Lutung (Trachypithecus auratus): Habitat, Sebaran, dan Perilakunya

“Lutung adalah salah satu primata dilindungi yang memiliki bentuk tubuh mirip monyet dan berekor panjang. Cari tahu informasi lengkapnya di artikel ini!”

Apakah Anda sudah pernah mendengar atau mengetahui hewan yang bernama lutung?

Nah, artikel ini akan membahas informasi lengkap mengenai hewan langka yang satu ini untuk menambah pengetahuan dan wawasan Anda ya!

Yuk langsung saja simak fakta-fakta menariknya!

1. Taksonomi

Lutung mempunyai beberapa nama lain, seperti lutung budeng dalam bahasa Jawa, petu atau hirengan dalam bahasa Bali, dan lutung Jawa dalam bahasa Sunda.

Lutung

Sementara dalam bahasa Inggris atau secara global, mereka seringkali disebut sebagai Javan Langur, Ebony Leaf Monkey, dan Javan Lutung.

Di bawah ini adalah informasi mengenai klasifikasi atau taksonominya, yaitu:

Kingdom Animalia
Subkingdom Bilateria
Infrakingdom Deuterostomia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Infrafilum Gnathostomata
Superkelas Tetrapoda
Kelas Mammalia
Subkelas Theria
Infrakelas Eutheria
Ordo Primates
Subordo Haplorrhini
Infraordo Simiiformes
Superfamili Cercopithecoidea
Famili Cercopithecidae
Subfamili Colobinae
Suku Presbytini
Genus Trachypithecus
Spesies Trachypithecus auratus

2. Sub-spesies Lutung

Berdasarkan persebarannya di Indonesia, lutung bisa dibagi menjadi dua sub-spesies, yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.

Penjelasan lebih lengkapnya akan disajikan di bawah ini, yaitu:

2.1 Trachypithecus auratus auratus

Sub-spesies ini juga seringkali disebut sebagai Spangled Langur Ebony dan Lutung Jawa Timur.

Mereka banyak ditemukan di sepanjang daerah Jawa Timur, Lombok, Bali, Pulau Sempu, dan Nusa Barung.

2.2 Trachypithecus auratus mauritius

Mereka seringkali disebut sebagai Jawa Barat Ebony Langur dan banyak ditemui di wilayah Jawa Barat dan Banten.

[read more]

3. Morfologi

Apakah lutung termasuk primata?

Ya, mereka termasuk golongan primata berdasarkan ordo pada tabel taksonomi.

Perlu diketahui bahwa primata mempunyai karakteristik dan fungsional yang mencerminkan persamaan nenek moyang.

Jadi, lutung ini mempunyai karakteristik yang hampir mirip dengan kelompok primata lainnya, seperti monyet, kera, kukang, lemur, gorila, orang utan, simpanse, babun, simia, dan masih banyak lagi.

Agar lebih memahaminya, Anda perlu mengetahui beberapa ciri-ciri lutung.

Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya, yaitu:

3.1 Tubuh

Mereka mempunyai bentuk tubuh langsing mirip seperti monyet dan ekor panjang.

Walaupun ekornya panjang, mereka mempunyai sepasang tangan yang bisa dikatakan cukup pendek dengan telapak tidak berbulu.

3.2 Warna

Berdasarkan warnanya, satwa ini dibagi menjadi dua, yaitu lutung emas dan lutung hitam.

Ketika masih bayi, mereka mempunyai bulu berwarna jingga atau emas dan akan berubah menjadi gelap atau hitam seiring bertambahnya usia.

Warna cerah dari lutung muda ini bisa memudahkan sang induk untuk melacak keturunan mereka serta memastikan bahwa mereka dilindungi dan dirawat.

Ada jenis lutung yang berwarna emas keputihan walaupun sudah dewasa.

Namun ternyata, jenis lutung seperti ini cukup sulit ditemukan di Indonesia. Mereka banyak hidup di wilayah India dan dijadikan sebagai hewan suci oleh masyarakat Himalaya.

Jenis ini mempunyai wajah berwarna hitam tanpa bulu, sedangkan jenis lutung Jawa juga berwarna hitam dengan bulu kecuali bagian mata, hidung, dan mulut.

Pada bagian mata lutung Jawa dikelilingi garis mirip cincin yang berwarna putih kebiruan.

Adapun perbedaan antara jantan dan betina jika dilihat berdasarkan warnanya.

Betina mempunyai warna yang lebih pucat dibandingkan jantan.

Betina juga mempunyai warna putih kekuningan pada bagian kemaluan dan bulu dengan warna pucat pada bagian pantat.

