata sekitar 1.200 mm/tahun. Jumlah hari hujan sendiri rata-rata sekitar 93 hari/tahun.

Topografi kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani berupa daerah yang bergunung-gunung dengan ketinggian 300 – 3.726 m dpl. Puncak tertingi TNGR merupakan puncak Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 m dpl yang sekaligus merupakan gunung tertinggi ketiga di Indonesia.

Berdasarkan kemiringan lereng, kawasan TNGR dibagi menjadi kelas lereng sedang (9% – 15%), terjal (16% – 45%), dan sangat terjal (di atas 45%).

Di wilayah ini terdapat beberapa gunung, di antaranya adalah Gunung Rinjani (3.726 m dpl) yang merupakan gunung berapi yang masih aktif, Gunung Sangkaraeng (2.914 m dpl), Gunung Buangmangge (2.895 m dpl), Gunung Baru (2.376 m dpl), dan Gunung Manuk.

Gunung-gunung yang ada di wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani dipisahkan oleh lembah yang luas dan jurang yang dalam dengan lereng yang terjal dan berbatu.

Di ujung Barat Gunung Rinjani terdapat kaldera selebar 6 km dengan dinding yang tinggi dan curam yang lembahnya merupakan danau yang luas dan dangkal. Danau ini pula yang dikenal dengan nama Danau Segara Anak.

Danau Segara Anak terletak pada ketinggian 2.008 m dpl dengan air danau yang berbau belerang dan memiliki suhu yang berbeda-beda pada setiap bagiannya. Dari dalam danau ini muncul anak gunung berapi, yaitu Gunung Baru yang sebelumnya sudah disebutkan.

 

Sejarah kawasan ini tercatat memiliki 2 kejadian penting.

Pada 17 Maret 1941 berdasarkan Surat Keputusan No. 15 Staatblad Nomor 77, pemerintah Belanda menyatakan status kawasan ini sebagai daerah Suaka Margasatwa Gunung Rinjani.

Pada 24 Maret 1990, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 448/Kpts-II/1990 pada “Pekan Konservasi Alam Nasional III” di Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyatakan bahwa status kawasan yang sebelumnya Suaka Margasatwa berubah menjadi Taman Nasional Gunung Rinjani dengan luas 40.000 ha.

 

Tipe ekosistem di TNGR sangat beragam, di antaranya adalah ekosistem hutan primer (40%), savana (40%), daerah tandus (10%), serta semak belukar, hutan tanaman, hutan pegunungan dan hutan sekunder (10%).