Pohon Sonokeling (Dalbergia latifolia): Taksonomi, Kayu, dan Budidaya

Diposting pada

8. Budidaya

Semakin besarnya peluang usaha yang ada maka akan timbul dampak serta risiko untuk tetap mempelihara agar dapat secara terus menerus memberikan keuntungan bagi kita.

Cara budidaya pohon yang relatif mudah dengan keuntungan yang maksimal merupakan salah satu pertimbangan yang sangat penting dalam memulai suatu usaha.

Tumbuhan ini relatif mudah dalam budidayanya dan tentunya memiliki pasar yang bagus.

Bibitnya juga mudah diperoleh tanpa melakukan beberapa upaya pembibitan karena sudah tersedia pada akar pohon sonokeling yang sudah tua.

Biasanya pohon sonokeling yang telah dipanen, disisakan bagian akarnya terutama pada pohon yang sudah berusia puluhan tahun karena akan tumbuh tunas-tunas baru atau disebut dengan anakan.

Kemudian anakan dari tumbuhan ini dipisahkan dari induk akarnya untuk didiamkan selama kurang lebih 2 minggu

Advertisement nature photography

Bibit yang telah siap kemudian dipindahkan ke dalam polibag hingga tumbuh dan berukuran tinggi sekitar 30 cm sampai 1 m, setelah itu dapat dijadikan bibit di lahan perkebunan.

Jarak tanam antar pohon perlu diperhatikan yaitu 2 m x 2 m sampai 2 m x 3 m.

Pemupukan pun harus dilakukan secara optimal agar pertumbuhan pohon kayu sonokeling maksimal.

Frekuensi pemupukan dilakukan dua minggu sekali pada saat tumbuhan berumur satu atau sampai dua tahun kemudian cukup dua kali setahun setelah berumur lebih dari dua tahun serta saat mendekati musim penghujan dan musim kemarau.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam budidaya pohon sonokeling adalah secara intensif perlu dilakukan penyiangan atau pembersihan gulma dan tanaman pengganggu lainnya terlebih lagi pada masa-masa awal perkembangan hingga tumbuhan berukuran tinggi sekitar 8 meter.

Beberapa peraturan telah diedarkan oleh pemerintah terkait pengedaran kayu sonokeling ini dalam beragam skala.

Sesuai dengan surat yang dirilis tentang pemanfaatan peredaran jenis sonokeling (Dalbergia latifolia) ke luar negeri oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen KSDAE Kementerian LHK Nomor: S.1216/KKH/MJ/KSA.2/12/2016 rilisnya dan pemberlakuan dari peraturan ini memperoleh respon positif dari beberapa pihak terutama pihak pelaku usaha yang umumnya berasal dari daerah Jawa Tengah seperti Purworejo, Jepara, Banyumas, Wonogiri, Purwokerto, Sragen, Klaten, Boyolai, Rembang, Kabupaten/Kota Semarang serta Boyolali.

Alangkah baiknya setiap elemen dari masyarakat bekerja sama mengambil peran dalam pemeliharaan, pengontrolan, serta pemanfaatan dari pengelolaan dan manajemen kelestarian jenis sonokeling ini agar manfaatnya dapat lestari untuk anak cucu kita.

Gambar Gravatar
Mahasiswi Manajemen Hutan IPB yang aktif di bidang sosial dan seni terutama seni vokal. Eksplorasi lingkungan dan alam manjadi minat utama.