Selain itu, rambut punggung betina warnanya lebih hitam pekat.

3.3 Ukuran

Panjang kepala dan tubuh mereka berkisar antara 44 hingga 65 cm.

Sedangkan panjang ekor mereka bisa melebihi panjang tubuh, yaitu antara 61 hingga 87 cm.

Lutung mempunyai berat tubuh sekitar 5 sampai 15 kg.

Ukuran dan berat tubuh pejantan secara umum lebih besar dibandingkan betina.

4. Habitat dan Sebaran

Di mana habitat hidup lutung?

Mereka mendiami bagian dalam maupun tepi hutan serta di hutan primer dan sekunder Pegunungan Dieng, Jawa Tengah.

Selain itu, mereka juga hidup di berbagai tipe hutan, seperti hutan bakau, hutan dataran rendah, perbukitan, hutan gugur, hingga hutan pegunungan dengan ketinggian mencapai 3.500 mdpl.

Sementara untuk persebarannya, lutung banyak ditemui di Pulau Jawa, Lombok, Bali, dan hutan pedalaman Indonesia bagian barat maupun di sepanjang garis pantai selatan.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa ada jenis lutung yang cukup sulit untuk ditemukan di Indonesia. Mereka banyak hidup di Pegunungan Himalaya, wilayah kering di Ceylon dan India, serta Indochina dan Assam.

5. Status Kelangkaan

Apakah lutung terancam punah?

Lutung terdaftar sebagai hewan yang rentan atau Vulnerable dalam Daftar Merah IUCN.

Populasi mereka semakin menurun setiap tahun karena aktivitas manusia, seperti hilangnya habitat akibat ekspansi pertanian, perburuan, dan perdagangan hewan peliharaan ilegal.

Undang-undang di Indonesia yang melindungi keberadaan satwa ini telah disahkan pada tahun 1999.

Sementara itu, lutung bisa ditemukan di tiga taman nasional Indonesia, yaitu Gunung Halimun, Pangandaran, dan Ujung Kulon.

Jadi, bolehkah memelihara lutung?

Jawabannya adalah tidak karena mereka berstatus terancam punah dan menjadi salah satu satwa yang dilindungi.

Anda bisa memelihara hewan dilindungi, tetapi harus memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan.

6. Perilaku dan Cara Hidup

Berikut adalah pembahasan secara lengkap mengenai bagaimana perilaku dan cara hidup lutung yang masih belum diketahui banyak orang, yaitu:

6.1 Hidup Berkelompok

Lutung adalah salah satu hewan sosial yang hidup dalam kelompok kecil.

Anggota dari kelompok ini banyaknya sekitar tujuh ekor dengan satu hingga dua pejantan dan sisanya adalah betina.

Namun, kelompok bisa juga beranggotakan hingga 21 ekor lutung dan masih dengan satu atau dua pejantan.

Ukuran kelompok ini bervariasi tergantung pada kondisi iklim.

Koloni Lutung

Kelompok yang mendiami habitat dengan musim kemarau lebih panjang cenderung lebih besar jumlahnya dibandingkan kelompok lain.

Betina membentuk mayoritas kelompok karena persaingan jantan dan sistem perkawinan poligami.

Pejantan akan keluar dari kelompok kelahiran mereka dan bepergian sendiri atau bisa juga bergabung dengan kelompok bujangan jantan lainnya.

Pada umumnya, jantan yang dominan menjaga hubungan dekat dengan semua betina di dalam satu kelompok.

Sedangkan, betina akan merawat dan melindungi anak-anak mereka serta keturunan dari sesama anggota kelompok betina mereka.

Betina lebih agresif terhadap betina dari kelompok lain.

6.2 Satwa Diurnal

Lutung termasuk dalam golongan hewan diurnal atau aktif siang hari.

Mereka akan mencari makan ketika siang hari atau mulai matahari terbit dan beristirahat ketika matahari tenggelam atau malam hari.

6.3 Satwa Arboreal

Hewan yang satu ini mempunyai karakteristik tubuh yang sesuai dengan perilakunya, yaitu banyak hidup bergelayutan dan melompat di atas pohon.

Ini seringkali disebut sebagai lokomosi arboreal atau jenis lokomosi hewan di pohon.

Lutung melakukan sebagian besar pekerjaannya di atas pohon, seperti makan hingga tidur dengan posisi ekor menggantung untuk menyeimbangkan tubuh.

Oleh karena itu, mereka jarang berjalan di atas permukaan tanah.

6.4 Wilayah Jelajah Luas

Mereka mempunyai jangkauan jelajah yang luas, yaitu berkisar antara 20 hingga 30 ha.

