Silvikultur

Diposting pada

Silvikultur dalam bidang kehutanan mempunyai peranan yang sangat vital. Silvikultur atau budidaya hutan ini merupakan ilmu yang wajib dipelajari bagi mahasiswa kehutanan di Indonesia. Bahkan, beberapa institusi membuat jurusan atau departemen khusus yang berkaitan dengan silvikultur, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Silvikultur sendiri bisa diartikan sebagai Budidaya Hutan karena sebenarnya memiliki makna yang sama. Pada saat ini, ilmu mengenai budidaya pohon sudah sangat mutakhir. Teknologi penembakan sinar-sinar elektromagnetik pun dipelajari dalam ilmu ini demi untuk mencapai hasil pembudidayaan yang maksimal.

Pohon

DAFTAR ISI
1. Pengertian Silvikultur atau Budidaya Hutan
2. Hasil Hutan
3. Fungsi dan Fase dalam Silvikultur
4. Sistem Silvikultur
4.1 Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)
4.2 Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ)
4.3 Tebang Rumpang (TR)
4.4 Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB)
5. Program Studi Silvikultur

 

1. Pengertian Silvikultur atau Budidaya Hutan

Silvikultur atau dalam bahasa Inggris silviculture adalah ilmu dan seni untuk membangun, memelihara, dan mempermuda hutan guna memperoleh hasil hutan secara lesatari dengan memperhatikan aspek biofisik dan sosial.

Kata seni yang terdapat dalam definisi di atas merupakan tata cara dalam menerapkan ilmu silvikultur yang telah dipelajari. Seni ini sangat berkaitan dengan bagaimana ilmu silvikuktur dapat diaplikasikan pada praktik yang sesungguhnya.

Definisi lain berasal dari Broun pada tahun 1912, Broun menyebutkan bahwa

The theory and practice of controlling the establishment composition, character, and growth of forest stands to satisfy specific objectives.

2. Hasil Hutan

Tujuan akhir dari budidaya hutan adalah untuk menghasilkan berbagai macam hasil hutan, baik itu produk kayu atau non kayu. Produk yang berasal dari hutan di antaranya, kayu, sayur, buah, jasa lingkungan berupa ekowisata, dan satwa liar.

3. Fungsi dan Fase dalam Silvikultur

Budidaya hutan memiliki fungsi utama dalam mencapai pengelolaan hutan secara lestari, fungsi utama budidaya hutan adalah:

  1. Kontrol
  2. Fasilitasi
  3. Perlindungan
  4. Penyelamatan

Kontrol dalam budidaya hutan merupakan kegiatan mengamati dan menganalisis hutan apakah perlu untuk tindakan silvikultur atau tidak. Sebelum melakukan suatu tindakan silvikultur, perhitungan ekonomis juga harus diperhitungkan karena apabila biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada keuntungan yang didapatkan maka dapat membuat kerugian.

Fasilitasi adalah tindakan budidaya hutan selanjutnya setelah melakukan kontrol. Fasilitasi ini dapat berupa penyiangan, pemberian pupuk, pemangkasan, dan berbagai tindakan lainnya. Fasilitasi ini pada intinya bertujuan agar pohon dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Perlindungan merupakan kegiatan budidaya hutan pasca fungsi kontrol. Perlindungan ini pada intinya bertujuan untuk melindungi hutan dari berbagai serangan yang dapat mengganggu keseimbangan dalam hutan.

Penyelamatan hutan adalah suatu tindakan untuk menghilangkan berbagai gangguan yang terdapat di hutan. Penyelamatan hutan ini dapat berupa pemadaman kebakaran hutan, penyembuhan dari penyakit hutan, penghilangan hama hutan, dan lain-lain.

Fase utama dalam budidaya hutan adalah sebagai berikut:

Fase Silvikultur

Fase Silvikultur

 

4. Sistem Silvikultur

Sistem silvikultur adalah suatu sistem yang menyeluruh dalam manajemen pada hutan produksi, baik itu di hutan alam (IUPHHK-HA) ataupun di hutan tanaman (IUPHHK-HT) mulai dari penyemaian sampai pada tahap pemanenan dengan terus berulang.

Sistem silvikultur di Indonesia telah diatur dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang sekarang ini menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sehingga perusahaan yang memegang hak IUPHHK-HA atau IUPHHK-HT tidak serta merta dapat melakukan sistem silvikutur semau mereka.

Silvikultur
Rating: 4.9 from 121 vote[s]