Lahan Kritis: Pengertian, Penyebab, Data, dan Pencegahan

Diposting pada

4. Upaya Pencegahan

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Indonesia sebenarnya tidak pernah tinggal diam dalam menangani persoalan lahan marginal ini. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan.

Pada Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, persoalan pencegahan alih fungsi lahan pertanian produktif khususnya pangan telah diatur sedemikian rupa.

Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang juga mengatur bagaimana penggunaan lahan agar sesuai dengan peruntukkan dan kemampuannya.

Tidak ketinggalan, Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga mengatur tentang upaya pencegahan lahan kritis.

Salah satu upaya pencegahan lahan marginal adalah dengan melaksanakan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk perlindungan dan konservasi diutamakan karena adanya keuntungan sosial seperti pengendalian banjir dan kekeringan, pencegahan erosi, serta pemantapan kondisi tata air (siklus air).

5. Upaya Penanggulangan

Setelah dilakukan upaya pencegahan lahan marginal, tidak lupa pula dilakukan upaya penanggulangan pada lahan marginal yang telah terbentuk.

Berikut adalah beberapa ide upaya penanggulangan terhadap lahan kritis:

  1. Melibatkan pemerintah, masyarakat, dan korporat tentang kebijakan yang terkait dengan alih fungsi lahan dan kelestarian alam
  2. Merencanakan penggunaan lahan
  3. Mengembangkan keanekaragaman hayati
  4. Menciptakan keseimbangan dan keserasian fungsi intensitas penggunaan lahan pada wilayah tertentu
  5. Memperluas wilayah penghijauan
  6. Merencanakan penggunaan lahan kota
  7. Membuat sengkedan atau terasering
  8. Menggunakan lahan seoptimal mungkin dengan bijaksana
  9. Pengembalian fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS), pesisir, dan sekitar hutan
  10. Memisahkan penggunaan lahan
  11. Memilih pupuk organik yang aman untuk lahan
  12. Menggemburkan tanah dengan cara alami
  13. Melakukan pengkajian terhadap kebijaksanaan tata ruang, perizinan, dan pajak
  14. Memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk meminimalisir pencemaran udara dan air
  15. Menggunakan teknologi pengolahan tanah yang aman
  16. Mengendalikan perpindahan dan pemukiman penduduk

6. Data tentang Lahan Kritis di Indonesia

Berdasarkan laporan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), berikut adalah data lengkap tentang lahan kritis di Indonesia tahun 2011.

(NOTE: Ada gambar di draft)

7. Contoh Kasus Lahan Marginal

Lahan kritis di Indonesia tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Contoh kasus tentang lahan yang dalam keadaan kritis salah satunya adalah yang terjadi baru-baru ini di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

Lahan marginal atau kritis di Sumatera sudah terjadi sejak bertahun-tahun, kemudian di pertengahan tahun 2019 diadakan upaya rehabilitasi.

Upaya tersebut berlandaskan perencanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) presiden Joko Widodo pada tahun 2019 seluas 207.000 Ha yang tersebar di 25 provinsi di Indonesia. Target per tahunnya seluas 1,1 juta Ha dan diutamakan dilakukan di 15 titik lokasi DAS prioritas.

Kasus lahan marginal di Danau Toba ditanggulangi dengan penanaman tanaman macadamia. Tanaman ini dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi yakni sekitar Rp 100 – Rp 500 juta/ Ha.

Keunggulan tanaman ini adalah dapat mengendalikan erosi, meningkatkan fungsi hidrologis, serta tahan terhadap kebakaran dan kekeringan. Selain itu, dalam lima tahun saja, tanaman ini mampu menghasilkan kacang macadamia berkualitas baik.

Tanaman macadamia integrifolia dapat digunakan sebagai pengganti tanaman hortikultura. Tanaman ini juga telah diteliti oleh Balai Litbang Aek Nauli di kebun percobaan Sipiso-piso.

Tanaman ini rencananya akan dijadikan opsi pintu keluar pada kasus lahan dalam keadaan kritis.

 

Indonesia negara yang kaya akan hasil alam, hutannya hijau, flora dan faunanya beragam. Namun lahan marginal atau kritis masih sering terjadi. Ironis, bukan?

Sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat, mari kita menjaga hasil alam kita, tanah air kita. Hindari penyebab terjadinya lahan marginal dan optimalkan upaya penanggulangan.