Bunga Bangkai: Taksonomi, Habitat, dan Sebaran

Diposting pada

8. Makanan

Tidak seperti Rafflesia yang juga merupakan jenis bunga raksasa tetapi hidup sebagai parasit bagi tumbuhan lain, Amorphophallus adalah tumbuhan mandiri yang mengolah makanannya sendiri dan menyimpan cadangan makanan dalam bentuk umbi.

Fungsi bau yang dikeluarkan oleh tanaman Armophophallus titanium hanya berfungsi untuk menarik serangga agar bisa membantu penyerbukan.

Hal tersebut sangat berbeda dengan fungsi bau dari Rafflesia yang mana menarik serangga untuk dimakan dan diolah sebagai nutrisi.

Tanaman Amorphophallus titanum mempunyai sebuah umbi yang digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan.

Mekar atau tidaknya bunga Amorphophallus dapat dilihat dari cukup atau tidaknya cadangan makanan yang terkumpul.

Bila cadangan makanan pada umbi Bunga Bangkai sudah cukup, maka umbi tersebut akan membentuk calon bunga yang akan mekar 1-1,5 bulan kemudian.

Flora endemik asli Sumatera ini memiliki sifat yang unik, pada saat daun tumbuh, umbi mengecil.

Cadangan makanan yang ada di dalamnya dipakai untuk pembentukan dan pertumbuhan daun.

Setelah daun mampu berfotosintesis dan menghasilkan makanan, di atas umbi yang lama akan tumbuh umbi baru.

Umbi baru ini ukurannya akan menjadi lebih besar dari umbi sebelumnya.

Umbi dari tumbuhan ini dapat mencapai ukuran yang sangat besar dengan berat sampai dengan 117 kg.

9. Status Konservasi

IUCN dan WCMC telah menetapkan Amorphophallus titanum sebagai tumbuhan dengan status kelangkaan “Vulnerable”, akan tetapi pada tahun 2002 status tersebut dicabut akibat kurangnya data yang komprehensif.

Kurangnya data yang komprehensif disebabkan oleh kurangnya penelitian dari para ahli Botani di dunia pada tempat tumbuh alaminya.

Kurangnya penelitian di tempat tumbuh alaminya juga menyebabkan data jumlah populasi Bunga Bangkai yang tidak pasti.

Bunga yang belum mekar (instagram.com)
Bunga yang belum mekar (instagram.com)

Pemerintah menetapkan Bunga Bangkai sebagai flora yang dilindungi dengan menetapkan  Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 (Lampiran PP. No. 7/1999).

Hal tersebut dikarenakan terus menurunnya populasi Bunga Bangkai di habitat aslinya di Pulau Sumatera.

Salah satu penyebabnya adalah perambahan hutan yang terjadi untuk pembuatan perkebunan kopi atau pun perkebunan karet.

Selain perambahan hutan, pengambilan umbi dari bunga tersebut masih dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan dan pemburuan Burung Rangkong yang tak lain adalah hewan yang berguna bagi pendistribusian bijinya terus diburu.

Upaya untuk meningkatkan populasi dari tanaman ini terus dilakukan.

Salah satu upayanya adalah pembuatan konservasi eks-situ.

Konservasi eks-situ adalah upaya konservasi bagi satu jenis tanaman atau hewan lang terancam punah di luar wilayah habitat aslinya.

Kebun Raya Bogor menjadi salah satu taman koservasi yang telah berhasil melakukan koservasi eks-situ untuk Bunga Bangkai.

Tanaman tersebut telah ditanam pertama kali pada tahun 1920 dan mekar pertama kali pada tahun 1929.

Tanaman tersebut masih ada sampai sekarang dan menjadi salah satu wahana atraksi bagi Kebun Raya Bogor.

Itulah informasi mengenai Bunga Bangkai. Semoga menambah pengetahuan dan wawasan Anda ya!

Editor:
Mega Dinda Larasati