Daerah jelajah ini bisa lebih besar di Pulau Jawa dibandingkan di pulau lainnya.

Luas jelajahnya ini sangatlah bergantung pada kondisi habitat, lingkungan, dan kawasan teritorial.

Wilayah jelajah yang luas menjadikan teritori mereka tidak bisa terpetakan dengan baik.

Jadi, wilayah teritori satu kelompok dan kelompok lainnya bisa saja tumpang tindih.

Mereka mempunyai kepadatan populasi sekitar 23 individu per km di Pegunungan Dieng.

6.5 Makanan

Mereka termasuk hewan herbivora yang mengonsumsi makanan berupa dedaunan, biji-bijian, kacang-kacangan, kuncup bunga, dan buah-buahan.

Satwa ini lebih menyukai daun yang kaya akan kandungan protein dan rendah serat.

Ini bisa menjadi makanan anak lutung maupun yang sudah dewasa.

Selain itu, mereka juga mengonsumsi larva serangga.

Mereka bisa mencerna makanan dengan tekstur cukup keras dikarenakan mempunyai 4 ruang pencernaan pada bagian lambungnya.

6.6 Reproduksi

Lutung mempunyai satu hingga dua jantan saja dalam setiap kelompok.

Pejantan ini mempunyai pengaruh besar pada perilaku kawin suatu kelompok.

Hampir tidak ada persaingan dalam kelompok di antara para pejantan.

Induk lutung dan anaknya

Jantan bertugas sebagai ayah bagi semua keturunan dalam kelompok, sedangkan betina bertugas untuk merawat semua anakan dalam kelompok.

Betina biasanya akan mulai berkembang biak ketika berumur tiga hingga empat tahun dan melahirkan sebanyak satu kali dalam setahun.

Setelah hamil selama 7 bulan, betina akhirnya mengeluarkan satu bayi dalam satu kali melahirkan.

Umur rata-rata lutung di habitat liar adalah sekitar 20 tahun.

6.7 Komunikasi

Lutung berkomunikasi secara akustik.

Mereka menggunakan panggilan alarm yang terdengar seperti “ghek-ghok-ghek-ghok.”

Mereka juga berkomunikasi melalui isyarat visual dan sentuhan.

Alllogrooming adalah cara penting untuk memperkuat ikatan sosial.

Agresi ini dikomunikasikan dengan interaksi fisik, vokalisasi, dan isyarat visual, yang semuanya membentuk peringkat sosial.

6.8 Predator

Predator alami mereka, yaitu harimau Jawa dan macam tutul Jawa.

Manusia juga bisa menjadi musuh bagi satwa ini. Ya, banyak manusia tidak bertanggungjawab yang memburu mereka secara ilegal untuk dijadikan sebagai makanan dan diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan.

7. Peran Ekosistem dan Kepentingan Ekonomi

Satwa yang satu ini mempengaruhi vegetasi hutan melalui makanannya.

Mereka mengonsumsi daun dan bisa membantu untuk menyebarkan benih melalui makanan berupa buah.

Lutung juga termasuk dalam salah satu anggota penting dari ekosistem asli sehingga bisa menjadi dasar kegiatan ekowisata.

Namun, terkadang mereka diburu untuk dimakan dan ditangkap untuk diperdagangkan.

Kegiatan ini pastinya dilarang dan ilegal.

Sementara kerugian yang diberikan lutung kepada manusia, tidak ada penelitian yang mendokumentasikan terjadinya hal tersebut.

Tidak ada penurunan kesehatan pada manusia dan kerusakan tanaman pertanian karena ulah satwa yang satu ini.

 

Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel di atas, bahwa lutung adalah salah satu hewan yang sudah terancam punah dan dilindungi oleh pemerintah.

Mari lindungi habitatnya bersama-sama, agar nanti anak cucu kita bisa tetap melihat hewan eksotis yang satu ini!

 

Referensi:

Itis.gov. Trachypithecus auratus  (É. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812). [Internet]. Terdapat pada: https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=573060#null

Animaldiversity.org. Trachypithecus auratus Javan langur. [Internet]. Terdapat pada: https://animaldiversity.org/accounts/Trachypithecus_auratus/

Rimbakita.com. Lutung – Taksonomi, Morfologi, Perilaku, Sebaran & Kelangkaan. [Internet]. Terdapat pada: https://rimbakita.com/lutung/

Id.wikipedia.org. 2021. Lutung emas gee. [Internet]. Terdapat pada: https://id.wikipedia.org/wiki/Lutung_emas_gee

[/read]