Banjir Awal Tahun dan Krisis Iklim

Diposting pada

Awal tahun biasanya merupakan sebuah permulaan untuk menjadi pribadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun, apa jadinya jika banyak hal yang terjadi diluar dugaan pada awal tahun?

Berbagai bencana alam yang terjadi di awal tahun 2020 merupakan suatu pertanda terjadinya krisis iklim. Salah satu bencana tersebut adalah banjir yang terjadi pada beberapa daerah di Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menghimbau adanya cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di daerah dataran rendah seperti Jakarta. Pihak BMKG menghimbau masyarakat agar terus waspada akan potensi banjir.

Banjir (pixabay)
Banjir (pixabay)

Banjir yang terjadi akibat cuaca ekstrem ini tidak hanya menyebabkan dampak kerusakan material, tapi juga telah memakan korban jiwa. Pada Jumat (3/1/2020), tercatat sebanyak 30 orang meninggal dunia dan lebih dari 31.000 orang mengungsi dari 158 kelurahan yang terkena banjir.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, mengatakan banjir awal tahun 2020 yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya karena curah hujan ekstrem yang tidak cukup merata. Tercatat besaran curah hujan pada awal tahun 2020 lebih dari 150 mm per hari.

Selain itu, penyebab terjadinya banjir Jakarta tidak hanya karena curah hujan yang tinggi, melainkan ada faktor lain seperti besarnya limpasan air dari daerah hulu, berkurangnya waduk dan danau tempat penyimpanan air banjir. Permasalahan menyempit dan mendangkalnya sungai akibat sedimentasi dan penuhnya sampah juga mengakibatkan rendaman akibat air pasang.

Namun tetap, penyebab utama dari banjir yang terjadi adalah curah hujan ekstrem. Ini berkaitan dengan krisis iklim yang sedang terjadi.

Bersamaan dengan memanasnya udara, kandungan air juga lebih tinggi, khususnya udara di atas lautan. Menurut persamaan Clausius-Clapeytron, untuk setiap 1 derajat kenaikan suhu, udara akan menjadi lembab 7%.

Di dunia yang lebih panas 4oC, kandungan uap air di atmosfer diperkirakan naik 28%. Hal ini berarti curah hujan akan semakin intens. Pada daerah yang padat penduduk seperti Jakarta dan dengan drainase yang tidak berfungsi dengan baik, curah hujan ekstrem dapat menyebabkan banjir yang lebih parah.

Salah satu fenomena krisis iklim saat ini menjadi lebih nyata karena sudah terjadi di beberapa tempat. Sudah saatnya kita mulai untuk peduli terhadap isu-isu yang berhubungan dengan iklim. Mari sama-sama kita menjaga kesehatan iklim sekitar kita dengan mulai melakukan perubahan gaya hidup.