Lahan Kritis: Pengertian, Penyebab, Data, dan Pencegahan

Diposting pada

Banyak kemajuan di bidang hutan termasuk konservasi tanah dan air. Namun faktanya persoalan lahan kritis di Indonesia sampai saat ini belum bisa terselesaikan.

Lahan kritis seolah selalu ada hingga menjadi masalah yang serius dan cukup rumit. Penyebabnya beragam, segala upaya pencegahan pun telah coba dilakukan.

Lantas mengapa, masih saja terjadi lahan kritis di Indonesia? Simak ulasan lengkap berikut.

Contoh lahan kritis akibat kekeringan
Contoh lahan kritis akibat kekeringan

1. Pengertian Lahan Kritis

Lahan kritis adalah lahan yang fungsinya kurang baik sebagai media produksi, baik untuk menumbuhkan tanaman yang dibudidayakan maupun yang tidak dibudidayakan. Begitulah kurang lebih pengertian lahan kritis menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air.

Lahan kritis di Indonesia umumnya disebabkan oleh degradasi lahan. Secara ringkas, degradasi lahan adalah menurunnya kualitas lahan.

Para ahli menyebutkan degradasi lahan adalah proses di mana kondisi lingkungan biofisik berubah. Hal ini diakibatkan oleh ulah manusia melalui aktivitas tertentu terhadap suatu lahan.

Advertisement nature photography

Aktivitas merugikan dari manusia itulah yang menyebabkan kondisi lingkungan pada lahan berubah, cenderung tidak diinginkan hingga merusak kesehatan lahan.

2. Penyebab Lahan Kritis

Seperti yang kami sampaikan di awal, penyebab terjadinya lahan yang dalam keadaan kritis sangat banyak. Faktor utama terjadinya tidak lain adalah degradasi lahan.

Degradasi sifat lahan bisa menurun baik dari segi fisik, kimia, dan biologi tanah. Berikut kami kategorikan secara lebih spesifik.

2.1 Degradasi Lahan dari Sifat Fisik

Di kategori ini, lahan yang kritis bisa terjadi akibat kemunduran sifat fisik tanah atau penurunan kualitasnya.

Degradasi lahan dari sifat fisiknya meliputi erosi tanah, pemadatan tanah akibat penggunaan alat-alat mesin dan pertanian atau proses eluviasi, serta adanya genangan yang terlampau banyak hingga banjir.

2.2 Degradasi Lahan dari Sifat Kimia

Penyebab lahan yang kritis juga bisa dari degradasi lahan yang mundur atau menurunnya sifat kimia tanah.

Degradasi lahan dari sifat kimia tanah meliputi proses pengasaman (acidification), penggaraman (salinization), pencemaran (pollution) dari bahan agrokimia, serta pengurasan unsur hara tanaman.

2.3 Degradasi Lahan dari Sifat Biologi

Menurunnya kualitas lahan dapat ditinjau dari segi biologis yang umumnya dipercepat oleh aktivitas manusia.

Degradasi lahan dari sifat biologi adalah erosi hujan hingga lapisan tanah bagian atas, sehingga tanah kehilangan bahan organik dan unsur hara dalam jumlah besar.

Jika ketebalan solum dan ketebalan tanah lapisan atas (topsoil) berkurang, kemudian kandungan C-organik dan kepadatan tanah menurun, maka tanah bisa rusak. Hal ini dapat berakibat pula berakibat pada volume permukaan air meningkat hingga banjir.

Berdasarkan kategori degradasi lahan tersebut bisa disimpulkan bahwa lahan yang kritis terjadi akibat dua hal yakni faktor alam dan faktor ulah manusia.

Faktor alam berupa kekeringan, genangan air yang terus-menerus, erosi tanah, dan pembekuan air.

Faktor ulah manusia seperti alih fungsi lahan yang tidak sesuai penerapannya, kesalahan dalam pengelolaan lahan, pencemaran bahan kimia, hingga adanya material yang tidak dapat terurai di tanah.

3. Proses Terbentuknya

Proses terjadinya lahan yang kritis secara gamblang dijumpai pada tanah dengan kualitas kurang baik.

Meskipun luas, tanah-tanah di Indonesia umumnya memiliki kualitas yang rendah atau marginal. Tanah berkualitas marginal ini kemudian digunakan untuk berbagai komoditas khususnya pertanian tanaman pangan.

Tanah-tanah yang memiliki masalah berdasarkan sifat  fisik, kimia, dan biologi serta tanah yang tidak tepat pengelolaannya dapat menyebabkan penurunan tingkat kesuburan tanah. Lambat laun, tanah tersebut bisa menjadi lahan kritis.

Kegiatan pertanian yang tidak tepat dapat menyebabkan erosi yang berdampak pada beberapa hal yang dapat berupa penurunan produktivitas lahan, adanya sedimentasi, banjir, dan longsor.