Burung Cendrawasih, Bird of Paradise

Diposting pada

Berbicara tentang Papua memang tidak ada habisnya ya. Wilayah Indonesia bagian timur ini memiliki keindahan alam dan keunikan budaya yang menarik untuk dieksplor. Ternyata tidak hanya Kepulauan Raja Ampat yang dijuluki sebagai surga di Papua, terdapat pula burung yang dijuluki burung surga lho! Ya, Burung Cendrawasih.

Cendrawasih merupakan burung langka sang penghuni Pulau Irian Jaya dan sekitarnya yang dikenal sebagai “Bird of Paradise” karena keindahan bulunya bak bidadari yang turun dari surga.

Cendrawasih (pinterest.com)
Cendrawasih (pinterest.com)

Yuk mengenal lebih jauh tentang Burung Cendrawasih melalui artikel di bawah ini!

1. Sekilas Tentang Cendrawasih

Burung Cendrawasih merupakan sekumpulan burung yang termasuk ke dalam anggota dari Famili Paradisaedae dan Ordo Passeriformes yang dapat ditemukan di Papua, pulau-pulau di Selat Torres, Papua Nugini sampai Australia bagian timur.

Famili Paradisaeidae dikenal karena pada burung jantan memiliki bulu yang memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap, atau kepala.

Burung surga ini terdiri dari beberapa genus dan spesies yaitu 14 genus dan 43 spesies yang tersebar di Sebagian Maluku, Pulau Papua, dan Australia. Menariknya, sebanyak 30 spesies ditemukan di Indonesia dan 28 spesies Burung Cendrawasih berasal dari Irian Jaya atau Papua. Di Kepulauan Maluku dan Halmahera terdapat 2 spesies burung indah ini.

Masyarakat Papua percaya bahwa Cendrawasih merupakan titisan dari surga. Hal tersebut wajar karena keanggunan burung ini dan keindahan bulunya membuat siapa saja terkesima. Secara etimologi, kata Cendrawasih berasal dari kata “cendra” yang berarti dewa-dewi bulan dan “wasih” yang berarti utusan.

Kecantikan Burung Cendrawasih membuatnya dijuluki sebagai “bird of paradise” yang terkenal dikalangan bangsawan Eropa pada tahun 1522. Burung yang menjadi maskot Papua ini tercatat pernah menjadi komoditas perdagangan pada akhir abad 19 sampai awal abad 20 yang diambil bulunya sebagai hiasan topi-topi wanita di Eropa.

Di suku-suku pedalaman Papua bulu Burung Cendrawasih sering digunakan sebagai hiasan kepala dalam ritual penyambutan tamu, ritual adat, atau pun ritual pernikahan. Namun, saat ini karena populasi Burung Cendrawasih menurun dan merupakan satwa dilindungi, di beberapa tempat sudah dikembangkan bulu imitasi untuk mengganti bulu Burung Cendrawasih tersebut.

Burung Cendrawasih yang terkenal adalah dari genus Paradisaea yaitu jenis Cendrawasih kuning besar (Paradisaea apoda). Dahulu, spesies ini diperdagangkan oleh masyarakat pribumi kepada bangsa penjajah dengan membuang sayap dan kakinya agar dapat dijadikan hiasan. Hal tersebut merupakan asal muasal jenis tersebut diberi nama “apoda” yang berarti tanpa kaki.

2. Taksonomi dan Spesies

Burung Cendrawasih merupakan sekumpulan burung yang termasuk ke dalam Famili Paradisaeidae yang memiliki 14 genus dan 43 spesies.

Berikut merupakan taksonomi dari Burung Cendrawasih:

KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasAves
OrdoPasseriformes
FamiliParadisaeidae
GenusAstrapia, Cicinnnurus, Drepanornis, Epimachus, Lophorina, Lycocorax, Paradisaea, Manucodia, Paradigalla, Paradisaea, Parotia, Pteridophora, Semioptera, Seleucidis

Berikut beberapa nama latin dan nama lokal spesies Cendrawasih yang dapat ditemukan di Indonesia:

  • Astrapia nigra (Cendrawasih Astrapia Arfak); endemik Papua, Indonesia.
  • Cicinnurus respublica (Cendrawasih Botak); endemik pulau Waigeo, Raja Ampat.
  • Cicinnurus regius (Cendrawasih Raja); Papua dan pulau sekitar.
  • Cicinnurus magnificus (Cendrawasih Belah Rotan); Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  • Drepanornis bruijnii (Cendrawasih Pale-billed Sicklebill); Indonesia dan Papua Nugini.
  • Epimachus fastuosus (Cendrawasih Paruh-sabit Kurikuri); Papua.
  • Epimachus albertisi (Cendrawasih Paruh Sabit Hitam); Papua.
  • Lophorina magnifica (Cendrawasih Toowa Cemerlang); Indonesia, Papua Nugini, dan Australia.
  • Lophorina superba (Cendrawasih Kerah); Papua.
  • Lycocorax pyrrhopterus (Cendrawasih Gagak); endemik
  • Manucodia ater (Manukodia Mengkilap); Indonesia dan Papua Nugini.
  • Manucodia comrii (Cendrawasih Manukod Jambul-bergulung)
  • Paradigalla carunculata (Cendrawasih Paradigala Ekor-panjang); Papua.
  • Paradisaea minor (Cendrawasih Kuning Kecil); Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  • Paradisaea apoda (Cendrawasih Kuning Besar); Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  • Paradisaea raggiana (Cendrawasih Raggiana); Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  • Paradisaea rubra (Cendrawasih Merah); endemik pulau Waigeo, Indonesia.
  • Parotia sefilata (Cendrawasih Parotia Arfak); endemik Papua, Indonesia.
  • Pteridophora alberti (Cendrawasih Panji); Papua.
  • Semioptera wallacii (Bidadari Halmahera); endemik Maluku.
  • Seleucidis melanoleuca (Cendrawasih Mati Kawat); Papua.

3. Ciri-ciri dan Morfologi Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih memiliki ciri-ciri khas yakni memiliki bulu yang indah khususnya pada burung berjenis kelamin jantan. Umumnya warna bulu burung ini berwarna cerah dengan kombinasi warna hitam, biru, kuning, kemerahan, cokelat, putih, ungu, dan hijau.

Ukuran tubuh burung surga ini pun beragam mulai dari ukuran 15 cm hingga 110 cm dengan kisaran berat mulai 50 gram sampai 430 gram tergantung dari jenisnya.

Sebagai contoh jenis Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius) memiliki ukuran tubuh 15 cm dengan berat 50 gram. Cendrawasih dengan ukuran terbesar ialah Cendrawasih Paruh Sabit Hitam (Cicinnurus regius) yang dapat mencapai 110 cm, sedangkan yang terberat adalah Cendrawasih Manukod Jambul-bergulung (Manucodia comrii) dengan berat mencapai 430 gram.

Secara umum, morfologi kaki Burung Cendrawasih merupakan tipe petengger dengan ciri jari kaki panjang dan telapak kakinya datar yang memudahkan pada saat bertengger di ranting-ranting pohon. Tipe paruh dari burung indah ini adalah tipe pemakan biji-bijan yang bercirikan paruh yang tebal dan runcing untuk memecahkan biji.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB berasal dari Bogor yang ingin belajar menulis dan berpetualang mencari sesuatu. Aktif di Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan FMSC sebagai Staff Scientific Development dan menjadi Asisten Praktikum di beberapa mata kuliah divisi perencanaan hutan.