Mata Air: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Pengelolaan

Diposting pada
  • Radius 200 m dari lokasi mata air
  • Daerah resapan (recharge area)
  • Daerah pelepasan (discharge area)

 

Pendayagunaan

Perencanaan pemanfaatan mata air untuk memenuhi kebutuhan tertentu harus dilakukan dengan mempertimbangkan:

  • Kebutuhan mata air jangka panjang, berdasarkan kondisi pemanfaatan yang telah ada dan rencana pengembangan mata air di masa mendatang sehingga dapat didayagunakan secara berkelanjutan.
  • Debit mata air yang keluar secara alamiah ditangkap dengan teknis penurapan yang benar.
  • Kemanfaatan untuk masyarakat sehingga selain manfaat ekonomi harus ada manfaat sosial yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
  • Konservasi daerah resapan agar menjamin keberlanjutan manfaat.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air pendayagunaan air dari mata air diprioritaskan untuk (1) air minum, (2) rumah tangga, (3) peternakan dan pertanian sederhana, (4) industri, (5) irigasi, (6) pertambangan, (7) usaha perkotaan, dan (8) untuk kepentingan lainnya.

Namun prioritas pendayagunaan air ini dapat disesuaikan berdasarkan kondisi spesifik masyarakat sekitar.

Pendayagunaan mata air meliputi kegiatan perencanaan, desain teknis, dan konstruksi penurapan mata air. Setiap tahap kegiatan pendayagunaan mata air ini harus dilakukan dengan mengikuti petunjuk teknis penurapan mata air yang ditetapkan oleh lembaga yang berkompeten.

Kegiatan perencanaan pemanfaatan mata air dilakukan sebagai dasar untuk pendayagunaan mata air pada suatu satuan wilayah sebaran mata air tertentu. Perencanaan pemanfaatan ini harus dibuat berdasarkan data inventarisasi dan evaluasi potensi mata air.

Desain teknis dan konstruksi penurapan mata air mencakup bangunan-bangunan penangkap mata air (bron capturing), jaringan transmisi, reservoir distribusi, dan jaringan distribusi. Desain dan konstruksi ini harus memperhitungkan debit aliran secara alamiah, dalam arti tidak dilakukan dengan rekayasa teknik (misalnya dengan melakukan pemompaan atau pemboran) untuk meningkatkan debit penurapan dengan mengubah cara pemunculannya. Debit maksimum penurapan mata air ditentukan dengan pertimbangan:

  • Tidak melebihi debit minimum mata air yang keluar secara alamiah dikurangi dengan debit pemanfaatan yang telah ada sebelumnya.
  • Menyediakan air kepada masyarakat (apabila diperlukan), maksimum sebesar 10% dari debit yang diizinkan untuk dieksploitasi.

 

Perizinan, Pengawasan, dan Pemantauan

Proses perizinan harus ditetapkan dan diikuti dengan mempertimbangkan hak-hak kepemilikan lahan dan hak-hak pengelolaan mata air. Kegiatan penurapan mata air hanya dapat dilakukan apabila telah menerima izin dengan mengikuti ketentuan bahwa peruntukan pemanfaatan mata air untuk keperluan air minum rumah dan rumah tangga (kebutuhan air domestik) merupakan prioritas utama di atas segala keperluan lain.

Perizinan penurapan mata air selain sebagai perwujudan aspek legalitas, juga dimaksudkan untuk mengendalikan pendayagunaan mata air agar sesuai dengan ketentuan-ketentuan.

Rencana penurapan mata air dengan debit lebih besar atau sama dengan 50 liter per detik maka harus dilengkapi dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), sedangkan apabila debit mata air kurang dari itu maka harus dilengkapi dengan dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan).

Kegiatan penurapan mata air dapat dilakukan hanya jika telah mendapat izin dari pihak yang berwenang sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1451 K/10/MEM/2000.

Perlu diketahui juga bahwa prinsip-prinsip hak kepemilikan lahan harus dipisahkan dengan hak pengelolaan atas mata air.

Keberlanjutan pemanfaatan mata air pun sangat bergantung pada pengawasan dan pemantauan. Kegiatan pengawasan yang perlu dilakukan meliputi:

  1. Pengawasan pentaatan terhadap ketentuan teknis yang tercantum dalam perizinan
  2. Pengawasan pentaatan terhadap ketentuan dalam UKL dan UPL atau AMDAL
  3. Pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan ekosistem mata air

Kegiatan pemantauan secara berkala dan kontinyu perlu dilakukan untuk mendapatkan data fluktuasi atau kecenderungan perubahan debit mata air dan kualitas airnya.

Pemantauan mata air setidaknya dilakukan setahun sekali dan lebih baik lagi jika pemantauan debit mata air dilakukan setiap bulan agar dapat melihat tren fluktuasi debit. Pemantauan ini dapat dilakukan oleh pihak pengelola ataupun instansi yang terkait dengan upaya pendayagunaan dan konservasi mata air.

Pemantauan yang harus dilakukan meliputi:

  1. Debit mata air dan kualitas air
  2. perubahan penggunaan lahan di daerah resapan
  3. perubahan penggunaan lahan di sekitar mata air
  4. dampak lingkungan akibat pemanfaatan mata air

 

Konservasi Mata Air

Upaya konservasi mata air sangat penting untuk menjaga keberlanjutan manfaat dari mata air. Pemanfaatan yang bijaksana pun perlu dilakukan agar kuantitas debit dan kualitas air dari mata air tetap terjaga.

Konservasi mata air dilakukan di tempat keluarnya air dari tanah dan di daerah resapan mata air (recharge area). Perlindungan di tempat keluarnya air tanah berupa perlindungan agar air terlindung dari pencemar, sedangkan konservasi mata air di daerah resapan dilakukan dengan prinsip memasukan air aliran permukaan ke dalam tanah sebanyak mungkin agar dapat menjadi cadangan pasokan air tanah.

Konservasi mata air di daerah resapan mata air dapat dilakukan dengan menggunakan metode Konservasi Tanah dan Air (KTA). Kegiatan KTA ini penting karena prinsip dari konservasi air sendiri adalah memasukan aliran permukaan sebesar mungkin ke dalam tanah agar ketersediaan air tanah dapat terjamin. Terjaminnya keberadaan air tanah ini dapat menjaga pasokan debit mata air sehingga tetap lestari.

 

Mata Air yang Menjadi Tujuan Objek Wisata

Mata air juga di beberapa tempat dijadikan tujuan wisata yang sangat seru. Berikut adalah beberapa tujuan wisatanya.