Banjir Bandang: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Mitigasi Bencana

Diposting pada

4.3 Kondisi Cuaca di Daerah Hulu

Tanda selanjutnya dapat diamati melalui langit di daerah hulu. Jika terlihat langit gelap maupun awan tebal dan gelap di bagian hulu sungai, maka hal ini mengindikasikan sedang terjadinya hujan lebat di hulu. Hujan yang deras dan lebat di bagian hulu sungai dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir.

4.4 Terjadi Penurunan Debit Aliran secara Tiba-Tiba

Tanda terakhir adalah adanya penurunan debit air sungai secara tiba-tiba. Penurunan debit air sungai ini terjadi karena terhambatnya aliran sungai di daerah hulu akibat longsoran tanah atau penyumbatan oleh sampah. Ketika penyumbat aliran sungai sudah tidak mampu menahan luapan air sungai maka air penyumbat akan rusak dan menyebabkan aliran air dengan volume sangat besar.

Beberapa hal di atas itulah yang mengindikasikan kemungkinan akan terjadi air bah. Kesigapan dalam menanggapi tanda-tanda yang ada dapat membantu Anda dalam menyelamatkan diri dan sekitar dari bencana ini.

5. Dampak

Banjir Bandang Menenggalamkan Permukiman
Banjir Bandang Menenggalamkan Permukiman

Bencana banjir bandang menimbulkan kerusakan yang berujung kerugian. Kerugian dapat berupa material dan juga non-material. Kerugian yang diakibatkan banjir ini tidak sedikit, bahkan dapat mengakibatkan korban jiwa. Dampak negatif atau kerugian yang disebabkan oleh banjir bandang akan dijabarkan dalam beberapa paragraf ini.

5.1 Rusaknya Fasilitas Umum

Bencana Ini Merusak Fasilitas Umum
Bencana Ini Merusak Fasilitas Umum

Dampak yang pertama adalah rusaknya fasilitas umum seperti sekolah, jembatan, jalan umum, rumah sakit, dan masih banyak lagi. Kerusakan yang disebabkan oleh bencana ini secara langsung menghambat keberlangsungan aktivitas sehari-hari, seperti terhambatnya proses belajar-mengajar di sekolahan, terhambatnya aktivitas lalu lintas, dan aktivitas lainnya yang nantinya akan berpengaruh terhadap terganggunya aktivitas sehari-hari korban yang terkena bencana banjir bandang ini.

5.2 Rusaknya Barang-Barang Pribadi

Kerusakan barang pribadi merupakan dampak selanjutnya yang disebabkan oleh bencana ini. Kuatnya arus banjir ini dapat merusak bahkan membawa barang-barang pribadi perorangan, misalnya kendaraan, alat-alat elektronik, perabotan rumah tangga, bahkan arus banjir bandang juga dapat merusak rumah-rumah warga.

5.3 Rusaknya Jaringan Listrik

Dampak lainnya adalah rusaknya jaringan listrik. Rusaknya jaringan listrik dapat disebabkan oleh rusaknya tiang listrik yang menyambungkan kabel-kabel listrik.

Kerusakan ini dapat menyebabkan putusnya aliran listrik dan bahkan mati total. Jika jaringan listrik rusak, bisa dibayangkan betapa banyaknya aktivitas sehari-hari yang tidak bisa dilakukan tanpa adanya listrik. Ditambah lagi di zaman yang modern ini, kehadiran listrik sangatlah penting sehingga jika jaringan listrik rusak dan bahkan mati total, produktivitas dalam segala aspek pun akan menurun.

5.4 Wabah Penyakit

Wabah penyakit yang ditimbulkan dengan adanya genangan air juga termasuk dampak dari bencana ini. Genangan air merupakan sumber dari berbagai macam penyakit karena menjadi sarang bakteri dan kuman. Penyakit yang paling sering menyerang daerah yang terkena banjir adalah penyakit kulit, disentri, dan demam berdarah.

Demikianlah beberapa dampak yang dapat ditimbulkan oleh adanya bencana air bah ini. Besarnya dampak yang merugikan atas terjadinya banjir bah ini mengharuskan kita agar tetap waspada dan harus ikut melakukan pencegahan supaya tidak terjadi lagi hal yang serupa.

6. Kejadian Banjir Bandang Terbesar di Indonesia

Banjir bandang merupakan bencana yang sering sekali terjadi di Indonesia dan bahkan hampir di setiap tahunnya ada bencana banjir air bah yang terjadi. Indonesia memang diberkahi oleh Tuhan dengan memiliki sungai-sungai besar yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Akan tetapi, kehadiran sungai-sungai ini juga dapat memberikan bencana yang besar berupa banjir bandang.

Kejadian banjir bandang terbesar di Indonesia yang pertama adalah banjir yang terjadi di Sungai Batang Sala, Papua. Bencana ini terjadi pada tahun 2010 dan memakan korban jiwa sebesar 158 orang dan 145 orang dinyatakan hilang. Kejadian ini pun merusak berbagai infrastruktur yang ada hingga rata dengan air, bahkan sampai merusak bandara.

Bencana banjir bandang terbesar di Indonesia selanjutnya terjadi di Aceh Utara. Banjir bandang menerjang 10 desa di Kecamatan Tangse, Aceh, dan setidaknya terdapat 24 korban jiwa. Dikatakan bahwa penyebab dari terjadinya bencana ini adalah adanya kegiatan pembakaran hutan secara liar di kawasan hutan Tangse.

Bencana selanjutnya terjadi di Pulau Sulawesi. Banjir yang melanda Kampung Mahawu, Manado, Sulawesi Utara ini disebutkan terjadi karena adanya aktivitas pendangkalan sungai. Setidaknya terdapat 18 korban jiwa dan disebutkan kerugian mencapai Rp1.871 triliun.