Elang Jawa, Sang Penguasa Langit Jawa

Diposting pada

5. Fakta Unik Elang Jawa

Elang Jawa memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya menjadi lambang negara Republik Indonesia yaitu garuda. Satwa ini cukup dikenal sebagai maskot satwa langka di Indonesia sebab keberadaannya yang jarang untuk ditemukan. Makna dari garuda pancasila dikenal dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda – beda tetapi tetap satu jua.

Menurut beberapa pakar Elang Jawa menjadi Garuda Pancasila karena jambul yang dimiliki satwa ini begitu unik untuk melambangkan negara Indonesia yang mempunyai keberagaman dalam budaya. Hal ini juga didukung dengan pendapat MacKinnon dalam bukunya yaitu jambul Elang Jawa berwarna hitam dengan ujung putih mendapat perhatian khusus dari para penikmatnya maupun yang bukan.

Satwa ini juga dikenal sebagai satwa monogami, yaitu setia pada satu pasangan. Dilihat dari kesetiaannya dalam mengurus anakan ketika telah menetas di sarang. Induk satwa ini akan berkoordinasi dengan baik dalam mengurus anaknya contohnya mereka akan bergantian mencari makan dan menjaga anak – anaknya di sarang. Induk betina biasanya memproduksi satu sampai dua telur dalam satu periode dengan periode produksi berkisar antara Januari hingga Juni.

Telur yang dihasilkan akan diinkubasi selama kurang lebih 47 hari lamanya. Uniknya jika yang terlahir lebih dulu bayi elang betina maka akan dibunuh oleh saudaranya. Hal ini dibiarkan begitu saja oleh sang induk sebab sudah menjadi kebiasaan dalam siklus hidup satwa yang satu ini.

Saat ini Elang Jawa cukup jarang ditemukan terbang bebas di atas langit. Selain terbangnya yang begitu cepat dan ia hanya terbang untuk mencari makan. Biasanya ia akan bertengger di suatu dahan atau ranting untuk mencari mangsanya, selebihnya ia akan menghabiskan waktunya di sarang.

Mata Tajam dan Jambul Elang jawa (pinterest.com)
Mata Tajam dan Jambul Elang jawa (pinterest.com)

Ada pula faktor alam yang menyebabkan Elang Jawa sulit dilihat terbang di langit yaitu populasi yang semakin sedikit dan habitat satwa ini yang semakin hari semakin berkurang. Namun tidak menutup kemungkinan kita dapat melihat satwa ini terbang di langit.

Faktor cuaca juga mendukung dalam melihat satwa ini terbang. Elang Jawa juga mendapat predikat sebagai Raja Predator Langit Jawa. Bagaimana tidak kegagahannya dalam mengepakkan sayap dan mencari mangsa sangat cocok untuk label tersebut.

Cara terbang Elang Jawa tergolong unik, ia akan membulatkan sayapnya kemudian menekuknya ke atas seperti huruf (V) dengan garis-garis hitam yang terdapat di bagian pinggir sayapnya.

Elang Jawa atau biasa dikenal sebagai burung pemangsa perlu dijaga kelestariannya. Semakin lama populasinya semakin berkurang akibat ulah manusia. Sebagai generasi milenial sekaligus penerus generasi bangsa, haruslah kita jaga habitat hutan primer dimana Elang Jawa sangat bergantung pada hal tersebut untuk keberlangsungan hidup dan berkembang biaknya.

Konservasi satwa endemik seperti Elang Jawa seharusnya mendapatkan perhatian khusus baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Selain itu, dikarenakan harga jual satwa ini terbilang mahal maka perlunya upaya juga dari pemerintah untuk menjaga habitatnya dari perburuan liar yang akan memperjual belikan telur Elang Jawa secara bebas di pasaran. Salah satunya adalah dengan mengembangkan program pengembangbiakan Elang Jawa dan habitat aslinya. Namun keduanya harus selaras karena jika tidak tujuan untuk menjaga kelestarian terkesan percuma.

Hal ini tidak hanya untuk Elang Jawa tapi juga berlaku untuk satwa yang memiliki status critically endangered (kritis), endangered (terancam) dan juga kategori status keterancaman yang lain.

Ayo lestarikan hutan kita karena satwa juga berhak hidup!

 

Referensi
Ridwan I, At M, Rusli AR. 2014. Pemanfaatan ekologi sarang elang jawa (Spizaetus bartelsi) di wilayah Hutan Cikaniki Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jurnal Nusa Sylva Volume. 14 (2) : 43 – 46.

Utami BD. 2002. Kajian potensi pakan elang jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann 1924) di Gunung Salak [skripsi]. Bogor (ID) : IPB
VanBalen SV. 1999. Distribution and Conservation of Javan Hawk-eagle Spizaetus bartelsi. Bird Conservation International. 9 (1) : 333 – 349.

Editor:
Mega Dinda Larasati