Eksflorasi 2018: Menelaah Keunikan Keanekaragaman Hayati Ekosistem Dataran Rendah di Taman Nasioal Meru Betiri, Jawa Timur

Diposting pada

Eksflorasi (Ekspedisi Flora dan Studi Ilmiah) merupakan salah satu megaproker yang dilaksanakan oleh Tree Grower Community (TGC). Kegiatan ini mengusung tema “Menelaah Keunikan Keanekaragaman Hayati Ekosistem Dataran Rendah di Taman Nasioal Meru Betiri, Jawa Timur”.

Rafflesia zollingeriana yang dijadikan objek penelitian tim Eksflorasi 2018 ini merupakan tanaman langka yang dulu sempat dieksploitasi oleh masyarakat setempat. Tanaman ini diambil untuk dijadikan obat bagi wanita yang baru saja melahirkan. Namun, setelah adanya sosialisasi dan berbagai program yang dilaksanakan oleh pihak Taman Nasional Meru Betiri, masyarakat menjadi paham akan pentingnya konservasi tanaman langka ini. Kini masyarakat sekitar pun turut ambil bagian dalam menjaga kelestarian Rafflesia zollingeriana.

Eksflorasi 2018

Secara keseluruhan persiapan Eksflorasi 2018 telah dimulai sejak dibentuknya panitia pada Desember 2017. Tim pelaksana pengambilan data inventarisasi Rafflesia zollingeriana sendiri dibentuk pada Maret 2018. Tim pelaksana yang dibentuk berjumlah  41 orang merupakan gabungan dari anggota masing-masing Kelompok Studi TGC. Seluruh proses inventarisasi Rafflesia zollingeriana dilaksanakan selama 5 hari pada bulan Juni 2018.

Menurut Satria, Ketua Pelaksana Eksflorasi 2018 walaupun pengambilan data dilaksanakan ketika bulan puasa, sebenarnya tidak ada kendala yang cukup berarti selama pelaksanaan kegiatan tersebut. Hanya saja tim pelaksana harus berjalan selama 1 jam dari basecamp tempat mereka menginap menuju lokasi pengambilan data. Jalan yang harus dilalui pun cukup menantang karena mereka harus melewati sungai, kebun, dan hutan dengan jalan bebatuan yang curam.

Semua tantangan yang harus dilewati tersebut terbayar tuntas dengan hasil yang mereka temukan yaitu Rafflesia zollingeriana yang berjumlah sangat banyak hingga 100 individu. Sebelumnya mereka tidak pernah menyangka akan menemukan Rafflesia zollingeriana sebanyak ini. Satria mengaku bahwa ia dan anggota tim lainnya merasa sangat senang karena dapat melihat langsung tanaman langka ini dalam jumlah yang cukup banyak.

Hasil pengambilan data di lapang kemudian diolah selama satu bulan pada bulan September 2018 dan dipresentasikan pada Seminar Hasil Eksflorasi 2018. Seminar hasil ini dilaksanakan pada 21 Oktober 2018 bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasution. Selain pelaksanaan Seminar Hasil Eksflorasi 2018, output dari Eksflorasi meliputi film dokumenter, karya tulis (PKM), dan buku perjalanan semi populer. Buku ini nantinya akan berisi foto-foto keanekaragaman hayati Taman Nasional Meru Betiri, keadaan sosial budaya masyarakat setempat, dan  artikel mengenai Rafflesia zollingeriana.

Selain itu, tim Eksflorasi TGC juga memberikan masukan-masukan kepada pihak Taman Nasional Meru Betiri. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut berupa inventarisasi Rafflesia zollingeriana di luar Petak Ukur Permanen (PUP) untuk mengetahui potensi keberadaan Rafflesia zollingeriana yang lebih banyak.

Selain itu, tim Eksflorasi juga menyarankan agar dibentuknya suatu program sistematis untuk konservasi Rafflesia zollingeriana. Hal ini dikarenakan masih ditemukannya penyalahgunaan Zona Rimba yaitu adanya kegiatan penebangan pohon dan pengambilan madu hutan secara illegal.

Salah seorang peserta seminar, Arif Irawan S2 Biologi Tumbuhan IPB berpendapat bahwa Seminar Hasil Eksflorasi 2018 ini sangat menarik karena mempresentasikan hasil penelitian tumbuhan langka di Taman Nasional Meru Betiri. Ia juga memberi saran supaya Eksflorasi bisa melakukan penelitian mengenai tamanan endemik jenis Dipterocarpaceae di Taman Nasional Meru Betiri. Terlebih lagi, ia juga berharap Seminar Hasil Eksflorasi nantinya akan maju ke tingkat nasional.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB.