Polusi: Pengertian, Jenis, serta Pencegahan dan Penanggulangan

Saat ini masalah global yang terus terjadi adalah polusi. Polusi berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada banyak polusi yang terjadi yang dapat berdampak terhadap kesehatan dan dapat mencemari lingkungan.

Polusi sering disebut sebagai pencemaran. Namun hal ini berbeda dalam pengertian. Berikut hal-hal terkait polusi yang akan dijelaskan lengkap dalam artikel kali ini.

Kota Kairo yang Terpapar Polusi Udara

1. Pengertian Polusi

Menurut Ainnudin dan Widyawati (2017), pencemaran adalah suatu kondisi yang mengubah dari bentuk awal ke keadaan yang lebih buruk.

Perubahan yang terjadi lebih buruk ini sebagai akibat dari adanya bahan-bahan pencemar yang masuk.

Bahan pencemar tersebut memiliki sifat racun (toksik) yang dapat membahayakan organisme hidup di sekitarnya.

Sifat racun inilah yang menjadi penyebab pencemaran.

Pengertian polusi yaitu adanya suatu zat atau materi yang masuk ke dalam lingkungan sehingga menyebabkan lingkungan menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Polusi adalah suatu perubahan kondisi lingkungan yang merugikan banyak pihak yang disebabkan oleh hasil aktivitas manusia secara keseluruhan atau sebagian melalui pengaruh langsung/ tidak langsung.

Akibat dari polusi dapat menimbulkan perubahan unsur fisik, biologis, kimiawi dan thermis dalam suatu lingkungan yang berpotensi membuat lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman, kesehatan terancam karena banyak bakteri dan virus yang menyebar, serta berdampak pada keselamatan makhluk hidup sekitar.

2. Jenis-Jenis Polusi

Polusi di bumi banyak sekali jenisnya. Pencemaran ini dapat disebabkan oleh senyawa gas tertentu, senyawa padat, cair, dan faktor lainnya. Berikut merupakan jenis-jenis polusi yang dikenali saat ini dan kerap terjadi.

2.1 Polusi Udara

Kualitas Udara yang Buruk Akibat Pencemaran

Udara merupakan faktor terpenting dalam kehidupan. Namun dengan meningkatnya pembangunan kota dan pusat-pusat industri, kualitas udarapun menurun.

Padatnya kendaraan bermotor di sejumlah ruas jalan kota-kota besar sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Tidak heran jika kota-kota besar tersebut menjadi asupan utama penyebar polusi udara. Peningkatan jumlah kendaraan juga merupakan faktor utama dalam peningkatan polusi udara.

2.2 Polusi Tanah

Penyebab pencemaran tanah adalah limbah pertanian, limbah industri, dan limbah rumah tangga.

Permukaan tanah yang tercemar zat berbahaya/ beracun dapat menguapkan zat beracun, terbawa air hujan, dan masuk ke lapisan tanah dalam.

Menurut Muslimah (2015), zat beracun yang terbawa air hujan di tanah dapat dapat mencemari lingkungan di bawahnya sebagai akibat terbawanya polutan oleh aliran air.

2.3 Polusi Air

Pencemaran air adalah ancaman yang banyak dikhawatirkan oleh manusia karena air merupakan sumber kehidupan.

Timbulnya pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan air tanah akibat kemajuan industri akan mempengaruhi daya dukung lingkungan terhadap makhluk hidup.

Naslilmuna et al. (2018) mengemukakan bahwa air yang telah tercemar oleh senyawa organik maupun anorganik akan mudah menjadi media berkembangnya berbagai penyakit.

2.4 Polusi Cahaya

Langit Penuh Bintang yang Sedikit Diterpa Polusi Cahaya

Polusi cahaya merupakan salah satu jenis polusi yang berdampak buruk akibat cahaya buatan manusia.

Polusi cahaya terjadi karena kondisi besarnya intensitas cahaya di suatu tempat.

Polusi cahaya biasanya ada karena dampak dari industrialisasi.

Polusi cahaya berasal dari pencahayaan interior dan eksterior bangunan, properti komersial, papan iklan, lampu jalan, kantor, stadion, dan pabrik.

Polusi cahaya terparah terjadi di negara maju yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi seperti di Eropa, Jepang, dan Amerika Utara, serta kota-kota utama di Afrika Utara dan Timur Tengah, misalnya Kairo.

Polusi cahaya juga menyebabkan bintang dan bulan tidak terlihat di malam hari. Bagi manusia polusi ini dapat menyebabkan masalah tidur di malam hari.

Pencemaran oleh cahaya juga mengakibatkn borosnya energi listrik di daerah perkotaan.

Hal tersebut karena sumber-sumber pencemaran seperti papan reklame, lampu taman, dan sumber-sumber lainnya menurunkan efektivitas jumlah energi yang dilepaskan ke lingkungan.

2.5 Polusi Suara

Polusi suara adalah gangguan lingkungan yang disebabkan oleh suara atau bunyi yang mengakibatkan terganggunya kenyamanan makhluk hidup di alam dan sekitarnya.

Suara-suara bervolume tinggi membuat daerah sekitarnya menjadi kurang menyenangkan dan bising.

Kerusakan yang disebabkan pencemaran suara bersifat lokal, tidak seperti halnya polusi udara maupun polusi air yang bersifat global karena dapat menyebar ke berbagai tempat.

Beberapa penyebab pencemaran oleh suara di antaranya adalah suara kendaraan bermotor, suara pertir, suara pabrik, suara chainsaw, dan suara kereta api.

Contoh lainnya yang sering terjadi adalah suara pesawat udara serta suara speaker atau TOA dapat mengganggu masyarakat sekitar.

2.6 Polusi Logam Berat

Polusi logam berat biasa terjadi di daerah pesisir pantai.

Hal ini diakibatkan oleh limbah industri, limbah cair perkotaan, limbah cair permukiman, pertanian, pelayaran, dan perikanan budidaya.

Bahan pencemar utama yang terkandung dalam limbah berupa unsur hara (nutrients), logam beracun (toxic metals), organisme pathogen, sedimen, pestisida, sampah, dan oksigen depleting substances atau bahan-bahan yang menyebabkan terlarutnya oksigen di air laut.

3. Karakteristik Polusi

Udara yang sudah tercemar dapat dikenali dengan beberapa karateristik polusi yang dimilikinya.

Adapun karakteristik polusi dapat dikenali dari beberapa hal berikut.

3.1 Tingginya Kadar Karbondioksida

Tingginya kadar karbondioksida dapat diketahui dari aktivitas manusia yang masih membakar hutan, membakar sampah baik itu sampah plastik maupun sampah kertas, dan tidak terkendalinya proses pembuangan asap dari sejumlah kendaraan bermotor dan pabrik.

3.2 Warna Udara dapat Dilihat

Udara yang berwarna hitam keabu-abuan merupakan indikator telah tercemarnya udara di wilayah tersebut.

Jika udara berwarna sehingga bisa dilihat, artinya udara tersebut telah tercampur dengan sejumlah gas atau zat beracun.

3.3 Berbau Menyengat dan Menyesakkan

Udara atau air yang tercemar akan memiliki bau yang tidak sedap saat dihirup.

Bau udara atau air yang menyengat merupakan indikasi adanya perubahan kandungan zat yang dapat membahayakan tubuh manusia.

Hal ini disebabkan adanya kandungan zat lain yang memiliki karakteristik berbahaya, misalnya metana atau SO2 yang terdapat dalam lapisan udara yang tercemar atau bau deterjen pada air yang tercemar.

3.4 Kualitas Udara yang Membuat Pengap

Udara yang tercemar akan terasa pengap dan meningkatkan suhu lingkungan karena pencampuran gas hasil pembuangan dan pembakaran yang bersifat panas.

3.5 Iritasi pada Mata

Kualitas udara yang tercemar sering menyebabkan iritasi pada mata. Hal ini karena udara telah  terkontaminasi zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.

Seperti contohnya asap hasil pembakaran lahan atau hutan akan menyebabkan mata menjadi merah dan iritasi.

Hal ini juga berlaku pada polusi air. Air yang telah tercemar akan membuat mata mudah teriritasi ketika digunakan karena mengandung zat-zat terlarut yang dapat merusak mata.

3.6 Mengganggu Kesehatan Fisik maupun Mental

Polusi merupakan hal-hal yang dapat berdampak buruk bagi makhluk hidup. Karakteristik utama dari polusi atau pencemaran adalah adanya gangguan terhadap kesehatan baik itu fisik ataupun mental.

Polusi udara, air, tanah, dan logam berat biasanya identik dengan gangguan terhadap kesehatan fisik. Sedangkan polusi cahaya dan suara biasanya akan membuat gangguan mental.

3.7 Adanya Rasa Tidak Nyaman

Ketika kita berada di lingkungan yang tercemar maka biasanya tubuh kita akan meresponnya dengan hal yang akan membuat tubuh tidak nyaman dan cenderung menimbulkan perasaan gelisah.

4. Penyebab Polusi

Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya polusi. Salah satunya faktor penyebab polusi udara adalah sekitar 70% berasal dari hasil proses pembakaran bahan bakar fosil yang belum sempurna yang dihasilkan melalui kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan mesin-mesin pabrik.

Zat-zat tersebut antara lain CO2 (karbondioksida), SO4 (belerang oksida), NOx (nitrogen oksida), dan CO (karbon monoksida).

Selain itu, faktor manusia juga dapat menjadi penyebab polusi. Berikut kegiatan manusia yang dapat menimbulkan polutan:

  1. Pembakaran, misalnya pembakaran sampah, kegiatan industri, dan kendaraan bermotor. Polutan yang dapat dihasilkan antara lain debu, gas (CO dan NO), asap, dan grit (pasir halus);
  2. Proses peleburan yang dapat menghasilkan polutan berupa debu, uap, dan gas atas akibatnya;
  3. Pertambangan dan penggalian dengan polutan yang dihasilkan debu;
  4. Pembuangan limbah, baik limbah rumah tangga/ domestik ataupun industri. Polutan yang dihasilkan adalah gas H2S yang menimbulkan bau yang busuk;
  5. Proses pembangunan, misal pembangunan gedung-gedung, jalan, dan lain lain. Polutannya seperti debu dan asap; dan
  6. Proses percobaan nuklir yang menghasilkan polutan debu dan gas radioaktif.

5. Polutan

Polutan adalah bahan yang dapat menjadi penyebab pencemaran.

Bahan yang dapat menyebabkkan pencemaran tersebut bisa berasal dari rumah tangga, pabrik, hasil dari sisa-sisa kegiatan, atau aktivitas pekerjaan, misalnya seperti bekas galian bahan tambang.

Menurut sifatnya polutan dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:

5.1 Polutan Fisik

Polutan fisik yaitu polutan yang secara fisik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Contohnya sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.

5.2 Polutan Kimiawi

Polutan kimiawi yaitu polutan yang berbentuk senyawa kimia baik senyawa sintetis maupun alami yang jika memiliki konsentrasi tinggi dapat menimbulkan pencemaran.

Contohnya gas-gas yang berbahaya seperti CO2, CO, SO4, merkuri, dan logam Pt (timbal).

5.3 Polutan Biologis

Polutan biologis merupakan polutan berbentuk makhluk hidup yang berpotensi menimbulkan pencemaran. Contohnya bakteri E. coli dan tumbuhan gulma seperti eceng gondok.

5.4 Polutan Sosial Budaya

Polutan sosial budaya yaitu polutan yang berbentuk perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan aturan sosial budaya setempat sehingga mengganggu kehidupan sosial budaya masyarakat.

Contohnya anak sekolah yang tawuran di sekitar masyarakat atau membawa orang yang bukan muhrim ke dalam rumah.

6. Pencegahan dan Penanggulangan

Pencegahan adalah langkah yang dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kesalahan.

Pencegahan terjadinya polusi dapat dilakukan dengan tidak membuang bahan-bahan atau limbah (energi) langsung ke laut atau sungai yang berasal dari kegiatan manusia yang dapat menyebabkan tercemarnya suatu perairan atau sumber air sehingga keseimbangan lingkungan tidak terganggu dan tidak  membahayakan kehidupan mikroorganisme.

Berbeda dengan pencegahan yang dilakukan pada kegiatan sebelum kejadian, penanggulangan dilakukan setelah terjadi kesalahan.

Penanggulangan adalah cara yang dilakukan jika telah terjadi suatu kesalahan agar tidak semakin parah. Cara menanggulangi polusi adalah harus mengambil inisiatif untuk memberikan informasi tentang tipe polusi yang terjadi serta melapor ke pemerintah setempat.

7. Hutan sebagai Solusi Pencemaran

Hutan Lindung Sungai Wain

Masyarakat yang tinggal di kota-kota besar telah mengalami dampak terburuk dari pencemaran. Buruknya kualitas udara dan lingkungan yang ditinggali dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dan dampak lainnya. Tidak dipungkiri udara perkotaan jauh dari kata bersih.

Emisi gas dari kendaraan yang ada di perkotaan merupakan polutan udara terbesar yang dapat membahayakan kesehatan karena memicu munculnya berbagai penyakit kronis.

Hal tersebut menjadi perhatian penting bagi Lembaga Analisis Anggaran, Pengkajian Kebijakan Publik, dan Lingkungan Hidup (LAKIP-LH) sehingga lembaga ini berinisiasi meningkatkan keberadaan hutan kota yang ada di kota-kota besar.

Sebab peranan hutan sebagai solusi pencemaran sangat baik. Hutan dapat menyerap emisi gas yang dihasilkan dari kendaraan, asap industri, dan lainnya.

Selain itu, hutan kota dapat mempercantik tatanan wilayah yang ada dan membuat udara di sekitarnya semakin sejuk.

Setelah membaca artikel di atas, diharapkan kita lebih aware terhadap lingkungan dan dapat menjaganya agar kita dapat hidup dengan nyaman dan sejahtera.

 

Referensi:

Muslimah. 2015. Dampak Pencemaran Tanah dan Langkah Pencegahan. Jurnal Penelitian Agrisamudra. 2 (1) : 1 – 19.

Naslilmuna M, Muryani C, Santoso S. 2018. Analisis kualitas air tanah dan pola konsumsi air masyarakat sekitar industry kertas PT Jaya Kertas Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk. Jurnal GeoEco. 4 (1) : 51-58.

Teruskan Membaca