Taman Nasional Alas Purwo

Diposting pada

Taman Nasional Alas Purwo adalah taman nasional yang berada di ujung Timur Pulau Jawa, bersebrangan dengan Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di ujung Barat Pulau Jawa.

Taman nasional ini merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem savana sehingga di sini juga kita bisa melihat miniatur dari ekosistem padang rumput Afrika yang sangat eksotis. Biasanya di padang rumput ini terdapat spesies Banteng dan burung-burung yang saling berinteraksi.

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memiliki ekosistem laut dan ekosistem daratan yang sangat eksotis untuk dikunjungi dan merupakan habitat yang baik bagi berbagai populasi flora dan fauna khas Jawa. Selain itu, arus ombak di pesisir kawasan taman nasional ini menjadi salah satu daya tarik utama TNAP.

 

DAFTAR ISI
1. Letak Geografis
2. Luas Kawasan Taman Nasional Alas Purwo
3. Iklim dan Topografi
4. Sejarah Kawasan
5. Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem
6. Penduduk Sekitar dan Budayanya
7. Kawasan Wisata yang Belum dan Akan Dikembangkan
8. Mitra Pengelola Taman Nasional Alas Purwo
9. Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis ketika Memasuki Kawasan
10. Akses Menuju Kawasan
11. Fasilitas dan Transportasi
12. Foto-Foto Taman Nasional Alas Purwo
13. Informasi
Referensi

 

1. Letak Geografis

Taman Nasional Alas Purwo secara geografis terletak antara 8° 26’ 46” – 8° 47’ 00” Lintang Selatan dan 114° 20’ 16” – 114° 36’ 00” Bujur Timur. Secara administratif wilayah kawasan taman nasional ini berada di Kecamatan Muncar, Tegaldelimo, dan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Taman nasional ini dibatasi oleh hutan produksi di sebelah barat, Selat Bali di sebelah timur, dan Samudera Indonesia di sebelah selatan.

 

2. Luas Kawasan Taman Nasional Alas Purwo

Taman nasional ini memiliki luas 43.420 ha yang meliputi Semenanjung Blambangan yang terletak di bagian paling ujung tenggara Pulau Jawa. Setelah disebutkan sebelumnya, kawasan ini pun mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Banyuwangi.

 

3. Iklim dan Topografi

Iklim di kawasan ini termasuk iklim tipe B dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.000 – 1.500 mm/tahun. Curah hujan di kawasan ini agak rendah karena pengaruh angin muson yang membawa uap air jarang sampai ke wilayah ini, hal inilah yang sering terjadi pada pulau-pulau di sebelah timur Pulau Bali. Curah hujan yang kecil ini pula menyebabkan hanya ada satu aliran sungai utama yang permanen. Suhu rata-rata di kawasan ini adalah 22° – 31° C, dan pada musim kemarau suhu dapat mencapai 37° C.

Taman nasional ini berada pada ketinggian 0 – 332 m di atas permukaan laut dengan topografi yang bervariasi, mulai dari dataran rendah sampai dengan dataran tinggi. Di bagian barat dan selatan kawasan taman nasional merupakan daerah yang datar hingga landai. Di sebelah timur laut, yaotu Tanjung Sembulungan daerah mulai bergelombang atau berbukit hingga ke arah barat di Blok Waktu Pecah. Dari arah selatan sekitar daerah Sadengan ke arah tengah kawasan, hampir seluruhnya merupakan daerah yang berbukit atau bergelombang dengan puncaknya, yaitu Gunung Linggamanis (322 m dpl).

Dataran aluvial di bagian barat ditanami padi, semangka, dan komoditas lainya. Zona penyangga yang luas memisahlan daerah tersebut dengan kawasan taman nasional, dan dengan perkebunan teh yang menghubungkan Taman Nasional Alas Purwo dengan Taman Nasional Meru Betiri di daerah barat dan Gunung Raung di sebelah utara. Kawasan ini memiliki banyak jurang dan lembah-lembah yang dalam.

 

4. Sejarah Kawasan

Kawasan taman nasional ini memiliki sejarah yang sangat panjang dimulai pada tahun 1939 tentang penetapan kawasan untuk pelestarian.