Desa Sawai, Desa Tua Tapi Cantiknya Tidak Menua

Diposting pada

Desa Sawai adalah salah satu desa tertua di Indonesia. Konon katanya dulu sebelum datang bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda sudah ada pedagang Arab yang datang ke Pulau Seram dan membangun desa bernama Desa Sawai ini. Maka dari itu di Desa Sawai terdapat banyak budaya Arab mulai dari musik gambus, pakaian gamis, sampai ornamen bangunan.

 

Lokasi Desa Sawai terletak di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Desa Sawai juga masih termasuk dalam bagian Taman Nasional Manusela (TNM) bersama 5 dusun lainnya yaitu Opin, Olong, Rumaolat, Masihulang, dan Besi.

Desa Sawai (instagram.com)
Desa Sawai (instagram.com)

Lokasinya yang berada di teluk membuat kawasan laut di desa ini cenderung jernih dan tenang. Kedalamannya pun hanya sebatas pinggang orang dewasa jadi aman kok kalau ingin berenang. Tapi kalau tidak ingin basah-basahan Anda juga bisa hanya berkeliling menggunakan perahu dayung.

Pulau-pulau kecil yang mengelilingi desa ini terlihat sangat cantik karena menyatu dengan pesona air laut biru. Mereka siap mengisi galeri hp Anda lho hehe.

Air laut yang sangat jernih membuat ikan dan penghuni bawah laut di dalamnya bisa dilihat hanya dengan telanjang mata. Jadi tidak perlu repot-repot menyelam deh.

Fasilitas yang ada di Desa Sawai ini adalah tempat penyewaan alat snorkeling dan fasilitas berenang. Anda juga bisa menyewa pemandu wisata lokal lho untuk memandu trekking ke Taman Nasional Manusela dan Bukit Bendera.

Penginapan juga ada kok jadi jangan khawatir dan ribet cari hotel atau tempat menginap. Penginapan di sini berupa bangunan sederhana yang berbentuk rumah panggung di atas laut namanya Wisata Lisar Bahari.

Anda tidak dikenakan biaya untuk masuk ke Desa Sawai. Buat Anda yang suka petualangan dan gratisan main ke sini aja haha.

Itulah sedikit informasi mengenai Desa Sawai yang merupakan salah satu desa tertua sekaligus tempat wisata alam di Indonesia. Semoga artikel ini membantu Anda untuk merencanakan liburan, terima kasih dan selamat berlibur!

 

Editor: Mega Dinda Larasati