Taman Nasional Bali Barat: Letak, Luas, Sejarah, Biodiversitas, dan Wisata Alam

Diposting pada

4. Sejarah Kawasan Taman Nasional Bali Barat

13 Agustus 1947, berdasarkan Keputusan Dewan Raja-Raja di Bali No. E/1/4/5/47 ditetapkan Taman Pelindung Alam Bali yang meliputi kompleks Banyuwedang seluas 19.365,8 hektare.

Tahun 1970, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 40/Kpts/Um/8/1970 Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dinyatakan sebagai satwa langka yang dilindungi.

14 Oktober 1982, Taman Nasional Bali Barat dideklarasikan saat berlangsung kongres Taman Nasional se-Dunia di Denpasar, Bali dan juga berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982 dengan luas 77.727 hektare yang terdiri atas Suaka Margasatwa Bali Barat (19.558,5 hektare), Cagar Alam (2.250 hektare), Hutan Lindung (55.312,5 hektare) dan perairan pantai (6.280 hektare).

15 September 1995 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/95 untuk mengukuhkan penetapan status kawasan TN Bali Barat dengan luas 19.002,89 hektare. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai World Heritage Site (situs warisan dunia).

5. Biodiversitas dan Ekosistem Taman Nasional Bali Barat

5.1 Keanekaragaman Flora dan Ekosistem

Vegetasi yang ada di TN Bali Barat dipengaruhi oleh iklim monsoonal terutama yang berada di daerah dataran rendah.

Ekosistem di daerah ini merupakan ekosistem peralihan antara daerah beriklim basah dengan ekosistem beriklim kering. Ekosistem-ekosistem tersebut antara lain

  • Hutan hujan tropis dataran rendah dengan berbagai jenis, seperti Duren-Duren (Aglaia argentea), Kesambi (Schleichera oleosa), Anjring (Drypetes), Bayur (Pterospermum diversifolium), Ketangi (Lagerstroemia speciosa), Laban (Vitex pubescens), dan Klampok (Eugenia javanica).
  • Savana di daerah Cekik didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica) diselingi tegakan Lontar (Borassus flabelliffer), Gebang (Corypha), dan Sawo Kecik (Manilkara kauki). Di savana Semenanjung Prapat Agung didominasi oleh pohon Gebang (Corypha sp.) dan Lontar (Borassus sp.), jenis lainnya adalah Bidara (Zizyphus jujuba), Kesambi (Schleichera oleosa), Pilang (Acacia leucophloea), Acacia lebbekioides, sejenis rumput Desmostachys bipinnata dan mimba/intaran (Azadirachta indica).
  • Hutan mangrove tersebar di Teluk Gilimanuk, pantai Batugondang, pantai Teluk Terima, dan Banyu wedang. Jenisnya didominasi oleh Tancang (Bruguiera cylindrica atau Bruguieragymnorrhiza), Ceriops tagal, Excoecarria agallocha, Lumnitzera , berbagai jenis Bakau (Rhizopora stylosa dan Rhizopora apiculata), Sonneratia alba, Nipah (Nypa fruticans), dan api-api (Avicennia marina), serta terdapat jenis yang umum di Indonesia bagian timur dan Australia timur laut, yaitu Osbornia octodonta.
  • Hutan musim terdapat di bagian barat kawasan, didominasi oleh Jenis Talok (Grewia koordersiana), Asam (Tamarindus indica), Pilang (Acacia leucophloea), Berasan (Cryptocarya), Timoko (Kleinhovia hospital), dan Bidara (Zizyphus jujuba). Terdapat juga alang-alang, Gelagah (Saccharum spontanum), Teki (Cyperus rotundus), Tumpang (Spergula arvensis), Merakan (Andropogon contortus), Kasat, Rengas, Kesut, dan Sari.
  • Hutan rawa terdapat di Tegal Bunder yang merupakan daerah peralihan dari vegetasi mangrove dan vegetasi rawa. Terdapat jenis Excoecaria agallocha yang merupakan tumbuhan yang menghasilkan makanan kesukaan Jalak Bali.
  • Hutan dengan tanaman eksotis dari daerah luar, seperti Jati (Tectona grandis), Kayu Putih (Melaleuca leucodendron), Cendana (Santalum album), Sono Keling (Dalbergia latifolia), Sono Siso (Dalbergia sisoo), Akasia (Acacia auriculiformis), Eboni (Diospyros celebica), Sawo Kecik (Manilkara kauki), Kemlandingan (Leucaena leucocephala), Burahol (Stelechocarpus burahol), dan Murbei (Morus).
  • Terdapat juga eksosistem hutan basah alam yang menutup pegunungan dan cenderung ekosistem ini belum terganggu. Pada lereng selatan terdapat pohon Putat (Planchonia valida), Nyatoh (Palaquium javense), Takir (Duabanga inoluccana), Bayur (Pterospermum javanicum dan Pterospermum diversifolium), dan sejenis Kitiwu (Meliosma ferruginosa).

5.2 Keanekaragaman Fauna

Jalak Bali

Taman Nasional Bali Barat identik dengan taman nasional yang bertanggung jawab untuk melestarikan spesies terancam punah, Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).

Burung Jalak Bali merupakan primadona taman nasional ini, dan termasuk burung pesolek yang senantiasa menyenangi habitat yang bersih, serta jelajah terbangnya tidak pernah jauh.

Burung tersebut memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra ketat karena populasinya rendah dan mudah ditangkap. Berdasarkan daftar hewan terancam di dunia IUCN, Jalak Bali termasuk ke dalam kategori Critically Endangered yang berarti populasi Jalak Bali di alam sangat kritis, dan sangat terancam untuk punah.

Selain Jalak Bali, terdapat pula Jalak Putih (Turnus melanopterus), Jalak Suren (Sturnus contra), Ibis Putih Kepala Hitam (Threskiornis melanochepalus), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Wili-Wili Besar (Esacus magnirostris), dan Bangau Tongtong (Leptotilos javanicus).

Jenis satwa lain di antaranya, Bateng (Bos javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Luwak (Pardofelis marmorata), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hystrix brachyura brachyura), dan Kancil (Tragulus javanicus javanicus).

Satwa lain yang dijumpai di sekitar perairan adalah Ikan Duyung (Dugong dugon), Ikan Hiu (Carcharodon carcharias), Ikan Bendera (Plateax pinnatus), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Kima Raksasa (Tridacna gigas), dab Biawak (Varanus salvator).