Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

Diposting pada

5.1 Perilaku Berkubang

Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh Badak Sumatera adalah berkubang dalam lumpur.

Satwa liar ini dapat melakukan aktivitas berkubang sebanyak dua kali dalam sehari, adapun tujuan dari berkubang adalah melindungi kulitnya dari gigitan serangga/ nyamuk dan menghindari panasnya sengatan sinar matahari.

Biasanya kubangan lumpur tersebut berada di area jelajah yang sehari-hari dilaluinya. Kubangan tersebut biasanya dibuat oleh mereka sendiri pada tanah yang cenderung basah, lembab, dan bertekstur lunak.

Mereka akan menggunakan kakinya untuk mengais-ngais tanah sehingga akhirnya terbentuk sebuah kubangan lumpur basah.

Kubangan yang dibuat umumnya digunakan dalam jangka panjang dan tertutup oleh pohon atau akar pohon.

Kubangan yang dimiliki atau pun digunakan seekor badak untuk berkubang umumnya sangat banyak karena perilaku berkubang merupakan perilaku yang pasti dilakukan oleh Badak Sumatera sehari-harinya.

5.2 Perilaku Penanda Area

Kotoran, urin, dan gosokan kaki pada jalur jelajah atau pun tempat mencari makan merupakan upaya badak dalam menandai wilayahnya.

Tujuannya tentu saja untuk menunjukan eksistensinya kepada individu lain. Jejak yang ditinggalkan juga sebagai penanda yang akan membantunya menuntun untuk melalui kembali tempat-tempat tersebut untuk dijelajahi.

Badak memiliki indera penciuman yang sangat sensitif dan peka. Dari jarak yang jauh dia akan mengetahui objek asing yang memasuki area jelajahnya.

Badak cenderung menghindar terhadap sesuatu objek yang asing baginya. Sensitivitas badak yang sangat tinggi membuat dia sangat sulit ditemui secara langsung di alam liar.

 

6. Makanan

Konservasi-Ex-Situ-Badak-Sumatera

Badak Sumatera termasuk satwa yang memakan segala jenis tumbuhan dan bagian-bagiannya, salah satunya semak dan ranting muda pepohonan. Ranting, buah, daun, cabang-cabang muda, buah, sampai bagian bunga menjadi pakan utama satwa liar ini di alam liar.

Berdasarkan penelitian para ahli, terdapat kurang lebih 102 jenis tanaman yang disukai oleh satwa liar ini. Terdapat 82 jenis tanaman dimakan bagian daunnya, 17 jenis dimakan bagian buahnya, 7 jenis dimakan bagian batang dan kulit mudanya, dan sisanya dua jenis dimakan bagian bunganya.

Kebutuhan makanan badak dewasa dalam sehari rata-rata adalah 50 kg. Tumbuhan yang mengandung getah seperti pohon nangka (Artocarpus integra), rengas (Mellnorrhoea sp.), dan bunga tenglan (Sacarrapa sp.) cenderung lebih disukai oleh satwa liar ini.

Lateks dari jenis tanaman rengas (Melanorhea sp.) juga salah satu pakan yang disukai satwa ini. Selain itu, Badak Sumatera juga melakukan kegiatan menggaram, kegiatan yang dilakukan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mineral pada tubuhnya.

Daun-daun dan ranting muda menjadi bagian yang paling disukai oleh satwa liar ini. Ranting-ranting yang cukup tinggi dan sulit untuk mereka jangkau akan dipatahkan atau dibengkokkan menggunakan kepalanya sebelum kemudian mereka makan.

Umumnya aktivitas makan satwa ini terjadi pada waktu menjelang pagi, pagi hari, dan menjelang malam hari.

Pada siang hari mereka lebih cenderung menjelajah hutan walaupun terkadang diselingi dengan kegiatan makan jika ditemukan pakan sepanjang jalur jelajahnya. Aktivitas Badak Sumatera lebih intensif dalam hal makan dan sisanya adalah menjelajah kawasan.

 

7. Perkembangbiakan

Anak-Badak-Sumatera

Salah satu penyebab rendahnya populasi Badak Sumatera adalah sifat mereka yang soliter dan daya reproduksi yang sangat rendah.

Satwa ini mencapai masa dewasa atau siap untuk bereproduksi pada usia enam sampai dengan tujuh tahun dengan batas usia produktif berkembang biak mencapai usia 32 tahun.

Berdasarkan penelitian, satwa liar ini dapat berkembang biak dengan interval waktu 5 tahun sekali dengan kehamilan yang berlangsung selama 15-16 bulan, kemudian anak badak yang dilahirkan akan hidup bersama induknya hingga usia empat tahun.

Ketika usia sang anak mencapai empat tahun, barulah induk betina siap untuk bereproduksi kembali. Jadi, bisa diperkirakan dalam 10-11 tahun mereka hanya dapat dua kali hamil dan melahirkan.

Anak badak yang baru lahir akan disembunyikan oleh induknya hingga mencapai umur dua bulan pada tempat yang sangat aman untuk menghindari penggangu atau pun objek yang dapat membahayakan.

Induk badak sangat protektif dan akan selalu menghindar dari objek tidak dikenal yang berada dekat dengannya. Hal ini merupakan strategi dari induk badak agar anaknya tetap aman tanpa adanya gangguan.

Badak Sumatera memiliki peran ekologi yang sangat besar. Keberadaan di alam liar sangat dibutuhkan agar keseimbangan di alam tetap terjaga. Aktivitasnya memakan ranting muda dapat mempercepat tumbuhnya ranting baru. Kotorannya juga berperan sebagai pupuk alami bagi tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan.

Indonesia telah dianugerahkan Tuhan dengan berbagai macam keanekaragaman hayati, salah satunya adalah Badak Sumatera. Namun, hingga saat ini kita masih kesulitan dalam mengelola salah satu anugerah Tuhan ini.

Keberadaan Badak Sumatera di alam liar sangat terancam dan terus berada di bawah bayang-bayang kepunahan yang terlalu cepat.

Oleh karena itu, segala upaya konservasi harus terus dilakukan agar keberadaannya di alam liar tetap lestari. Banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mendukung upaya konservasi Badak Sumatera, salah satunya dengan terus menyampaikan dan menyebarkan pesan konservasi Badak Sumatera kepada berbagai pihak melalui media masa, misalnya media sosial.