Rusa Bawean: Taksonomi, Status Kelangkaan, dan Fakta Unik

Diposting pada

4. Habitat

Rusa ini merupakan hewan endemik Indonesia yang memiliki habitat di Pulau Bawean yang terletak di kawasan Laut Jawa dengan jarak 150 km di sebelah utara Surabaya. Habitat alaminya beragam tergantung aktivitas yang dilakukan. Habitatnya terdiri dari berbagai macam tipe seperti savana, hutan dengan yang rapat hingga semak-semak.

Hutan dengan ketinggian kurang lebih 500 mdpl adalah tempat baginya untuk melakukan aktivitas. Vegetasi yang rapat dijadikan sebagai tempat untuk bernaung saat istirahat dan kawin. Selain itu, juga sebagai tempat persembunyian dari pemangsa. Savana merupakan tempat untuk mencari dan mendapatkan pakan.

Rusa ini merupakan hewan nocturnal yaitu melakukan kegiatan atau aktivitas pada malam hari dan beristirahat di siang hari.

5. Status Kelangkaan

Catatan dari Balai Besar Konservasi Sumber Alam Provinsi Jawa Timur jumlah populasi Rusa Bawean pada tahun 2016 adalah 303 individu yang mengalami penurunan dari tahun 2015 sebanyak 325 individu.

Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN menetapkan bahwa satwa ini masuk kategori kelangkaan spesies Critically Endangered atau kritis. Artinya, Rusa Bawean yang merupakan spesies yang memiliki resiko kepunahan paling tinggi dalam waktu terdekat.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora atau biasa disebut CITES juga menyatakan bahwa satwa tersebut berada pada status Appendix 1. Artinya, Rusa Bawean memiliki jumlah yang sangat sedikit di alam sehingga tidak boleh diperjualbelikan ataupun diperdagangkan.

Upaya perlindungan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kepunahan adalah dengan penangkaran serta konservasi secara ex-situ di Kebun Binatang Surabaya.

Edukasi terhadap masyarakat juga diberikan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya satwa langka di ekosistem. Sehingga, diharapkan masyarakat akan semakin peduli terhadap status kelangkaan hewan tersebut dan tidak lagi melakukan perburuan liar khususnya terhadap satwa langka.

Usaha konservasi lainnya juga dengan menerapkan sanksi atau tindak pidana hukum  bagi pihak yang menangkap, memperjualbelikan, ataupun melakukan perburuan terhadap rusa ini. Ancaman pidana terhadap pelanggar hukum ini adalah penjara paling lama 5 tahun serta denda paling banyak sebesar Rp 1.000.000.000 yang tertera pada UU Nomor 5 tahun 1990.

6. Fakta Unik Rusa Bawean

Ukuran tubuhnya yang kecil menjadikan rusa ini dapat bergerak dengan gesit untuk menghindar dari serangan musuh. Rusa ini memiliki tinggi tubuh 60-70 cm dan berat sekitar 55 kg, sehingga ringan bagi mereka untuk berlari menjauh dari serangan predator.

Selain itu, satwa langka ini memiliki cara berjalan yang unik yaitu mampu berjalan dalam durasi atau waktu yang cukup lama yaitu sekitar 7 jam tanpa henti. Hal ini karena adanya insting yang dimiliki sehingga dapat menghindari predator secara perlahan.

Koloni Rusa Bawean (instagram.com)
Koloni Rusa Bawean (instagram.com)

Selain itu, tanduk merupakan lambang kehormatan bagi rusa jantan. Tanduklah yang digunakan sebagai senjata antar rusa jantan untuk memperebutkan rusa betina pada masa musim kawinnya. Rusa memiliki pertumbuhan tanduk yang paling cepat di antara hewan-hewan bertanduk lainnya.

Pertumbuhan tanduknya adalah 1 inch hingga 2 inch setiap minggunya. Setiap satu atau dua hari sekali, rusa ini juga menggosok tanduknya agar mengurangi laju pertumbuhan dari tanduk tersebut.

Rusa ini memiliki waktu kehamilan selama 225-230 hari pada bulan kelahiran di rentang Februari sampai bulan Juni. Dengan waktu kehamilan seperti itu, rusa ini hanya melahirkan satu individu anak tunggal rusa sehingga keberadaan jumlah populasinya juga tidak bisa meningkat dengan drastis.

Selain itu, rusa ini juga memiliki cara hidup berada di kaki-kaki lereng karena sangat sensitif termasuk kepada manusia. Hal tersebut dapat dilihat dari insting alamiah yang dimilikinya sehingga mampu menghindar dari pemangsanya dalam waktu yang lama secara perlahan. Satwa liar ini juga termasuk hewan yang mudah stres ketika habitatnya terganggu oleh manusia.

Pada Asian Games ke 18, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara ajang olimpiade olahraga terbesar di Asia yang telah dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2018. Berbagai persiapan juga telah dilakukan untuk mendukung keberhasilan berlangsungnya acara ini.

Telah terpilih tiga maskot oleh panitia penyelenggara acara yang berasal dari tiga hewan khas atau endemik Indonesia. Salah satu dari ketiga hewan tersebut adalah Rusa Bawean. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Indonesia maupun internasional dapat semakin mengenal hewan tersebut.

Jika dibandingkan dengan hewan lainnya yaitu Burung Cendrawasih dan Badak Bercula Satu, rusa ini yang paling tidak lazim dikenali oleh masyarakat. Oleh karena itu melalui maskot ini diharapkan semakin banyak orang yang mengetahui serta mengenali satwa ini.

Sangat penting untuk mengetahui hewan-hewan endemik Indonesia, terutama hewan yang terancam kepunahannya. Bertambahnya wawasan tentang salah satu satwa langka yaitu Rusa Bawean akan meningkatkan rasa kepedulian juga terhadap pembaca. Sehingga, dapat membantu dalam perlindungan hewan ini dari ancaman kepunahan.

Editor:
Mega Dinda Larasati

Gambar Gravatar
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Departemen Manajemen Hutan angkatan 2016. Kelahiran Jakarta, Juni 1999. Tempat tinggal Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat