Bonsai: Jenis dan Tips Membuatnya

Diposting pada

Seni merupakan ungkapan atau ekspresi dari ide atau pemikiran yang dapat dituangkan dalam berbagai media seperti rupa, suara, gerakan, atau kombinasi dari ketiganya. Salah satu seni yang ada dan banyak digemari masyarakat untuk kegiatan komersial adalah bonsai.

Seni ini diekspresikan melalui alam atau lebih tepatnya melalui tanaman. Tanaman-tanaman tersebut diperlihatkan lebih banyak lagi unsur keindahannya.

Apa itu bonsai dan bagaimana tips merawatnya? Simak artikel di bawah ini ya!

1. Sekilas Tentang Bonsai

Bonsai adalah seni yang berhubungan dengan alam yaitu melakukan pengerdilan pada tanaman di dalam pot untuk lebih memperlihatkan sisi indah dari tanaman tersebut. Seni ini sangat populer di masyarakat Jepang khususnya pada kalangan lansia. Namun, walaupun budaya ini terkenal di Jepang, berdasarkan sejarah asal-usul seni ini berasal dari Cina dengan nama penjing pada periode Dinasti Tang.

Bonsai (pixabay.com)
Bonsai (pixabay.com)

Seni ini berkembang di Jepang pada Zaman Kamakura oleh para bangsawan Jepang. Kata penjing sendiri dalam huruf kanji dilafalkan oleh orang Jepang menjadi bonkei yang merupakan miniatur tanaman.

Pada awalnya, seni ini hanya dilakukan orang Jepang kalangan atas khususnya samurai dan pejabat istana. Pada zaman Edo, seni ini berkembang pesat dan populer sehingga menjadi pekerjaan selingan bagi para samurai.

Advertisement nature photography

Kata dasar dari bonsai berasal dari bon yang artinya pot dan sai yang artinya tumbuh. Sehingga, dari kata tersebut bonsai dapat diartikan sebagai miniatur tanaman atau tanaman yang telah dikerdilkan di dalam pot.

Bonsai tersebut tidak hanya berhubungan dengan keindahan, tetapi juga memiliki unsur yang mencerminkan apresiasi terhadap kehidupan dan kematian makhluk hidup.

2. Kriteria Tanaman Bonsai

Tidak semua tanaman dapat dibentuk dan dibuat menjadi tanaman bonsai, terdapat kriteria-kriteria tertentu bagi tanaman tersebut.

2.1 Tanaman Dikotil

Tanaman berkeping dua atau tanaman dikotil adalah tanaman yang dapat dijadikan menjadi bonsai. Tanaman dikotil memiliki ciri yang khas dengan adanya kambium yang membuat batangnya kokoh tidak seperti pada tanaman monokotil sehingga pada bagian bawahnya lebih besar daripada bagian atasnya.

Struktur batang yang kokoh cocok untuk dijadikan tanaman bonsai karena lebih kuat untuk dibentuk sehingga terlihat indah. Selain itu, sistem perakarannya bukan akar serabut melainkan akar tunggang dengan akar utama yang berukuran besar serta lebih kuat daripada akar serabut (Saktiyono 1989).

2.2 Bentuknya Indah

Selain tanaman berkeping dua, tanaman tersebut juga adalah tanaman yang sudah memiliki bentuk yang unik. Sehingga modifikasi atau penambahan yang diberikan memang hanya untuk meningkatkan kesan indah atau estetisnya saja terutama pada bagian-bagian yang menjadi daya tarik konsumennya.

Misalnya tanaman tersebut memiliki batang yang bentuknya berliku-liku, daun dan bunganya memiliki banyak warna serta unik, atau bentuk buah yang khas.

Terkadang keunikan tersebut ada karena kerusakan atau cacat alami dari tanaman tersebut contohnya tekstur kulit batang yang menjadi khas.

Terdapat 13 jenis bentuk bonsai sesuai bentuk dasarnya menurut Koide et al. (1989) yaitu tegak lurus (chokkan), tegak berkelok-kelok (moyoubi), miring (shakan), sarung angin (fuginashi), menggantung atau setengah menggantung (kengai atau hankengai), batang bergelung (bankan), sapu tegak (houkidachi), menonjolkan akar (neagari), berbatang banyak (takan), akar terjalin (netsunarari), kelompok (yoseue), pohon sastrawan atau bebas (bunjingi), dan pohon tak lazim (kawariki).

2.3 Tahan Diberi Perlakuan Khusus

Sesuai dengan pengertiannya, maka tanaman yang menjadi objek adalah tanaman yang tahan apabila diberi suatu perlakuan khusus untuk mempercantik tanaman tersebut. Perlakuan ini dapat berupa pemangkasan, pemahatan, atau pemberian kawat untuk melakukan kreasi terhadap tanaman menjadi bentuk yang diinginkan.

Perlakuan ini mempengaruhi fisiologis tanaman apabila tanaman tersebut tidak mampu menahan atau mengatasi gangguan tersebut, maka akan meningkatkan resiko tanaman tersebut untuk mengalami kematian.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Departemen Manajemen Hutan angkatan 2016. Kelahiran Jakarta, Juni 1999. Tempat tinggal Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat